
Anaya menarik nafas panjang setelah menelefon Izzar. Ada rasa cemas mendengar berita bahwa Pak Arsyad sedang sakit.
"Nay!" Sandra memanggil Anaya.
Anaya melanjutkan langkahnya mendekati sahabatnya.
"Kenapa, Nay? Kok kayak orang bingung?" tanya Sandra begitu Anaya tiba di sampingnya.
"Ayahnya Ridwan sakit, dan ingin sekali ketemu Naira. Ridwan minta izin bawa Naira. Jadi, anak itu ngga kesini nanti."
"Hmm... sakitnya seriuskah?"
Anaya mengangkat bahunya. Dalam hati, sebenarnya ia mengkhawatirkan Pak Arsyad. Walau bagaimanapun, lelaki penuh kuasa itu pernah menjadi ayah mertuanya. Dibalik sikap kerasnya, Anaya pun tahu, Pak Arsyad sebenarnya menyayangi dirinya. Ia berjanji akan menjenguknya setelah acara Randi selesai.
Dalam proses persiapan acara pernikahan Randi, Anaya lebih disibukkan dengan kegiatan menghadapi keluarga besarnya. Tante Tania dan kerabat yang lain bolak-balik memanggilnya dan mengajaknya mengobrol. Mereka bergantian menanyakan keberadaan suami baru Anaya. Sebab, banyak dari mereka memang tidak diundang di pernikahan Anaya dan Izzar.
Sementara Izzar belum juga muncul hingga senja tiba. Anaya mulai senewen karena tak lama lagi ia harus menghadiri acara makan malam keluarga besarnya di sebuah restoran di kawasan Puncak.
"Izzar mana, Nay?" Randi ikut bertanya pada Anaya yang baru selesai memberikan briefing kepada timnya. Keluarganya sudah bersiap berangkat.
Anaya menarik nafas panjangnya, ia lelah ditanya hal yang sama berulang-ulang.
"Tadi kutelefon, katanya dia masih ada kerjaan," jawab Anaya.
"Sudah makin banyak proyek dia sekarang, ya? Hati-hati kamu mulai dijadikan prioritas nomor dua." Randi tertawa.
Anaya tidak menanggapi.
"Aku dan yang lainnya sudah mau jalan ke restoran. Habis makan, aku dan orang tuaku kembali ke hotel dan yang lain ke vilanya. Kamu mau bagaimana? Nunggu Izzar di sini?"
Anaya menggeleng. Ia tidak tahu kapan Izzar datang. Ia tidak mungkin juga menunggu di sini. Anak buahnya sudah bersiap istirahat, dan Sandra sudah kembali ke Jakarta. Lagipula tas pakaian dan perlengkapannya sudah berada di kamar hotel.
"Aku langsung ke hotel saja," sahut Anaya mantap. Ia letih berdekatan dengan saudara-saudaranya.
"Jangan macam-macam! Kamu harus ikut makan malam!" sergah Randi. "Bareng saja di mobilku!"
Kalimat Randi adalah titah. Mau tak mau Anaya menurut. Ia tak bisa menolak saat ditempatkan di samping Tante Tania. Baru saja Anaya menutup pintu mobil, Tante Tania kembali menanyakan Izzar. Anaya sungguh menyesal ia tidak membawa mobilnya sendiri tadi pagi.
"Suamimu ngga ikut makan malam bersama kita?"
"Hmm.. Sepertinya ngga Tante. Dia masih ada pekerjaan." Anaya menjawab dengan nada santun.
Lama-lama Anaya jadi sebal dengan Izzar. Ketidakhadiran lelaki itu menumbuhkan dugaan dan prasangka aneh-aneh di keluarga besarnya. Tapi di sisi lain, ia juga.merasa tak berhak menuntut Izzar segera hadir di dekatnya.
__ADS_1
Suasana makan malam sebenarnya meriah dan penuh akrab. Namun, Anaya tak sepenuhnya bisa menikmati makanan dan percakapan. Sebab Izzar tak kunjung memberikan kabar mengenai keberangkatannya. Untuk menepi dari keriuhan, Anaya meminta izin Tante Tania menelefon Mba Kemi untuk mengecek Naira.
Pukul sembilan malam, Anaya dan keluarganya sudah tiba di lobby hotel. Ia ingat, ia belum memesankan kamar untuk Izzar. Tapi, ia ragu apakah lelaki itu jadi datang malam ini atau tidak.
Anaya memilih duduk di lobby dan menelefon Izzar terlebih dahulu untuk mengetahui kabarnya.
"Hei!" sapa Izzar. "Maaf aku belum bisa jalan kesana."
"Kamu di mana?"
"Di kantor. Ada proposal desain yang harus kami selesaikan malam ini."
"Untung saja Naira diajak pergi Ridwan. Kalau ngga, dia ngga ada yang ngantar kesini karena kamu ada kerjaan mendadak tapi sampai malam," ujar Anaya dengan nada sedikit kesal.
Izzar bingung bereaksi apa. Ia sendiri tidak menyangka harus bekerja sampai sejauh ini. Ia tidak bisa menjelaskan penyebab perubahan rencananya.
"Kamu beneran di kantor?"
Tiba-tiba timbul wasangka curiga di hati Anaya yang tak bisa dicegah meluncur dan terlontar dari mulutnya.
"Ya, benera**nlah!... Memangnya kamu curiga aku di mana?" Izzar balik bertanya.
"Coffee shop, sama klien." Anaya mengungkit peristiwa yang sudah lewat.
Terdengar Izzar tertawa. Anaya menggigit bibirnya. Sedetik kemudian, Izzar mengirimkan permintaan pengalihan panggilan suara menjadi panggilan video.
Layar ponselnya langsung menyajikan gambar Izzar dan sejumlah anak buahnya yang sedang sibuk dengan laptop dan kertas-kertas lebar dengan latar belakang ruang di kantornya. Anaya cepat mengalihkan panggilannya lagi menjadi suara.
"Percaya?" tanya Izzar.
"Iya!" jawab Anaya sengit. Menutupi rasa malunya.
"K**amu sudah pesan kamar buatku?"
"Belum."
"Sepertinya ngga usah dipesankan. Kemungkinan besar aku ngga bisa kesana malam ini. Aku sudah capek banget juga kalau harus nyetir jauh. Gimana kalau besok pagi-pagi saja aku berangkat ke sana?"
Anaya terdiam. Ia tak bisa memaksakan Izzar.
"Ya sudah." Anaya beranjak menuju lift. Ia ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur.
"Paling lama kami dua jam lagi selesai. Tenang saja, aku pulang ke rumah kok! Ngga ke coffee shop!" canda Izzar.
__ADS_1
Anaya ingin tertawa. Tapi egonya menahan demi gengsinya.
"Terserah kok kamu mau kemana," kata Anaya sok tidak peduli.
Izzar tertawa. Senyum Anaya mengembang. Ia lega hubungannya dengan Izzar bisa kembali menyenangkan.
Esoknya, Izzar menepati janjinya tiba di vila sebelum acara dimulai. Anaya tidak sempat langsung menemuinya. Ia sedang mengecek Sarah yang sedang didandani di kamar vila yang memang dikhususkan untuk kamar rias pengantin.
Tante-tantenya langsung mengerubungi Izzar begitu Randi yang telah siap dengan penampilannya mengenalkannya sebagai suami Anaya kepada kerabat yang belum mengenalnya.
Anaya tersenyum memperhatikan kecanggungan Izzar di tengah wanita-wanita yang haus dengan pergosipan keluarga besar. Tampak Izzar berusaha sabar menanggapi satu-persatu keceriwisan kerabat Anaya. Ia membiarkannya. Setelah dilihatnya Izzar kewalahan, baru ia menghampiri dan menyelamatkannya.
"Permisi! Boleh saya pinjam suami saya sebentar?" Anaya menarik tangan Izzar menjauhi tante-tantenya. Ia tak ambil pusing dengan celotehan bercanda yang didengarnya.
"Kenapa ngga dari tadi kamu tarik aku?" protes Izzar.
Anaya tertawa.
"Kamu sudah sarapan?"
"Belum."
Anaya membawa Izzar ke pantry dan memberikannya secangkir teh. Izzar menerimanya dan meminumnya sambil memperhatikan Anaya.
Perempuan di hadapannya tampak memesona dengan gaun simple putih di bawah lutut, sesuai warna dresscode untuk tamu undangan, dengan rambut yang dibentuk bergelombang. Wajahnya dirias sederhana saja. Namun aura cantiknya malah semakin natural memancar.
"Mau makan apa?"
Anaya tidak pernah menawari Izzar makan sebelumnya. Ia hanya menyiapkan tanpa pernah berupaya menanyai keinginan Izzar.
Izzar maklum, tentu saja Anaya hanya pura-pura menjadi isteri yang sangat perhatian kepada suaminya sekarang ini. Tak urung, Izzar memanfaatkan kesempatan. Dibiarkannya Anaya melayani dirinya selayaknya perlakuan isteri yang baik.
Acara akad nikah berlangsung lancar. Tetamu yang hadir mulai menikmati hidangan. Anaya berdiri di dekat kolam renang yang berada di kontur tanah tertinggi. Dari sini ia bisa leluasa mengamati semua sambil mendengarkan laporan Dian yang berdiri di sampingnya. Tak jauh darinya, Izzar sedang duduk di kursi teras, berbincang dengan salah satu pamannya.
Acara pernikahan Randi dan Sarah tidak memiliki pelaminan. Tamu-tamu duduk di kursi-kursi yang mengelilingi meja. Sedangkan pengantin duduk di meja tengah, berbaur dengan tamu dan keluarga.
Sehabis makan siang, acara akan diisi dengan games yang membuat semua tamu akan saling berinteraksi.
Tamu undangan tidak serempak kedatangannya. Anaya memandangi sekilas orang-orang yang baru tiba memasuki pintu pagar. Ia tidak mengetahui siapa saja mereka kecuali memang anggota keluarga besarnya.
Namun, tiba-tiba ada yang menarik perhatiannya. Sesosok wanita langsing mengenakan gaun tanpa lengan dengan panjang di atas lutut dan berkerah rendah. Ia berjalan di sisi seorang lelaki berkacamata.
Anaya langsung mengenalinya. Seketika dadanya bergemuruh. Matanya langsung mencari Izzar yang ternyata juga sedang tertegun memandangi obyek yang sama dengannya
__ADS_1
Dalam hati, Anaya memaki Randi. Apa maksudnya dia mengundang Sasika di acara ini?
...***...