
Ridwan duduk di hadapan Anaya. Ia memperhatikan sisi meja Anaya yang masih dipenuhi piring-piring kosong.
"Tumben makanmu banyak," kata Ridwan meledeknya. Ia bisa menilai dari jumlah piring dan mangkuk yang ada. Tak ada nada sinis seperti yang biasanya. Hanya terdengar seperti gurauan saja.
"Ngapain jadi ngurusin makanku, sih? Terserah aku mau makan banyak apa ngga!" ketus Anaya. Meski ia mengakui dalam hati, ia makan dengan porsi lebih dari yang biasanya. Sejak semalam ia baru hanya mengisi perutnya dengan sepotong pizza di apartemen Sandra.
Ridwan terus saja mengembangkan senyumnya.
"Bagaimana kabar ayahmu?" tanya Anaya.
"Ngga tahu." Ridwan menjawab malas.
"Kok ngga tahu? Kamu kan kemarin ke rumahnya, mau protes soal saham?" Anaya heran.
"Ayahku, ngga mau nemuin aku. Dia malah nyuruh aku nemuin pengacaranya saja."
Anaya terpana. Bagaimana bisa?... Tapi, mengingat betapa keras hatinya lelaki tua itu, Anaya maklum.
"Dan, kamu sudah menemui pengacaranya?"
"Ya."
"Lalu?" Anaya jadi penasaran.
"Ah! Malaslah aku bahasnya." Ridwan menolak menjawab. Wajahnya tampak lesu.
"Tapi, kamu masih bantu bekerja di sana kan?" tanya Anaya. Setahunya, sejak ia dan Ridwan bercerai, Pak Arsyad mempekerjakan Ridwan di perusahaannya.
"Aku ngga mau membahasnya, Anaya!" Ridwan berusaha melembutkan suaranya walau tetap saja sedikit kesal.
"Lalu, sekarang kamu mau membicarakan apa?" Anaya pun menyabarkan dirinya.
"Hmmm... Boleh aku pesan makanan dulu?"
"Silahkan!" Anaya melipat kedua tangannya di dada.
Ridwan memanggil pelayan. Anaya memperhatikan pesanan Ridwan. Menu favorit mantan suaminya itu masih tetap sama. Nasi goreng dan es teh lemon.
"Isterimu tahu ngga kamu nemuin aku?" tanya Anaya selepas pelayan pergi.
"Sebentar!" Ridwan beranjak mengejar mbak pelayan. Ia berkata sesuatu yang tidak bisa didengar Anaya. Pelayan itu mengangguk, dan Ridwan kembali duduk di depan Anaya.
"Sorry, aku lupa tadi minta esnya sedikit saja," kata Ridwan.
Anaya tidak menanggapi.
"Kamu nanya apa tadi? Isteriku?... Oh! Dia sudah sejak sebulan lalu ninggalin aku."
Anaya membisu. Dia tidak tahu harus bereaksi apa atas karma yang menimpa Ridwan. Dulu dia yang meninggalkan Anaya demi perempuan itu, dan kini dia yang balik ditinggalkan.
"Suamimu bagaimana?"
"Baik-baik aja." Anaya menutupi masalah yang dihadapinya.
__ADS_1
"Kalian ngga bertengkar gara-gara kemarin?"
"Bukan urusanmu," jawab Anaya dingin.
"Bisa jadi urusanku kalau pertengkaran kalian berdampak pada Naira."
"Mau kamu jadikan alasan untuk mengambil alih Naira lagi?" tanya Anaya sinis.
Ridwan menggeleng. Kuakui, aku khilaf waktu itu, Nay."
"Khilaf karena harta warisan anakmu sendiri? Memang gila aja kamunya," cela Anaya. Tak peduli ia jika Ridwan akan tersinggung.
Namun, Ridwan malah tertawa.
"Kenapa tertawa?"
"Ya, jadinya lucu aja sih menurutku. Kamu anggap aku gila harta, dan kamu karena saking ketakutannya, sampai nekat buang hartamu untuk bayar orang supaya aku ngga ambil Naira."
"Apapun akan aku lakukan demi Naira. Mungkin, dulu kami kira aku ibu yang egois karena mementingkan pekerjaan. Tapi, kalau kamu peka, aku melakukan itu buat masa depan anakku. Dan sebenarnya buat kamu juga waktu itu!" tegas Anaya.
Ridwan mengangguk.
"Sekarang aku paham, Nay. Aku baru menyadari pengorbananmu setelah isteriku kabur karena aku ngga bisa memenuhi semua keinginannya. Maafkan aku, Nay!"
Anaya tertegun. Baru kali ini Ridwan langsung mengaku kalah saat berdebat dan sampai minta maaf.
Aku juga minta maaf karena gara-gara aku kemarin, kamu dan suamimu jadi bermasalah."
"Siapa yang bilang kami bermasalah?" Anaya masih tetap berusaha menutupi .
"Aku bikin janji sama kamu di tempat ini karena habis bertemu klien di sini. Lagian aku mau ada di mana saja, bukan urusanmu kan? Kalau cuma hal begini yang mau kamu bicarakan, ngga penting banget ternyata." Anaya kesal dan menyesal tadi tidak membuat janji di tempat lain.
Ridwan menyerah mendebat Anaya si kepala batu. Bersamaan dengan itu, makanan yang dipesannya datang dan dihidangkan.
"Bukan itu, Nay. Aku tahu hubungan dengan suamimu bukanlah urusanku." Ridwan menyuap nasi gorengnya.
"Lalu apa?" Anaya mulai tak suka dengan sikap bertele-tele Ridwan.
"Aku selesaikan makanku dulu, ya!"
Anaya mengeluh. Ditahannya rasa kesalnya dan dialihkannya dengan memeriksa layar ponselnya. Secuil hatinya berharap muncul nama Izzar di pesan baru atau panggilan. Tapi, ia sadar nomor lelaki itu masih diblokirnya. Ada satu pesan dari Sandra. Anaya membukanya.
"Kamu di mana, Nay?"
Anaya tidak menjawabnya. Ia memilih bertukar pesan dengan Mba Kemi menanyakan Naira. Mba Kemi mengirimkan beberapa foto dan video Naira yang sedang menemani Pak Arsyad bermain kartu di halaman belakang rumahnya. Keduanya tampak bergembira. Terutama Pak Arsyad. Wajahnya tampak segar dan berseri.
Ridwan meneguk setengah gelas minumannya. Isi piringnya telah habis tandas.
"Aku kesini karena ada seseorang yang ingin sekali ketemu kamu. Dia meminta tolong aku supaya bisa memfasilitasi," Ridwan menatap Anaya serius.
"Siapa?" Anaya penasaran.
"Sasika."
__ADS_1
Jawaban Ridwan membuat Anaya terhenyak. Digeleng-gelengkannya kepalanya sambil tersenyum tak percaya.
"Kemarin, kamu ngata-ngatain dia. Bilang dia licik segala macam... Terus sekarang sok mau memfasilitasi pertemuan aku sama dia?" Anaya membesarkan matanya menatap Ridwan. "Kalian berdua sama-sama aneh!"
"Tadi pagi-pagi dia mendatangiku sambil menangis. Dia menyesal karena telah membuat kamu marah dan ninggalin suamimu kemarin. Dia merasa bersalah, Nay. Dia mau minta maaf."
Anaya langsung memahami alasan Ridwan menanyakan kabar Izzar tadi.
"Bersalah kenapa? Kayaknya dia malah senang kalau aku dan Izzar pisah?
Ridwan mengangkat bahu. "Dia bilang ada yang mengancamnya."
"Diancam apa? Siapa yang mengancam? Izzar?"
"Dia ngga bilang apa. Dan dia ngga mau cerita siapa."
Anaya menghela nafasnya.
"Dia punya akses sendiri kalau mau mencariku. Kenapa minta tolong kamu?" tanya Anaya.
"Dia takut kamu menolaknya. Sebab, sudah hubungi kantormu, ngga ada yang mau bantu katanya. Sepupumu juga sedang keluar negeri?"
Anaya mengangguk. Dua hari yang lalu Randi bilang akan ke Jepang, bulan madu yang tertunda dengan isterinya.
"Gimana, Nay? Kamu mau nemuin dia?" Ridwan bertanya.
Setelah beberapa waktu merenung, Anaya tegas menjawab, "Ngga!"
Ridwan mengangkat kedua tangannya. Menyerah. Tak akan ada gunanya lagi membujuk Anaya.
"Oke. Nanti aku sampaikan ke Sasika. Sekarang, ada hal lain yang ingin aku sampaikan." Ridwan melambaikan tangannya kepada seorang pelayan.
Anaya mengira Ridwan meminta tagihan. Betapa terkejutnya ia ketika gadis pelayan tadi malah membawa sepotong cake dengan lilin kecil menyala di atasnya. Dengan senyum lebar ia meletakkannya di depan Anaya.
"Selamat ulang tahun!"
Anaya terpana. Ia menganga memandang Ridwan.
"Happy Birthday, Anaya!" Ridwan tersenyum lebar.
Entah Anaya harus bagaimana. Terharu atau bahagia karena Ridwan mengingat hari ulang tahunnya sementara ia sendiri tidak. Kemarahan dan kekecewaannya membuatnya lupa, selain itu, ia memang sebenarnya tidak terlalu suka ulang tahunnya dirayakan khusus.
"Tiuplah! Meleleh kuenya nanti!"
Anaya berkonsentrasi menatap potongan kue tersebut. Matanya langsung panas begitu menyadari jenisnya adalah Strawberry Cheese Cake. Cake favorit Izzar.
"Kenapa kuenya ini?"
"Ngga ada yang lain," jawab Ridwan.
Anaya pasrah. Ditiupnya lilin kecil itu hingga apinya mati dan menyisakan asap yang segera menghilang.
Ridwan bertepuk tangan sendirian. Sedangkan Anaya tersenyum miris sebab terdampar di sini dan diberikan kejutan oleh mantan suaminya.
__ADS_1
Ia mendesah. Hatinya bertanya, apakah Izzar tahu hari ini ulang tahunnya?
...***...