Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
38 - Bahagia


__ADS_3

Saat akhir pekan tiba, Anaya mengira Naira akan menanyakan kedatangan Ridwan. Sebaliknya, yang terjadi anak itu seakan tidak ingat bahwa hari Sabtu atau Minggu adalah jadwal kebersamaan dengan ayah kandungnya. Ketika diberitahu bahwa Ridwan tidak bisa menjemputnya, Naira tidak kecewa sama sekali. Ia malah menghambur ke Izzar dan memintanya mengantar bermain ke kidzone. Rupanya, kejadian tidak mengenakkan bersama papanya telah membentuk pertahanan baru di dirinya.


"Ayo!" Naira memegangi tangan Izzar yang sedang menggambar desain.


"Nanti, ya! Ayah sedang ada kerjaan."


Naira merengut. Lantas ia mencari Anaya yang sedang bersiap akan pergi bekerja mengawasi acara pertunangan yang dihandle perusahaannya.


"Mama, bisa temani aku ke kidzone?" Naira mendekati Anaya.


"Mama mau pergi kerja, Nak!" jawab Anaya sambil memulas tipis bibirnya.


Wajah Naira bertambah masam. Dari pantulan cermin, Anaya dapat melihat kekecewaan di raut mukanya.


"Kenapa?" Anaya mengalihkan perhatiannya kepada Naira.


"Kenapa sih kalian berdua sombong! Ayah kerja terus, mama maj kerja melulu!... Ini kan hari libur, aku cuma ditemanin main!" Air mata Naira mengalir di pipi chubbynya.


Anaya tersentak mendengarnya. Lekas dipeluknya tubuh mungil di sampingnya. Dibujuknya agar gadis kecil itu berhenti terisak. Namun, bukannya mereda, Naira malah menangis semakin keras hingga mengundang Izzar bergegas datang.


"Kenapa?"


Anaya menjelaskan singkat penyebab tangisan Naira.


"Kamu mau pergi?" tanya Izzar menatap Anaya. Ada siratan kurang suka di matanya yang ditahan.


"Iya, aku ada event." Anaya menjawab lirih. Ia tidak meminta izin Izzar sebelumnya, sebab ia memang telah terbiasa pergi bekerja di akhir pekan tanpa persetujuan siapapun.


Izzar memanggil Naira yang masih berada dalam pelukan Anaya dengan lambaian tangannya. Gadis kecil itu langsung berlari mendekati Izzar.


"Bisa tunggu dua jam lagi, sampai kerjaan ayah selesai? Baru kita pergi?" Izzar memegang kepala Naira.


Gadis kecil itu seketika menghentikan tangisnya. Kepalanya mangangguk.


"Oke!" Izzar berbalik kembali ke kamarnya. Naira melompat senang mengikutinya.


Sementara, Anaya yang tercenung menggigit bibirnya, merasa terasing ditinggalkan oleh dua orang yang disayanginya. Ia jadi ragu untuk pergi. Terlebih dengan sikap Izzar yang tampak tidak menyukai rencananya.


Anaya menyeberang ke kamar Izzar. Naira dilihatnya tengah mewarnai buku gambarnya di lantai, dan Izzar serius menekuni meja gambarnya.


"Zar..." Anaya melingkarkan tangannya di bahu Izzar.


"Ya?"


"Aku boleh pergi?" tanya Anaya.


"Kamu ngga perlu izin aku kan?"


Sejenak Anaya bingung bagaimana menjawab pertanyaan balik Izzar. Ia terdiam sampai Izzar kemudian menengadah memandangnya.


"Pergilah, urus kerjaanmu. Biar Naira sama aku."


Anaya balas memandangi wajah Izzar. Mencari ketulusan di sana.


"Ikhlas?" Ia bertanya juga karena tak mampu menebak ekpresi datar Izzar.


Bukannya menjawab, Izzar malah kembali menekuni gambarnya.


Izzar tersenyum. Tangannya terulur mengusap lembut dagu Anaya. "Sudah jalan sana! Nanti kamu terlambat. Aku juga harus cepat menyelesaikan gambar ini.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada Naira, Anaya pun pergi. Ia memilih taksi online daripada mengendarai mobilnya karena lebih praktis tak harus mencari parkir.


Acara yang perusahaannya tangani merupakan pertunangan mewah anak selebriti. Ketika Anaya datang di lokasi, project manager terpercayanya, Dian, langsung menghampirinya.


"Semua aman, Bu!"


Anaya percaya. Ia berkeliling sebentar, sebelum menemui orang tua pemangku hajat yang tampak sedikit tegang. Setelah berbasa-basi, Anaya kembali menghampiri Dian.


"Ada yang kurang ya, Bu?" tanya Dian.


"Ngga. Kurang apa?" Anaya bingung. Sebab, yang dikerjakan Dian dan timnya sudah sempurna baginya.


"Saya lihat muka Ibu gelisah banget, kayak ada yang ngga pas gitu." jawab Dian.


Anaya menangkupkan telapak tangan di pipinya, meski kegelisahan yang dimaksud Dian tak akan juga teraba kulitnya. Lalu ia terdiam sejenak, menilik hatinya. Ia menyadari ada ketidaknyamanan yang menggelayut di sana, akibat kejadian tadi pagi.


Ada rasa bersalah terhadap Naira dan Izzar. Anaya tak enak hati karena Izzar lebih sering bersama Naira. Padahal ia ibunya. Dulu, saat bersama Ridwan, ia memang kerap bekerja di hari libur karena Ridwan cenderung mengandalkannya, menjadikannya nahkoda sekaligus kasir juru bayar semua kebutuhan rumah tangga mereka.


Berbeda dengan Izzar.  Dia tidak membebani Anaya dan sebaliknya malah banyak meringankannya. Apalagi sejak penghasilannya bertambah membaik,  Tidak hanya materi, sesibuk apapun, lelaki ini selalu meluangkan waktu untuk Naira dan juga dirinya. Anaya saja yang sepertinya sering tak tahu diri. Sebenarnya, anak buahnya sudah sangat profesional dan ahli dengan tugasnya masing-masing. Perannya sendiri tak terlalu berarti sebenarnya di sini.


Notifikasi pesan masuk di ponselnya, mengalihkan pikiran Anaya. Pesan itu dari Izzar, yang memberitahukan ia dan Naira sedang dalam perjalanan menuju mall, ke area permainan anak-anak yang dimaui Naira.


Seketika Anaya iri. Ia menoleh pada Dian yang sedang mengecek tabletnya.


"Dian? Kalau aku tinggalkan kalian, ngga masalah kan?" tanya Anaya.


"Ngga, Bu! Aman, kok!"


"Boleh aku pergi? Aku mau nemuin  anak dan suamiku."


Dian tersenyum. "Silahkan, Bu! Ngga apa-apa. Semisal ada apapun, nanti saya tetap bisa telefon, kan?"


Kurang dari sejam, Anaya telah tiba di mall tempat  Izzar dan Naira berada. Ia bersyukur mengenakan pakaian semi kasual, sehingga  nyaman bergerak. Ia sengaja tidak mengabari Izzar bahwa ia berencana menyusulnya dan Naira.


Area bermain anak-anak berada di lantai teratas. Anaya harus menaiki beberapa eskalator. Saat ia sedang baru hendak melangkahkan kaki di eskalator kedua, seseorang memanggil namanya.


"Anaya!"


Kaki Anaya telanjur menapaki anak tangga pertama yang terus bergerak membawanya naik. Dengan tangan berpegangan erat, ia menoleh ke belakang. Dilihatnya seorang lelaki bergegas melompat ke eskalator yang sama. Anaya tertegun. Laki-laki itu adalah Tristan.


Tristan yang tertinggal, melompati beberapa anak tangga mengejar Anaya, dan kemudian berdiri menyejajari Anaya.


"Hai!" Tristan tersenyum sumringah menyapa.


"Hai!" Anaya membalas, dengan tetap menjaga jarak.


"Apa kabar, Nay?"


"Baik."


Anaya tahu, selayaknya ia juga menanyakan kabar Tristan, tapi ia enggan. Kejadian di hotel dulu membuatnya jengah berdekatan dengan Tristan.


"Sendiri?" tanya Tristan.


"Ngga. Sama suami dan anakku. Mereka ada di kidzone." Anaya mendaratkan kakinya ke lantai saat anak tangga yang dipijaknya mencapai ujung tertinggi.


Anaya berharap Tristan mundur setelah mendengar jawabannya. Namun, lelaki itu seakan tidak peduli. Ia terus mengiringi langkah Anaya berjalan mengitar  dan menaiki eskalator berikutnya.


"Aku kangen banget sama kamu, Nay! Kamu ngga kangen sama aku?"

__ADS_1


Ucapan Tristan mengagetkan Anaya. Pernyataan yang tak tahu diri menurutnya.


"Ngga tuh!"


"Kenapa? Kok ngga kangen sama aku?"


"Aku punya suami!" Nada suara Anaya agak meninggi.


Tristan malah tertawa. Anaya mulai ketus memandangnya.


"Kenapa ketawa?"


"Kalian ngga jadi bercerai?"


Meski terkejut mendengarnya, Anaya memaklumi. Ia ingat, dulu Sandra memang pernah memberi tahu Tristan bahwa ia sedang bermasalah dengan Izzar dan akan berpisah. Ia sendiri pun meyakini hal yang sama kala itu, karena kontrak pernikahan yang disepakati, Sekarang, tentu saja ia berharap sebaliknya.


"Ngga!" Anaya menjawab pasti.


"Yakin?"


Anaya menghentikan langkahnya. Mereka telah sampai di lantai teratas. Area bermain anak-anak tinggal beberapa langkah lagi.


"Kenapa kamu seolah meragukan pernikahanku?" Anaya memandang tajam pada Tristan.


"Aku ngga yakin kamu bahagia."


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Anaya lagi.


"Kita kemarin sempat dekat, Nay. Aku tahu kamu ngga bahagia," jawab Tristan.


Anaya terdiam. Ia mengakui ia memang waktu itu hatinya sedang kacau.


"Aku bisa membuat kamu bahagia, Nay." Tristan mengulurkan tangannya hendak meraih tangan Anaya.


Manuver Tristan mendorong Anaya mundur selangkah.


"Jangan ganggu aku lagi, Tris. Maaf, kalau aku sempat memberimu harapan... Tapi, sekarang kondisiku berbeda. Namanya perkawinan pasti ada masalah. Tapi, saat ini aku bahagia dengan pernihakanku, dengan keluargaku." Anaya berkata tegas.


Tristan menatap Anaya lama. Mulutnya rapat  terkait.


"Sorry, aku harus pergi!" Anaya berbalik dan menjauh. Ia tidak menoleh lagi ke belakang, apalagi memberi Tristan kesempatan.


Di lokasi permainan yang ramai, Anaya menemukan Izzar berdiri memperhatikan Naira yang sedang melompat-lompat di atas trampolin. Perlahan Anaya mendekatinya. Tanpa menegur, Anaya memegang jari-jari tangan Izzar.


Tangan Izzar sontak terangkat melepaskan dan menghindarkan diri. Ia jelas terkejut ketika ada seseorang yang menyentuhnya. Namun, begitu melihat orang tersebut adalah Anaya, ia pun tersenyum.


"Kukira siapa." Izzar merangkul bahu Anaya. "Kok ngga bilang mau kesini? Sudah selesai kerjaannya?"


"Acaranya belum selesai. Tapi, aku memang sengaja ngga bilang kesini, mau ngagetin kalian berdua. " Anaya merapatkan tubuhnya.


Jari tangan Izzar yang bebas, menjawil pipi Anaya. Anaya tertawa. Dengan matanya ia mencari sosok Naira. Anak itu pun ternyata telah melihat kehadirannya.


"Mama!" serunya sambil melambaikan tangan.


Anaya membalasnya. Diresapinya rasa hangat yang merambati seluruh pembuluh darahnya, dan lalu mengembang di dadanya. Ia bahagia. Hanya cukup Izzar dan Naira yang membuatnya merasakan kebahagian yang memuai di setiap pori-porinya tubuhnya.


Persetan dengan Tristan, pekerjaan, siapapun atau apapun.


                                                                                      ***

__ADS_1


__ADS_2