Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
26 - Gundah


__ADS_3

Bukan hanya Izzar yang sebenarnya tersentak. Anaya pun kaget dengan apa yang diucapkannya. Dalam hati ia memaki dirinya sendiri. Mengapa ia jadi merendahkan Izzar? Kenapa ia tetap emosi walaupun Izzar sudah meminta maaf telah membohonginya tentang perjumpaannya dengan Sasika?


Ponsel Izzar bergetar menandakan panggilan. Anaya yang sedang memalingkan wajahnya ke jendela tak bisa mengintip siapa yang menelefon. Dan, ia gengsi untuk meliriknya.


“Iya?... Iya… Oke! Besok kita ketemu!” Izzar mematikan ponselnya. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia kembali mengemudikan mobil mengarah pulang.


Izzar membisu. Ia tak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan terakhir Anaya. Sebalaiknya, Anaya pun diam, meski sangat ingin mengetahui siapa yang tadi menelefon dan akan bertemu dengan Izzar besok.  Suara di hatinya meyakini bahwa penelefon itu adalah Sasika, sebab dia sebelumnya mengirimi Izzar pesan meminta berjumpa.


Di keremangan jalanan malam, Anaya kembali terbayang sosok Sasika dan teringat ucapan tante Izzar yang


membandingkannya dengan gadis itu saat di vila. Rasa pedih yang dirasakannya dulu kembali muncul. Ia mengakui, penampilan Sasika jauh lebih cantik dan menarik dibanding dirinya. Pantas saja kerabat Izzar memujanya.


Anaya tak bisa mengingkari telah kehilangan sebagian rasa percaya dirinya. Izzar memang lelaki baik. Tetapi, jika bukan karena terpaksa, tak mungkin juga dia akan mau bersama dengan Anaya.


Tiba di rumah, Naira menyambut kedatangan mereka berdua dengan wajah cemberut. Anak kecil itu kesal karena tidak menemui Anaya dan Izzar di rumah saat Ridwan mengantarnya dan Mba Kemi pulang.


“Kenapa aku ditinggalin? Kalian berdua jahat!” Bibir Naira meruncing.


“Maaf Sayang, mama harus kerja tadi.” Anaya memeluk Naira yang langsung mengelak dan memasang wajah garang.


Izzar membiarkan Anaya membujuk Naira sendirian. Ia memilih langsung masuk ke kamarnya dan membaringkan diri. Ia sedang tak sanggup menghadapi sikap tak bersahabat dua perempuan keras hati di rumahnya. Kepalanya berat. Hati dan pikirannya teramat penat. Siang tadi, ia mengira Anaya akan meringankan sedikit bebannya biarpun ia tak bisa menceritakannya. Tapi, sikap dan perkataan Anaya malah menambah ruwet masalah yang dihadapi Izzar.


Mata Izzar terpejam, tapi ia tidak mengantuk. Dalam kesendiriannya ia mengkaji ulang lagi penyebab kegundahannya bermula.


                                                                             ***


Jika saja Anaya tidak memergoki perjumpaannya dengan Sasika, dan ia tidak mendustainya, mungkin hari ini akan


baik-baik saja. Tapi, keajadian tersebut sudah telanjur terjadi dan berakhir dengan kemarahan Anaya yang harus diterimanya. Sebelum meninggalkan Anaya pergi tadi pagi, Izzar sudah berjanji tidak akan menyembunyikan apapun lagi dari Anaya.


Namun, pertemuannya dengan Pak Arsyad justeru mengharuskannya merahasiakan persoalan yang lebih besar dan rumit.


Dua hari lalu, Izzar tiba-tiba dihubungi sekretaris Pak Arsyad yang mengundang Izzar untuk datang menemui


lelaki tua itu di kantornya, dengan pesan sangat jelas : Anaya tidak boleh tahu.


Larangan itu menumbuhkan dugaan bahwa pertemuan tersebut berkaitan dengan Anaya. Izzar yang memang peduli dengan Anaya menyanggupi undangan di hari Minggu itu, yang dicurigai Anaya sebagai perjumpaan dengan Sasika .


Pak Arsyad menerima Izzar dengan sikap santai walau wibawa dan kharismanya tetap saja sedikit mengintimidasi.

__ADS_1


“Maaf, aku mengganggu hari liburmu.” Pak Arsyad menyilahkan Izzar duduk di sofa di hadapannya.


Izzar tersenyum.


“Bagaimana usahamu? Aku tahu dulu kamu penah terkena masalah.”


“Ya memang. Tapi, sekarang sudah mulai berjalan walaupun mulai dari awal lagi. ”


Pak Arsyad tersenyum.


“Bagaimana kabar Anaya? Dia tahu kamu menemuiku?”


“Anaya baik-baik saja. Dia tidak tahu saya kesini. Tapi, curiga saya menemui yang lain,” jawab Izzar.


“Maksudmu, dia curiga kamu menemui perempuan lain?” Pak Arsyad menegaskan.


“Sepertinya.” Izzar tertawa getir.


Pak Arsyad tertawa.


“Naira bersama Ridwan sekarang?”


Pak Arsyad mengangguk-anggukkan kepalanya. Disandarkannya tubuhnya ke sandaran sofa.


“Aku mengundangmu, karena ada hal yang penting yang harus kita bicarakan. Soal cucuku dan Anaya yang sudah


kuanggap sebagai anakku sendiri.”


Izzar menajamkan telinganya. Tapi, Pak Arsyad malah terdiam cukup lama.


“Aku tidak tahu apakah Anaya sudah menceritakan tentang sakitku. Dokter sudah memvonis batas umurku. Sebelum aku yakin bahwa Tuhan lebih berkuasa, aku percaya vonis dokter itu. Sampai aku berniat membagikan hartaku agar anak-anakku kelak tidak berselisih. Langkahku mungkin salah, tapi juga benar. Sebab, aku seolah jadi dipertunjukkan bagaimana perilaku anak-anakku nanti saat aku tidak ada… Terutama Ridwan,” urai Pak Arsyad.


Lelaki tua itu kembali terdiam. Matanya terlihat lelah. Izzar tetap mencoba tenang memperhatikan.


“Kamu tahu, niatku baik ingin memastikan masa depan Naira terjamin dan tidak kekurangan. Tapi, aku tak mengira Ridwan akan setamak itu. Mungkin memang salahku mendidiknya, sampai dia begitu nekat mencari alasan dan mengancam Anaya akan merebut Naira demi menguasai hartanya. Padahal, sebelumnya dia tidak terlalu peduli dengan anak itu.”


Jantung Izzar berdebar keras dengan penuturan dan tatapan mata tuanya. Izzar merasa Pak Arsyad perlahan


sedang melucuti dirinya dan Anaya.

__ADS_1


“Naira sudah pasti sangat berharga bagi Anaya. Dia sudah tidak punya orang tua, tak ada saudara kandung…


Hanya Naira satu-satunya keluarganya. Jadi, aku bisa memahami mengapa dia nekat memaksamu menikahinya, walaupun harus mengorbankan harga dirinya dan mengeluarkan biaya yang cukup besar.”


Jantung Izzar seakan berhenti berdetak sejenak. Sekelilingnya senyap. Dari mana Pak Arsyad mengetahui rahasia


Anaya dan dirinya?


“Kamu tidak usah bingung dari mana aku bisa tahu perjanjian kontrakmu dengan Anaya, dan semuanya.” Pak rsyad terus memandangi Izzar yang jadi salah tingkah.


“Maaf sebelumnya, jika aku sudah menyelidikimu dan mencari tahu latar belakangmu, karena bagiku sangat aneh dan mencurigakan ketika mendadak Anaya menikah denganmu yang baru dikenalnya dan  sedang terjerat hutang,” ucap Pak Arsyad.


Izzar jadi tak enak hati dengan ucapan Pak Arsyad.


“Saya minta maaf jika dianggap sudah memanfaatkan situasi Anaya saat itu sebagai jalan keluar dari masalah yang saya hadapi. Bisa dibilang, kami memang saling membutuhkan. Tapi, walau bagaimanapun, saya komitmen dengan perjanjian yang dibuat Anaya. Biarpun hanya di atas kertas, status Anaya adalah isteri saya. Dan, saya bertanggung


jawab menjaganya dan juga Naira,” jelas Izzar tanpa maksud membela diri.


Izzar mencoba tetap kelihatan tenang, meski dalam hati berusaha keras meredam kegelisahannya. Pak Arsyad tersenyum.


“Jujur aku sempat marah dengan Anaya, karena kukira dia terlalu serampangan memilih suami dan ayah tiri untuk Naira. Tetapi, setelah kuamati dan perhatikan, ternyata kamu memang lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Aku sebenarnya berharap Ridwan memiliki sikap dan karakter sepertimu. Tapi, ya tidak mungkin aku merubahnya.” Pak


Arsyad mengangkat kedua belah tangannya tanda menyerah.


Mantan mertua Anaya itu memejamkan matanya, merenungi kekalahannya atas anak lelakinya walaupun ia sudah berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Sementara, Izzar membayangkan apa reaksi Anaya jika tahu rahasianya telah diketahui oleh ayahnya Ridwan.


“Izzar… Kapan kontrak pernikahan kalian habis?” tanya Pak Arsyad setelah bisa mengenyahkan kekecewaannya.


“Sekitar 7 bulan lagi.”


“Setelah itu bagaimana? Kalian akan bercerai?... Lalu, bagaimana dengan tuntutan Ridwan jika kalian berpisah? Bukankan itu yang dia inginkan supaya punya alasan mengambil alih Naira?” Pak Arsyad kembali serius menatap Izzar.


Pertanyaan beruntun Pak Arsyad tersebut sulit dijawab Izzar.


“Kamu mencintai Anaya?”


Kepala Izzar terangkat. Belum dapat ia mencari jawaban yang tepat, muncul lagi pertanyaan yang lebih susah. Bibir Izzar tambah terkatup rapat. Di benaknya terbayang pertengkarannya tadi pagi dengan Anaya.


                                                                                 ***

__ADS_1


__ADS_2