
Anaya meletakkan kotak kue itu di meja makan. Dari lapisan mika di bagian atas kotak, Anaya mengetahui isinya adalah Strawberry Cheese Cake. Anaya ingat, mama Izzar pernah menyebutkan bahwa kue itu merupakan kesukaan Izzar. Sasika pasti mengetahui hal tersebut. Dan kini, meskipun sudah berpisah, Sasika tetap masih mengingatnya.
Rasa penasaran tak dapat dicegah menguasai dada Anaya. Ia berusaha keras meredamnya. Jangan sampai ia bersikap serupa isteri yang senewen dan resah, sebab suaminya diperhatikan perempuan lain.
Izzar tak dapat menutupi keterkejutannya mendapati kiriman itu. Hatinya jadi tak karuan karena Sasika
mengingat ulang tahunnya. Apalagi ketika Anaya kemudian meledeknya.
“Ciyeeee!! Kue ulang tahun rasa mantan!” sindir Anaya.
“Aku mau coba kuenya! Aku belum pernah makan kue rasa mantan!” seru Naira antusias.
Kening Izzar berkerut. Matanya melirik tajam Anaya, karena telah mengucapkan ungkapan bercanda yang dianggap serius oleh Naira. Tapi, Anaya tidak peduli. Ia tahu, Izzar tak akan memarahinya di depan Naira.
“Boleh kubuka?” tanya Anaya.
“Terserah mau diapain. Aku mau mandi.” Izzar berlalu tak peduli.
“Kartunya boleh kubaca?!” tanya Anaya.
“Terserah!” sahut Izzar.
Naira membantu Anaya membuka kotak cake tersebut.
“Wow! Cantiknya!” puji Naira pada cake yang ditutupi strawberry segar di atasnya.
Meski memuji, Naira tidak tertarik untuk memakannya. Ia tak suka rasa masam strawberry. Sedang Anaya, sudah
tentu enggan mengusiknya. Ia hanya senang meledek Izzar saja tadi.
Kartu dari Sasika, hanya kartu lipat kecil biasa. Anaya menemukan tulisan tangan, yang entah tulisan tangan Sasika sendiri ataukah pegawai toko kuenya, mengukirkan kalimat happy birthday, dengan tulisan namanya di sudut bawah.
Izzar tidak menyentuh kue itu. Anaya kemudian menyimpannya di kulkas karena krimnya mudah meleleh di suhu ruang.
Setelah Ridwan menjemput Naira, Izzar mengajak Anaya ke rumah mamanya yang sudah menyiapkan makan siang berupa nasi kuning lengkap dengan segala lauk-pauknya. Terakhir, mama Izzar mengeluarkan Strawberry Cheese Cake sebagai hidangan penutup. Dan, Izzar memakan potongannya dengan lahap.
Anaya jadi berpikir, apakah karena sungkan padanya maka Izzar mengabaikan bingkisan kue dari Sasika, ataukah sebab ia memang tidak menyukai perhatian mantan tunangannya itu?
“Cake buatan mamamu lebih enak dari yang dikirim ke rumah tadi?” pancing Anaya
__ADS_1
Izzar mengangguk. Jempol tangannya diacungkan. “The best!”
“Kamu sudah ngucapin terima kasih ke pengirimnya?” Anaya ingin tahu.
“Kenapa kamu ingin tahu? Cemburu?” Tenang Izzar bartanya balik.
Anaya merengut. Izzar tertawa. Ia senang menggoda Anaya sebab ekspresi Anaya jika cemberut kadang menggemaskan.
Sesungguhnya, dalam hati Izzar tak setenang penampilannya. Tak terkira rasa kagetnya tiba-tiba mendapatkan perhatian Sasika lagi setelah puluhan bulan meninggalkannya. Ia galau, haruskah berterima kasih atau tidak atas perhatian yang tidak dimintanya.
Yang Anaya tidak tahu, beberapa menit setelah kuenya tiba, Sasika mengirimkan Izzar pesan ucapan ulang tahun yang belum juga dibalasnya. Izzar jadi teringat rasa sakit yang pernah begitu hebat diberikan wanita itu, bersamaan dengan ratusan kenangan indah yang berdesakan memenuhi benaknya.
Izzar menahan diri untuk tidak langsung membalasnya. Ia tak mau terseret kembali ke masa lalu.
Dua hari kue kiriman Sasika tidak ada yang mengutak-atik. Anaya jengah melihat kue merah merona itu setiap ia membuka kulkas. Di hari ketiga, kue itu menghilang bersamaan dengana datangnya Mba Kemi. Kepada Anaya, Mba Kemi mengatakan ia disuruh Izzar memakannya dan membaginya dengan teman-temannya sesama ART.
Ada perasaan lega di hati Anaya karena tidak ada lagi bagian dari sosok Sasika yang seolah ikut menghuni rumah.
Karena Mba Kemi sudah kembali, Anaya bisa kembali aktif di kantor. Namun, ia berjanji pada Naira hanya akan sesekali saja bekerja work from office.
Siang itu, di ruang kerjanya, Anaya menceritakan soal kue ulang tahun dari Sasika, kepada Sandra.
“Menurut cerita Izzar sih, ngga pernah. Makanya, aku jadi bingung kenapa tiba-tiba mantannya itu memberikan hadiah ulang tahun seperti itu. Dan yang aku heran, dari mana Sasika tahu alamat Izzar yang sekarang, padahal Izzar pindah ke rumah itu setelah setahun mereka berpisah.”
“Mungkin dia tanya-tanya mencari tahu. Mungkin saja dari Randi,” ujar Sandra mengira-ngira.
“Terus, Randi ngga memberi tahu kalau Izzar sudah menikah gitu? Kayaknya ngga mungkin.” Anaya tak percaya Randi akan memberikan informasi yang akan mengganggu hubungannya dengan Izzar.
“Sudah, ngga usah kamu pikirkan. Kalau Izzar memang tidak mempedulikannya, berarti dia memang sudah melupakan perempuan itu.” Sandra berasumsi.
Anaya mencoba percaya.
“Hubungan kamu sendiri dengan Izzar, bagaimana?” tanya Sandra.
“Kami berteman baik sekarang.”
Sandra menatap Anaya. Entah bagaimana Sandra melihat wajah Anaya berbinar saat mengucapkan jawabannya.
“Lalu, Tristan?”
__ADS_1
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Anaya menceritakan yang terjadi sebenarnya saat acara outing Tristan di Bogor, yang menjadi alasannya menjauhi dan melupakan Tristan.
Sandra terkejut dan kemudian menghujat dan memaki-maki Tristan. Anaya tertawa mendengar sumpah serapahnya.
Walau Mba Kemi sudah kembali bekerja di rumah, Anaya telanjur terbiasa dan menyenangi suasana rumah. Ia jadi tak betah berlama-lama di kantor. Seuasai meeting dengan seluruh stafnya, Anaya memilih pulang.
Naira menelefon dengan menggunakan ponsel Mba Kemi, meminta dibawakan pizza. Anaya meluluskan keinginan anaknya, dengan mampir ke restoran pizza di kawasan pertokoan dekat rumah. Sambil menunggu pesanannya siap, Anaya memutuskan membeli sejumlah kebutuhan dapur pensanan Mba Kemi, di minimarket tak jauh dari restoran pizza.
Dalam perjalanan kembali ke restoran, Anaya melihat mobil Izzar di parkiran. Matanya berkeliling mencari sosok lelaki itu. Ia hampir menggunakan ponselnya untuk menelefon Izzar, kala pandangannya menemukan Izzar di balik jendela dan pintu kaca coffee shop di seberangnya, sedang berbincang dengan seorang wanita cantik.
Dada Anaya seketika berdesir.
Ia maju selangkah agar bisa lebih memperhatikan keduanya. Wanita itu tampak tersenyum, begitu juga Izzar. Pemandangan tersebut seperti adegan tidak terduga yang mengejutkan Anaya. Walau ia berusaha sekuatnya, tetap saja tidak bisa mencegah percikan rasa cemburu di hatinya.
Seusai mengambil pesanan pizzanya, ia tergesapulang. Sepanjang perjalanan hingga tiba di kediamannya, Anaya terus bertanya-tanya sendiri mengenai perempuan itu. Siapakah dia? Sasika kah?
Resah tak terkira hati Anaya jadinya. Ingin ia menelefon Izzar, namun ia tak mau dianggap posesif. Sementara menunggu Izzar pulang, Anaya mencoba mengalihkan perhatiannya dengan menemani Naira belajar dan bercerita.
Izzar kembali ke rumah di di atas seperempat malam. Anaya yang menunggunya sambil menonton TV, mengamati gerak-gerik Izzar. Ia jadi seperti isteri julid yang mencurigai suaminya.
Seperti biasa sehabis pergi, Izzar mandi berganti pakaian, lalu menemani Anaya duduk di ruang tengah.
“Naira tadi nungguin kamu. Kelamaan, akhirnya dia tidur duluan.” Anaya membuka percakapan.
“Sorry. Aku memang janji mau ngajari dia pelajaran penjumlahan. Tapi, mendadak aku harus ketemu klien, jadi
pulangnya kemalaman.”
“Di kantor ketemuannya?” tanya Anaya.
“Ngga. Di coffe shop searah pulang tadi.”
Anaya mencoba mencerna jawaban Izzar. Tak ada yang aneh jika wanita itu memang kliennya sebetulnya.
Izzar memandang Anaya di sebelahnya yang sedang menatap lurus ke layar TV. Hubungannya dengan Anaya telah begitu akrab sekarang. Mereka sudah seperti sahabat yang terbiasa saling bersikap apa adanya. Ia menyukai kebersamaannya dengan Anaya.
Dan kini, Ia dilanda rasa sesal karena seolah telah mengkhianati Anaya. Klien yang ditemuinya di coffe shop tadi sebenarnya adalah Sasika.
...***...
__ADS_1