Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
47 - Pelarian


__ADS_3

Saat Anaya terjaga, sejenak ia tak tahu sedang berada di mana. Perlu beberapa detik baginya untuk mengenali sekelilingnya.


Saat ia mencoba bangkit, pusing di kepala menyerangnya hingga ia kembali berbaring. Ditatapnya langit-langit kamar Sandra. Memori otaknya mulai terisi penuh. Di benaknya, bermacam-macam hal berseliweran minta dipikirkan.


Peristiwa kemarin teringat kembali. Tergambar jelas seperti tayangan film yang diputar ulang  berkali-kali. Menebalkan rasa sebalnya kepada Izzar.


Dengan menahan rasa tak nyaman di kepalanya, Anaya mencari-cari ponselnya. Dia lupa tempat meletakkannya semalam. Tasnya juga entah di mana. Padahal ia harus segera mencari kabar Naira. Dirinya terlupa menghubungi anak itu semalam.


"Good morning!" Sandra membuka pintu dan masuk membawakan teh hangat.


"Hapeku di mana, San?" Ponsel Anaya lebih penting daripada membalas ucapan selamat pagi.


"Di luar. Sebentar kuambilkan."


Tak lama Sandra kembali dengan ponsel dan tas Anaya. Tanpa mengecek panggilan dan pesan dari yang lain, Anaya menelefon Mba Kemi dan berbicara dengan Naira. Ia bersyukur anak itu baik-baik saja, dan sedang bersiap sarapan dengan kakeknya.


Kemudian, baru ia membuka aplikasi pesannya.


"Izzar sudah telefon?" tanya Sandra hati-hati. Ia duduk di tepi kasur.


"Ngga tau. Nomornya kublokir!" jawab Anaya ketus.


"Dia pasti mencarimu."


"Biarin aja!"


"Kalian ada masalah apa? Sasika lagi?" Sandra pura-pura tidak tahu.


Anaya diam.


"Kalau ada masalah, diselesaikanlah, Nay. Jangan dihindari. Siapa tahu hanya salah sangka. Aku yakin Izzar punya penjelasan."


Ucapan Sandra membuat Anaya curiga.


"Dia telefon kamu?" Anaya menatap tajam Sandra.


Sandra tak berkutik.


"Semalam dia telefon mencarimu."


"Kamu bilang aku di sini?"


Sandra mengangguk.


Anaya memalingkan wajahnya menahan jengkelnya. Ia sangat ingat sudah melarang Sandra memberitahukan keberadaannya kepada Izzar.


"Maaf, Nay! Soalnya Izzar kedengeran cemas banget. Wajarlah kalau dia khawatir kamu ada di mana."


"Buat apa dia khawatirin aku?"


"Dia kan suamimu, Nay?"  Sandra mengingatkan.


"Suami apa?!" tanyanya gusar. Matanya kembali memandang Sandra, penuh rasa kesal.


"Ini semua cuma permainan dia, tahu ngga! Aku hanya dimanfaatin!"

__ADS_1


"Dimanfaatin gimana?" tanya Sandra. Ia lega Anaya mulai terbuka dengan persoalan yang dihadapinya.


"Ingat kan, dulu dia mau menerima tawaran menikah sementara denganku demi uang. Lalu kemudian ternyata dia mendapatkan peluang mendapatkan uang dan harta lebih banyak dengan memanfaatkan aku dan Naira. Dia cuma pura-pura tulus ke aku dan Naira, San. Sebagai jembatan untuk mendapatkan perhatian Pak Arsyad. Supaya dia dapat proyek darinya." tutur Anaya.


Sandra terdiam mencoba mencerna kata-kata Anaya.


"Kamu pernah cerita kalau Pak Arsyad mau jual perusahaannya. Kamu sudah tahu akhirnya bagaimana? Tiba-tiba saja sebagian besar saham perusahaan itu diberikan begitu saja ke dia. Dan dia tidak memberi tahuku."


"Lah, kamu tahu dari mana?"


"Ridwan."


Sandra tercenung.


"Aku curiga dia ada kerja sama juga dengan Sasika. Jangan-jangan mereka balikan lagi. Bisa-bisanya perempuan itu peluk-peluk dia dan ngucapin selamat. Berarti Sasika tahu duluan kan soal saham itu?... Sedangkan aku isterinya ngga dikasi tahu!"


Anaya memijiti keningnya. Pusingnya makin menjadi.


Sandra teringat ucapan Izzar tentang masalah lain yang harus dibahasnya langsung dengan Anaya. Mungkin sebenarnya Izzar punya alasan mengapa dia tidak langsung membicarakannya dengan Anaya..


"Nay, kamu harus tenang dulu. Aku yakin Izzar belum cerita karena mungkin waktu yang belum tepat atau ada penyebab lain."


Anaya menutup muka dengan telapak tangannya.


"Izzar lagi di jalan mau jemput kamu. Kamu harus temui dia dan bicara, oke!"


Reaksi Anaya tidak seperti yang diharapkan Sandra. Matanya membesar, terbelalak.


"Aku ngga mau ketemu dia!" serunya sambil melompat dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Anaya keluar. Ia sudah mencuci muka dan menggelung rambut panjangnya. Disambar tas dan ponselnya, dilanjutkan mengenakan sepatu dengan tergesa.


"Kamu mau kemana?" Sandra bingung.


"Aku ngga bakal kasih tahu kemana, karena nanti kamu pasti akan kasih tahu ke Izzar!"


Anaya membuka pintu. "Aku pergi! Bye!"


"Anaya!" Sandra mengejar berusaha mencegah Anaya. Namun tangan Anaya kuat menepisnya.


Akhirnya, Sandra menghentikan langkahnya dan hanya menatap diam langkah cepat Anaya menyusuri selasar menuju lift.


Sahabatnya itu maklum, jika sudah kecewa, Anaya terlalu membatu hatinya. Keras. Percuma ia menyusulnya.


Begitu keluar lift, Anaya mencari kunci mobilnya di dalam tas. Namun, hingga semua celah dikuaknya, kunci itu tidak ada. Anaya bingung. Jika ia kembali ke tempat Sandra, akan membuang waktunya. Serta mungkin Sandra akan melakukan apa saja untuk menahannya pergi. Lagipula, semalam ia tidak memperhatikan di mana Sandra memarkir mobilnya.


Anaya berjalan terus ke lobby. Sebuah taksi berhenti menurunkan penumpang. Anaya spontan mengejarnya dan meminta izin untuk naik. Bersyukur pengemudinya mengangguk. Ia pun melompat masuk dan duduk di kursi penumpang. Ia sembarang menyebut tujuan agar si pegemudi lekas menjalankan mobilnya. Ia khawatir Izzar keburu datang dan memergokinya.


Setelah keluar dari kompleks apartemen Sandra, Anaya menarik nafas lega. Ia belum punya tujuan pasti. Tapi, ia malah terpikir untuk mengambil barang-barangnya dan Naira di rumah Izzar. Bila benar yang dikatakan Sandra bahwa lelaki itu sedang dalam perjalanan menjemputnya, berarti ia bisa leluasa ke rumahnya. Kebetulan ia memang membawa kunci duplikat. Pasti Sandra dan Izzar tak punya ide dia sedang berada di mana sekarang.


Ia pun meminta pengemudi merubah arah. Sampai di rumah, ia memasukkan secukupnya pakaiannya dan  Naira ke dalam tas. Juga baju-baju Mba Kemi. Lalu, dengan taksi yang sama, ia melanjutkan perjalanan menuju apartemen yang disewanya sebulan melalui aplikasi online.


Anaya hanya sedang ingin sendiri saat ini.


Sementara itu di apartemen Sandra, Izzar harus menelan rasa kecewanya karena tidak berhasil menemui Anaya.

__ADS_1


"Maaf, Zar. Aku ngga tahu dia pergi kemana. Mestinya aku tadi ngga bilang kamu mau kesini." Sandra sungguh menyesal.


Izzar mengeluh. Diremasnya rambutnya meluapkan rasa gemasnya pada Anaya.


"Kamu tahu kan kalau dia sedang marah bagaimana.  Tunggu saja sampai dia reda dulu," ujar Sandra menyarankan.


"Anaya sudah cerita apa?" tanya Izzar.


Semula, Sandra ragu mengulang apa yang dikisahkan Anaya dan menyebabkan amarahnya yang seperti ini. Tapi, demi melihat keresahan Izzar, ia pun menyampaikan yang didengarnya.


"Benar begitu?" tanya Sandra mengkonfirmasi.


Izzar diam. Dia menatap Sandra dalam. Menimbang apa yang sebaiknya dia jawab.


...***...


Di apartemen full furnished berkamar dua yang disewanya, Anaya baru selesai mandi dan berpakaian. Ponselnya di nakas berdering memanggil. Nama yang terpampang di layarnya membuatnya tertegun. Ia sama sekali tidak berharap lelaki itu menelefonnya. Tetapi, sebelum deringan terakhir, jarinya menekan tombol jawab.


"Hai!"


"Hai!"


"Kamu di mana?"


"Kenapa memangnya?"


"Aku mau ketemu."


"Ngapain lagi?"


"Ada yang harus kita bicarakan."


Anaya bimbang.


"Ayolah Anaya! Kita harus bicara!" Suaranya memohon.


"Oke!"


"Kamu dimana. Aku segera kesitu."


"Nanti ku shareloc."


"Oke!"


Mereka bersepakat.


Setelah memulas wajah seadanya, Anaya turun dari lantai 16 apartemen dan menunggu lelaki itu di sebuah cafe yang terletak di lantai dasar gedung. Perutnya sangat lapar. Ia langsung memesan makanan tanpa menunggu.


Sejam kemudian, lelaki itu datang.


"Hai, Nay!" sapanya.


"Sorry aku makan duluan. Anaya mempersilahkannya duduk di hadapannya.


Ridwan tersenyum menarik kursi di hadapan Anaya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2