Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
17 - Peran


__ADS_3

Mba Kemi izin belum bisa bekerja lagi karena harus mengurus orang tuanya yang masih sakit, dan tidak bisa memastikan kapan akan kembali. Anaya mengurus Naira, rumah dan dan pekerjaannya. Ia tak mungkin menitipkan Naira pada Izzar yang mulai sibuk mengaktifkan kembali perusahaannya, seiring dengan membanjirnya tawaran proyek-proyek yang diterimanya


Namun, ia juga enggan mencari asisten rumah tangga pengganti yang terutama bisa menjaga Naira. Ia tak bisa mempercayai orang yang belum dikenalnya. Ide menitip Naira di daycare, langsung ditolak Naira. Ia tak mau bermain bersama bayi katanya.


Beberapa hari, Anaya membawa Naira ke kantor setelah anak itu selesai sekolah. Hal tersebut diketahui oleh Ridwan yang menawarkan diri mengasuh Naira. Anaya tidak mengizinkan.


Penolakan Anaya sudah tentu mengundang pertengkaran yang membuat Ridwan mengungkit lagi tuntutannya mengambil alih hak asuh atas Naira karena Anaya mengutamakan pekerjaannya.


“Kamu akan segera berhadapan dengan pengacaraku! Terbukti sudah kamu tidak becus mengurus Naira. Kantor bukan tempat anak kecil!”


Anaya gentar. Seusai menerima telefon marah-marah Ridwan, Anaya langsung membawa Naira pulang. Ia jengkel sebab persoalannya dengan Ridwan tak kunjung usai.


Kejengkelan Anaya bertambah begitu mendapati keadaan rumah yang berantakan dan kotor. Sebagai penyuka kebersihan dan kerapihan, jiwanya meronta. Maka, walau penat, Anaya pun membereskan dan membersihkan seisi rumah.


Biarpun rumah Izzar kecil, tetap saja tenaganya terkuras. Saat Izzar pulang, penampilannya seperti isteri yang tak punya cukup waktu, kelelahan mengurus rumah tangga.


Izzar kaget mendapati Anaya terbaring di sofa dengan Naira bersimpuh di ujung kakinya, memijiti betis Anaya dengan tangan mungilnya.


“Kamu kenapa?” Izzar khawatir Anaya sakit.


“Mama pingsan! Dia kecapekan habis nyapu, ngepel, cuci piring!” Naira menjawab mewakili Anaya. “Padahal, mama belum cuci baju, belum masak.”


Tertawa Izzar mendengarnya. Anaya menutup wajahnya dengan tangan. Ia sebal Izzar menemukannya dalam kondisi lemah begini. Sebenarnya, pantas sajalah Anaya yang hampir tidak pernah mengerjakan pekerjaan domestik kecuali memasak, kecapekan.


Izzar menawarkan makan malam di luar. Naira langsung beteriak gembira. Tapi, Anaya menolak. Untuk bangkit dari sofa saja, ia terlampau letih.


“Mama! Aku kan mau makan Sushi!” Naira merengut kecewa.


“Kita pesan online saja ya!”


Naira tidak keberatan. Bahkan ialah yang memilihkan menu makanan untuk mereka bertiga.


Seusai makan malam, Izzar menawarkan mempekerjakan asisten rumah tangga pulang pergi selama Mba Kemi belum kembali. Ada tetangga Izzar yang pernah bekerja dengannya yang bisa segera dipekerjakan. Izzar bahkan berjanji akan bertanggung jawab membayari gajinya.


“Beneran?” Anaya tak percaya.

__ADS_1


“Ya benarlah!”


“Kok kamu baik banget?” Anaya meledeknya.


“Ya, mencoba berpikir praktis saja. Mba Kemi belum tahu kapan kembali. Kalau ngga ada yang bantu, kamu pasti kecapekan seperti sekarang. Sehari dua hari, kamu masih tahan. Selanjutnya, kamu bakal marah-marah karena kelelahan. Dan, nomor satu yang jadi tempat pelampiasan emosimu, pasti aku kan?! … Jadi, ngga apa-apalah aku keluar uang daripada dimarahin ngga jelas nantinya.


Anaya merengut. Sebal, sebab Izzar memahami dirinya.


“Kenapa cemberut? Karena prediksiku benar?” Izzar balas meledek Anaya.


“Jangan soktoy!” Anaya mengelak.


Izzar tertawa.


“Zar, terima kasih sudah meringankan bebanku. Tinggal siapa penjaga Naira yang harus kupikirkan. Aku ngga mungkin membawa dia ke kantor lagi. Ridwan akan menjadikan hal itu sebagai alasan untuk memaksaku menyerahkan Naira karena aku dianggap menyeretnya ke lingkungan kerja yang bukan dunianya.”


“Kenapa kamu ngga bekerja dari rumah saja? Work From Home? Apalagi kamu kan pemilik saham terbanyak di perusahaan. Kamu ngga harus setiap hari datang ke kantor.”


Ide Izzar membuat Anaya tercenung.


Anaya memperhatikan Naira yang sedang menyusun balok-balok lego di depannya. Izzar benar. Rasanya, belum lama ia menimang bayi mungil yang merupakan bagian dari jiwanya itu. Sekarang, bayi itu sudah hampir enam tahun usianya.


Esoknya Anaya langsung menghubungi Sandra dan memintanya mengatur kebijakan work from home untuknya dan juga pegawai-pegawai yang lain yang memang memungkinkan.


Jadilah Anaya mulai banyak bekerja dari rumah. Dan ia ternyata sangat menikmati rutinitas barunya. Naira bahagia mamanya selalu ada untuknya. Nilai-nilainya di sekolah pun meningkat cepat. Izzar juga jadi tambah menemukan kenyamanan di rumahnya dengan peran Anaya dan perubahan sikapnya.


Ridwan akhirnya kembali kehilangan celah untuk menuntut Anaya.


Sedangkan Tristan, mencoba berulang kali menghubungi Anaya dan meminta bertemu. Saat Anaya tetap saja tak mau menanggapi, tiba-tiba lelaki itu muncul di rumah yang sudah tentu mengejutkannya.


Untung saja sedang ada Izzar yang kemudian terpaksa menghadapi Tristan karena Anaya bersembunyi di kamar sama sekali tak mau menjumpainya.


Entah apa yang dikatakan Izzar kepadanya. Tak lama, Tristan pun pergi.


“Jadi itu tadi mantan pacarmu?” tanya Izzar setelah menutup pintu.

__ADS_1


“Sebenarnya kami ngga resmi pacaran. Cuma pernah dekat aja.”


“Dia yang mengganggumu sampai langsung pulang dari acaranya tempo hari?”


Anaya mengangguk. Ia lalu menceritakan yamg terjadi waktu itu.


Izzar menggelengkan kepalanya. “Kenapa sih sejarah hubungan cintamu, sepertinya selalu dengan lelaki toxic?”


Anaya tidak tahu Izzar meledek atau prihatin dengan kisah masa lalunya. Ia tak mau peduli. Baginya yang penting, ia semakin yakin Izzar selalu bisa diandalkannya.


Pulang sekolah di hari itu, Naira memberi tahu bahwa besok, ia harus membawa foto keluarga intinya sebagai tugas pelajaran tematik tentang keluarga.


“Jadi, di foto itu harus ada ayah, ibu dan anak-anak. Terus, nanti aku harus bercerita tentang nama ayahnya, nama ibunya, kerjanya apa… ya begitulah!”


“Oke!” sahut Anaya, biarpun dia bingung, bagaimana caranya mendapatkan foto bertiga bersama Ridwan.


“Kita punya foto keluarga sama ayah Izzar kan, Ma?”


Terkejut Anaya dengan pertanyaan Naira. Kenapa ia jadi memilih foto keluarga dengan Izzar sebagai ayahnya?


“Tapi, Na. Papa kandungmu kan Papa Ridwan?” Anaya mencoba menjelaskan. Sekesal apapun ia dengan Ridwan, ia tak pernah menghilangkan nasab anaknya.


“Iya, tapi sekarang Ayah Izzar juga bapakku. Aku maunya bawa foto keluarga bareng Ayah Izzar.”


Naira tidak mempan dibujuk. Bolak-balik Anaya menjelaskan, tetap saja ia memilih menampilkan Izzar sebagai ayahnya.


Anaya menyerah. Tapi, ia tidak memiliki foto mereka bertiga di ponselnya. Ketika Izzar pulang sore itu, Naira meminta mereka berswafoto bertiga, serta meminta Izzar mencetaknya.


Dalam perjalanan ke sekolah esoknya, Naira meminjam ponsel Anaya dengan alasan ingin melihat foto mereka bertiga kemarin.


Ternyata, diam-diam, anak yang cerdas itu mengganti wallpaper dan layar kunci ponsel Anaya dengan foto tersebut.


Anaya tertegun begitu menyadarinya. Foto tersebut benar-benar menggambarkan seolah mereka keluarga yang harmonis dan bahagia.


Namun, entah bagaimana Ridwan mengetahui tugas sekolah tersebut. Ia mendatangi Anaya dan marah. Ia tidak terima disisihkan padahal ia ayah kandung Naira.

__ADS_1


...***...


__ADS_2