
Pagi-pagi, Ridwan meluapkan amarahnya kepada Anaya melalui telefon. Ia menuduh Anaya sengaja menafikannya, sehingga sosok dirinya sebagai bapak kandung Naira tidak dianggap.
“Aku tahu, kamu dan suamimu sengaja meracuni Naira supaya menjauhiku!”
“Jangan menuduh sembarangan, Wan. Aku dan Izzar ngga pernah menjelek-jelekkan kamu. Lagian, foto itu kan cuma tugas sekolah yang mendadak juga harus dikumpulkan. Ngga sempat juga kita berfoto bersama kan?” Anaya mencoba meredam emosi Ridwan.
“Kamu selalu cari alasan! Kenapa ngga bilang ke aku? Pasti aku akan bela-belain menemui kalian untuk berfoto! Memang kamunya saja yang sengaja ingin Naira melupakan aku!”
Anaya memijit keningnya. Pertengkaran dengan Ridwan selalu membuatnya pening. Ia mendiamkan saja ungkapan-ungkapan kekesalan Ridwan tumpah di telinganya. Ia tak mau membantah, apalagi membela diri dengan mengatakan bahwa foto itu adalah murni keinginan Naira. Sebab, tetap saja ia yang akan disalahkan. Padahal, ia tak bisa mengatur siapa yang bisa mencuri hati Naira dan dianggap paling berarti di hidupnya
“Aku ayah kandungnya, tahu!”
Kalimat Ridwan terakhir, kencang menusuk telinga Anaya hingga ia menjauhkan ponselnya.
“Jadi maumu apa?” tanya Anaya. Bosan ia mendengarkan omelan Ridwan yang diulang-ulang.
“Aku mau waktu lebih lama bertemu Naira!”
“Putusan pengadilan jelas hanya membolehkan kamu bertemu Naira seminggu sekali, kan?”
“Kurang! Makanya Naira jadi tidak dekat denganku!”
“Oke!” Anaya menyentak. Ia jadi kesal dengan nada tinggi suara Ridwan yang tak berujung.
“Minggu ini, kuizinkan kamu bersama Naira dua hari sebagai kompensasi kekecewaan kamu soal tugas fotonya. Jemput dia Sabtu pagi, kembalikan Minggu sore! Hanya minggu ini saja!” kata Anaya tegas. Ia ingin mengakhiri perdebatan secepatnya.
Seusai Ridwan menjemput Naira di Sabtu pagi itu, Anaya jadi bingung akan melakukan apa. Kantornya tidak memiliki event weekend ini. Ingin ia mengajak Sandra jalan, tetapi sahabatnyapitu sedang ke Surabaya menemui orang tuanya.
Anaya bosan di rumah sempit Izzar. Sejak memutuskan work from home, ia memang jadi jarang keluar rumah selain mengantar jemput Naira sekolah dan berbelanja kebutuhan rumah tangga.
“Kamu mau ngapain hari ini?” tanya Izzar yang sedang bersiap hendak pergi.
“Ngga tahu,” Anaya mengangkat bahu.
“Mau ikut aku?”
“Kemana?”
“Lihat rumah, habis itu ke kantor baru aku sebentar, makan, terus… terserah kamulah mau kemana.”
Anaya langsung tertarik. Di samping ingin tahu kondisi rumahnya sekarang, ia memang sangat ingin keluar menikmati suasana luar.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, Anaya sudah siap. Ia mengganti pakaiannya dengan celana jeans, blus longgar lengan panjang earth tone, sepatu sneakers, pelembab wajah dan lipstik tipis.
Izzar terkesan dengan gaya simple Anaya. Baru kali ini, ia menemukan wanita yang hanya membutuhkan waktu singkat berdandan untuk tampil menarik.
Mungkin karena memang dasarnya wajah Anaya sudah cantik, sehingga polesan yang sederhana saja sudah cukup membuatnya bersinar.
Rumah Anaya baru setengah diperbaiki. Kusen-kusen yang rapuh sudah dibongkar dan menunggu penggantian. Lapisan dinding yang rapuh, telah dikerik untuk dilapis ulang. Dapur dan ruang makan yang dirombak total sedang tahap pendirian dinding baru.
“Kapan kira-kira selesai semuanya?” tanya Anaya pada Izzar.
“Paling lama lima bulan sampai finishing akhir.”
“Bisa lebih cepat?” Anaya sungguh sudah tak sabar pindah kembali ke rumahnya.
“Hmm… diusahakan,” jawab Izzar. “Kenapa mau cepat-cepat? Ngga betah tinggal di rumahku?”
“Iyalah!” jawab Anaya apa adanya.
“Sama. Aku juga sudah kangen dengan kasurku,” kata Izzar
sambil menahan senyumnya.
Anaya tertawa. Meski dalam hati ia kasihan juga dengan Izzar yang terpaksa tidur di sofa bed yang tak nyaman.
Seorang gadis muda, duduk di ruang yang berfungsi sebagai ruang tunggu. Wajahnya yang terbingkai kerudung peach, langsung cerah begitu melihat kedatangan Izzar. Anaya diam-diam memperhatikannya. Ia merasa pernah melihat gadis itu di suatu tempat.
Izzar menyapa gadis itu ramah. Sebaliknya, gadis itu tampak malu-malu menanggapi sapaan Izzar dan malah berubah kikuk menyadari kehadiran Anaya.
Anaya enggan mencampuri pekerjaan Izzar. Ia tadi melihat ada kafe kopi sederetan dengan kantor Izar.
“Aku nunggu di kafe itu saja ya!” kata Anaya pada Izzar.
“Ngga apa-apa kamu nunggu di sana?” Izzar ragu.
“Ngga apa-apa!”
“Oke! Aku hanya sebentar, kok! Nanti kususul!"
Anaya menganguk, lalu berlalu sambil tersenyum dan memandang ke gadis muda itu. Lagi-lagi rasa kikuk memancar di di sikapnya. Tapi, Anaya merasa tidak perlu peduli.
Ia menunggu Izzar ditemani segelas Thai Tea. Bersyukur ia membawa tabletnya serta, sehingga tak jenuh. Karena minggu ini menjadi minggu tenang di perusahaannya, ia hanya memeriksa emai-email yang masuk, lalu mengisi waktunya dengan menonton salah satu film yang ada di whistlistnya.
__ADS_1
Sejam lebih kemudian, Izzar muncul dan mengajaknya pergi.
“Maaf kamu jadi lama menunggu! Aku harus kasih briefing dulu ke pegawai baru tadi.” Izzar menyalakan mesin mobilnya.
Anaya memaklumi.
“Kita makan siang, ya! Aku lapar.”
”Kamu yang traktir?” pancing Anaya.
“Iya. Kamu mau makan di mana?”
“Sudah mulai kaya raya banyak uang lagi kayaknya, nih.
Habis dapat proyek besarkah?” Anaya meledek Izzar.
Izzar tertawa.
“Proyek dari Bu Erlina?”
“Bukan.”
“Kukira, dia bakal memberimu pekerjaan, makanya waktu itu minta kamu datang ke kantornya.”
“Aku ngga terpikir datang ke kantornya. Aku sudah memutuskan ngga mau bekerja sama lagi dengannya.”
Ada nada getir di suara Izzar saat mengatakan keengganannya tersebut. Anaya ingin tahu alasannya. Tapi, kemudian Izzar malah menceritakan hal lain.
Saat menunggu pesanan makanan di restoran Jepang, Anaya tak sanggup lagi memendam keingintahuannya.
“Izzar, kenapa kamu ga mau kerja sama lagi dengan Bu Erlina?”
“Hmm… Kamu yakin mau dengar?”
Anaya mengangguk. Kepalang tanggung dirinya sudah cukup banyak mengetahui tentang kehidupan Izzar, mengapa tidak sekalian saja.
“Aku kenal Bu Erlina sudah lama. Sejak aku mulai magang jadi arsitek di perusahaannya. Awalnya dia dulu baik. Apalagi, kemudian aku pacaran dengan keponakannya, kemudian lanjut tunangan. Beberapa bulan lagi mau menikah, tiba-tiba aku kena kasus dan masalah yang sudah kamu tahu detailnya.
“Banyak orang yang menjauhiku. Salah satunya Bu Erlina. Padahal, kalau mau mengungkit, aku sudah banyak membantunya. Yang membuatku tambah terpuruk, di saat aku membutuhkan support dari calon isteriku, Bu Erlina malah menghasut keponakannya untuk meninggalkanku. Seolah aku lelaki yang sudah ngga berarti apa-apa lagi.”
Izzar langsung meminum air mineral yang baru saja dihidangkan. Penuturannya jadi membuat Anaya iba sekaligus menimbulkan rasa penasaran mengenai sosok wanita yang pernah mengisi hati Izzar. Seperti apa dia? Cantikkah?
__ADS_1
...***...