Karena Tak Ingin Kehilangan

Karena Tak Ingin Kehilangan
46 - Diam Dan Pergi


__ADS_3

Air mata yang menggenangi pipi membuat pandangan Anaya kabur.  Beruntung ia masih berakal waras untuk menepi di parkiran sebuah pertokoan. Dibukanya jendela lebar-lebar, berharap udara luar mejernihkan pikirannya. Adegan yang  membuatnya tercekam, panik dan melarikan diri tadi  masih melekat di benaknya.


Ia mengutuk dirinya sendiri yang telah merasa terjebak, terperdaya, terbodohi. Dipukulinya setir mobilnya berkali-kali. Melampiaskan semua kekesalannya. Ponselnya kembali berbunyi menyuarakan panggilan dari Izzar. Diambilnya ponsel yang tergeletak di kursi sebelahnya. Dipandanginya beberapa saat. Kemudian diblokirnya nomor lelaki itu.


Lalu ia menelefon Sandra, meminta menjemput dirinya. Ia tak sanggup meyetir lagi. Kepalanya pusing dan perutnya mual. Ia ingat perutnya hanya terisi coklat hangat dan roti saat menunggui Naira sekolah pagi tadi.


Seusai memberika lokasinya, Anaya duduk bersandar menunggu. Sandra datang sejam kemudian. Hari sudah gelap. Sahabatnya itu sampai memilih naik ojek menembus kemacetan jalan agar bisa secepat mungkin menemuinya.


“Kamu kenapa, Nay?” Sandra membuka pintu mobil dan memegang dahi Anaya.


Anaya tidak menjawab. Ia menggeser duduknya dan memejamkan matanya. Sandra menghela nafasnya.  Melihat raut wajah Anaya, ia tak mau bertanya lagi. Ia maklum jika Anaya sedang di puncak emosinya, lebih baik didiamkan saja. Jika ia sudah bisa berdamai dengan dirinya, nanti ia akan bercerita sendiri.


Sandra pun duduk di belakang kemudi dan menyalakan mesin.


“Kita kemana, Nay?”


Anaya diam.


“Ke rumah Izzar?”


Anaya menggeleng.


“Ke rumahmu?”


Anaya kembali menggeleng. Pesanan tempat tidurnya belum datang. Meski bisa saja ia tidur di sofa malam ini, tapi ia telampau lelah. Lagipula, pasti Izzar akan mencarinya kesana nanti.


“Oke! Kita ke tempatku saja.” Sandra yang memutuskan.


 Tak ada bantahan dari Anaya. Mobil pun melaju di keheningan.


Sampai di apartemen Sandra, Anaya langsung duduk memeluk lututnya di sofa.


“Kamu sudah makan?” Sandra membuka kulkas.


“Belum.”


Sandra mengambil dua potong pizza yang tak habis kemarin, menghangatkannya dalam microwave, sementara ia membuatkan teh manis hangat. Kemudian diletakkannya di meja di hadapan Anaya.


Anaya menghabiskan sepotong pizza dan meminum teh hangatnya dalam beberapa teguk. Lalu, ia kembali duduk termenung.


“Naira di mana?” Sandra duduk di sebelah Anaya.


“Di tempat kakeknya.” Anaya menjawab lirih.


Ponsel Sandra yang  ditaruhnya di pantry berdering. Ia beranjak mengambilnya.


“Jangan bilang Izzar aku di sini!” suara Anaya tajam.

__ADS_1


“Bukan dari dia, kok!”  Sandra membalas deringan itu dengan pesan akan menghubungi kembali.


Entah Anaya menyadari atau tidak bahwa ia telah berbohong. Dering panggilan barusan sebenarnya memang dari Izzar.


“Aku mau tidur.”


“Mau di kamarku?”


Apartemen Sandra berkamar dua. Satu yang lebih kecil memang diperuntukkan bagi kerabat atau temannya yang datang menginap. Tapi, biasanya jika Anaya menginap, ia akan tidur sekamar dengannya. Karena seringnya mereka bukannya tidur, tapi malah ngobrol sampai menjelang pagi.


“Aku mau tidur sendiri,” jawab Anaya.


Sandra membukakan dan menyalakan kamar tamu.


“Di lemari itu kayaknya ada beberapa baju kamu yang ditinggal di sini.”


Anaya tidak mendengarkan. Ia langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur, membelakangi pintu. Sandra jadi iba melihatnya. Sungguh ia tak tahan jika melihat sahabatnya sudah diam memendam masalahnya sendiri seperti ini.


“Nay! Aku mau ke bawah dulu ya, ambil cucian di laundry.”


“Ya.”  Suara Anaya pelan.


Sandra mengambil ponsel dan dompetnya lalu keluar. Sesungguhnya ke laundry hanyalah alasannya saja. Tiba di lobby, ia segera menelefon Izzar.


“Hei! Anaya sama kamu?” Suara Izzar terdengar cemas.


“Bisa aku jemput?”


“Jangan dulu. Biar dia tenang dulu.”


 “Kalau gitu, boleh aku bicara sama dia? Dia ngga jawab telefonku. Dan sepertinya handphonenya mati. Atau nomorku yang diblokir.”


Sandra menahan senyumnya.


“Dia baru aja tidur. Ngga usah khawatir. Anaya aman sama aku.”


Izzar terdiam.


“Kalian kenapa? Ada masalah?”


Terdengar ******* nafas Izzar di seberang sana.


“Dia melihat aku sedang bersama mantan tunanganku di kantorku.”


“Memangnya ngapain Sasika ke kantormu?” Sandra jadi ingin tahu.


“Dari mana kamu tahu namanya?... Oh iya, dia pernah jadi klien kalian ya.” Izzar tak jadi heran. Lagipula, Anaya pasti sudah menceritakan semua perilaku Sasika kepada Sandra.

__ADS_1


“Ngapain dia nemuin kamu?” Sandra mengulang pertanyaannya.


 Beberapa saat hening.


“Soal bisnis.”


 “Yakin?” Sandra tak langsung percaya. Ia tahu Anaya gampang cemburu. Tetapi, jika sahabatnya itu sampai diam membisu, ia menduga ada hal lain yang lebih besar yang menyulut kemarahannya.


“Memang ada hal lain. Tapi, aku belum pasti itu penyebabnya. Dan aku hanya bisa bahas dengan Anaya langsung,” jawab Izzar.


Ganti Sandra yang diam. Ia tahu, ada batasan yang tidak bisa ia seberangi. Walau bagaimanapun, Anaya dan Izzar punya privacy rumah tangga yang tak dapat ia campuri tanpa seizin mereka.


“Ya sudah, malam ini biar dia di sini. Kamu tenang aja.”


“Mana bisalah aku tenang kalau dia ngga mau bicara denganku,” ujar Izzar. Ia teringat perkataan Randi jauh hari dulu tentang tingkat tertinggi kemarahan Anaya. Diam dan pergi.


“Besok kubujuk dia supaya nelfon kamu.”


“Bilang dia, besok kujemput pulang!” sela Izzar tegas.


Sandra ternganga dengan kerasnya hati Izzar. Sudah tahukah lelaki ini kalau Anaya bisa berkali lipat lebih keras dari tekadnya itu?


Setelah mengucapkan salam, Sandra mengakhiri panggilannya.


***


Di seberang sana, di rumah Anaya, Izzar  duduk memegang keningnya. Tak ada gunanya sudah menunggu Anaya di sini. Dikuncinya pintu dan beranjak pulang.


Di perjalanan, ia kembali kesal teringat Sasika yang nekat datang ke kantornya tiba-tiba dengan alasan yang dibuat-dibuat. Ia tak tahu dari mana wanita itu tahu soal penghibahan sebagian besar saham perusahaan Pak Arsyad kepada dirinya yang begitu tiba-tiba. Padahal sudah beredar rumor saham tersebut akan dijual.


Ia sendiri tidak pernah menyangkanya. Tapi, juga tidak kuasa menolaknya. Sebab, ada ancaman yang harus dikorbankan jika tidak diterimanya. Dan ia tak mau mengorbankan hal itu.


Izzar menahan pening di kepalanya. Betapa merepotkan sebenarnya berurusan dengan Pak Arsyad. Lelaki berkuasa itu pernah sangat mencurigainya. Lalu berubah mempercayainya soal keputusannya merubah wasiat tentang pengelolaan harta Naira sehingga Ridwan kehilangan motivasi merebut Naira.


Pak Arsyad juga memaksanya mempertahankan pernikahannya dengan Anaya dengan janji memberikan proyek besar pembangunan properti, yang kemudian membuat kesal pesaingnya karena dianggap hasil nepotisme.


Dan kini, di saat orang-orang menunggu penawaran penjualan saham perusahaannya, tiba-tiba Pak Arsyad malah memberikannya kepadanya sehingga menimbulkan amarah anak-anaknya. Terutama Ridwan.


Izzar menganalisa, Ridwan telah menyampaikannya ke Anaya sebelum ia sendiri sempat memberi tahunya. Makanya Anaya mendadak ke kantornya. Dan, sialnya sedang ada Sasika yang mengaku diutus tantenya yang semula mengincar penjualan saham itu, untuk mengucapkan selamat atas kepemilikan sebagian besar perusahan mantan mertua Anaya.


Mereka semua tidak tahu, ada perjanjian besar di semua itu. Yang ingin sekali ia ceritakan pada Anaya. Namun, dilarang keras Pak Arsyad karena ingin tetap merahasiakannya sampai waktu yang tepat tiba.


Waktu yang tepat itu tak pernah ada. Sebab ternyata rahasianya sudah bocor kemana-mana. Dan dampaknya, hubungannya dengan Anaya menjadi kacau begini. Izzar tahu, Anaya benci rahasia. Apalagi jika ia yang menyimpannya.


Tiba di rumah, Izzar mencoba mengubungi Anaya lagi. Namun semua panggilannya tetap tertolak.


Ia jadi tak sabar menunggu pagi.

__ADS_1


***


__ADS_2