Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
50 - Menutup


__ADS_3

Izzar menatap Anaya dari celah pintu yang terbuka. Ia tidak berkata apapun walaupun mata besar Anaya menusuknya tajam. Amarah yang terpancar malah dibalasnya dengan pandangan dingin. Hanya beberapa detik Anaya bertahan. Kemudian ia pun menundukkan wajahnya.


Meski hatinya lega berhasil menaklukkan tajamnya mata Anaya , Izzar menahan senyumnya. Dia belum menang jika perempuan yang sedanb berwajah masam itu belum pulang bersamanya.


Anaya melepaskan kaitan kunci gerendelnya. Menjauhi pintu, membiarkan Izzar masuk. Ia duduk di sofa 1 seater, untuk mencegah Izzar duduk di sebelahnya. Ia berusaha menjaga jarak sejauh mungkin.


Seusai menutup pintu, Izzar memeriksa semua ruangan. Melihat tingkahnya, Anaya merasa dicurigai menyimpan seseorang. Tapi, ia tidak mau berkomentar. Tekadnya adalah sedapat mungkin diam.


"Kalau mau kabur, kenapa ngga tinggal di rumahmu sendiri saja?" tanya Izzar, sambil duduk di kursi yang menyamping dari Anaya.


Anaya menyilangkan tangannya di dada. Dalam hati, ia berkata, "kalau ke rumahku namanya bukan kabur."


"Kenapa kamu pergi?" Izzar menatap Anaya.


Yang ditatap merapatkan bibirnya dan menunduk.


Semenit, tiga menit, tak ada kata-kata dari Anaya. Izzar sabar menunggu. Ketika ponselnya berbunyi, ia hanya melihat dan menggenggamnya.


Enam menit, sepuluh menit, ponsel Izzar kembali bersuara. Ada pesan yang masuk dari anak buahnya. Ia membuka, membaca dan menjawabnya. Sesekali ia melirik Anaya yang tetap dengan posisinya.


Karena tetap tidak mendapatkan tanggapan Anaya, Izzar pun melanjutkan bertukar pesan di ponselnya.


Anaya yang walau dalam diamnya memperhatikan gerak-gerik Izzar, tumbuh rasa jengkelnya. Dan sesungguhnya ia mulai tidak tahan didiamkan.


"Kalau cuma mau main hape aja, ngapain kamu kesini?" sindir Anaya ketus.


"Aku ngga main, aku jawab pesan penting, sambil nunggu kamu jawab pertanyaanku." Izzar meneruskan jawaban pesannya.


"Pesan itu lebih penting?" Anaya jadi sewot.


"Kamu mau dianggap penting? Jawab pertanyaanku tadi!" Izzar meletakkan ponselnya di atas meja. Ia mulai gemas dengan tingkah merajuk Anaya.


Beberapa detik, Anaya kembali diam. Izzar mungkin tidak tahu bagaimana ia enggan bicara mengungkapkan gejolak emosi di hatinya. Seandainya tahu pun, sepertinya ia tidak peduli. Sikapnya sangat menuntut dirasa Anaya.


"Anaya." Suara Izzar melembut.


Anaya mengangkat wajahnya. Ia tahu Izzar tidak akan berhenti mendesaknya hingga ia bicara. Jadi, ia harus segera menyelesaikan ini secepatnya.


"Aku lelah." Anaya tidak memandang Izzar. Matanya tertumpu pada ponsel Izzar di atas meja.


"Kalau lelah, kamu harusnya berhenti, bukannya berlari. Ngga akan pernah larimu ini menyelesaikan persoalan."


"Sebab, masalah dengan kamu ngga pernah bisa selesai. Berulang. Bikin aku capek dan jadi malas ngebahasnya." Anaya berkilah.

__ADS_1


"Masalah apa? Sasika?... Bagaimana mau selesai kalau kamu memilih kabur, ngga mau mendengarkan."


"Apalagi yang perlu didengar kalau mata sudah melihat?" Anaya tak mau kalah.


"Anaya... Mata bisa salah melihat. Sudah sering terjadi di mana-mana, hanya karena melihat secuil saja, persepsi negatif muncul duluan. Padahal, cerita lengkapnya bisa jadi sebaliknya. Sekarang, hal ini yang sedang terjadi sama kamu," ujar Izzar.


"Jadi, kamu pikir ada yang salah dengan mataku kemarin? Apa mataku juga salah waktu di Puncak dulu itu? Aku ngga boleh punya pikiran negatif kalau kamu dipeluk-peluk sama mantanmu?" Nada suara Anaya meninggi.


"Waktu itu kamu sudah janji ngga akan ngambek-ngambek karena dia lagi. Aku harus jelaskan bagaimana lagi kalau aku ngga ada apa-apa lagi dengan dia. Jangan kamu kira hanya kamu yang lelah. Aku juga jenuh kalau hanya itu saja yang kamu jadikan alasan." Izzar mengeluh.


"Waktu itu kamu juga janji ngga akan bohong-bohong lagi. Tapi, nyatanya, kamu sejak awal bohongin aku!" Dada Anaya bergemuruh.


"Bohong apa?" tanya Izzar tenang.


Anaya menata nafasnya.


"Kamu dulu mau nikahin aku demi uang kan?"


Izzar kaget dengan pertanyaan Anaya. Juga heran mengapa hal tersebut diungkitnya lagi.


"Iya memang. Tapi, kamu kan yang menawari aku dulu." Izzar mengingatkan.


"Niat kamu dari awal ngga ada tulusnya ke aku. Kamu mau sama aku cuma karena tawaran uangku saja. Tujuanmu cuma materi."


Izzar tidak mengingkari ucapan Anaya. Sebab, memang begitu adanya niatnya dulu. Meskipun, tetap saja dijalaninya dengan tanggung jawab. Dan mana ia tahu di tengah jalan perasaannya berubah, begitu juga Anaya.


"Bukannya kita saling memanfaatkan?" Izzar membalikkan kalimat Anaya.


"Aku cuma sekali saja, di awal. Tapi kamu terus-terusan. Sampai kamu manfaatkan juga kakeknya Naira. Kamu manfaatkan hubungan kami, kamu jebak aku, demi keuntungan kamu. Makanya kamu ngga pernah mau terbuka sama aku. Soal warisan Naira, proyek, saham… Aku ngga suka dibohongin! Aku ngga suka tahu paling belakangan!"


Setelah sekali bicara, Anaya tidak terbendung meluapkan isi hatinya. Panjang dan lebar, dengan intonasi emosi naik dan turun. Izzar diam memandangi ekspresi wajah Anaya saat mengungkapkan semuanya. Meski tak sama persis, yang disampaikan Anaya sudah didengarnya dari Sandra.


Mulut Izzar terkunci, meski hatinya ingin membantah semua dugaan Anaya.


“Kenapa diam?”


Izzar menghela nafasnya. “Kamu ingin aku berkata apa?”


“Yang sebenarnya! Kenapa Pak Arsyad bisa sangat percaya ke kamu? Mempercayakan nasib perusahaan yang dia bangun buat keluarganya, ke kamu. Bukan ke anaknya?” desak Anaya.


“Aku ngga tahu. Kenapa kamu ngga tanya langsung sama dia?”


“Ngga mungkin kamu ngga tahu!” Suara Anaya meninggi. Wajahnya

__ADS_1


Sudah tentu Izzar tahu. Tapi, ia terikat perjanjian dengan Pak Arsyad untuk tidak memberitahu Anaya. Sungguh ia serba salah jadinya.


"Kenapa ngga bisa jawab? Biasanya kamu selalu punya jawaban." Anaya menantang.


Izzar menatap Anaya lekat. Wajah Anaya yang mengeras dengan sirat mata kesal yang tak terkira, menggores hatinya.


"Bisa ngga, kamu percaya aja sama aku? Aku ngga berniat macam-macam ke kamu!" Izzar tak punya cara lain meyakinkan perempuan ini untuk tidak menuduhnya.


"Ngga!" Anaya tegas. "Ngga ada yang bisa dipercaya dari kamu! Melepaskan diri dari mantanmu saja ngga bisa! Lalu ngga ngaku sudah menjebakku dan Naira!"


Ponsel Izzar di atas meja berdering. Anaya tak sempat melihat nama pemanggilnya karena Izzar cepat menyambarnya. Keningnya berkerut, tapi tidak dijawabnya. Ia malah mengalihkan pandangannya pada Anaya.


"Oke!... Jadi, kalau kamu ngga bisa percaya sama aku lagi, maumu apa sekarang?" Izzar mendadak terlihat tidak sabar.


"Aku cuma mau kamu jujur," jawab Anaya dingin.


"Saat ini aku ngga bisa, Anaya."


Jawaban Izzar menambah kesal dan marah Anaya.


"Ya sudah!" Anaya berdiri. "Kita kembali ke kontrak kita dulu saja. Bulan depan perjanjian pernikahan kita selesai. Tapi, kamu ngga perlu nunggu sebulan lagi. Mulai sekarang, kamu bebas!"


Ponsel Izzar kembali berdering. Kali ini ia menjawabnya. Raut mukanya berubah tegang.


Anaya dalam hati menebak-nebak siapa yang dua kali menelefon Izzar. Tapi, ia gengsi bertanya.


"Iya! Tunggu disana!" Izzar mengakhiri panggilan dan ikut berdiri juga.


Kaki Anaya siap menjaga jarak, khawatir Izzar mendekatinya.


"Sebentar, bukannya waktu di hotel di Puncak, kamu sudah membatalkan kontrak itu?"


Anaya gelagapan. Ia ingat malam itu. Ia ingat detail saat-saat ia menyerahkan dirinya pada Izzar. Otaknya berpikir cepat mencari jawaban tepat.


"Itu sebelum aku tau kamu bohongin aku!"


"Kamu yakin? Ucapan kamu tadi artinya mengakhiri kita?"


"Yakin! Aku ngga mau bersama lelaki yang cuma bisanya manfaatin aku dan ngga bisa jujur!" Anaya tak mau mengalah.


Izzar menggaruk keningnya. Ingin ia berdebat terus dengan Anaya, tapi telefon barusan mencabangkan perhatiannya dan membuatnya harus segera memilih. Melanjutkan pertengkaran dengan Anaya jelas bukan pilihannya. Percuma memaksanya.


"Oke!" Izzar memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu dan keluar.

__ADS_1


Anaya terperangah. Beberapa saat ia berdiri mematung. Sebagian jiwanya berharap pintu yang telah ditutup itu terbuka lagi.


...***...


__ADS_2