
Kata-kata Randi melayang di udara. Anaya harus mencari pegangan untuk menopang tubuhnya yang gemetar. Hatinya terguncang. Benaknya berusaha keras mencerna ujaran Randi.
Ridwan ditangkap polisi atas tuduhan memanipulasi dan menggelapkan keuangan perusahaan ayahnya. Dia tidak sendiri. Ada beberapa karyawan termasuk salah seorang yang menjadi anggota tim pengacara Pak Arsyad.
Anaya merasa pernah mendengar nama pengacara yang disebutkan Randi. Beberapa detik kemudian, ia teringat Sandra pernah menyebutkannya, karena pernah beberapa kali hang out dengannya.
"Kamu tahu darimana berita ini?" tanya Anaya seusai Randi selesai dengan infonya.
"Dari beberapa kawanku yang kerja di perusahaan itu. Kamu seriusan malah baru dengar?" Randi terkesan heran.
"Iya."
"Izzar ngga cerita?"
"Ngga," jawab Anaya apa adanya.
"Bukannya dia yang pegang perusahaan itu sekarang? Dia pasti tahu semuanya. Aku mau tanya dia sebenarnya. Tapi, telefonku ngga dijawab-jawab."
Anaya terdiam. Ia tak tahu harus berkomentar apa, sementara benaknya menerka-nerka kaitan masalah Ridwan dengan keberadaan Izzar di perusahaan itu, dan rahasia- rahasianya.
"Izzar di mana sekarang, Nay?" tanya Randi.
Sudah tentu Anaya tidak dapat menjawab. Ia bisa saja berbohong, tapi ia tak mampu lagi melakukannya. Sejak awal, ia sudah mengelabui sepupunya ini dengan menutupi dasar hubungannya dengan Izzar. Anaya tak tega meneruskannya. Persoalannya dengan Izzar, ditambah dengan kejadian yang dialami Ridwan, membuatnya penat. Ia lelah.
“Aku ngga tahu.” Suara Anaya tercekat.
Di ujung sana, Randi terdiam. Ia seperti sedang menyelami keadaan. Nalurinya mengatakan ada yang tengah tidak beres di antara Anaya dan Izzar.
“Hei! Sudah lama kita ngga ketemu. Boleh aku ke tempatmu? Sekalian bawain oleh-oleh untuk Naira. Siapa tahu kamu juga lagi butuh teman ngobrol? Aku nanti siang ngga ada kegiatan." Tawaran Randi yang disertai dengan basa-basi itu adalah kesediaan menyerahkan bahunya untuk disandari Anaya.
“Oke! Aku urus sekolah Naira dulu!” Anaya seperti menemukan oase di padang keletihannya.
“Oke!”
Percakapan telefon keduanya berakhir.
Anaya bergegas pergi bersama Naira dan Mba Kemi. Ia tak berani menyetir mobil sendiri karena tubuhnya masih agak gamang akibat pusing dan mualnya. Ia meminta Oji, salah seorang sopir kantor untuk mengantarkannya.
Setelah baru saja menyelesaikan administrasi pendaftaran sekolah baru Naira, Sandra menelefonnya meminta bertemu untuk menyampaikan titipan Izzar.
“Titipan apa, sih?” tanya Anaya memberi isyarat Mba Kemi untuk membawa Naira kembali ke mobil, sementara ia berdiri di bawah rindang pohon lahan parkir untuk berbicara dulu dengan Sandra.
“Ngga tahu, Nay. Surat sepertinya.”
“Kamu aja yang baca!” Anaya sungguh enggan menerimanya.
“Eh! Kok ngaco! Aku ngga mau!” Sandra tegas menolak.
“Ya sudah, simpan saja kalau begitu!” Anaya kukuh tak mau.
“Kamu dimana?”
“Masih di sekolah Naira. Kamu di kantor?” Anaya balik bertanya.
“Iya. Tapi, nanti sore aku mau menjenguk temanku yang terkena kasus bersama Ridwan. Kamu mau ikut, sekalian nemuin Ridwan?”
“Ngapain?”
__ADS_1
“Aku juga ngga tahu mau ngapain. Tapi, temanku itu titip pesan ke keluarganya supaya aku mau menjenguknya… Kalau kamu, ya ngga tahu juga ya, perlu apa ngganya nengokin Ridwan. Tapi, dia papanya Naira, kan.” Sandra seperti bingung sendiri dengan alasannya.
“Aku nggalah, San. Aku justeru lagi berusaha menjauhkan berita tentang Ridwan dari Naira.”
“Kamu ngga ingin tahu kejadian sebenarnya?”
Anaya menekan rasa ingin tahunya yang sebenarnya bergelora. Jika ia ingin memuaskan penasarannya, ia tahu siapa yang harus didatanginya. Izzar. Tapi, ia tak akan melakukannya.
“Nanti aku telefon Pak Arsyad saja.” Anaya menjawab santai merasa punya alternatif. Meski Pak Arsyad sudah tidak sepenuhnya aktif di perusahaannya lagi, pastilah dia mengetahui semua apa yang telah terjadi.
Sesudah menyelesaikan pembicaraannya dengan Sandra, Anaya kembali ke mobil, duduk di samping Naira. Siap berkendara lagi.
“Kita pergi kemana lagi, Ma?”
“Ke rumah sakit. Tapi, kamu ngga boleh ikut. Habis antar mama, kamu dan Mba Kemi langsung pulang sama Om Oji, oke?”
“Ngapain ke rumah sakit? Siapa yang sakit?”
“Mama. Kan, kemarin sakit kepalanya, Jadi sekarang mau periksa ke dokter.”
“Mama ngga mau aku temani?” Naira memandangi Anaya dengan mata besar beningnya.
“Ngga usah, Sayang!... Mama bisa sendiri.” Anaya memeluk tubuh mungil anaknya.
Naira mendekatkan bibirnya ke telinga Anaya. Ia membisikkan sesuatu. “Kenapa Mama ngga minta ditemani ayah?”
Anaya tersentak. Anak ini belum menyerah juga mempertanyakan Izzar.
“Dia lagi sibuk,” bisik Anaya mengelak. Ia memasang raut wajah tak ingin dibantah.
Anaya menggigit bibirnya. Ia sadar telah melukai hati anaknya. Ia berharap, Naira akan mengerti keputusannya kelak bila ia sudah bisa mengerti kondisinya.
Antrian dokter kandungan siang itu, cukup panjang. Anaya mencoba duduk tenang di kursi tunggu. Ia memandang sekelilingnya. Semua yang menunggu rata-rata adalah wanita berperut besar. Tak ada yang sendiri. Semua didampingi seseorang, suami atau kerabatnya. Kecuali Anaya.
Sejenak ia merasa canggung. Namun dienyahkannya perasaan itu. Disibukkannya otaknya dengan mengirimkan pesan kepada Pak Arsyad. Tetapi, telefonnya tidak aktif.
Randi mene menanyakan posisinya dan mengingatkan janji jumpa mereka.
Anaya menyebutkan nama rumah sakit tempat ia berada. Dan sangat kebetulan Randi sedang berkendara tak jauh dari lokasinya. Tanpa banyak tanya, ia mengatakan akan segera menyusulnya.
Hal itu membuat Anaya resah. Ia berharap segera mendapatkan gilirannya sehingga ketika Randi datang, ia sudah selesai diperiksa dan Randi tidak tahu ia mengunjungi dokter kandungan. Ia bisa mengelak baru saja ke dokter umum atau penyakit dalam.
Namun, saat Randi tiba dan menghampirinya, namanya belum juga dipanggil.
"Kamu sakit apa?"
Randi bertanya sambil matanya menjelajahi papan-papan nama di pintu yang berjajar di sekitar deretan kursi tempat Anaya dan dirinya duduk. Poli Anak, Poli Saraf, dan Poli Kebidanan.
Anaya tidak menjawab. Ia menunduk menghindari tatapan selidik sepupunya. Matanya jelas curiga.
"Nyonya Anaya Paramitha!" Suara lantang perawat memanggilnya.
Anaya berdiri. Randi ikut beranjak.
"Mau kutemani?"
Anaya tidak menolak. Ia pasrah. Lagipula, ia memang membutuhkan seseorang di dalam sana.
__ADS_1
Dokter spesialis yang memeriksanya bukanlah dokter yang menanganinya saat kehamilan dan kelahiran Naira. Ia memutuskan memilih yang lain.
Beruntung ia mendapatkan dokter wanita yabg bersikap sangat ramah sehingga membuat nyaman pasiennya. Anaya menjawab semua pertanyaannya dengan lugas.
Kemudian dokter berpaling dan memandang Randi. Mungkin ia heran melihat Randi yang diam saja sedari tadi.
"Pak Suami, mau lihat calon anaknya ngga? Kita USG ya!"
Randi tergagap. Anaya jadi kasihan.
"Dia kakak saya!" Anaya meralat.
"Oh! Maaf!" Dokter itu merasa bersalah.
"Iya. Saya kakaknya. Suaminya sedang sibuk pergi tugas, jadi tidak bisa mengantar." Randi melirik Anaya. "Tugasnya jauh ke luar negeri."
Anaya jadi tersenyum melihat Randi berusaha kerasa menahan tawanya sendiri atas kebohongan yang diciptakannya untuk meyakinkan sang dokter.
Hasil pemeriksaan menunjukkan perkembangan kehamilannya baik dan sehat. Anaya dipesan untuk menjaga makanan, tidak boleh terlalu lelah dan stres.
Setelah menerima obat dan vitamin, Randi mengajak Anaya makan siang. Anaya menurut saja kemana dirinya dibawa pergi.
Dalam perjalanan, Randi menunda keinginannya membicarakan masalah yang tampak jelas sedang dihadapi Anaya dan Izzar. Ia memilih menceritakan pengalaman liburannya. Di restoran yang ditujunya, baru nanti ia akan mengorek semuanya.
Kisah seru Randi terhenti oleh dering ponselnya yang diletakkan penyangga di dashboard yang terkoneksi dengan perangkat audio mobilnya.
Anaya dapat melihat nama Izzar berkedip di layarnya.
"Jangan bilang aku sedang sama kamu!" Anaya menatap Randi mengancam.
Randi menjawab panggilan itu. Sedetik kemudian, suara Izzar terdengar memenuhi udara mobil.
"Sorry ngga bisa jawab telefon tadi!"
"Sok sibuk sekarang!" ledek Randi.
"Kalau lagi ngga bisa ya ngga akan kujawab. Tapi kalau sudah sempat kan pasti kutelefon balik. Kenapa? Mau tanya kasus?" Izzar tertawa.
Anaya memejamkan mata. Ada sebuah sudut di ruang hatinya yang merindukan suara dan tawa lelaki itu.
"Iyalah! Ngga lucu kan kalau abang lambe turah ini ketinggalan berita!" jawab Randi. Mata dan tangannya tetap berkonsentrasi mengemudi.
"Hmmm.. Aku belum bisa cerita. Tunggu aja perkembangannya."
"Anaya tahu masalah detailnya?"
"Ngga."
"Kamu ngga cerita ke Anaya? Ridwan kan mantan suaminya. Papanya Naira. Mereka berhak tahu." Randi memancing.
Izzar tertawa pendek. Tapi tak ada kata-kata lain yang terucap. Namun, terdengar suara percakapan lain yang sepertinya terjadi di sekitarnya.
"Ran... Sudah dulu ya! Aku ada urusan lain!.. Oke! Bye!"
Panggilan terputus. Randi menoleh sekilas ke sampingnya. Anaya memalingkan wajahnya ke jendela. Kelu mendapati ketertutupan Izzar.
...***...
__ADS_1