
Semua penuturan Pak Arsyad sedikit meluluhkan ego Anaya. Ia sendiri menyadari kekerasan dan kekakuan hatinya. Rasa sakit akibat kehilangan orang-orang yang disayanginya, dan perlakuan manipulatif Ridwan mengajarkannya untuk membentengi hatinya kuat-kuat dan menjaga jarak untuk tidak terlalu dalam mencintai. Kecuali dengan Naira. Anak itu adalah bagian dari dirinya.
"Bagaimana nasib Ridwan?"
Tapi, entah mengapa dia masih juga ingin tahu dengan apa yang akan terjadi dengan mantan suaminya itu.
Pak Arsyad mengerutkan keningnya. "Buat apa kamu memikirkan dia lagi?"
"Walau bagaimanapun dia ayah kandungnya Naira." Anaya menukas. "Apa yang nanti harus kujawab jika Naira kelak bertanya, kalau aku tidak tahu apapun."
"Naira anak yang cerdas, dia paham siapa yang tulus sayang padanya. Dia tidak akan peduli dengan Ridwan. Bukankah sekarang pun sudah tampak?"
Anaya mengakui itu. Anaknya lebih kecewa tidak bisa bertemu dengan Izzar daripada dengan Ridwan.
“Beberapa waktu ke depan, Izzar pasti masih akan sibuk dengan persoalan di perusahaan kami. Kamu ngga usah khawatir.”
Usai meyakinkan Anaya, Pak Arsyad berpamitan. Dia mengusap kepala Anaya seperti ia membelai anak tersayangnya. Air mata Anaya mengembang saking terharunya. Ia ingat ayahnya sendiri.
“Kamu sudah memiliki rumah yang kamu impikan. Pulanglah kesana. Jangan pedulikan lagi Ridwan. Jaga Naira untukku.” Pak Arsyad tersenyum.
Anaya cuma menggigit bibirnya menatap punggung tua mantan mertuanya itu menghilang di balik pintu. Dihelanya nafas panjang. Ia mencoba memikirkan apa yang sebaiknya dilakukannya sekarang. Meminta maaf pada Izzar? Mengakui kesalahannya?
Nuraninya tersenyum mengiyakan, tapi egonya yang masih saja tak mengakui kalah mengungkit soal asal uang di dalam cek yang diterimanya. Dari mana?
Pintu terkuak. Anaya bersiap melihat Izzar. Tapi, yang muncul malah Mba Kemi yang diikuti dengan perempuan baya yang langsung tersenyum ramah menyapanya.
“Anaya!”
Anaya tersenyum kikuk. Mama Izzar menghampiri dan mencium pipinya. Ia mencari-cari sosok Izzar di belakangnya, tapi hanya Resti, asistennya yang menyertai.
Ia melihat jam dinding. 20.25. Hatinya bertanya, apakah tidak terlalu malam juga bagi Mama Izzar menjenguknya.
“Mana Izzar?”
Sejenak Anaya bingung. Ia sendiri tidak tahu kemana lelaki itu. Sejak pagi dia pergi dan belum muncul kembali. Berkabar dan menanyai kabarnya pun tidak.
“Loh! Belum pulang kerja? Mama telefon hapenya mati dari tadi sore.”
Wanita periang itu membuka tas bawaannya. Bermacam buah dan makanan dikeluarkan dan ditatanya di meja. Ia memberi tahu Mba Kemi mana yang harus segera dimasukkan ke dalam lemari es.
“Kenapa mama repot-repot?” Anaya merasa canggung dengan perhatiannya itu.
“Ngga ada yang direpotkan.” Mama Izzar tidak peduli dengan keberatan Anaya. “Mana Naira?”
“Dia ada sama Randi.” Anaya mencoba duduk.
Mama Izzar duduk di kursi samping Anaya. Mba Kemi dan Resti memilih menunggu di luar kamar. Wanita baya itu menatapinya dengan senyum yang terus tersungging.
“Gimana kandunganmu?”
__ADS_1
“Baik.” Anaya menjawab singkat. Begitu cepat rupanya berita menyebar.
“Kapan Izzar kasih tahu kalau aku sakit” tanya Anaya.
“Semalam. Tapi, mama baru bisa sekarang jenguk kamu. Seharian tadi sibuk urus paspor dan visa.”
“Visa? Mau kemana?”
“Izzar belum kasih tahu kalau Renata minta mama tinggal sama dia di Brisbane?” tanyanya.
Anaya tidak menjawab.
“Kamu sudah baikan sama Izzar?”
Pertanyaan itu membuat Anaya jengah. Tangannya yang bebas meremas selimutnya. Ia resah.
“Anaya, mama cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja. Maafkan Izzar karena dia cerita masalah kalian. Sebelumnya, dia ngga pernah cerita apapun kesulitannya karena tidak ingin menyusahkan orang tuanya. Termasuk kasus pekerjaannya dulu. Jadi, dia sama sekali tidak berniat mengadukanmu." Mama Izzar menenangkannya.
"Jujur, mama lebih suka dia mendatangi ibunya saat dia tertimpa masalah yang membuat dia nekat menikahimu. Tapi, sedikitpun mama ngga menyalahkanmu juga dia.”
Mama Izzar tersenyum. Anaya mulai mencair.
“Terlepas dari persoalan yang ada, kamu bahagia kan bersama dia?”
“Tapi dia banyak bohong dan ngga terbuka sama aku. Jadi, aku merasa dimanfaatkan.” Anaya berkilah mengungkapkan isi hatinya. Hal yang menyekat dadanya selama ini.
“Percayalah Anaya, dia ngga punya maksud mengecewakanmu. Pasti ada alasannya kenapa dia ngga terbuka. Mungkin waktu yang belum tepat, atau bisa jadi masalah lain kalau kamu tahu. Percayalah Anaya, kadang tahu sedikit itu malah lebih baik daripada tahu banyak," tutur Mama Izzar.
Anaya malu dan terkejut. Jadi cek Izzar itu dari mamanya?
"Jangan beranggapan mama ikut campur masalah kalian. Bukan begitu maksudnya. Sebenarnya, uang itu uangnya Izzar. Sebagian dari peninggalan papanya dan mama. Anggap itu sebagai penebus dan pembuktian bahwa tanpa hal itupun, kalian memang ditakdirkan bersama. Anggap masalahmu dan masalahnya cuma siasat semesta saja untuk menyatukan kalian berdua dan juga Naira.
Air mata Anaya mengembang. Kala Mama Izzar mendekapkan kepala Anaya di dadanya. Tangisnya pecah. Semua keangkuhannya meluruh. Jiwanya yang sebenarnya rapuh tapi terkuasai egonya yang tak ingin dianggap lemah, menunduk takluk pada kelembutan tangan dan hati yang telah melahirkan lelaki yang tulus menyayanginya.
Setelah tangisnya mereda, Mama Izzar menawarinya makan. Anaya menurut saat disuapi sup krim jamur. Disingkirkan jengahnya dengan mencoba menikmati semua perhatiannya. Dahulu, ibunya pun selalu menyuapinya makan bila ia sakit.
"Kira-kira, adik Naira laki-laki atau perempuan?" tanya Mama Izzar.
Anaya mengangkat bahunya.
"Izzar ingin anak apa?"
Anaya menggeleng. Mana pula ia tahu apakah Izzar menginginkan Anak lelaki atau perempuan. Mereka tak pernah membicarakannya. Mengabarkan sendiri kehamilannya saja belum ia lakukan.
"Sudah jam berapa ini, kenapa dia belum kesini?" Mama Izzar mulai resah. "Coba lihat hapemu! Dia ngabarin kamu ngga?"
Mata Anaya berkeliling mencari ponselnya. Sejak kemarin ia belum memegangnya. Mama Izzar membantu mencari, dan menemukannya di laci meja rak di samping Anaya.
Tangannya yang bebas mengaktifkan layarnya. Ia sadar, Izzar tak bisa mengabari dirinya apapun. Nomor lelaki itu masih terblokir di ponselnya. Tapi, Mama Izzar tak perlulah tahu hal itu.
__ADS_1
Setelah membuka blokirannya, sejumlah pesan lama Izzar masuk. Tapi tidak ada pesan hari ini.
Anaya menelefonnya, namun nomor Izzar tidak dapat dihubungi.
"Ngga aktif." Anaya menggenggam ponselnya. Hatinya jadi bertanya-tanya.
Pintu terketuk. Anaya dan mertuanya spontan menatap ke pintu. Harapan mereka sama, Izzar yang datang.
Namun, yang muncul adalah Randi, Sarah dan Naira.
Mama Izzar langsung gembira bertemu anak kecil itu. Begitu juga Naira. Keduanya berpelukan lalu duduk bersisian di sofa, saling bercerita.
Sarah, menyapa Anaya, menanyai kabarnya dan berbicang. Perempuan itu juga baru mengetahui dirinya hamil. Keduanya senang bisa sama-sama menjalani dan berbagi pengalaman nantinya.
"Mama!" Naira menghampiri Anaya.
"Ya, Sayang?" Anaya membelai pipinya.
"Boleh aku nginap di rumah Oma?"
"Biarkan dia nginap di rumah mama. Nanti kalau sudah di Brisbane, mama bisa lama ngga ketemu Naira lagi." Mama Izzar menyela dari tempatnya duduk.
Anaya memandang mata bening anaknya yang penuh harap memohon.
"Oke!... Tapi harus jadi anak baik!"
"Siap mama cantik!" Naira mencium pipi Anaya.
Setelah berbicara sebentar dengan Randi, Mama Izzar pamit pulang dengan membawa Naira.
Sepeninggal mereka, Anaya memanggil Randi.
"Izzar pergi kemana tadi pagi?" tanya Anaya.
"Cuma bilang ada urusan yang harus diselesaikan." Randi mendekatinya. "Sudah kamu telefon?"
"Hapenya mati."
"Mungkin habis batre. Atau, dia sedang di kantor polisi urus kasus Ridwan."
Anaya mencoba meyakini alasan yang dinyatakan Randi.
"Sudah, ngga usah dipikirin. Nanti juga datang." Randi meredakan khawatirnya.
Lima belas menit kemudian, Randi pulang bersama Sarah. Izzar belum muncul.
Anaya kembali menghubungi nomor Izzar. Berkali-kali, tetap saja tidak tersambung.
Ingin rasanya dia marah. Tapi, sebuah kesadaran menciutkannya. Pasti beginilah tak enaknya perasaan Izzar tatkala nomornya diblokir.
__ADS_1
Apakah ini karma? Atau Izzar sengaja balik menyiksanya.
...***...