Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
25 - Tersentak


__ADS_3

Randi meminjam ruangan kerja Anaya untuk membicarakaq bisnisnya bersama Izzar. Entah apa yang dibahas sampai Anaya dan Sarah tidak boleh mendengarkan.


“Rahasia! Urusan bisnis laki-laki!” tandas Randi.


“Bayar sewa kalau begitu!” Anaya tak mau rugi.


“Nanti kuajak makan. Tapi, Izzar yang bayar. Kemarin habis dapat proyek besar dia.” Randi mengedipkan matanya.


Izzar tersenyum memandang Anaya. Tapi Anaya tidak membalasnya. Ia memendam keinginan mengetahui proyek yang dimaksud Randi.


Anaya menunggu keduanya di ruang rekreasi tempat anak buahnya biasa beristirahat. Sandra dan sebagian anak buahnya telah pulang. Tinggal ia dan Sarah yang masih berbincang dengan Dian.


Ia duduk menonton TV, namun dengan benak yang tak terfokus pada tayangannya. Ia merenungi kontrak pernikahannya dengan Izzar sudah memasuki bulan kelima. Tak terasa setengah perjalanan lagi dari masa perjanjiannya akan usai dijalaninya.


Taktiknya menghindari tuntutan hak asuh Naira sejauh ini berhasil. Namun, ia belum tahu ke bagaimana setelahnya. Apalagi ditambah dengan ultimatum mantan mertuanya. Tadinya ia terpikir dengan membaiknya hubungan dirinya dan Izzar, ia akan mudah meminta lelaki itu memperpanjang kontraknya.


Tetapi, kehadiran kembali Sasika mebuatnya ragu. Walau ia berstatus sebagai isteri Izzar, tetap saja ia merasa mereka berdua adalah orang asing. Meski sudah bersepakat berteman, masih saja mereka tersekat oleh perjanjian yang dirancang Anaya.


Jika Sasika memang mengejar kembali Izzar, Anaya sadar tak berhak menghalanginya. Hubungan mereka berdua dulu sudah tentu dilandasi cinta. Bukan hal yang tak mungkin bila cinta  keduanya yang kandas karena hasutan masih menyimpan akar yang kuat dan menumbuhkan tunas baru.


Jadi, apalah arti Anaya yang mengikat Izzar dengan materi demi hasratnya yang tak ingin kehilangan anaknya.


Setengah jam kemudian, pembicaraan dua lelaki itu selesai. Randi setengah memaksa mengajaknya makan di restoran baru milik salah seorang temannya. Ia


meminta Anaya dan Izzar mengikuti saja mobilnya.


Sepanjang perjalanan Anaya diam. Sikap dinginnya kembali mengingatkan Izzar pada masa-masa awal mereka ‘menikah’. Izzar tidak merasa nyaman dibuatnya.


“Anaya?” Izzar menyebut nama dan menatapnya saat mereka harus berhenti terhadang lampu merah.


“Ya?” jawab Anaya tanpa menoleh. Wajahnya tetap memandangi luar jendela. Menatap orang-orang berlalu lalang di jalanan menjelang senja yang tidak terlalau ramai.


“Kenapa diam saja?” tanya Izzar.


“Ngga apa-apa.”


“Masih marah?”


“Ngga.”


“Tapi, kok diam saja dari tadi.”


“Ngga apa-apa.”

__ADS_1


Izzar menyerah. Percuma ia menuntut jawaban lain dari mulut Anaya saat ini.


Seorang pengamen anak menghampiri sisi mobil dan bernyanyi tak jelas. Anaya membuka jendelanya sedikit dan memberikan uang dan sekotak minuman kemasan milik Naira dari seat organizer di belakang kursi Izzar. Ia melakukannya tanpa berkata apalagi menoleh


kepada lelaki di sebelahnya itu.


Lampu lalu lintas berganti hijau. Izzar kembali berkonsentrasi mengemudi. Ia membiarkan Anaya dalam


diamnya. Ia pun kemudian larut dengan kecamuk pikirannya sendiri. Sedang ada pergulatan di hatinya yang tak bisa ia ceritakan kepada siapapun.


Randi mengajak mereka makan di sebuah restoran di rooftop sebuah gedung. Pemandangan langit


senja kota yang dramatis menciptakan suasana romantis bagi pasangan yang yang memang sedang jatuh hati seperti Randi dan Sarah. Keduanya tak ragu saling tatap, bersikap dan berkata mesra.


Anaya duduk tenang menyaksikan sepupu dan calon isterinya bertingkah laksana dua anak remaja yang sedang kasmaran. Ia tidak terpancing, meskipun ia dan Izzar duduk bersebelahan dan sangat dekat. Ia tak bereaksi walau beberapa kali lengan Izzar menyentuh dan menempel rapat di bahunya.


Ia sadar, biar bagaimanapun, ia dan Izzar harus kelihatan harmonis di hadapan Randi jika tak ingin dicurigai lalu


ditanyai macam-macam. Jadi ia mencoba mengikuti saja alur peran yang dimainkan Izzar. Beruntungnya, Izzar juga tidak macam-macam dan berlebihan memanfaatkan situasi yang ada.


Selesai makan, Randi mengajak Izzar menyapa temannya. Entah terlupa atau tak sengaja, Izzar meninggalkan ponselnya yang semula memang diletakkan di meja bersama dengan kunci mobil. Anaya membiarkannya dan berbincang dengan Sarah.


Selang beberapa waktu, layar ponsel Izzar menyala


menayangkan panggilan telefon dari… Sasika.


*Sasika : Bisa ketemu, besok*?


Hati Anaya memanas disertai gemuruh rasa kesal.


“Kak, aku mau ke toilet dulu, ya!” Sarah yang tak memperhatikan perubahan pada diri Anaya beranjak berdiri.


Tak lama, Izzar kembali tanpa Randi. Mungkin ia teringat dengan ponselnya. Gejolak emosi yang coba diredam Anaya mendorongnya langsung berdiri dan mengambil kunci mobilnya dengan gerakan kasar.


“Aku pulung duluan. Kasihan Naira nungguin. Oh ya, tunanganmu barusan telefon!” Anaya meninggalkan Izzar yang terperangah dengan ucapan dan tindakannya.


“Hei, tunggu dulu!”


Anaya tidak mempedulikannya. Ia berjalan tergesa menuruni tangga, dan  dengan langkah cepat menuju


parkiran. Semula, ia yakin akan bisa pulang sendiri dan meninggalkan Izzar yang pasti harus berpamitaan dulu pada Randi dan menyelesaikan pembayaran makan


malam mereka. Tapi, keyakinanya menguap begitu mendapati mobilnya terhalang mobil lain.

__ADS_1


Petugas parkir yang melihat kebingungan Anaya segera mendekati dan mendorong mobil tersebut. Proses beberapa menit itu cukup lama bagi Izzar untuk


mengejarnya. Tanpa berkata apa-apa, Izzar mendekati Anaya dan mengambil kunci mobil di tangannya.


Keduanya seperti anak kecil yang berlomba memperebutkan sesuatu. Dan, dengan ketenangannya, Izzar berhasil menang dan menguasai keadaan.


“Mau pulang? Ayo!” ajak Izzar pada Anaya yang mematung menyesali kekalahannya.


Anaya mau tak mau menurut.


Seperti sebelumnya, Anaya mengatup rapat bibirnya. Pertanyaan Izzar sama sekali tidak digubrisnya. Sesabar-sabarnya Izzar, ia akhirnya kesal juga. Di jalan yang tak ramai tapi terang, Izzar menghentikan mobil.


“Kenapa berhenti?” Anaya melihat sekeliling. Ia takut berada di tempat yang sepi.


“Kita harus bicara.”


“Bicara apa, sih?!” tanya Anaya ketus.


“Bicara kenapa sikap kamu kayak anak kecil. Lebih-lebih dari Naira,” sahut Izzar tenang.


Anaya merengut. Panas di hatinya bertambah karena disamakan dengan anaknya.


“Kamu sebenarnya masih marah karena aku bohong soal ketemu Sasika, kan?” terka Izzar.


“Iya,” jawab Anaya pendek.


“Kenapa? Aku kan sudah minta maaf.”


Anaya diam. Benak dan hatinya mencari-cari alasan. Tidak mungkin baginya mengatakan bahwa ia cemburu. Bisa jatuh harga dirinya nanti.


“Kamu masih ingat kan, kita terikat kontrak supaya Ridwan tidak mengusik Naira. Kamu mestinya kan tahu dia memata-matai kita… Aku akui memang pernah


hanya bertemu berdua saja denganTristan, tapi itu tidak disengaja dan aku ngga bohong! Kami juga memang sedang ada urusan pekerjaan… Tapi, kamu? Sengaja


ketemu mantanmu itu hanya berdua, terus bohongin aku pula. Padahal, aku melihat kalian langsung,” urai Anaya lancar. Meskipun ia ragu alasannya masuk di akal


atau tidak.


Izzar diam menunggu Anaya berkata lagi. Dibiarkannya Anaya melepaskan uneg-unegnya.


“Aku sudah hati-hati, kamu malah sebaliknya. Kamu minta kita berteman baik, oke aku bersedia. Tapi teman baik ngga akan berbohong. Bagaimana juga kalau Ridwan yang memergoki kalian, dan lalu semua berantakan? Jadi


percuma aku bayar kamu!”

__ADS_1


Kalimat terakhir Anaya menyentak di hati Izzar. Menyadarkan posisi dan arti dirinya bagi wanita cantik di sebelahnya.


...***...


__ADS_2