Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
49 - Mencari


__ADS_3

Sandra menyerah menelefon Anaya, setelah panggilan ketujuhnya tidak juga dijawab. Diletakkannya ponselnya di meja. Ia menatap Izzar yang masih duduk termenung di kursinya. Wajahnya tampak lelah.


"Ngga dijawab juga, Zar." Sandra mengeluh. "Mungkin dia sudah pulang ke rumahmu?"


Izzar mengangkat bahunya. Ia tak yakin Anaya kembali ke rumah. Bukankah ia tadi juteru pergi menghindarinya? Ia jadi menahan kesal karena tak tahu Anaya kemana. Ditambah lagi dengan menyadari nomornya telah diblokir.


"Kamu ngga coba telefon Randi, mungkin dia tahu keberadaan Anaya?" saran Sandra.


"Randi sedang di Jepang. Minggu depan baru pulang. Ngga enak aku ganggu liburannya. Lagipula, Anaya ngga mungkin mengadu ke dia saat ini," jawab Izzar.


"Mba Kemi?" Sandra menyarankan menghubungi Mba Kemi yang menemani Naira di rumah kakeknya. "Anaya pasti menghubungi dia dan Naira, kan?


"Sudah kutelefon tadi. Tapi Anaya ngga bilang sedang ada di mana."


"Bagaimana dengan Ridwan? Mungkin saja dia tahu!"


Izzar memandang Sandra ragu. "Aku ngga yakin mengingat hubungan mereka..."


Sandra menghela nafasnya. Ia berharap segera menemukan jalan keluar.


Ponsel Izzar berdering. Nama Pak Arsyad terpampang di layarnya.


"Permisi, aku harus terima telefon ini..."


Sandra menunjuk kamar tamu. Meski tak tahu siapa yang menefonnya, ia paham Izzar butuh privacy.


Izzar bergegas ke kamar tamu dan menutup pintunya.


"Halo?"


"Anaya mana, Zar? Aku telefon ngga dijawab."  Pak Arsyad bertanya tanpa basa-basi.


"Eeehhh... Saya sedang ngga sama dia. Tapi, nanti saya kasih tahu kalau Bapak telefon."


"Aku cuma mau kasih tahu kalau Naira mau kuajak ke Subang, nanti malam."


"Ya, nanti saya bilangin ke dia," sahut Izzar. Ia duduk di tepi kasur yang semalam ditiduri Anaya tanpa menyadari ada nada cemas di suaranya.


Pak Arsyad terdiam di sana. Izzar menunggu.


"Izzar... Kamu ngga tahu Anaya di mana kan?" Pak Arsyad menyatakan curiganya.


Izzar tersudut. Ia tahu, tak mungkin berbohong pada lelaki tua ini.


"Ya. Dia menginap di tempat sahabatnya semalam, tapi saya ngga tahu dia di mana sekarang." Izzar memijit keningnya.


"Anaya masih marah soal Sasika yang mendatangi kantormu?"


Meski tak heran, ia kaget juga sebab Pak Arsyad mengetahui peristiwa kemarin. Tapi, ia harus segera maklum. Kakek Naira ini punya banyak mata di mana-mana.

__ADS_1


"Aku sudah bilang padamu,kalau perempuan itu menganggu Anaya, aku akan bertindak. Dan aku sudah melakukannya. Jadi soal Sasika, kamu ngga perlu khawatir lagi."


Izzar menutup mulutnya. Berdebar juga ia ingin mengetahui apa yang telah dilakukan Pak Arsyad kepada mantan tunangannya itu. Padahal kemarin pun ia sudah langsung memarahi Sasika habis-habisan. Salah Sasika juga masih saja mendekatinya, meskipun sudah diberitahu bahwa Pak Arsyad sangat menjaga Anaya.


"Masalahnya, sepertinya bukan hanya soal Sasika yang membuat Anaya marah seperti ini. Ada hal lain," Izzar mencoba menjelaskan apa yang diceritakan Sandra padanya.


"Aku mengerti hal lain itu. Tapi, kamu tidak boleh menceritakannya dulu kepada Anaya. Kalau tugasmu sudah selesai, baru kamu bisa bilang kepadanya. Bersabarlah, paling lama seminggu lagi."


Tangan Izzar terkepal. Lagi-lagi ia tidak dapat memilih. Urusannya dengan Pak Arsyad malah beresiko ia bisa kehilangan Anaya.


"Aku akan membantu mencari Anaya. Dia pasti aman. Tunggu saja, nanti kuberi tahu di mana dia." Pak Arsyad menawarkan bantuan.


"Ya. Saya tunggu. Terima kasih."


Pak Arsyad mengakhiri panggilannya.


Rasa lelah mendorong Izzar merebahkan tubuhnya. Bantal di sisinya masih menyisakan sedikit wangi harum rambut Anaya. Izzar menghirupnya. Betapa ia merindukan perempuan keras hati itu. Dipejamkannya matanya mencoba mengistirahatkan penatnya sejenak. Walau kemudian ia malah terlelap.


"Izzar!"


Suara Sandra memanggil namanya dan ketukan di pintu membangunkan Izzar. Ia melihat jamnya, tak terasa setengah sejam ia tertidur.


"Ya!"  Izzar membuka pintu. "Sorry aku ketiduran."


"Maaf, kalau aku bangunin kamu," kata Sandra. "Tapi aku baru ingat sesuatu."


"Apa?" Izzar menyandarkan tubuhnya di kusen pintu.


"Ya." Izzar tahu, dan sesungguhnya dia sudah mencoba mengingatnya sejak beberapa minggu lalu.


"Dia punya kebiasaan, ziarah ke makam orang tuanya. Soalnya, tanggal lahirnya sama dengan almarhum ibunya. Jadi, aku yakin dia kesana hari ini." Sandra tersenyum setelah menyampaikan informasinya.


"Kamu tahu di mana pemakamannya?"


Sandra bergegas ke meja kerjanya, mengambil post it dan pulpen. Ditulisnya nama sebuah komplek pemakaman, lengkap dengan blok dan nomor lokasi makamnya. Juga nama lengkap orang tua Anaya, khawatir Izzar tidak hapal.


"Makam orang tuanya bersebelahan." Sandra menyodorkan selembar post it kuning muda tersebut. Ia tahu semua karena sering menemani Anaya ziarah.


Izzar membacanya. "Oke! Aku coba kesana!"


"Kalau dia nanti menghubungiku, aku akan kasih kabar ke kamu."


"Terima kasih, San." Izzar bersiap beranjak pergi.


"Eh iya! Mobil Anaya bagaimana?" Sandra menunjukkan kunci mobil di meja makan.


"Bisa titip di sini saja? Biar kamu punya alasan ketemu waktu dia ngambil sendiri."


"Oke."

__ADS_1


Sandra mengunci pintu. Ia kembali menelefon Anaya. Namun tetap saja tidak dijawab.


"Nyebelin banget kamu, Anaya!" serunya memaki.


Ia merasa tak berguna. Sudah Izzar tidak mau memberikan konfirmasi dengan menceritakan masalah menurut versinya, Anaya juga ngambek padanya.


...***...


Izzar tiba di pemakaman lewat tengah hari. Dengan petunjuk penjaga makam, Izzar menemukan makam orang tua Anaya. Kedua makam itu rapi tertutup rumput terawat dan bersih. Tak ada taburan bunga di atasnya. Berarti, Anaya belum tiba di sini.


Setelah berdoa, Izzar kembali ke mobilnya. Ia memarkinya di bawah pohon, agak jauh namun masih bisa memantau kemungkinan kedatangan Anaya.


Ia menunggu sambil bergantian membuka laptop dan ponselnya, memeriksa pekerjaannya. Berulang kali ia juga mencoba menelefon Anaya. Berharap perempuan itu telah membuka blokiran nomornya.


Ia terpikir untuk membeli saja nomor baru agar bisa masuk ke ponsel Anaya. Tapi, Anaya tidak akan pernah menjawab nomor yang tidak dikenalnya kecuali telah mengkonfirmasi diri melalui pesan terlebih dahulu.


Langit mulai berwarna jingga. Anaya belum terlihat juga. Saat Izzar mulai putus asa, sebuah pesan masuk di ponselnya. Pak Arsyad membagikan sebuah lokasi, disertai dengan alamat lengkap. Sedetik kemudian, Izzar menyalakan mesin mobilnya.


...***...


Anaya baru saja terjaga. Warna pemandangan di luar jendelanya telah berubah gelap. Ia mencoba bangkit menutup gordennya walau rasa pusing masih melekat sedikit di kepalanya.


Sehabis bertemu Ridwan tadi siang, ia langsung kembali ke apartemennya karena merasakan mual dan pening yang hebat. Untung saja di tasnya masih tersisa obat maag yang selalu dibawanya. Ia langsung tertidur setelah meminumnya. Rencana mengunjungi makam orang tuanya pun terpaksa tertunda.


Setelah menutup jendelanya, Anaya kembali berbaring sambil memeriksa ponselnya. Puluhan panggilan dari Sandra langsung diabaikannya, juga dari Ridwan dan nomor yang tidak dikenalnya. Ia baru agak terkesiap san cemas ketika menemukan nama Pak Arsyad di antaranya.


Anaya duduk, mengambil nafas dan bersiap menelefon balik. Namun, seperti kontak batin, panggilan Pak Arsyad masuk terlebih dahulu. Cukup satu dering, Anaya langsung menjawabnya.


"Halo?"


Bersamaan dengan itu, terdengar suara bel pintu.


"Anaya?"


"Iya." Anaya membagi perhatiannya antara ponsel yang menempel di telinga dan pintunya.


"Kamu di dalam apartemen?"


"I...iya." Anaya bingung, dari mana Pak Arsyad tahu ia di apartemen? Dari Ridwankah?


Suara bel terdengar lagi.


"Oke! Tolong buka pintunya!"


Seketika Anaya panik. Ia langsung menduga Pak Arsyad sedang menekan-nekan pintu apartemennya. Ia memutar handle  tanpa melepas kaitan gerendelnya. Lalu ia tertegun.


"Temui suamimu, dan selesaikan masalahmu baik-baik!" Pak Arsyad mengakhiri panggilannya.


Dari celah yang terbuka, matanya langsung tertumbuk pada Izzar yang menatapnya dalam.

__ADS_1


...***...


__ADS_2