
Kantuk Anaya menguap. Ia melalui malam itu dengan mata terbuka dan pikiran yang bercabang-cabang. Ia resah memikirkan mengapa ia yang berlari meninggalkan Izzar? Meskipun yang dialaminya tadi hanya mimpi, tak henti hatinya bertanya-tanya menerka artinya.
Mata Anaya baru terpincing menjelang subuh. Tidurnya benar-benar pulas. Ia baru terjaga oleh ciuman Naira yang berpamitan berangkat sekolah dan Izzar yang akan berangkat kerja.
"Kenapa aku baru dibangunkan?" protes Anaya pada Izzar.
"Mama tidurnya kayak orang pingsan." Naira yang menjawab.
"Benarkah?" Anaya tidak percaya.
Izzar mengangguk. Anaya mengucek matanya. Ia mencoba mengangkat tubuhnya. Namun, sakit di kepala menahannya. Dipejamkannya kembali matanya. "Aku pusing banget."
"Hari ini kamu istirahat saja. Ngga usah beresin rumah di sana dulu." Izzar mengira Anaya keletihan karena hal tersebut.
Ingin Anaya membantah. Tapi, diurungkannya. Biarlah Izzar menyangkanya demikian. Ia enggan menceritakan mimpi yang membuatnya terjaga lama . Karena, lelaki ini pasti hanya menganggapnya bunga tidur.
"Naira siapa yang antar?"
"Aku... Pulangnya biar dijemput Mba Kemi nanti." Izzar membelai kepala Anaya. Ingin ia mencium keningnya, tapi Naira bisa-bisa ribut nanti.
Anaya mengangguk.
"Mau kuambilkan obat?" Izzar bertanya lembut.
"Ngga usah."
Dengan senyum, Anaya melepas keduanya pergi. Dipejamkannya matanya kembali dan tak lama kemudian, ia terlelap. Rasa penat akibat kurang tidurnya semalam, terbayar tuntas.
Ia baru terbangun saat matahari hampir di setengah perjalanan siangnya. Naira sudah kembali ke rumah dan sedang menunggu Mba Kemi menyiapkan makan siang.
Sakit di kepala Anaya sudah berkurang. Ia segera menyibakkan selimutnya beranjak dari tempat tidurnya. Perutnya lapar, namun ia merasa tak nyaman dengan tubuhnya. Setelah mandi, Anaya merasa segar lagi. Ia duduk mendekam di sofa mengecek ponselnya.
Dari sejumlah notifikasi, beberapa panggilan tidak terjawab dan pesan dari Sandra paling menarik perhatiannya. Sahabatnya itu mempertanyakan keberadaan dirinya. Pesannya terakhirnya memberitahukan bahwa ia sedang di jalan menuju rumah Anaya. Dan, baru Anaya akan menjawabnya, mobil Sandra sudah tiba di depan rumah.
"Cepat amat, San! Baru aku mau jawab pesanmu."
"Aku kirim pesan sudah sejam yang lalu," sahut Sandra sedikit kesal. Ia meletakkan semua bawaannya di meja makan. Ia membawakan cappucino ice, dan sekantung besar ayam goreng, burger dan kentang goreng. Naira berteriak senang, dan langsung melupakan sup wortel yang sedang disiapkan Mba Kemi.
__ADS_1
"Aku telefon kamu berkali-kali ngga dijawab. Kutanya Izzar, katanya kamu sakit?" tanya Sandra.
"Cuma sakit kepala. Kurang tidur aja semalam," jawab Anaya. Ia mengambil dua potong ayam dan seporsi kentang, lalu mengajak Sandra ke kamar kerja Izzar, satu-satunya tempat yang tenang dan agak kedap suara di rumah ini.
"Kenapa kamu ngga bisa tidur?" tanya Sandra.
Anaya yang sedang mengunyah sebatang kentang goreng menjeda menjawab. Setelah menelannya tandas, ia menceritakan mimpinya.
"Halah! Kembang tidur aja kamu pikirin. Ngga penting itu!" Sandra menganggap sepele cerita Anay
"Cerita Ridwan dan Sasika kemarin bagaimana?" Anaya mengingatkan peristiwa Sandra bertemu mantannya itu.
"Ngga seru juga, sih. Mereka sepertinya sudah tahu duluan ada aku dan anak-anak di sana. Pas aku kembali, mereka sedang buru-buru pergi."
"Yaahhh..." Anaya menunjukkan kecewanya. "Padahal aku beneran heran mereka bisa bersama."
"Yang aku tahu, isterinya Ridwan sudah meninggalkannya. Tapi, ya aneh juga kalau terus dia sekarang dekat dengan Sasika. Seperti kisah-kisah selebriti saja kalian semua. Mantan jadian dengan mantan." Sandra tertawa.
Anaya meringis. Tertawa miris. Terlalu kebetulan jika memang demikian kisah hidup mereka.
"Aku sudah ngga dekat lagi dengan si pengacara Pak Arsyad. Malesin lama-lama orangnya. Lama-lama posesif dan mengekang aku. Padahal aku ngga serius sama dia, cuma main-main aja. Having fun. Dia belakangan ngomongin soal nikah melulu. Sebel aku!" Sandra bergidik.
"Semua lelaki kamu malesin, sih. Ngga ada yang bener... Ingat, ayahmu sudah kepengen punya cucu!" Anaya tersenyum mengingatkan.
Sandra menggeleng. "Aku sudah cukup bahagia hidup sendiri begini. Kemana saja bebas. Ngga ada yang melarang ini itu."
Anaya menggigit ujung ayam gorengnya. Dirinya berbeda dengan Sandra yang benar-benar berani dan kuat hidup sendiri. Sebaliknya, dirinya sangatlah membutuhkan pendamping yang mengarahkannya. Meskipun, sehabis berpisah dengan Ridwan ia sempat menutup hatinya.
"Kamu bahagia sekarang, Nay?" Sandra memperhatikan wajah Anaya. Sejak mengakui dirinya telah mengizinkan Izzar memiliki hatinya, Anaya tampak berubah di matanya. Sahabatnya ini lebih tenang, kalem, dan mudah tersenyum.
Anaya mengangguk.
"Syukurlah. Aku ikut seneng kalau kamu happy." Sandra menyesap minumannya.
Keduanya diam beberapa saat. Sandra berkonsentrasi pada pesan yang baru masuk di ponselnya.
"San!" Anaya menyebut nama Sandra, meminta perhatiannya.
__ADS_1
"Ya?" Sandra menjawab dengan mata masih berfokus pada ponselnya.
"Kalau semisalnya aku berhenti kerja bagaimana?" tanya Anaya pelan. Ia ingin membahas isu yang diperbincangkannya dengan Izzar kemarin.
Sandra mengangkat kepalanya. Ia tak menyangka Anaya punya keinginan demikian.
"Kenapa? Izzar melarang kamu kerja?"
"Ngga juga, sih!" Anaya menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Terus?" Sandra menatap Anaya.
"Akunya aja yang lagi senang santai." Anaya tersenyum. Ia merasa telah salah berbicara.
Sandra menelisik wajah Anaya yang tertunduk. Ia bisa melihat kebimbangan yang terpancar.
"Kamu mau melepaskan usaha yang kita rintis berdua, Nay?" suara Sandra lirih.
Anaya mendesah. "Aku ngga tahu, San. Tiba-tiba saja pikiran ngga bekerja rutin terlintas. Mungkin karena aku benar-benar lagi menikmati suasana cuti ini. Nanti, kalau sudah kelamaan di rumah, aku takut bosan juga. Terus malah kangen kerja lagi."
Sandra menerawang. Ia terbiasa bekerja sama dengan Anaya. Mereka tim yang hebat sebab bisa saling melengkapi. Jika sampai Anaya memutuskan keluar, lalu bagaimana dengan dirinya? Apa ia bisa menjalankan perusahaan tanpa rekanan sehati yang sangat memahami dirinya?
Sesungguhnya, Sandra sadar dan tak bisa menghindari, ada perbedaan prinsip hidup di antara mereka berdua. Sejak mengenal Anaya, Sandra tahu jika Anaya memiliki sifat family oriented. Sedangkan dirinya justeru sebaliknya. Ia tak suka terikat. Bahkan jika ia harus menikah kelak, ia akan memilih perkawinan childfree. Ia sungguh tak suka dengan komitmen. Sejujurnya ia tak suka kerepotan memiliki anak.
"Kalau boleh memilih, aku ngga mau ditinggalin kamu, Nay! Aku mau kita terus bersama-sama mengembangkan usaha kita. Tapi, aku sadar ngga berhak melarang keinginanmu. Yang penting, pilihanmu membuat kamu bahagia.
Anaya mendengarkan dan meresapi perkataan Anaya. Semua memang tergantung pilihannya.
"Tapi, aku cuma mau mengingatkan. Terserah kamu suka atau tidak. Aku mengerti, banyak suami yang menginginkan isterinya tidak bekerja dengan berbagai alasan. Aku tidak tahu alasan Izzar.
"Tapi, kamu harus belajar dari pengalamanmu bersama Ridwan. Kita tidak tau apa yang akan terjadi ke depan. Biarpun kuyakin Izzar berbeda dari mantan suamimu, aku ingin kamu tetap punya penghasilan sendiri. Aku mau kamu tetap mandiri secara finansial." Sandra menuturkan kekhawatirannya.
Anaya termenung. Sandra ada benarnya. Kita tak tahu hari esok akan terjadi apa.
Lalu, mimpinya semalam kembali membayang. Risau kembali memeluk jiwanya.
...***...
__ADS_1