
Waktu berjalan tanpa dapat dicegah. Dia tidak pernah merubah tempo dan ritme. Konstan. Siapa yang sigap, bisa mengiringinya selaras dan meciptakan cerita dan kenangan. Namun, bila lengah, dia akan berjarak, meninggalkan kekosongan yang sia-sia. Tak bisa diulangi lagi untuk mengisi. Hanya bisa mengejar mensejajarkan diri dan mengikhlaskan yang tertinggal.
Malam itu, Anaya merenungi sesuatu yang telah diabaikan dan ditinggalkannya. Sesuatu yang baru terasa tidak lengkap pada saat tak ada. Sesuatu yang ternyata bernilai berharga sesudah tak lagi bersamanya.
Anaya menunggu Izzar hingga di perbatasan hari. Lelaki itu tidak juga datang, dan ponselnya masih saja tidak aktif. Dia Ingin menunggu terus jika saja saja matanya kuat terbuka, mungkin ia akan terus terjaga menanti hingga pintu kamar terbuka memunculkan wajah yang diharapkannya.
Namun, obat yang diberikan mempengaruhi rasa ngantuknya, selain juga memang sudah lewat waktu tidurnya. Anaya pun terlelap.
Pagi menjelang .
Keheningan yang pekat sejenak mengambangkan ingatan Anaya tentang keberadaannya. Selang sesaat, ia sadar masih di rumah sakit.
Ia mengangkat separuh tubuh dan menumpukannya pada siku tangan. Pusing kepalanya hanya terasa tipis saja. Tubuh lemahnya sudah bisa diajak bekerja sama untuk duduk.
Ruangan besar ini hanya ada dirinya. Tapi, ada suara gemericik air di kamar mandi. Dia tak tahu siapa.
Anaya sabar memperhatikan pintu untuk melihat sosok yang akan keluar. Kemungkinan besar adalah Mba Kemi yang memang menemaninya sejak kemarin. Namun, ia sungguh berharap yang lain.
Dua menit menunggu, pintu pun terbuka.
“Hei! Sudah bangun!”
Anaya kecewa. Ia merebahkan badannya lagi.
Randi tersenyum mendekatinya.
“Ngapain kamu di sini?” Anaya bertanya. Heran sekaligus menyesali.
“Lah! Kok ngapain? Ngurusin kamulah!”
“Mba Kemi mana?”
“Sedang ke lantai bawah belikan aku sarapan di kantin.”
“Izzar?”
“Dia belum sempat kesini. Masih ada urusan.”
“Urusan apa?
“Kasus Ridwan.” Randi menjawab.
"Dari mana kamu tahu? Dia telfon kamu?"
"Ngga. Dari Pak Arsyad. Dia minta aku jagain kamu."
Jawaban itu tidak lantas membuat Anaya puas. Sebaliknya, ia malah penasaran. Namun, perawat yang tiba-tiba masuk menghentikan upayanya bertanya lebih lanjut.
“Ibu Anaya, saya lepas jarum infusnya ya. Ibu sudah bisa pulang. HB ibu sudah normal. Tapi, dokter pesan, ngga boleh bekerja berat, harus bayak istirahat. Dua minggu lagi harus kontrol ke dokter kandungan.”
Anaya mengangguk. Randi diam memperhatikan. Perawat pergi bersamaan dengan datangnya Mba Kemi.
“Kalian cepat berkemas, aku urus administrasi dulu.” Randi memberikan instruksi.
"Ngga tunggu Izzar dulu?" Anaya khawatir karena masih belum ada kabar langsung darinya.
"Ngga usah.”
“Tapi, dia ngga bisa dihubungi.”
“Kamu kirim pesan saja. Nanti kalau hape nya aktif kan dia bisa baca."
Anaya penasaran. Ia mengambil ponselnya dan menelefon Izzar. DIa malas mengirimi pesan. Dua kali panggilannya terpental karena nomor Izzar tidak aktif. Anaya pun memaki.
__ADS_1
Sejam kurang berselang, Anaya sudah berada di dalam mobil Randi. Mba Kemi duduk tenang di kursi tengah. Mesin sudah menyala lima menit, namun Randi masih terdiam di balik kemudinya.
“Kenapa bengong?” tanya Anaya.
“Aku bingung mau mengantarmu kemana.”
Anaya jadi tercenung. Ia pun setengah bingung. Ke rumahnya yang belum sepenuhnya rapi, rumah Izzar atau apartemen. Setelah menimbang, ia memilih mengambil barang-barangnya di apartemen lalu ke rumahnya. Ia tak ingin berspekulasi kembali ke rumah Izzar sementara lelaki itu tidak bisa dibubungi dan menghubunginya
Sebelum memulai perjalanan, Anaya menelefon toko mebel untuk memastikan pengiriman barang-barangnya hari ini setelah ditundanya kemarin.
Dengan bantuan Mba Kemi serta Randi dan orang-orangnya, Anaya membersihkan dan merapihkan rumahnya. Sejatinya, ia hanya duduk mengawasi saja karena sepupunya itu bersikeras dia tidak boleh beranjak dari sofa.
Dalam sendirinya, ia bolak-balik mengecek ponselnya. Tak ada sesuatupun yang muncul dari yang diharapkannya.
Mba Kemi menawarkan Anaya beristirahat di kamarnya yang telah rapi. Anaya pun memilih kesana, merebahkan tubuh dan memejamkan matanya di buaian kasur baru dan sprei bersih yang wangi baru dibuka dari plastik binatu.
Baru beberapa saat ia terlarut dalam kenyamanannya, Randi mengetuk pintu.
“Anaya!” suara Randi terdengar jauh dari balik pintu.
“Iya?” sahut Anaya, dengan mata tetap terpejam.
“Izzar mau telfon. Nomornya masih kamu blokir ngga?”
Seketika kelopak mata Anaya terbuka dan kesadarannya kembali penuh.
“Ngga!”
Ia langsung terduduk dan mengambil ponselnya di atas nakas. Jantungnya berdebar. Serupa dengan anak gadis yang baru pertama kali dikunjungi pacar saja rasanya.
Beberapa detik kemudian, layar ponselnya berkedip dan meyuarakan panggilan Izzar. Tapi, dasar Anaya. Ia tetap saja meninggikan sedikit gengsinya dengan membiarkan beberapa deringan berlalu sebelum menjawabnya. Ia tak mau berkesan sangat menantikan kabar dari lelaki itu.
“Anaya?” Suara Izzar di ujung sambungan menyapanya.
“Ya?”
“Ya.”
“Naira? Ada di dekatmu?”
“Semalam dia diajak ke tempat mamamu. Katanya kangen.”
“Kamu… ngga kangen sama aku?” Izzar menggodanya.
“Ngga!” Anaya menjawab spontan. Menutupi jengah hatinya.
“Masih marah sama aku?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Kenapa hape kamu dimatiin dari kemarin?”
Izzar tertawa.
“Kenapa ketawa?”
“Baru sehari aku matiin hape sudah marah lagi… Gimana aku yang sudah ditinggal pergi, diblokir, ngga dikasih tahu pula kalau kamu lagi hamil.”
Anaya menggigit bibirnya. Ia sadar sesungguhnya bila ia tidak adil.
“Kamu di mana sekarang?”
__ADS_1
“Di suatu tempat. Aku di kantor polisi sampai tengah malam kemarin. Tidur di sini, banyak yang harus diselesaikan.”
“Kenapa ngga kasih kabar? Sudah tahu aku lagi sakit!” Anaya protes.
“Ya, maaf. Aku lagi sibuk dan banyak yang dipikirkan. Dan, kamu juga kan harus banyak istirahat. Lagian, kukira pasti nomorku masih kamu blokir.” Izzar menahan tawanya.
“Alasan!”
“Hmm.. Ngga enak, ya?”
“Apa yang ngga enak?”
“Nelfon ngga bisa. Nungguin kabar ngga ada kabar.” Izzar kembali menggodanya.
“Ungkit terus!” Anaya mulai kesal.
Izzar tertawa lepas. Ia malah senang bisa membuat Anaya jengkel. Bisa dibayangkannya bagaimana raut cemberut terpasang di wajahnya.
“Kapan kamu pulang?”
“Nanti sore.”
“Lansung kesini kan?”
“Kemana?”
“Ke rumahku.”
“Kenapa kamu ngga menunggu di rumahku aja?”
“Rumah kamu sempit. Aku susah nafas!”
Anaya menjawab apa adanya. Ia sesungguhnya tak pernah suka rumah kecil Izzar.
“Kesini ngga?” Anaya mengulang pertanyaannya.
“Kalau kamu meminta.”
“Kenapa aku harus meminta?”
Izzar ingin mengingatkan kalimat Anaya saat pertemuan terakhir mereka di apartemen. Tentang pengakhiran mereka. Tapi, diurungkannya. Ia paham Anaya. Perempuan ini kadang terlalu angkuh untuk mengakui perasaannya. Baginya, semua cukup dengan Anaya menanyai kepulangannya. Tak perlu berdebat lagi.
“Oke, aku nanti pulang. Tapi, aku jemput Naira dulu ya.” Izzar mengalah.
“Ya.”
“Titip Oboy, oke!”
“Siapa Oboy?” Anaya heran.
“Anak lelakiku. Adik Naira. Di perutmu.”
Anaya memegang perutnya.
“Kenapa kamu kira dia laki-laki?”
“Karena kamu berubah jadi galak.”
Izzar tergelak. Anaya tak dapat menahan senyumnya. Biarlah, toh Izzar juga tidak melihatnya.
Anaya tak sanggup mengingkari bahwa ia merindukan kerbersamaan dengan Izzar. Walaupun kerap diwarnai perdebatan kecil, namun ia bahagia karena bisa menjadi dirinya sendiri. Ia senang karena bisa dimengerti.
Tak ada lagi hati yang tersekat, tak ada juga jarak yang membuat canggung. Semuanya melekat dan mendekat. Keduanya berjanji akan segera bertemu.
__ADS_1
Tanpa ada yang mengetahui, ada sesuatu yang tengah mengintai.
......***......