
Sandra terus berusaha meyakinkan Anaya dengan pendapatnya. Hingga akhirnya Anaya mempertimbangkan kembali keinginannya berhenti bekerja.
"Kenapa kamu kadang benar juga ya, San?" Anaya tersenyum.
"Hmm... Kapan pendapatku pernah salah? Bahkan saat aku menyarankan kamu memaksa Izzar kawin denganmu demi Naira, ternyata aku benar kan?" Sandra menyombongkan dirinya.
"Ngga, ah! Kamu pernah salah juga!" sangkal Anaya.
"Kapan?"
"Waktu kamu nyuruh aku buka hati sama Tristan!" papar Anaya.
"Ngga! Aku tetap benar bahwa dia cinta banget sama kamu!... Cuma karena kamu sudah telanjur nyaman sama Izzar saja, makanya tindakan dia jadi kamu anggap berlebihan," elak Sandra tak mau kalah.
Anaya tidak membantah. Sebab, memang begitulah riwayat perasaannya.
Hingga malam, Anaya menghabiskan waktunya bercengkerama bersama Sandra. Ia tidak mempermasalahkan Izzar yang pulang terlambat karena ia sendiri teramat lelah.
Pagi-pagi, Izzar sudah bersiap pergi lagi. Sarapan saja dia tidak sempat. Anaya jadi terkenang saat Izzar belum terlalu sibuk seperti sekarang. Punya banyak waktu untuk Naira dan dirinya. Ingatan tersebut perlahan menyulut rasa kesal. Karena ia berharap Izzar akan membantu memberesi rumahnya.
"Kamu sombong sekarang. Sibuk terus!" Anaya cemberut saat Izzar berpamitan. Tingkahnya langsung diikuti Naira yang baru selesai mandi.
"Pergi terus! Kerja terus!... Siapa yang ngantar aku sekolah?" Mulut Naira meruncing sama persis dengan Anaya.
Izzar menghela nafasnya. Dua perempuan di hadapannya ini kadang menggemaskan jika sedang merajuk, tapi jadi menyebalkan bila ia sedang terburu-buru seperti saat ini.
"Aku ada pertemuan dan kerjaan yang harus cepat selesai. Kalau bisa pulang cepat nanti malam kita makan di luar, oke?" tawar Izzar
Anaya diam. Naira menunggu reaksi mamanya, bersiap menimpali apapun yang akan diucapkan.
"Ngga usah janjilah! Nanti terlambat lagi." Anaya tak mau diberi harapan.
"Iya! Nanti janjinya ngga ditepatin. Itu namanya dosa!" Naira ikut menentang Izzar.
Ingin rasanya Izzar mencubit pipinya keduanya satu-persatu, karena telah memperlambatnya.
"Oke, gini aja!" Izzar mengeluarkan ponsel dari sakunya, mencari sebuah nama sebelum menyodorkannya pada Anaya dan Naira.
"Kalian telefon Pak Arsyad, bilang aku ngga bisa datang di undangan meetingnya pagi ini."
Anaya membisu. Mana punya nyali ia mengatakan hal itu pada mantan mertuanya. Bisa-bisa ceramah panjang akan diberikan kepadanya.
"Pak Arsyad siapa?" tanya Naira.
"Opa... Kakek kamu," jawab Izzar.
"Oh! Sini aku aja yang telefon!"
Naira mengulurkan tangannya, namun cepat ditangkap Anaya.
"Ngga boleh!" larang Anaya.
__ADS_1
"Kenapa ngga boleh?" tanya Naira kesal.
Anaya menatap Izzar, melunak. "Sudah sana pergi."
Izzar tersenyum. Dipeluk dan diciumnya kening Anaya dan Naira bergantian, sebelum melangkah keluar rumah.
"Kenapa aku ngga boleh telefon Opa? Dia kan kakek aku?" tanya Naira sepeninggal Izzar.
"Opa lagi sibuk. Tadi kan ayah bilang mau meeting." Anaya beranjak ke dapur mempersiapkan bekal sekolah Naira.
"Tapi kan cuma sebentar, Ma!" Naira mengikuti Anaya.
Anaya menggeleng.
"Sudah lama aku ngga ketemu Opa. Aku kangen, Ma." Mata Naira berkaca-kaca.
Melihatnya, hati Naira pedih. Sudah beberapa minggu ini Ridwan mengabaikan Naira. Tidak berakhir pekan dengannya berarti juga tidak mempertemukan Naira dengan kakeknya.
Jika Ridwan tidak menginginkan lagi anaknya, tentu tidak dengan kakeknya. Anaya sadar betapa lelaki tua itu menyayangi cucunya.
"Oke! Tapi kamu ngga boleh bilang ayah ngga bisa datang meeting atau ngga boleh kerja!"
Naira bersemangat mengangguk.
Anaya mengambil ponselnya. "Jangan lama-lama! Kita harus segera berangkat ke sekolah!"
Naira melompat gembira. Ditekannya panggilan video call ke nomor Pak Arsyad yang sudah disiapkan mamanya.
Sulit sekali menjeda percakapan seru keduanya. Supaya tidak terlambat, akhirnya Anaya membimbing Naira ke mobil, dan membiarkannya ngobrol di sepanjang perjalanan ke sekolah. Sesekali Anaya menimpali percakapan.
Di akhir panggilan, Pak Arsyad meminta Anaya mengizinkan Naira ikut menginap di rumahnya akhir pekan ini. Mengingat belum ada kabar berita dari Ridwan, Anaya menyanggupi akan mengantarkan Naira sore nanti.
Anaya menunggui Naira belajar sambil mengobrol dengan orang tua murid yang lain, di kedai kopi seberang sekolah. Mereka membicarakan pilihan Sekolah Dasar tempat anak-anak mereka melanjutkan pendidikan. Anaya yang sudah mendaftarkan Naira di SD swasta sejak beberapa bulan lalu, lebih banyak mendengarkan saja.
Dia memperhatikan penampilan para ibu muda yang lain. Kecuali dirinya yang memang sedang cuti, semuanya adalah ibu rumah tangga. Meski begitu, gaya mereka sungguh membuat Anaya takjub. Pakaian, tas dan sepatu yang dikenakan semua bermerk. Kulit wajah para wanita tersebut tak ada yang kusam, semuanya kenyal bersinar terbiasa disentuh perawatan mahal.
Anaya tersenyum sendiri menatap sandal tipis, serta celana panjang dan blus katun nyamannya. Sejak tinggal bersama dengan Izzar, ia ketularan kesederhanaan lingkungannya.
Tapi, Anaya percaya diri. Ia tidak terpengaruh dengan tatapan menelisik dari beberapa mata. Benaknya malah dipenuhi tanya, kerja apa suami para perempuan ini sehingga isterinya bisa berpenampilan glamour dan sangat berkelas begitu. Ia yang terbiasa bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu, agak terusik jiwanya.
Sampai di rumah, Anaya meminta Mba Kemi mengemasi pakaiannya dan Naira. Ia merasa aman jika Mba Kemi turut serta menemani Naira. Di samping itu, ia juga mencari kesempatan bisa berduaan saja dengan Izzar di weekend ini.
Rumah yang terletak di ujung timur Jakarta itu sangat besar dan dikelilingi halaman hijau yang luas. Ia dan Ridwan dulu pernah tinggal di paviliunnya, yang berukuran dua rumah Izzar sekarang. Entah sekarang bangunan tersebut ditinggali siapa.
Melihat Anaya, penjaga gerbang langsung membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.
Anaya sungguh berharap isteri Pak Arsyad tidak ada di rumah. Ia enggan bertemu dengan mantan ibu mertuanya itu. Ketika diberi tahu asisten rumah tangga yang menyambutnya bahwa nyonya besarnya sedang pergi, Anaya menghembuskan nafas lega.
Pak Arsyad menyambut kedatangan Anaya dan Naira dengan senyum lebar.
"Aku juga belum lama sampai di rumah." Pak Arsyad memeluk Naira.
__ADS_1
Anaya duduk di kursi di seberang Pak Arsyad.
"Dokter melarangku bekerja lama-lama di kantor. Jadi, tadi habis meeting, aku langsung pulang." Pak Arsyad memandang Anaya.
"Dengan Izzar?" tanya Anaya.
"Iya. Ada urusan penting yang harus kami selesaikan."
Anaya tersenyum tipis. Ia tak mau mengetahui detail urusan penting itu yang menurutnya pastilah soal proyek pekerjaan.
Pak Arsyad menyuruh Naira dan Mba Kemi menaruh barang-barang mereka di kamar yang telah disediakan, dengan tujuan bisa berbicara berdua saja dengan Anaya.
"Kenapa Ridwan tidak membawa Naira lagi kesini? Kalian bertengkar?"
Anaya sedikit kaget dengan lontaran pertanyaan itu.
"Katanya sedang sibuk. Saya juga bingung kenapa dia tiba-tiba seperti tidak peduli lagi dengan anaknya. Padahal, sebelumnya sesibuk apapun pasti Naira dijemput tiap akhir pekan."
"Sikap Naira bagaimana? Tidak kangen dengan papanya?" tanya Pak Arsyad setelah tercenung beberapa saat.
"Anak itu biasa saja. Hampir ngga pernah membicarakan papanya. Malah tadi pagi dia bilang kangen Opa, dan minta telefon," jelas Anaya apa adanya.
"Anak sekecil dia masih polos. Kebersihan hatinya bisa membedakan ketulusan hati seseorang... Aku ngga menyalahkan Naira jika ia ngga dekat dengan papanya. Bahkan aku saja..." Pak Arsyad tersengal. Ia terdiam untuk mengatur irama nafasnya.
Anaya yang sedikit panik, menghampirinya dan menawarkan minum. Asisten Pak Arsyad yang sedari tadi mengamati tak jauh dari mereka membantu memperbaiki posisi duduknya dengan menyelipkan bantal di punggungnya.
"Ngga apa-apa..." Pak Arsyad malah yang menenangkan Anaya.
"Aku semakin tua, Anaya. Tak bisa aku bantah lagi kondisiku ini."
"Istirahatlah. Jangan memikirkan pekerjaan terus," ujar Anaya.
"Iya. Aku sudah memutuskan hal itu. Hari ini sebenarnya hari terakhir aku bekerja di kantor. Kamu benar, sudah waktunya aku beristirahat."
Tangan Pak Arsyad memegang tangan Anaya.
"Kamu juga jangan mementingkan pekerjaan terus. Nikmati waktu bersama keluargamu. Didik Naira jadi anak yang baik. Aku senang dia berada bersamamu."
Entah mengapa, pegangan tangan Pak Arsyad dan kata-katanya mengharukan hati Anaya. Ia jadi teringat almarhum ayahnya.
"Aku tahu keluargaku tidak menyukaimu setelah kamu berpisah dengan Ridwan. Tapi, aku sagat tahu kamu wanita baik. Bagiku, sampai kapanpun kamu tetap anakku."
Anaya menggigit bibitnya. Matanya mendadak pedih. Lelaki tua yang terkenal keras ini bisa berubah sangat lembut kepadanya.
"Bahagialah bersama suamimu. Jaga Naira, oke!" Pak Arsyad mengusap kepala Anaya.
"Iya." Anaya menjawab dengan senyum yang disertai sedikit genangan air mata.
Ia bersyukur mendapatkan ketulusan dari mantan mertuanya. Walau ada rasa was-was mendengar kalimat pesannya.
...***...
__ADS_1