Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
64 - Diyakinkan


__ADS_3

Spekulasi bermunculan menyusul berita kematian Ridwan.  Sebagian besar menduga penyebabnya tidak wajar, mengingat Ridwan sebelumnya rajin berolahraga dan menjaga kesehatannya.


Naira yang diberitahu tentang kepergian ayah kandungnya untuk selamanya, menangis pelan. Sama seperti Anaya, meskipun hubungannya dengan Ridwan merenggang lama, tetap saja gadis kecil itu bersedih kehilangan ayah kandungnya.


“Apa kita akan melihatnya dikuburkan, Ma?” tanya Naira.


Randi yang dimintai pendapat, melarang tegas. Menurutnya, situasi tidaklah aman. Izzar yang belum diketahui keberadaannya, ditambah dengan meninggalnya Ridwan secara tiba-tiba.


“Kalian ngga usah kemana-mana.”


Anaya menurut. Dia sendiri pun akan merasa tak nyaman hadir di tengah keluarga Ridwan. Dari penuturan Pak Arsyad tempo hari dan cerita dari stafnya, terbaca sudah keluarga besar Ridwan terpecah belah. Antara Pak Arsyad yang seolah menghukum anaknya sendiri, dan isterinya yang membela mati-matian Ridwan.


Sehari setelah dikuburkan, baru Anaya mengajak Naira mengunjungi makam Ridwan dengan diantar Randi dan dua orang lelaki lain.


Di samping gundukan basah berselimut taburan bunga, seorang lelaki tua duduk di kursi. Dia terpekur memandang nisan bertuliskan nama anaknya.


Semula, Anaya ragu untuk mendekat. Tetapi, Pak Arsyad telanjur melihat kehadirannya dan Naira. Tangannya melambai. Mau tak mau Anaya menghampirinya.


Ketiganya tidak saling bicara. Hanya tersenyum, kemudian terdiam menatap makam yang membisu di hadapan mereka. Mata dan raut wajah mereka sendu. Meski tak ada air mata yanag menetes, duka mewarnai sikap masing-masing.


Setelah beberapa waktu, Naira mengguncang tangan Anaya.


“Aku sudah selesai berdoanya.”


Anaya mengangguk. Dia berdiri hendak berpamitan. Pak Arsyad juga ikut berdiri.


“Bisa kita bicara sebentar?” Pak Arsyad menatap Anaya.


“Ya.” Anaya pun memang ingin menemui dan bicara langsung mengenai Izzar, dan banyak hal.


“Di mobilku saja.”


Pak Arsyad memanggil asistennya yang sedari tadi mengawasi tak jauh. Lelaki muda itu menghampiri dan menuntun langkah letihnya. Anaya mengikuti di belakang. Ia memberi kode kepada Randi untuk menjaga Naira.


Di dalam sedan mewah yang terparkir di tempat sejuk, Anaya duduk di sebelah  mantan mertuanya. Sopir dan asistennya menunggu di luar. Jendela pintu depan sengaja dibiarkan sedikit di kedua sisi, agar tetap ada udara segar yang masuk.


Randi dan sopirnya telah memindahkan mobil mereka berdekatan. Anaya pun merasa tenang sebab Naira masih berada dalam jangkauan matanya.

__ADS_1


Pak Arsyad memejamkan matanya.


“Izzar di mana? Kapan dia kembali?” Anaya meluncurkan pertanyaan yang berhari-hari tidak menemukan jawabnya. Ia tidak peduli semisalpun lelaki tua di sampingnya ini sedang berduka kehilangan anaknya yang dipenjarakannya melalui tangan orang lain.


“Kamu  ngga usah khawatir. Aku bertanggung jawab atas dirinya.”


“Tapi, sudah berapa hari dia ngga ada kabarnya. Kalau tiba-tiba nasibnya seperti Ridwan bagaimana?” Bibir Anaya bergetar.


Lelaki tua itu menghela nafasnya. Wajah tuanya semakin renta.


“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”


“Kenapa jadi ngga adil?” Anaya heran. “Kenapa Ridwan dibiarkan dipenjara sampai meninggal?”


“Sulit bagiku, membela orang yang berniat membunuhku, apalagi dia anakku sendiri. Melebihi dikhianati isteri sendiri rasanya.”


Anaya mendelik. Curiga.


“Jangan kamu kira aku ada hubungannya dengan kematiannya!” Suara Pak Arsyad tajam. Mencegah pikiran Anaya bergerak liar. “Sebagai ayah, aku tetap berduka dengan kepergiannya.”


Pak Arsyad memandang Anaya.


“Kalau sudah selesai. Tolong… Biarkan kami sendiri. Jangan libatkan Izzar lagi dalam soal pekerjaan apapun, atau mengaitkannya dengan kehidupan Naira.” Anaya meminta.


“Terlepas dari masalah Ridwan, aku hanya ingin kamu dan Naira bahagia. Memastikan kalian tidak akan kekurangan.”


“Walaupun cara awalnya tidak biasa, saya dan Naira sudah sangat bahagia bersama Izzar. Kami sudah merasa cukup dengan apa yang kami miliki. Biarkan saya yang memikirkan kesejahteraan masa depan Naira. Tolong, jangan lagi menggunakan saya dan Naira untuk mengancam Izzar. Karena, dia pasti akan melakukan apapun demi kami tanpa peduli resikonya.” Anaya memohon.


“Kamu dan Izzar… sama saja.” Pak Arsyad mendesah.


Anaya memiringkan sedikit tubuhnya, agar bisa leluasa memandangi lelaki tua di sampingnya.


“Akhirnya, aku mengerti sekarang. Mengapa kalian berdua pada akhirnya begitu tidak peduli dengan materi dan kesempatan mendapatkan yang lebih banyak. Alasan nekat kamu dulu menikahi Izzar, serta alasan Izzar melepaskan semua yang kuberikan demi kamu dan Naira.”


Penuh perhatian, Anaya menunggu ujaran lebih lanjut.


“Beberapa jam sebelum Izzar menghilang, dia mengirimkan surat melepaskan proyek dan saham perusahaan dariku. Dia tidak meminta apa pun, kecuali izin dan  restu agar bisa tetap bersama kalian berdua.”

__ADS_1


Anaya tersenyum. Dia merasa terharu sekaligus tersanjung.


“Berbeda jauh dengan keluargaku. Tak ada yang membelaku yang telah bersusah payah memenuhi segala kebutuhan, kemudahan, dan kelebihan. Anakku ngga ada puasnya. Sama dengan ibunya. Kamu sudah tahu kalau isteriku menggugat cerai dan memperkarakan harta gono gini?”


“Maaf…” Anaya prihatin mendengarnya.


“Semua menyalahkan aku. Aku lelah, Anaya. Berat bebanku.” Mata tua Pak Arsyad menerawang keluar kaca jendela mobil. “


“Kalau sudah tahu beban itu berat, jangan terus dipikul. Diletakkan, atau malah dilepaskan saja. Kadang kita cuma perlu membuat skala prioritas apa yang kita butuhkan. Saya dan Izzar berbeda dengan Bapak. Kami rela melepaskan materi supaya kami bisa tetap bersama. Sedangkan Bapak, berusaha mempertahankan materi demi tetap dicintai. Padahal, sebesar apapun harta, ngga bisa mengikat hati seseorang untuk tetap setia.” Anaya berkata bijak berdasarkan dari pengalamannya sendiri.


“Kalau saya diminta menukar semua harta yang saya miliki dengan kembalinya Izzar, pasti sudah akan saya serahkan semunya. Saya memang pernah meninggalkan dia. Tapi, sekarang ini saya ngga mau kehilangan dia lagi.” Anaya membiarkan sebulir air mata mengalir perlahan di pipinya.


Dia memalingkan wajahnya ke jendela. Tidak ada isakan. Namun setetes bening air mata itu merupakan ungkapan murni isi hatinya. Selubung keras di hatinya telah meluruh dan menampilkan dirinya yang rapuh.


Pak Arsyad tertegun melihat kepedihan Anaya. Diakuinya, dia sering salah menilai mantan menantunya ini. Dulu, sempat dikiranya Anaya mau menikah dengan Ridwan karena latar belakang Ridwan sebagai anak pengusaha kaya. Namun, kemudian dia dibuat terpana dengan kerja keras Anaya dan bagaimana dia tidak menggantungkan diri pada suaminya. Ketulusan pengorbanan konyolnya untuk Naira juga menggunggahnya. Dalam hati dia bersyukur Anaya menemukan lelaki yang bertanggung jawab kepadanya.


Dalam diamnya, Pak Arsyad merenung dan sebelum kemudian meyakini sesuatu yang dianggapnya benar dan terbaik.


“Anaya.”


Anaya menoleh.


“Kamu mungkin menganggap aku penyebab semua masalah ini. Maafkan aku. Dan, aku berjanji akan mengembalikan Izzar kepadamu.”


Tangan Pak Arsyad menggenggam jemari Anaya. Meyakinkannnya.


“Ya!” Anaya mengiyakan.


“Tapi dengan satu syarat…”


Anaya mengeluh. Dia lelah dengan persyaratan. Tak bisakah lelaki tua ini tanpa pamrih sekali saja.


“Aku sudah pasti akan sendirian. Keluargaku memilih berpisah dariku. Aku memohon… kalian tidak ikut meninggalkanku. Karena, aku juga tidak ingin kehilangan kalian.”


Mata renta Pak Arsyad sedikit berair. Anaya terenyuh memandangnya. Dibalasnya genggaman mantan mertuanya itu erat.


...***...

__ADS_1


__ADS_2