
Anaya terbaring di tempat tidur dan baru saja memejamkan matanya saat Sandra datang bersama Naira dan Mba Kemi. Dia habis menjemput keduanya dari rumah Pak Arsyad.
Suara ceriwis Naira langsung mengusik ketenangannya. Anak kecil itu mempertanyakan mengapa dia tidak pulang ke rumah Izzar, serta mempertanyakan keberadaan lelaki itu.
"Memangnya ini tempat siapa, sih? Ini kan bukan rumahku!" gerutu Naira.
"Sementara apartemen ini jadi rumahmu." Sandra menjelaskan singkat.
"Mama mana?"
"Mama di kamar, lagi sakit."
"Ayahku mana?"
Sandra bingung hendak menjawab apa. Ia langsung mencoba mengubah perhatian Naira.
"Eh, kamu mau makan apa, sayang? Tante pesankan ya!"
"Aku ngga mau makan!" Naira merengutkan bibir dan menyilangkan tangannya di dada.
"Kalau ngga mau makan, maunya apa?" tanya Sandra sabar.
"Aku mau ayahku!"
Sandra tidak bisa menjawab. Ia mengangkat tangannya. Menyerah.
Naira menghambur ke kamar Anaya. Bibir mungilnya meruncing tanda ia merajuk. Namun, melihat mamanya terbaring pucat dan tak menanggapi, anak kecil itu akhirnya terdiam juga.
"Mama kenapa?" tangan mungilnya meraba kening Anaya.
"Pusing."
"Kenapa kok bisa pusing?"
Anaya menatap wajah anaknya. Ia bimbang apakah sebaiknya menceritakan penyebab sakitnya atau tidak. Naira pasti saja gembira karena akan memiliki adik. Tapi, Anaya belum siap memberitahunya.
"Kecapekan aja."
"Aku pijitin ya!" Naira memijiti kaki Anaya dengan jemari mungilnya.
Anaya terharu dengan perhatian puterinya.
"Enak ngga Ma, pijitan aku?"
"Enak," Anaya tersenyum.
"Berarti mama bisa cepat sembuh dong!"
"Mama ragu kalau itu."
"Kenapa?" Naira tidak puas.
"Soalnya yang sakit kepala, tapi yang kamu pijit kaki."
"Oh! Salah ya aku!" Naira menggeser tubuhnya mendekati kepala Anaya. Tangan mungilnya merambah kening Anaya.
"Habis, aku sering lihat ayah mijitinnya kaki mama kalau mama kecapekan." Naira beralasan.
Anaya terhenyak. Anak itu sudah tentu memperhatikan saat Izzar beberapa kali memanjakannya sewaktu ia mengeluh letih sehabis bekerja dengan memijat kakinya.
"Kenapa mama ngga minta tolong ayah obatin mama? Ayah kemana?"
"Ngga ada."
"Ngga ada kemana?" kejar Naira.
Anaya menghela nafas. "Mama ngga tahu."
"Kenapa ngga tahu?"
Anaya diam.
"Kenapa kita ngga tinggal lagi di rumah Ayah Izzar?" Naira bertanya.
"Itu kan bukan rumah kita. Nanti kita kembali ke rumah kita sendiri kalau sudah mama rapikan."
Naira berhenti mengusap kening Anaya. Ia memalingkan wajah Anaya hingga keduanya bertatapan.
__ADS_1
"Ayah ngga tinggal bersama kita lagi?"
Anaya membisu.
"Mama sama ayah lagi marahan, ya?"
"Hmm... Sedikit..." Anaya mengigit bibirnya.
Naira mendesah. Wajahnya muram.
"Apakah artinya aku bakalan ngga punya ayah lagi?"
Anaya terpana. Sorot mata Naira menghisap jiwanya. Ia terlupa, anaknya sudah menjelang usia tujuh tahun dan sebulanan lagi akan masuk Sekolah Dasar. Sudah mulai paham dia dengan situasi dan kondisi di sekitarnya. Lalu, bagaimana ia harus menjawabnya?
Tangan Anaya terulur meraih tubuh mungil Naira ke dalam dekapannya. Dikecupnya dahi Naira dan dibelainya rambut hitamnya.
"Bagaimana liburan sama opa? Menyenangkan?" Anaya berupaya mengalihkan pembicaraan dengan anaknya.
Meski awalnya sulit, beruntung Naira akhirnya teralihkan. Dari bibirnya meluncur banyak kata menceritakan pengalaman liburan bersama kakeknya. Anaya senang Naira tidak menanyakan lagi tentang Izzar.
Seusai makan malam, Sandra berpamitan. Tidak seperti kemarin-kemarin, kali ini dia menolak permintaan Anaya untuk kembali menginap. Anaya pun tidak memaksa. Kondisi tubuhnya sudah mulai membaik meski masih sedikit pusing.
"Kenapa? Kamu ada kencan?" tanya Anaya sebelum menggigit sepotong dimsum.
"Ngga, hanya mau minum kopi bareng aja." Sandra melingkarkan sling bagnya di bahu.
"Siapa sih?" Anaya penasaran.
"Teman."
"Siapa? Gebetan baru?" Anaya menggoda.
"Ngga pentinglah! Aku cuma lagi pengen ngopi sama smoking aja." Sandra beranjak ke pintu. "Jangan lupa minum susunya!"
Sandra menutup pintu apartemen dan berjalan cepat menuju lift. Sejak siang ia sudah berjanji akan bertemu dengan seseorang. Anaya tak boleh tahu bahwa yang akan dijumpainya adalah Izzar.
Sandra enggan membayangkan apa reaksi Anaya seandainya mengetahui ia menuruti permintaan Izzar yang penuh harap untuk bersua dengannya. Ia penasaran dengan sesuatu yang akan disampaikan lelaki itu.
Izzar sudah setengah jam menunggu Sandra di sebuah kafe. Ia mulai gelisah karena Sandra terlambat datang, sebab ia memiliki janji lain yang juga penting dalam waktu kurang dari dua jam kedepan. Ketika akhirnya Sandra muncul lima menit kemudian, ia pun lega.
"Hai! Sorry!... Aku tertahan di tempat Anaya tadi." Nafas Sandra sedikit terengah.
"Bagaimana kabarnya?"
"Hmmm... Sudah mulai sehat."
"Anaya sakit?" Suara Izzar penuh khawatir.
Sandra tergagap. Ia ingat ancaman Anaya untuk tidak menceritakan kehamilannya.
"Cuma maagnya aja kambuh kemarin." Tangan Sandra melambai memanggil seorang pelayan. Ia memesan secangkir latte.
"Naira?" Izzar menanyakan anak kecil yang dirindukannya.
"Naira baik....Dia nanyain kamu. Aku ngga tahu Anaya jawab apa," jawab Sandra.
Izzar menyesap sedikit kopi hitamnya. Sandra memperhatikannya dalam-dalam. Ia dapat merasakan beban yang dipendam Izzar di matanya.
"Kamu ngga ingin ketemu mereka lagi?" tanya Sandra.
"Pastinya mau. Tapi, kalau Anayanya ngga mau, aku bisa apa?... Kamu kan lebih paham sifatnya." Izzar menjawab.
"Mungkin kalau kamu mau jujur sama dia, hatinya bisa mencair."
Izzar tidak menjawab. Ujung jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja.
"Dia ngga memberi aku kesempatan."
"Kamu sudah apatis duluan, Zar." Sandra menyela.
"Aku cuma besikap realistis. Aku ngga pernah mau memaksa perasaan orang lain supaya suka dan percaya kepadaku." Izzar tersenyum. Pahit.
"Anaya hanya perlu diyakinkan. Aku yakin sebenarnya dia ngga ingin ninggalin kamu. Apalagi sekarang dia..." Sandra menahan ucapannya. Hatinya ragu untuk meneruskan kabar tentang buah cinta Anaya dan Izzar yang baru saja tumbuh.
"Dia apa?" Izzar menatap Sandra. Menunggu kelanjutan kalimat yang terputus.
Sandra meneguk lattenya untuk menunda jawab. Otaknya berpikir cepat, jangan sampai ia terjebak.
__ADS_1
"Anaya kenapa?" Izzar mengejarnya.
"Dia habis sakit. Yang tadi kubilang, maag nya kambuh." Sandra berharap Izzar percaya.
Lelaki itu tampak sedikit lega. Ia melihat jam tangannya. Ia harus segera pergi jika tidak ingin terlambat ke janji temu berikutnya.
"Terima kasih kamu mau menemuiku, San. Aku mau minta tolong ke kamu..." Izzar mengeluarkan amplop coklat tersegel dari sakunya. Disodorkannya ke hadapan Sandra.
Sandra terpaku memandanginya.
"Tolong sampaikan ke Anaya."
"Apa ini?" Sandra memegang ujung amplop tersebut.
Izzar tersenyum. Suara di dalam hatinya menjawab, "harga diriku."
Sandra juga tersenyum. Ia menduga-duga isinya adalah surat cinta. Romantis banget bila memang benar.
"Kenapa ngga kamu sampaikan sendiri ke Anaya?"
"Dia ngga memberiku akses. Nomorku masih diblokir olehnya."
"Biar kubilang ke dia kalau kamu ingin ketemu."
"Ngga usah!" Izzar menjawab tegas.
Sandra menyandarkan tubuhnya ke kursi, bingung harus bagaimana menjembatani kebuntuan di antara Anaya dan Izzar.
"Aku harus pergi, ada janji dengan orang lain. Minumanku aku yang traktir. Kamu mau tambah yang lain?"
Sandra menggeleng.
"Bisnis atau... ehmm..." Meski takut Izzar marah, Sandra menanyakan juga perihal rencana pertemuan Izzar.
"Bisnis." Izzar tersenyum.
"Oke!" Sandra tertawa.
Izzar berdiri.
"Aku juga mau langsung pulang!" Sandra menghabiskan sisa minumannya.
Di depan kafe, sebelum berpisah, Sandra menahan langkah Izzar.
"Zar, bagaimana kalau Anaya ingin kembali? Kamu mau menerimanya?"
Izzar memandang Sandra beberapa saat.
"Aku ngga pernah meminta dia pergi. Aku juga sudah memintanya untuk percaya kepadaku. Tapi dia memilih untuk sendiri... Kalau Anaya ingin kembali, aku cuma berharap hal itu memang pilihannya."
"Tapi, Zar... Perempuan tuh kadang sok gengsi, tapi dia sebenarnya butuh!" Sandra membuat pengakuan.
Izzar tergelak. Dia melihat jamnya lagi. Dia sungguh harus berangkat sekarang.
"Sorry, aku harus pergi sekarang!"
Sandra mengangguk.
"Kalau Anaya memang membutuhkan aku, aku yakin, dia tahu harus kemana menghubungi dan mencariku... Karena aku ngga memblokir nomornya." Izzar tersenyum sebelum berbalik dan melambaikan tangan.
Sandra membalas lambaian tangan Izzar dan lalu berjalan ke parkiran. Dia memilih pulang ke apartemennya dan tidur. Ia merasa lelah. Titipan Izzar akan disampaikan ke Anaya besok.
Di apartemennya, Anaya terjaga sewaktu pagi menjelang siang. Disibakkan selimutnya. Ia memutuskan sudah cukup waktu bermalasan dan menuruti morning sicknya. Dia harus bangun sebab ada beberapa urusan yang harus diselesaikannya. Sekolah Naira yang baru, ke dokter kandungan, dan merencanakan kembali pindah ke rumahnya.
Hal terakhir membuatnya agak ciut. Sebagian hatinya tak siap karena kini rumah itu memiliki banyak sentuhan tangan Izzar.
Naira sudah rapi saat Anaya selesai mandi. Mereka akan ke sekolah baru sebentar lagi. Ia tengah menyisir rambutnya ketika ponselnya berbunyi.
Randi menelefon.
"Hai, yang habis liburan! Mana titipanku?" Anaya menceriakan suaranya.
"Hai! Sudah dengar berita belum?" Randi terdengar sangat serius.
"Berita apa?"
"Ridwan ditangkap polisi! Dia dituduh menggelapkan uang perusahaan ayahnya!"
__ADS_1
Anaya terperangah.
...***...