
Pindah rumah sementara walau hanya membawa barang-barang yang penting, tetap saja melelahkan Anaya. Apalagi dengan keterbatasan ruang di rumah Izzar, ia harus pintar-pintar menata semuanya agar tak menambah sempit. Salahnya sendiri menyerahkan pencarian rumah sementara kepada Izzar.
Ketika akhirnya pekerjaan tersebut selesai walau tak sesuai dengan harapannya, Anaya menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia berharap renovasi rumahnya cepat selesai sehingga ia bisa kembali ke kediamannya.
Baru lima menit Anaya berbaring, Mba Kemi memberitahukan Ridwan datang untuk menjemput Naira. Anaya hampir lupa jika hari ini adalah hari Minggu, jadwal Ridwan mengasuh Naira.
Naira menunjukkqn sikap enggan hendak pergi bersama Ridwan. Anak kecil itu berterus terang lebih suka bersama Izzar.
"Papa ngga seru, Ma. Ngga enak jalan-jalan sama papa. Aku lebih suka main sama Ayah Izzar.” Naira berbisik di telinga Anaya, yang membuat Anaya resah, khawatir Ridwan akan menuduhnya menghasut Naira jika mendengar hal tersebut.
Perlu waktu lima belas menit untuk Anaya membujuk dan menasihati Naira agar tetap menghormati Ridwan sebagai papa kandungnya. Saat akhirnya Naira mau juga pergi dengan ditemani Mba Kemi, Anaya menarik nafas lega.
Ia baru saja berkemas akan bertemu Sandra, sebab ia tak mau hanya berdua dengan Izzar di rumah, ketika pintu diketuk disusul dengan teriakan salam dengan suara yang seperti pernah didengarnya.
“Eh, Mama! Kok ngga bilang-bilang mau kesini? Naik apa?” seru Izzar terkejut mendapati mamanya di depan pintu.
“Surprise! … Mama naik taksi tadi. Mana Anaya dan Naira?”
Anaya terkesiap mendengar suara percakapan tersebut dari kamarnya. Ia tak menyangka akan memperoleh kunjungan mendadak mama Izzar alias mertuanya. Terpaksa Anaya keluar kamar menyambutnya.
Wanita baya itu tampak senang melihat Anaya, dan sedikit kecewa karena Naira tak ada di rumah.
“Kalian sudah sarapan?” tanya mama Izzar sambil mengeluarkan kotak-kotak makanan dari grocery bag yang dibawanya.
Anaya membantunya. Ia terperangah sendiri melihat banyaknya makanan yang dibawa. Ada rendang, kentang mustofa, sambal goreng hati, bumbu pecal, telur asin, kacang mete goreng, dan strawberry cheese cake.
“Ini semua mama yang buat sendiri. Semuanya kesukaan Izzar. Mama belum tahu kesukaan kamu dan Naira. Kalau sudah tahu, nanti mama kesini lagi akan mama bawakan,” ujar mama Izzar kepada Anaya.
__ADS_1
“Kenapa Mama repot-repot?” Izzar membuka wadah berisi kacang mete dan menjumputnya beberapa butir.
“Siapa yang repot?” Mama Izzar mengelak. Ia duduk di kursi meja makan sambil menata bawaannya. “Kamu kan tahu mama suka masak dan baking.”
Anaya menawarkan membuatkan minuman. Izzar membisikkan bahwa mamanya juga suka teh chamomile. Anaya segera menyiapkannya dengan rasa heran sendiri dalam hati, mengapa mama Izzar juga menyenangi jenis teh yang sama dengan dirinya.
Begitu mencium aroma teh yang diseduh Anaya, mama Izzar memekik. Ia senang mengetahui menantunya menyukai hal yang sama.
“Izzar juga suka loh sama teh itu!” seru mama Izzar.
Anaya menatap tak percaya kepada Izzar yang duduk di seberang mamanya. Lelaki itu tersenyum lebar membalas tatapan Anaya. Informasi yang disampaikan mama Izzar membuat Anaya merasa tersudutkan sebab selama ini tidak pernah menawarkan Izzar teh tersebut saat ia membuatnya setiap pagi. Dan kini, ia pun mau tak mau menyeduhkannya juga untuk Izzar.
Mama Izzar tipe perempuan yang sangat ramah dan suka mengobrol. Tampak jelas ia berusaha mengenal Anaya melalui percakapannya. Anaya semula sungkan dan enggan, tetapi kehangatan sikap mertuanya itu membuat hatinya mencair juga. Walaupun, ia tetap kesal kepada Izzar karena tak bisa mencegah dirinya terjebak di kondisi canggung begini.
Dari perbincangan mereka, Anaya jadi lebih mengenal latar belakang Izzar. Lelaki itu anak pertama dari dua bersaudara. Adik perempuannya tinggal di Australia bersama suaminya. Sama seperti Anaya, ayahnya meninggal saat ia kuliah. Sehingga ia cepat mandiri dan bertanggung jawab atas ibu dan adiknya.
Anaya dapat melihat bagaimana Izzar sangat menghormati mamanya. Dan mamanya menghargai anak lelakinya itu. Anaya jadi teringat ibunya sendiri yang meninggal setahun setelah ia menikah dengan Ridwan. Dulu ibunya pun seceria mama Izzar.
“Kalau ada waktu luang, kamu main ke rumah ya sama Naira!” pinta mama Izzar sambil mencium pipi Anaya.
Anaya hanya tersenyum mengangguk.
Setelah mama Izzar pulang, wajah Anaya berubah masam kepada Izzar. Ia jengkel karena rencana menjumpai Sandra jadi gagal akibat kunjungan tiba-tiba mama Izzar. Ia juga sebal, karena dalam perjanjian, menerima kunjungan mertua bukanlah hal yang wajib dilakukannya.
“Oke! Aku minta maaf mamaku datang ngga bilang-bilang.” Izzar menanggapi uneg-uneg Anaya. Ia merasa serba salah. Sebab sebelum ada Anaya, mamanya memang terbiasa datang kapan saja.
Dengan masih bersungut-sungut, Anaya meninggalkan rumah dengan mobilnya. Ia tidak berpamitan hendak kemana pada Izzar. Dan, Izzar juga enggan menanyai tujuannya. Ia tak mau menanggapi emosi Anaya. Setelah kepergian Anaya, Ia lebih suka menyibukkan dirinya dengan menggambar desain restoran untuk proyek temannya Randi.
__ADS_1
Anaya pergi ke apartemen Sandra, dan mencurahkan perasaannya tentang ‘pernikahan’nya. Sandra mencoba bersimpati mendengarkan keluh kesah Anaya, walau dalam hati ia ingin tertawa juga menyadari kekakuan dan kerasnya sikap Anaya.
“Aku sebal sama Izzar! Ada aja kelakuannya yang bikin aku jengkel” Anaya menggerutu.
“Sabarlah, Nay! Anggap saja resiko yang memang harus kamu tanggung.” Sandra berusaha membuat Anaya ikhlas dengan situasi yang harus dijalaninya.
“Setahun kayaknya lama sekali. Aku ngga yakin bakalan kuat tinggal serumah sama orang yang ngga aku suka.” Anaya menutup wajahnya dengan bantal sofa.
“Kamu pikirkan lagi tujuan kamu memaksa Izzar menikah denganmu. Demi Naira, kan?” Sandra mengingatkan. “Kamu ngga perlu menyukai Izzar, Nay. Kamu cukup menerima saja kehadirannya. Coba jadikan dia seperti teman,” bujuk Sandra.
Anaya jadi teringat permintaan Izzar saat di Puncak tempo hari.
“Lagian, jangan terlalu benci Nay, takutnya nanti kena tulah, malah bisa jadi benar-benar cinta,” ledek Sandra.
Mata Anaya mendelik dan melemparkan bantalnya ke Sandra. Sandra tergelak.
Keduanya melanjutkan obrolan hingga larut malam. Izzar sama sekali tidak menghubunginya, begitu juga Mba Kemi. Anaya kembali ke rumah kala hampir tengah malam.
Anaya menemukan Naira tertidur di sofabed di ruang kerja Izzar. Buku gambar dan pinsil warna berserakan di dekatnya. Sementara Izzar juga tidur di kursinya.
Ada rasa terharu dan secuil bersalah yang menelusup di batin Anaya melihat pemandangan keduanya. Namun segera ditepisnya agar tidak membuatnya cengeng.
Perlahan ia mencoba merengkuh tubuh Naira. Tetapi, posisi anak itu yang terlalu menempel ke dinding agak menyulitkannya. Walau sudah berusaha sesenyap mungkin, gerakannya tetap menimbulkan suara gesekan yang membangunkan Izzar.
“Biar aku saja!” Izzar bangkit dari kursinya. Ia membopong Naira dan kemudian memindahkannya ke kamar Anaya.
Anaya memberesi mainan, buku dan alat tulis Naira. Ia terpana melihat hasil gambar Naira di halaman yang terbuka. Gadis kecil itu menggambar seorang anak perempuan yang diapit ayah dan ibunya, dengan disertai tulisan : mama, Naira, ayah Izzar. Di sudut kertas, ia menggambar lelaki lain dengan ukuran lebih kecil, dengan tulisan : papa.
__ADS_1
Anaya tertegun melihat betapa besar arti kehadiran Izzar di hati anaknya hingga menempatkan ayah kandungnya di sudut halaman. Dan itu membuatnya cemas, sebab ada saatnya nanti ia dan Izzar akan berpisah.
...***...