
Semakin keras Sasika berupaya meyakinkan Izzar tentang penyesalan, kerinduan, dan harapannya, semakin kuat
Izzar mengelak. Dalam hati ia jengkel juga, karena Sasika seolah menganggap tak salah dan tak soal ia dulu menyakiti Izzar.
Pernah, ada saatnya di masa lalu, Izzar memang mendambakan Sasika kembali kepadanya. Itu dulu. Sekarang, ia tak menginginkan lagi kehadiran Sasika.
“Semua sudah berakhir, di hari kamu memutuskan aku. Jadi, ngga perlu lagi kamu menyesal dan berharap kita bisa
kembali seperti dulu. Sudah bukan waktunya lagi.” Izzar berkata tenang meredam hasrat Sasika.
“Kenapa ngga bisa?”
Izzar menggelengkan kepalanya. Ia heran dengan bebalnya pikiran Sasika.
“Aku sudah menikah, Sas!”
“Memangnya kamu mencintai isterimu? Dia janda, kan? Punya anak pula,” kata Sasika nyinyir.
“Kalau ngga, buat apa aku nikahin dia?... Dan, apa urusanmu dengan statusnya?” Izzar menahan emosinya.
Sasika menatap Izzar. Ada sesuatu yang aneh memancar dari matanya.
“Kata mantan pacar isterimu, kalian sudah sepakat akan bercerai. Tinggal menunggu waktu saja.”
Izzar terkejut. “Siapa mantan pacar yang kamu maksud?”
“Tristan,” jawab Sasika. “Ngga usah heran aku kenal dia. Aku berteman dengan banyak orang.”
Sudah tentu lelaki itu. Ternyata, Tristan dan Sasika sama-sama manusia nekat yang berusaha memanfaatkan setiap kesempatan untuk mendapatkan keinginannya.
“Dengar, ya! Namanya rumah tangga, pasti ada dinamika dan masalahnya. Jadi, selama aku dan isteriku masih bersama, kalian jangan berharap kami akan berpisah!” tegas Izzar.
Meski, Sasika masih ingin berlama-lama bersamanya, Izzar mengakhiri pertemuan itu dengan keresahan yang
melanda hatinya. Ia dalam hati menyalahkan Anaya yang telah ceroboh memberikan harapan kepada Tristan saat ia belum menyadari sifat toxic di dirinya.
Izzar ingin menegur Anaya malam itu. Tetapi, melihat Anaya bersikap seperti isteri yang setia menanti suaminya pulang, memudarkan resahnya. Izzar tak ingin membuat Anaya gusar dengan menceritakan pertemuannya dengan Sasika. Ia malah merasa bersalah diam-diam telah menjumpai wanita masa lalunya.
Anaya sendiri berusaha untuk maklum dan percaya bahwa wanita yang dilihatnya bersama Izzar adalah kliennya. Jika pun bukan, Anaya juga mencoba untuk tidak peduli. Ia menegaskan hatinya, bahwa ia dan Izzar hanya berteman. Mereka tinggal serumah karena terikat kontrak, dan mereka memang harus menjadi dekat supaya
pernikahan sandiwara keduanya dianggap nyata oleh Ridwan dan keluarganya.
***
Randi tiba-tiba datang ke kantor Anaya dengan menggandeng seorang gadis tinggi, langsing, cantik, dan berhijab, yang dikenalkan sebagai calon isterinya. Anaya terperangah menatap Randi dan gadis bernama Sarah itu. Keheranannya bukan saja karena ia belum pernah mendengar Randi pacaran serius. Tapi, juga karena adanya perubahan selera Randi terhadap penampilan wanita yang disukainya.
“Serius, Ran?” tanya Anaya.
__ADS_1
“Ya seriuslah!”
Anaya memandangi Sarah yang duduk tersipu di sofa ruang kerjanya. Gadis ini terlihat masih sangat muda.
“Kapan kalian mau menikah?”
“Kurang dua bulan lagi, Kak,” jawab Sarah.
Bibir dan mata Anaya membulat menatap Sarah dan Randi bergantian. Pikirannya langsung dipenuhi pertanyaan liar terkait betapa cepatnya rencana pernikahan kakak sepupunya ini.
“Kenapa?” tanya Randi begitu melihat ekspresi Anaya. “Mau komentar terlalu cepat? Iya? … Sebelum nyinyir, lebih baik kamu hitung…, lebih cepat mana, rencana kami atau pernikahanmu dengan Izzar?” Randi mencecar Anaya.
“Aku belum ngomong apa-apa! Kok kamu berasumsi begitu?” Anaya mencoba membantah.
“Ngga usah ngeles!” Randi tak mau kalah. “Aku sudah tahu kamu bakal berkata apa!... Maaf ya, sampai kapanpun kamu akan tetap di posisi nomor satu sebagai Si Paling Buru-buru Nikah di keluarga besar kita!”
Anaya tidak berkutik.
“Oke! Kamu menang. Aku memang selalu jadi juara paling pembuat heboh di keluarga!” Anaya mengangkat kedua tangannya. Meminta berdamai.
Randi tersenyum, lalu keduanya tergelak saling menertawai diri masing-masing. Sarah tampak bingung melihat Anaya dan Randi yang semula dikiranya bertengkar sungguhan, namun kemudian malah terbahak bersama.
“Sorry, Sayang! Aku dan Anaya terbiasa saling cela. Jadi kamu jangan kaget kalau melihat kami seperti sedang barantem kayak tadi,” ujar Randi pada kekasihnyaa.
“Jadi, apa yang bisa kubantu?” Anaya mulai bersikap serius dan profesional.
“Hmm… Oke, aku bisa bantu. Tapi, sebelumnya, bisa stop membahas dan membanding-bandingkan pernikahanku?” Anaya mulai tidak nyaman.
Randi mengiyakan. Kemudian Anaya membawa Sarah dan Randi ke ruang meeting untuk bertemu dengan Dian, project manager, yang sudah sangat berpengalaman menangani wedding event.
Dengan alasan harus menyelesaikan pekerjaan lain, Anaya meninggalkan ruang meeting. Tak berapa lama, Randi
malah menyusul ke ruangannya.
“Lah! Ngapain kamu kesini? Bukannya nemanin Sarah?”
“Dia sudah punya konsep pernikahan yang dia inginkan kayak apa. Aku ngikut saja.” Randi duduk di seberang meja Anaya.
Anaya tersenyum memperhatikan sepupunya yang sekarang berpenampilan lebih rapi daripada biasanya. Rambut
gondrongnya dipotong pendek. Baju dan celananya juga tak lagi serampangan. Dan Pembawaannya agak lebih
tenang. Cinta yang tulus memang selalu bisa merubah orang menjadi lebih baik.
“Di mana kamu ketemu Sarah?”
“Di Musholla.”
__ADS_1
“Hah?” Anaya terkejut. Sebab, yang ia tahu, Randi paling ngga tertib ibadah Sholatnya.”
“Dua bulan yang lalu, ngga tahu kenapa, aku mendadak pengen jadi manusia yang benar. Lagi di parkiran Mall, ngelihat Musholla, aku kayak orang insyaf yang langsung ingat sholat. Saat mau mulai, tiba-tiba ada perempuan yang minta berjamaah. Jadilah aku imam dia. Saat itu, hatiku damai banget menyadari ada wanita yang jadi makmumku. Setelah selesai, dia bilang terima kasih. Kulihat, cantik juga. Ya sudah, sekalian saja kuajak kenalan.” Randi tertawa.
“Terus?” Anaya penasaran.
“Lalu, kami jalan bareng. Aku merasa sreg dan nyaman setiap di dekat dia. Seminggu lalu, nekat kuajak nikah. Eh, dia mau. Keluarganya juga langsung setuju. Begitu juga orang tuaku. Ya, sudah. Seperti kamu dan Izzar, buat apa lama-lama kan?” tutur Randi.
Anaya tersenyum. Ada rasa haru juga ia mendengarkan kisah Randi, yang yakin memutuskan menikah karena memang dorongan hatinya. Tidak seperti dirinya, yang hanya dilandasi alasan karena tak ingin kehilangan Naira.
“Kamu sendiri, bagaimana dengan Izzar? Baik-baik sajakah?”
Anaya mengangguk.
“Kudengar, saat ulang tahun Izzar, mantannya mengiriminya kue?”
“Iya.” Anaya menjawab pendek.
“Kamu ngga marah?”
“Hmm… Buat apa marah?” Anaya balik bertanya.
Randi tertawa. “Kamu isteri yang aneh. Kalau wanita lain bisa jadi sudah ngamuk-ngamuk.”
Anaya terdiam. Ia jadi teringat percikan cemburu di hatinya sewaktu melihat Izzar dengan perempuan lain di coffee shop tempo hari. Penasaran yang telah dihalaunya, muncul kembali.
“Ran, kamu kenal mantan tunangannya Izzar?” tanya Anaya. Ia bersemangat menemukan kesempatan mengetahui sosok Sasika.
“Kenal.”
“Seperti apa dia?” tanya Anaya.
“Buat apa kamu ingin tahu?” Randi menatap Anaya.
“Pengen tahu aja.”
“Ngga usah. Kamu lebih cantik,kok!”
Anaya tak puas dengan jawaban Randi. Ia sebal sebab Randi malah jadi seperti menutupi sesuatu.
“Please, Ran! Biar aku tahu tampangnya gimana. Kata kamu, aku sepatutnya marah karena ada perempuan lain yang memperhatikan
suamiku. Tapi, gimana aku mau marah kalau ngga tahu musuhku kayak apa?.”
Randi mengalah. Melalui ponselnya, diperlihatkannya foto-foto Sasika yang terpampang di akun instagramnya. Sekejap, hatinya memanas menyadari perempuan yang dilihatnya bersama Izzar di coffe shop adalah Sasika. Ia kesal Izzar telah membohonginya.
***
__ADS_1