Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
65 - Kembali


__ADS_3

Hari-hari berlalu cepat, Anaya benar-benar berusaha keras mempercayai janji Pak Arsyad di tengah kegalauannya. Semua orang menyarankan agar dia tidak stress dan banyak pikiran agar tidak mempengaruhi kehamilannya. Anaya hanya diam meresponnya. Siapalah perempuan yang tidak memikirkan suaminya yang menghilang di saat dia tengah mengandung anaknya. Jika ada, mungkin perasaannya memang tumpul atau karena tak ada cinta lagi.


Namun, suasana rumahnya memang juga tidak lagi setegang sebelumnya. Mama Izzar sudah kembali ke rumahnya sendiri walaupun masih terus memantau kabar dari Anaya. Randi yang terus menjaganya bahkan sudah dapat bercanda kembali. Dia juga tak henti meyakinkan Izzar akan kembali.


Siang itu, Pak Arsyad menelfon Anaya. Dia langsung deg-degan berharap akan diberi berita baru tentang Izzar. Tetapi lelaki itu hanya menyuruhnya bersabar dan malah meminta Anaya mengantarnya ke Bogor. Semula, Anaya ingin menolak. Tapi, kemudian setelah diceritakan kondisinya sekarang, Anaya jadi iba. Proses perceraiannya telah mencapai kata sepakat dan hanya tinggal menunggu keputusan formal saja. Dia bahkan kini sudah terusir dari rumahnya.


Pak Arsyad mengarahkan Anaya menjemputnya di lobi sebuah apartemen sederhana. Dalam sekejap, Anaya bisa melihat perbedaan fisik Pak Arsyad dari terakhir dia bertemu. Dia yang dulu gagah, penuh wibawa dan ditakuti, kini tampak sedikit tak berdaya. Kerut di wajahnya menandakan ia lelah dengan dunia yang dihadapinya.


Mata tuanya berbinar begitu melihat Anaya. Dia sendirian menunggu di pintu lobi dengan sebuah tas ransel di bahunya. Tak ada yang menemani atau mendampinginya. Dia seperti lelaki tua biasa saja yang seolah sedang menunggu anaknya datang menemuinya.


“Aku yang menyetir, atau kamu?”


Anaya ragu apakah Pak Arsyad yang terbiasa disupiri masih terampil menyetir.


“Kenapa? Kamu takut aku sudah lupa caranya?” Pak Arsyad seperti tahu jalan pikiran Anaya.


Anaya menggeleng, kemudian menepiskan ragunya dan menyerahkan kunci mobilnya. Dia sadar diri, keresahan yang bersemayam di hatinya bakal mengganggu konsentrasinya mengemudi. Sebelumnya saja dia banyak melamun. Bersyukur dia selamat tiba di tujuan.


“Kenapa tinggal di apartemen ini?” tanya Anaya saat mereka mulai melaju menuju jalan raya.


“Sewanya murah.”


Mata Anaya membelalak. Baru kali ini murah menjadi alasan Pak Arsyad membuat pilihan.


“Tadi sudah kuberitahu singkat, kalau rumah yang kubangun dengan keringatku itu, bukan lagi milikku. Jadi, aku harus mencari tempat tinggal sendiri.”


“Ya, tapi kenapa di tempat itu juga?”


Bagi Anaya, walau murah, kawasan apartemen yang dipilih Pak Arsyad kuranglah layak. Sering terjadi kasus kriminal dan bahkan pembunuhan.


“Ngga apa-apa, Anaya. Cuma sementara, kok!”


“Lalu, mau pindah kemana?” Anaya melirik Pak Arsyad yang mengemudi santai.


“Ke suatu tempat. Tapi, aku harus meminta izin kepadamu dan Izzar.”


“Maksudnya?” Anaya menatap Pak Arsyad.


“Waktu itu, setelah Izzar setuju membantuku. Aku ditawari sebidang lahan dan rumah yang kubeli dan kuatasnamakan dia. Maksudku sebagai hadiah pernikahan kalian. Aku ingin menunjukkannya kepadamu, dan meminta perkenanmu dan Izzar nanti, untuk tinggal di rumah itu.”


“Kenapa juga harus minta izin?”


“Karena kan bukan milikku. Milik Kalian.” Pak Arsyad menegaskan.


Anaya tetap saja menganggap hal tersebut tidaklah perlu. Lagipula, dia tak butuh rumah lain.


Jalan tol yang mereka lalui nyaris lengang. Benar-benar tak ada hambatan. Anaya memandang keluar jendela, memperhatikan pemandangan yang terkejar dan tertinggal oleh mereka. Dia mencoba meredam resahnya.


“Kenapa, Nay?” Pak Arsyad dapat merasakan kegelisahannya.


“Kapan Izzar pulang?” Anaya bertanya sendu.


“Sebentar lagi. Aku janji. Ngga lama lagi, kamu akan bertemu dengannya.”


“Bagaimana bisa yakin? Polisi saja belum menemukan titik terang?”


Pak Arsyad menggelengkan kepalanya.


“Polisi kesulitan menembus jaringan sindikat pencucian uang itu. Sabar. Aku sudah berhasil bernegosiasi dengan penculiknya.”


“Kalau polisi saja kesulitan, bagaimana Bapak bisa bernego dengan mereka?”

__ADS_1


“Anggap saja itu kelebihanku. Mungkin juga karena aku punya sesuatu yang mereka inginkan. ”


Anaya menekan kecamuk di hatinya.


Sejam lebih kemudian, mereka tiba di depan pintu pagar yang mengelilingi lahan yang luas. Seorang penjaga membukakan pintu itu dan mempersilahkan mereka masuk. Pak Arsyad memarkir mobil di halaman rumah berdinding kayu gelondongan.


Anaya keluar dari mobil dengan mata takjub meneliti setiap sudut pandangannya. Tempat ini lebih menyerupai rumah peristirahatan yang jauh dari keramaian. Area di sekitar rumah, dihiasi berbagai tanaman bunga dan beberapa pohon besar. Di sampingnya, menghampar tanah menghijau. Sedang di belakangnya, berjajar bidang-bidang rapi kebun beraneka sayuran.


“Bagaimana menurutmu?” Pak Arsyad menyejajari posisi Anaya.


“Bagus banget.” Anaya sungguh terkesan dengan keindahan yang disajikan.


“Jadi, boleh kan aku menumpang tinggal di sini?”


“Kenapa bahasanya jadi menumpang tinggal, sih?” Anaya mengutarakan ketidaksukaannya.


Pak Arsyad tidak peduli. Senyumnya mengembang lebar.


Berada di tempat ini, mengingatkan Anaya pada vila keluarga Izzar di puncak. Suasana dan udara yang dinikmatinya hampir mirip. Otomatis pula dia jadi kembali memikirkan lelaki itu.


Pak Arsyad mengajaknya masuk ke dalam rumah. Ruang  duduk besar langsung menyambutnya, ruang makan, dan dapur, dan satu kamar tidur utama. Lantai 2 berisi tiga lamar tidur. Ada teras samping dengan kursi-kursi santai dan tungku barbeque.


Penjaga yang tadi menyambut mereka menawarkan minuman. Anaya hanya meminta air mineral.


“Anaya, aku mau melihat kebun di belakang sana.” Pak Arsyad menunjuk ke arah luar yang entah mengarah kemana.  Kamu beristirahat saja di sini. Nanti, kalau ada tamu yang datang, telfon saja aku.”


“Tamu?”


“Iya, aku ada janji dengan seseorang. Aku ingin berdiskusi dengannya, sepertinya aku mau alih profesi jadi petani saja.”


Anaya mengernyitkan hidungnya. Dia tak percaya dengan kemauan itu. Mana mungkin pengusaha macamnya mau melumuri tangannya dengan tanah dan pupuk. Pak Arsyad tertawa melihatnya kemudian beranjak pergi bersama lelaki penjaga tadi.


Anaya menurut. Ia membaringkan diri di sofa yang menghadap jendela-jendela besar dan menyajikan pemandangan halaman luas. Anaya termenung dan melamun sendirian. Waktu berjalan terasa hampa baginya. Ia harus menahan sabarnya dalam ketidakpastian dan menggantungkan harapan kepada Pak Arsyad.


Dalam kesenyapan suasana di sekitarnya, Anaya terlelap.


Suara-suara bising dari deru mobil yang kasar, membangunkan Anaya. Pintu terketuk keras. Anaya membuka matanya dan menghampiri pintu. Dari jendela, dia bisa melihat satu mobil suv dan satu lagi sedan hitam berkesan gahar terparkir di atas tanah kering dengan mesin tetap menyala. Tiga orang lelaki berkaca mata hitam berdiri kaku dengan mata waspada di dekat mobil.


Anaya menelfon Pak Arsyad yang menjawab akan segera datang. Setelah melihat kehadirannya menghampiri para lelaki itu, baru Anaya berani membuka pintu. Dua orang dari mereka mengikuti Pak Arsyad masuk ke dalam rumah dan duduk di meja makan.  Salah satunya menyodorkan map berisi dokumen yang kemudian ditandatangani Pak Arsyad. Mereka nyaris tidak berkata apapun.


Setelah selesai, ketiganya saling berjabat tangan.


“Paket akan kami segera kami turunkan!” kata salah seorang dari lelaki tegap itu.


“Terima kasih.”


Pak Arsyad mengikuti mereka hingga ke teras. Anaya yang sedari tadi diam memperhatikan, menyusul dengan dada berdebar. Para tamu tersebut tampak tidak ramah apalagi bersahabat.


Mata Anaya turut mengamati aktivitas para tamu itu. Satu orang yang masuk ke rumah tadi, mengetuk kaca jendela sedan. Dari kaca jendela yang terbuka setengah, ia memberikan berkas yang ditandatangani Pak Arsyad kepada seseorang di dalamnya.


“Mereka itu teman yang mau berdiskusi tentang menjadi petani? Kok pakai tanda tangan dokumen segala?” Anaya penasaran.


“Bukan. Mereka hanya mengantarkan paket. Dokumen tadi tanda terimanya.”


“Paket apa?”


Pak Arsyad diam.


Setelah lima menit, lelaki pemberi berkas itu mengangguk. Jendela tertutup. Dan sedan hitam itu melaju pergi.


Lelaki itu berjalan ke kendaraan yang lain. Dia pergi ke sisi mobil yang tidak bisa terlihat oleh Anaya. Dia hanya bisa mendengar suara pintu yang terbuka, dan gerakan menurunkan sesuatu. Terdengar pintu tertutup lagi, dan mobil itu menderu maju melintasi halaman.

__ADS_1


Lalu, Anaya terperanjat. Mobil itu meninggalkan seseorang yang begitu diinginkannya. Izzar.


“Itu paketnya. Untukmu!” Pak Arsyad tersenyum puas.


Anaya membekap mulutnya dengan mata berkaca-kaca, sementara Izzar berjalan tersenyum mendekatinya. Tanpa berkata apa-apa, mereka berpelukan.


“Aku sudah menepati janjiku kan?” Pak Arsyad menyela.


Izzar melonggarkan dekapannya pada Anaya. Tangannya terulur menyalami lelaki tua itu.


“Terima kasih.”


“Silahkan kalian berduaan. Aku mau ke kebun lagi, belajar mencangkul.” Pak Arsyad berlalu sambil tertawa.


“Dia serius mau menjadi petani?” Anaya menggelayut di lengan Izzar.


“Sepertinya. Dia sudah ngga punya kegiatan dan pekerjaan lain.”


“Perusahaannya?”


“Semua kepemilikan perusahaannya sudah dilepas sebagai bagian dari syarat membebaskan aku dan ngga lagi mengganggu dia, keluarganya dan juga kita. Ridwan ngga sadar perbuatannya kemarin itu sangat besar resikonya,” tutur Izzar.


Anaya mengenang tragisnya akhir hidup Ridwan.


“Kamu juga pakai ikut-ikutan segala! Untung aja kamu ngga apa-apa! Bikin khawatir dan senewen orang aja! Mamamu sampai stress tahu ngga!” Anaya tiba-tiba terpancing meluapkan kejengkelan dan keresahannya yang berhari-hari terpendam. Dilepaskannya pelukannya.


“Selama aku disekap mereka kemarin, yang aku ingat dan bikin kangen dari kamu itu dengar omelan kamu kayak begini. Ayo terusin aja marah-marahnya!” Izzar menggodanya.


Anaya merengut. Dia masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa. Izzar duduk di sebelahnya, menarik bahunya dan membenamkan kepala Anaya ke dadanya serta mencium keningnya. Keduanya berdekapan erat dan lama. Hingga rindu dan semua penyesalan tertumpah ruah.


“Naira ngga diajak?” tanya Izzar.


“Aku ngga tahu kalau bakal ketemu kamu di sini.”


“Hmm, tapi bagus juga dia ngga diajak. Mana bisa aku meluk kamu begini kalau ada dia.”


“Kamu kayaknya harus patah hati. Dia udah punya pacar baru katanya. Teman sebayanya.”


“Hah?” Izzar kaget. Namun, kemudian tertawa. “Dia cepat sekali besar.”


“Aku berasa jadi cepat tua.” Anaya mengeluh.


“Jangan cepat tua. Kita harus segera membuat adik baru kalau yang ini sudah lahir.” Izzar meletakkan telapak tangannya di perut Anaya.


“Tapi gantian kamu yang hamil, ya!"


Izzar tertawa. Anaya memejamkan matanya. Keduanya saling terdiam beberapa saat, merasakan dan meresapi keberadaan diri masing-masing yang saling menyatu di nafas mereka.


“Aku juga kayaknya mau alih profesi aja. Capek juga punya kerjaan tapi kena masalah terus. Gimana kalau  aku juga jadi petani aja?”


Anaya mengangkat kepalanya, menatap wajah Izzar yang tersenyum teduh memandanginya.


“Gimana?”


Di benaknya terbayang lelaki ini bertopi tudung, mencangkul dan membajak sawah. Seperti gambarannya tentang sosok pertani selama ini.


“Terserah.” Anaya tesenyum.


Dia tidak peduli Izzar mau menjadi apa. Baginya, yang penting lelaki itu tidak pergi kemana-mana lagi.


...-- Tamat --...

__ADS_1


__ADS_2