
Walaupun Izzar meminta Anaya tidak mempedulikan perilaku Ridwan kepada Naira dan lebih memfokuskan perhatian untuk menghilangkan traumanya, Anaya tetap saja tak hilang rasa penasarannya. Diam-diam ia menanyai Mba Kemi di kamarnya. Wanita sederhana itu tidak bisa bercerita banyak. Dia hanya tahu sejak malam sebelumnya, Ridwan dan isterinya sudah mulai bertengkar. Dan di minggu pagi itu, saat dirinya sedang menyiapkan sarapan Naira, tiba-tiba pecah keributan yang lebih besar, hingga membuat Naira menangis ketakutan.
"Langsung saya pesan taksi saja, bawa Naira pulang. Saya juga takut," tutur Mba Kemi.
"Kalian ngga pamitan? tanya Anaya.
"Pamit. Tapi Pak Ridwan diam saja. Isterinya juga sama."
"Tahu ngga apa yang mereka ributkan?" selidik Anaya.
"Kayaknya sih, soal perselingkuhan."
"Hah! Siapa yang selingkuh?" Anaya antusias ingin tahu. Padahal ia sering memperingatkan Mba Kemi untuk tidak mencampuri urusan orang lain.
"Isterinya Pak Ridwan." Mba Kemi berbisik.
Anaya terkejut. Tapi, tak heran juga jika hal tersebut terjadi mengingat sejarahnya mengusik rumah tangga Anaya dan Ridwan dahulu.
"Sama soal warisan," bisik Mba Kemi lagi.
Mata Anaya membesar. Ia baru akan meminta Mba Kemi berkisah lebih detail, namun terjeda karana Izzar memanggilnya. Lekas Anaya melompat keluar.
"Kamu habis ngapain?" tanya Izzar curiga melihat Anaya muncul dari pintu kamar Mba Kemi. "Habis bergosip?"
"Ngga! Aku tadi mau ganti uangnya Mba Kemi yang buat bayar taksi." Anaya mengelak.
Izzar tahu Anaya bukan hanya mengganti uang Mba Kemi. Tapi, ia enggan mempermasalahkan.
"Aku mau ke rumahmu. Kamu harus ikut juga, ngecek apa yang kurang dan pilih warna cat."
"Kenapa ngga kamu saja yang ngecek dan pilih?" tanya Anaya. Sesungguhnya badannya agak penat terasa.
"Ngga ah! Nanti kalau aku salah pilih, sudah diprotes, dicemberutin pula." Izzar menolak.
"Tapi, aku capek! Ngantuk juga!" Anaya menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Jadi, kamu mau di rumah saja?" Izzar menghampirinya.
"Iya." Anaya mengangguk.
"Hmm... Berarti sudah betah dan nyaman dengan rumah ini?" Izzar tersenyum dan duduk di sebelah Anaya.
"Ngga begitu jugalah!" Anaya menyangkal.
"Ya sudah ayo jalan! Sebentar saja."
"Tapi, aku beneran ngantuk."
Anaya memeluk lengan Izzar dan menyandarkan kepala di bahunya. Matanya terpejam. Lembut Izzar mencium rambutnya. Rasa hangat menguasai hati keduanya.
"Hei! Kalian berdua ngapain?! Pacaran ya?!?
__ADS_1
Anaya dan Izzar kaget. Di hadapan mereka, berdiri Naira. Anak kecil itu bertolak pinggang dengan mata dan wajah garang menatap keduanya bergantian. Bibir mungilnya meruncing, siap menggertak lagi. Sejenak Anaya seakan jadi remaja yang kepergok ibu judesnya saat sedang bermesraan dengan pacarnya.
"Mama ngga boleh rebut pacar aku, ya!" Naira maju mendesak merenggangkan jarak di antara Anaya dan Izzar.
"Pacar kamu siapa?" Anaya menggeser duduknya. Memberikan ruang untuk anak itu menyela duduk di tengah.
"Ini pacar aku!" Naira menunjuk Izzar. "Sana! Jangan dekat-dekat!"
"Ih! Kok kamu posesif amat sih?" Anaya lantas berdiri karena Naira terus mendorongnya menjauh.
Izzar tertawa lebar menghadapi tingkah dua perempuan di dekatnya. Ia memberi isyarat pada Anaya untuk mengalah.
Anaya jadi teringat masa kecilnya. Dulu pun ia menganggap ayahnya adalah pacarnya, dalam arti lelaki yang paling disayanginya di muka bumi. Ia juga sering menganggap ibunya saingan terberatnya dalam mendapatkan perhatian ayahnya. Persis seperti Naira saat ini.
Memiliki ayah yang baik dan penyayang sudah tentu akan memberikan dampak positif bagi pembentukan kepribadian anak perempuan. Anaya merasakannya. Dan, ia bersyukur ada Izzar di kehidupan Naira sekarang. Sebagai penyeimbang perilaku dan sikap Ridwan yang kerap mengabaikannya.
Anaya menghela nafas panjang. Menyadari mantan suaminya itu, tidak juga membalas pesan dan telefonnya.
Keesokannya di ruang kerja kantornya, ia membahas tindakan Ridwan dengan Sandra.
"Naira kayak ditelantarkan begitu saja, San."
Sandra menggelengkan kepalanya tak percaya. "Kamu ngga coba menelefon dia lagi?"
"Ngga. Malas. Tapi, kalau nanti weekend dia mau jemput Naira, ngga akan aku kasih!" janji Anaya.
"Biarkan saja, Nay. Mungkin dia sedang stres. Aku ngga tahu soal isterinya, yang aku dengar, dia tidak akan mendapatkan warisan yang sesuai dengan yang diharapkannya. Perusahaan ayahnya itu malah infonya sebagian besar sahamnya akan dijual, tidak di wariskan sepenuhnya kepadanya."
"Aku kan sudah bilang. Salah satu pengacara ayahnya naksir aku."
Anaya mencoba mengingat siapa yang dimaksud Sandra.
Kamu sudah jenguk Pak Arsyad?"
Aih! Anaya menepuk jidatnya. "Aku lupa!"
"Jenguklah, Nay! Kamu kan menantu kesayangannya," kata Sandra.
"Mantan menantu!" Anaya mempertegas statusnya bagi Pak Arsyad sekarang.
"Iya, aku tahu!... Tapi, tetap saja kamu favoritnya. Kalau kamu masih menikah dengan Ridwan, aku yakin, perusahaannya akan diserahkan ke kamu."
"Aih! Nggalah. Ngga mau aku."
Ponsel Anaya berbunyi. Izzar mengiriminya pesan mengajaknya kencan berdua saja nanti malam. Anaya tersenyum sendiri. Tanpa ia sadari, Sandra memperhatikan perubahan raut mukanya.
"Hmm... Ada yang sedang berbunga-bunga rupanya. Sampai senyum-senyum sendiri."
Anaya tersipu.
"Pesan dari siapa?" tanya Sandra.
__ADS_1
"Izzar." Anaya tak sanggup berbohong.
"Kenapa dia?" Sandra sungguh ingin tahu.
"Ngajak ngedate." Anaya meletakkan ponselnya di atas meja.
"What?" Sandra tertawa. "Serius?"
Anaya mengangguk, yang mengundang tawa Sandra semakin kencang.
"Pantas saja Tristan kamu cuekin. Dia bolak-balik telefon aku. Minta tolong bujuk kamu supaya dikasih kesempatan lagi."
"Ngga maulah aku sama lelaki ngaco begitu." Anaya mengedikkan bahunya.
"Ya, buat apalah sama kaleng-kaleng kalau sudah ada emas di tangan, kan?" Sandra mengedipkan sebelah matanya.
"Kan, kamu sendiri pernah bilang Izzar itu baik?" Anaya tak mau disindir.
"Memang. Tadinya, kalau kontrak pernikahan kalian habis dan kamu melepaskannya..., mau kupacari dia!... Sayang kamu keburu sadar." Sandra seolah menyesal.
"Berarti kamu saingan sama Naira. Anak itu sudah duluan menganggap Izzar pacarnya." Anaya menambah kekalahan Sandra.
"Duh! Naira itu, kecil-kecil seleranya bagus juga."
"Bukan dalam arti begitulah, San. Naira membutuhkan sosok ayah yang benar-benar tulus sayang sama dia. Kamu tahu sendiri Ridwan bagaimana. Sementara Izzar sangat perhatian ke Naira." Anaya meluruskan.
"Aku paham, Anaya." Sandra tersenyum. "Jadi, kontrak kalian ngga ada artinya lagi sekarang?"
"Ya, bisa dibilang begitu."
"Ciyeee..." Sandra menggodanya.
Kemudian, terdengar suara ketukan di pintu. Staf marketing mereka masuk membawakan setumpuk berkas draft proposal acara yang harus diperiksa Anaya dan Sandra sebelum disetujui. Keduanya bergantian memeriksa.
"Hei! Ini harus kamu terima!" Sandra menyodorkan satu map. "Cuma kamu yang bisa handle si Ibu Bos bawelnya."
Anaya menerima dan membuka berkas berisi rencana acara soft launching sekaligus pemasaran pembangunan apartemen mewah. Membaca nama perusahaannya, Anaya langsung tahu yang dimaksud adalah Bu Erlina. Ia terus membaca. Tapi, kemudian tak sadar melemparkannya kembali ke arah Sandra.
"Kamu saja!"
"Lah! Kenapa? Aku ngga sanggup, Nay! Bu Erlina itu sukanya sama kamu!" Sandra berusaha menolak.
"Bukan Bu Erlina langsung kok yang in charge!"
"Siapa?" Sandra mengambil map yang dilemparkan Anaya.
"Keponakannya. Sasika. Mantan tunangannya Izzar.
Jantung Anaya bergemuruh kencang. Ia tak ingin berada dekat perempuan itu lagi, apalagi menghandle pekerjaan darinya.
...***...
__ADS_1