
Sekembali dari vila, rasa canggung Anaya kepada Izzar memupus. Ada perasaan nyaman di dekat Izzar, karena lelaki itu seolah memahaminya tanpa ia perlu berkata banyak. Ternyata memang benar, jiwa-jiwa yang tenang akan menebarkan energi positif. Suasana rumah mereka pun kini jadi terasa lebih menghangat.
Sementara itu, Tristan semakin intens menggapai perhatian Anaya. Ditambah lagi acara outing kantornya semakin mendekat. Acara tersebut akan dilaksanakan hari Rabu – Jum’at di Bogor. Tristan meminta Anaya dan Sandra stand by terus di acaranya walaupun sudah ada project manager dan tim yang ditugaskan.
Sandra langsung mengiyakan. Sebaliknya, meski Anaya menyukai ide tersebut karena bisa berada dekat dengan Tristan, hatinya ragu. Ia jadi teringat Naira dan Izzar.
“San, Tristan sudah tahu kalau aku berstatus isteri Izzar sekarang?” tanya Anaya sehabis meeting terakhir persiapan.
“Hmm… iya. Aku yang kasih tahu… Aku ngga bilang kalau kalian nikah kontrak, aku cuma bilang kalau kamu dan Izzar sudah sepakat akan berpisah.” Sandra menjawab hati-hati.
“Reaksinya?”
“Katanya, dia akan menunggu sebab kamu memang pantas ditunggu.” Sandra tersenyum.
Anaya merasa tersanjung.
“Ambillah kesempatan di Bogor nanti, Nay. Kita di sana sampai Jum’at pagi saja. Ingat kita punya wedding event anaknya pejabat bank di hari Sabtu.”
“Aku takut Ridwan tahu aku dekat-dekat dengan lelaki lain.”
“Nggalah. Kan ada aku sebagai kamuflase. Tapi, kalian harus rela aku akan selalu ada di tengah kalian. Kita juga bisa menikmati me time di sana. Salon dan spa di hotel itu salah satu yang terbaik menurutku. Aku akan minta Ferdi memesankan satu kamar untuk kita berdua. Gimana, oke?”
Anaya berpikir sejenak. “Oke! Aku minta izin Izzar dulu!”
“Hah?!” Sandra tempak terkejut. “Kenapa harus izin dia? Kayak isteri minta izin ke suami betulan aja.”
Anaya pun heran sendiri mengapa ia merasa harus meminta izin Izzar. Tapi, setelahnya ia meyakinkan dirinya bahwa karena ia sudah memilih berteman dengan lelaki itu, jadi wajar saja bila ia meminta izinnya sekaligus menitipkan Naira.
“Eee… Aku kan mau ngga mau nitip Naira ke dia, San. Supaya dia bantu Mba Kemi menjaga dan mengasuhnya.” Anaya memberi alasan.
Untunglah Sandra menganggap alasan Anaya masuk akal.
Izzar tidak keberatan dengan rencana Anaya. Ia malah meledek Anaya yang akan berkesempatan bisa bersama-sama dengan Tristan. Anaya kaget Izzar berani menggodanya demikian. Namun, kemudian ia malah merasa lapang dengan keterbukaan dan pengertian Izzar.
Acara Outing kantor Tristan dimulai dari Rabu siang. Setiap ada kesempatan, Tristan selalu mendekati Anaya. Sandra menepati janjinya dengan senanatiasa tetap mendampingi Anaya.
Selesai acara malam itu, Tristan mengajak Anaya berbincang di kafe hotel. Sandra menemani di meja terpisah, asik sendiri menelefon seseorang.
Tristan menceritakan tentang kehidupan perkawinannya dan alasan ia bercerai.
“Dia terlalu mengekang, banyak mengatur. Aku ngga suka diperlukan seperti itu,” kisah Tristan.
Anaya hanya diam mendengarkan keluh-kesah Tristan tentang mantan isterinya. Tapi, lama-lama ia jengah dan risih. Sebab, Tristan terlalu detail menceritakan keburukan perempuan yang pernah dicintainya.
“Kamu sendiri, kenapa ingin berpisah dengan suamimu yang sekarang? Apakah kelakuannya sama dengan Ridwan?” tanya Tristan setelah menyeruput cappucinonya.
Anaya tergagap. Sejenak ia membandingkan Izzar dengan Ridwan. Beberapa saat berpikir, ia tak menemukan perilaku keseharian Izzar yang menyerupai Ridwan.
__ADS_1
“Ayo dong cerita! Aku kan sudah kasih tahu gimana mantanku dulu.” Tristan menunggu jawabannya.
Tuntutan Tristan membuat Anaya gelisah. Ia tidak suka dipaksa mengungkapkan keburukan orang lain. Tentang Ridwan pun, sebenarnya banyak hal yang mengecewakannya yang ia simpan sendiri. Apalagi ini tentang Izzar, yang walaupun belum lama ia kenal, namun tak ada kejelekan yang berkesan dalam. Justeru di awal-awal, dirinyalah yang banyak menyakiti Izzar.
Kala Anaya bingung menjawab apa, ponselnya berbunyi. Izzar mengirimkan pesan meminta Anaya meluangkan waktu untuk panggilan video, sebab Naira tidak bisa tidur karena kangen dirinya.
“Sorry, anakku minta video call!” ujar Anaya sambil mengambil earphonenya di tas kecilnya.
Tristan mengangguk maklum, dan pindah ke meja Sandra untuk memberikan kesempatan Anaya berkomunikasi dengan anaknya.
Di layar ponselnya, terlihat Naira bersandar manja di dada Izzar. Wajah mungilnya cemberut. Anak itu kesal sebab Anaya seharian ini belum menelefonnya. Anaya membujuknya. Dalam sekejap, Naira kembali ceria. Lalu ketiganya berbincang berbagi pengalaman hari itu. Tanpa disadari, Anaya sangat menikmati momen tersebut. Ia merasa homey.
Izzar berjanji akan menelefon Anaya lagi sebelum Naira berangkat sekolah besok pagi.
Melihat Anaya telah usai melakukan video call, Tristan kembali menghampirinya.
“Sudah selesai?”
“Iya.”
“Boleh kulihat foto anakmu?” pinta Tristan.
Anaya menunjukkan beberapa foto Naira di ponselnya.
“Dia lucu, cantik. Mirip banget sama kamu.”
“Kapan aku bisa ketemu anakmu?”
“Untuk apa?” Anaya heran.
“Kenalan. Aku kan harus pendekatan ke anakmu juga,” jawab Tristan.
Anaya tertegun. Ia merasa seperti orang yang sedang melangkah santai, lalu disuruh mensejajarkan diri dengan kereta yang melaju cepat. Ia malah jadi resah dan ingin berlari menjauh.
Dengan alasan mengantuk, Anaya meminta izin kembali ke kamar. Sandra mengikuti. Mereka bertiga berjalan sambil berbincang menuju lift.
Kamar Anaya dan Sandra satu lantai dengan kamar Tristan. Saat dalam lift, Sandra ditelefon Ferdi, si project manager. Ada masalah yang membutuhkan arahan langsung Sandra di ruang meeting untuk kegiatan besok.
“Aku ke meeting room dulu ya!”
“Aku ikut!” seru Anaya.
“Ngga usah! Sebentar kok!”
Sandra mendorong Anaya dan Tristan keluar begitu pintu lift terbuka, sedangkan ia kembali turun ke bawah.
Berbeda dengan sebelumnya, sekarang Anaya merasa canggung berdua saja dengan Tristan. Ia langsung merinding ketika tiba-tiba Tristan menggandeng tangannya, dan menariknya lembut.
__ADS_1
“Kita ke kamarku aja, yuk!”
Anaya menahan langkah kakinya. Ia sempat berpikir salah mendengar ucapan Tristan.
“Apa?”
“Ke kamarku. Kita kan ngga mungkin ke kamarmu. Ngga enak kalau Sandra kembali nanti.” Tristan melepaskan gandengannya, tapi tangannya berpindah memeluk pinggang Anaya. Tubuhnya semakin merapat. Nafasnya panas memburu menyapu kening Anaya.
Jantung Anaya berdegup kencang. Keresahan yang sejak tadi menggelayutinya berubah jadi gelombang cemas yang melanda ketenangannya. Sekejap, ia paham apa yang diinginkan Tristan.
“Maaf, aku ngga bisa!” Anaya cepat melepaskan pelukan Tristan, lalu berjalan cepat melalui lorong menuju kamarnya. Tangannya gugup mencari kartu kunci di tasnya.
“Anaya!” Tristan mengejarnya.
Pada saat ia berhasil membuka pintu, Tristan sudah berjarak semeter darinya.
“Tolong menjauh dariku! Aku bukan perempuan gampangan seperti yang kamu pikirkan!” Anaya berkata ketus.
Ekspresi wajahnya sungguh garang. Sementara kaki dan tangannya sudah siap dalam sikap posisi kuda-kuda siap menyerang.
Tristan mundur selangkah. Ia ingat dulu di SMA, Anaya berlatih taekwondo, walaupun lupa hingga sabuk apa.
“Sorry, Nay! Aku minta maaf!”
Anaya cepat masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Ia duduk di tepi ranjang menata emosinya. Ia sungguh kecewa dengan Tristan yang sangat tidak menghargai dirinya yang masih berstatus isteri orang. Keputusannya membuka hati kepadanya benar-benar tindakan yang salah.
Semenit kemudian, Anaya memasukkan barang-barangnya ke koper, dan menelefon sopir kantor untuk menunggunya di lobby. Lalu, ia bergegas keluar seraya menelefon Izzar.
“Hei? Belum tidur?” sapa Izzar.
Mulut Anaya terkunci. Suara Izzar sejuk menyentuh batinnya yang rentan.
“Anaya?”
“Aku mau pulang!”
Percuma susah payah Anaya menahan air matanya. Ia terisak juga. Kekecewaannya terhadap Tristan mengguncang jiwanya.
“Perlu kujemput?” Izzar dapat mendengar tangis tertahan Anaya.
“Ngga usah. Aku diantar sopir kantor.
“Oke! Aku tungguin di rumah. Hati-hati!”
Tanpa berpamitan pada Sandra, Anaya pulang sendirian. Meski tak mau menuduh, ia jadi menduga Sandra bekerja sama dengan Tristan demi menjebaknya.
...***...
__ADS_1