Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
51 - Gundah


__ADS_3

Izzar menyerah menghadapi Anaya yang kukuh dengan pilihannya. Ditambah lagi karena ada gundah di hatinya akibat kabar tak baik tentang mamanya dari Resti, asisten mamanya, yang menelefonnya tadi.


Seusai menutup pintu, ia langsung menghubungi balik Resti. Dia mengabarkan mamanya sudah ditangani dokter di instalasi gawat darurat rumah sakit karena terjatuh di kamarnya selesai mandi. Tekanan darah dan kadar gula yang rendah menyebabkan mama Izzar pusing, lemas dan kehilangan keseimbangan.


Ia tidak bermaksud tidak mempedulikan Anaya dan mengutamakan mamanya. Sesungguhnya, ia sangat kecewa dengan sikap dan semua pernyataan Anaya tadi. Bukan pula ia tak mau berjuang. Dengan amarah yang masih mengukung Anaya, percuma juga ia membantah semua sangkaannya. Dan, ia bukan tipe lelaki yang suka memaksakan kehendak.


Dengan separuh hati yang dikecamuk dengan kekecewaan, Izzar bergegas ke rumah sakit dan memusatkan perhatiannya pada kondisi mamanya.


Dokter mengharuskan mama Izzar dirawat untuk menstabilkan tekanan dan kadar gula darahnya. Awalnya wanita ramah itu menolak. Ia menawar boleh memulihkan dirinya di rumah saja. Ia merasa tak nyaman dengan suasana dan bebauan rumah sakit. Namun, mengingat usianya, dokter tidak mengizinkan. Izzar sampai harus membujuknya untuk menurut.


"Mama ngga betah di sini, Zar." Mamanya tetap mengutarakan protesnya saat ia sudah di kamar perawatan. Padahal kamar yang dipilihkan Izzar kelas VIP terbaik dengan fasilitas layanan serupa hotel bintang 5.


"Sabarlah... Dokter kan bilang paling cuma tiga hari. Makanya, makan yang banyak, biar cepat sembuh."  Izzar membenahi bagian selimut yang menutupi kaki mamanya.


"Tapi, makanan di rumah sakit ngga ada yang enak."


"Mama mau makan apa? Nanti aku pesanin." Izzar mencoba memanjakan mamanya.


"Hmm... Boleh minta tolong Anaya buatin mama nasi tim ayam jamur? Mama pernah makan masakannya itu. Enak."


Izzar tertegun. Ia tidak ingat kapan Anaya pernah membuatkan makanan itu untuk mamanya. Mungkin pada salah satu kunjungan ke rumahnya.


"Bisa, Zar?" tanya mamanya penuh harap.


"Ya, nanti aku coba tanyain." Izzar menjawab asal mamanya senang. Meski ia tak tahu bagaimana cara meminta tolong Anaya, atau memberi tahu mamanya bahwa Anaya sudah mengakhiri hubungannya.


Malam itu, Izzar menunggui mamanya di kamar VIP rumah sakit. Resti disuruhnya pulang dan beristirahat. Setelah mamanya tidur, ia membaringkan tubuh penatnya di sofa. Ia berharap bisa segera terlelap. Namun beban di hati membuat pikirannya tak tenang.


Kepalanya berat penuh dengan bermacam hal. Dan yang paling mendominasi adalah tuduhan Anaya tentang memanfaatkan dirinya


Kini, ada perasaan sesal sebab mengawali hubungannya bersama Anaya dengan menerima tawaran uangnya. Meskipun saat itu ia memang sedang sangat membutuhkannya dan mengira kebersamaan mereka hanya akan terus bersifat transaksional saja. Siapa yang mengira jika kemudian mereka akhirnya bermain dengan hati.


Tetapi, bila Anaya tidak mengikatnya dengan kontrak berimbalkan materi, akankah juga mereka bisa bersama? Mengingat kala itu Izzar sedang berada di titik terendah hidupnya dan ia sama sekali tidak terpikirkan mengenal dekat Anaya juga wanita lain.


Ungkitan Anaya mengenai transaksi itu, seperti pisau yang menggores Izzar. Ia baru memperhatikannya sekarang, bagian mana yang tergores dalam. Harga dirinya berteriak marah kesakitan.


Dipejamkannya matanya, berupaya menyingkirkan perempuan itu dari benaknya.

__ADS_1


...***...


Anaya duduk memeluk lututnya, termenung sendirian. Sesekali matanya menoleh ke pintu, berkhayal Izzar datang lagi mengetuk atau bahkan menggedornya. Khayalan yang benar-benar hanya halusinasi belaka.


Rasa sakit di kepalanya menyadarkannya bahwa Izzar sudah benar-benar pergi. Dan dia sendiri yang telah menyebabkannya. Nuraninya menyesal telah melakukannya. Namun egonya menyangkal sudah berbuat kesalahan.


"Lelaki itu memang salah, kok! Tidak dapat dipercaya, dan hanya memanfaatkan saja." Suara ego mengenyahkan kata nuraninya.


Sekarang, ia mengeluhkan pusingnya. Ia menghitung, sudah berapa hari ia pusing-pusing seperti ini, juga mualnya yang tiba-tiba mulai muncul lagi.


Diingat-ingatnya kapan terakhir kali ia merasakan sakit serupa. Kalau mual, cukup sering. Sebab dirinya memang sering terlambat makan hingga asam lambungnya menjerit naik. Tapi, kali ini ia kan sudah minum obat maagnya.


Lalu, pengalaman yang sama tujuh tahun yang lalu hadir lagi di ingatannya. Dadanya seketika bergemuruh kencang. Dibukanya aplikasi kalender di ponselnya dan menghitung hari-hari setelah tanggal yang telah ditandainya.


Anaya menutup mulutnya. Terkejut sendiri.


Ponselnya berbunyi. Sandra memanggilnya. Kali ini ia tidak mengabaikannya dengan langsung menjawabnya.


"Iya, San?."


"Ya, ampun! Kemana aja sih kamu? Kenapa telefonku ngga dijawab-jawab? Jangan sombong kamu, ya! Jangan sok ngga butih aku! Memangnya kalau ada apa-apa, siapa yang akan nolongin kamu?... Tega kamu biarin aku cemas mikirin kamu terus-terusan? Hah?!" Sandra meluapkan kekesalannya.


"Kamu sakit?" Nada suara Sandra melunak.


"Iya. Sakit kepala dan mualku ngga hilang-hilang."


"Kamu di mana?" tanya Sandra.


"Kalibata."


"Kirim alamatmu. Biar aku kesana. Aku janji ngga akan kasih tau Izzar kali ini."


"Dia sudah kesini tadi."


"Dia masih bersamamu?"


"Dia sudah pergi." Air mata Anaya meleleh. "Aku bilang, aku ngga mau sama orang yang manfaatin aku. Terus, dia bilang oke dan pergi."

__ADS_1


Sandra dapat merasakan kepedihan Anaya. Ia belum tahu persis apa yang telah terjadi. Tapi ia paham, Anaya bisa sangat keras kepala sekali kalau sudah urusan cinta. Nalarnya suka kalah dengan egonya.


"Jangan marah sama aku, San. Aku minta maaf soal pagi tadi. Aku bingung." Anaya memohon.


"Iya, Nay. Tapi **t**olong jangan begitu lagi. Aku tuh bukan orang lain, kan? Aku cuma ingin yang terbaik buat kamu."


"Iya, aku paham."


Kamu mau kesini?" Anaya mencoba menahan tangisnya.


"Ya! Oke! Aku kesana!"


Anaya mengakhiri panggilannya. Setelah berhasil mengeringkan air matanya, ia membagikan lokasi dan alamat lengkap posisinya kepada Sandra. Ia juga mengirimkan pesan agar sahabatnya itu membelikan sesuatu yang sangat ia butuhkan saat ini.


Sandra langsung mengenakan jaket dan memasukkan dompetnya ke dalam tas, lalu menyambar kunci mobil Anaya. Di dalam lift, ia mengecek pesan Anaya. Ia mengenal alamat apartemen yang diberikan. Benaknya langsung memikirkan rute jalan tercepat


Pesan berikutnya dari Anaya membuatnya terhenyak. Tapi, ia enggan bertanya balik.


Sandra tiba di apartemen Anaya dengan satu grocery bag besar dan tas plastik. Anaya hanya duduk diam memperhatikan Sandra mengeluarkan isinya. Makanan kering, tisu, sabun, susu, roti...


"Kamu sudah makan?" tanya Sandra.


"Makan malam belum," jawab Anaya.


Sandra menyodorkan ricebowl ayam teriyaki pada Anaya. "Mau kusuapin?"


Anaya menggeleng. Ia merasa tenang ada sahabatnya itu sekarang. Sandra selalu bersikap seperti ibunya, memperhatikannya detail. Ia menyesal telah bersikap merajuk dan membuatnya cemas seharian ini. Semua gara-gara Izzar.


Ia menarik nafas. Ditanamkannya rasa benci terhadap lelaki itu di dadanya.


Sandra duduk di sebelah Anaya. Ia meletakkan tas plastik bergambarkan logo apotik di pangkuannya.


"Ini pesananmu. Kamu ngga bilang mereknya apa. Jadi, aku beli aja beberapa," kata Sandra. Diletakkannya empat kotak testpack kehamilan berbeda di atas meja.


"Kamu mau pakai yang mana?"


Anaya hanya memandanginya saja. Hatinya gundah menduga hasilnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2