
Sewaktu pertama kali mengenal Anaya, Izzar memang sama sekali tidak tertarik dengan Anaya yang angkuh. Namun, seiring waktu, Izzar ternyata menikmati kehidupannya bersama Anaya dan Naira. Ia menyukai hubungannya dengan Anaya yang sampai kemarin baik dan menyenangkan. Biarpun keras kepala, mandiri, dan tegar, Anaya sesungguhnya lemah dan membutuhkan kehadiran lelaki yang dapat menuntunnya.
Izzar tak ingin memungkiri bila ia memang mulai menyukai Anaya. Namun, jika ia mengiyakan pertanyaan Pak Arsyad, ada rasa khawatir ia akan dituduh memanfaatkan mantan menantunya itu. Nalurinya memendarkan sinyal untuk berhati-hati. Ia tak bisa mengukur seberapa kuat dan besarnya kekuatan dan kekuasaan Pak Arsyad, sampai rahasia Anaya dan dirinya yang sudah begitu rapat disimpan saja dapat diketahuinya.
“Kamu tidak bisa menjawab semua pertanyaanku?” Pak Arsyad tambah tajam menatap Izzar.
“Saya tidak bisa menjawab sekarang, karena tergantung rencana dan keputusan Anaya,” jawab Izzar.
Pak Arsyad menghela nafasnya.
“Kalau begitu, biar aku saja yang membuat keputusan untuk Anaya. Aku tahu dia sungkan denganku. Tapi, aku sangat menyayanginya. Dia seperti anak yang kuinginkan tapi tidak kumiliki. Dan, karena dia juga ibu dari cucuku, aku bertanggung jawab melindunginya.
“Jujur, aku juga menyukaimu. Aku bersyukur Anaya memilihmu untuk menjalankan misi rahasia yang menurutku…
ngaco itu!” Pak Arsyad tertawa sendiri.
Izzar mengaitkan jari-jari tangannya dan menekannya, menguatkan kembali rasa percaya dirinya yang sempat terlucuti.
“Tapi, sebelumnya, jawab pertanyaanku. Kamu peduli pada Anaya dan Naira?” tanya Pak Arsyad.
“Iya. Saya peduli dengan mereka berdua.”
“Bagaimana dengan keluargamu?”
“Mama saya menyukai Anaya dan juga Naira.” Izzar menjawab apa adanya.
Pak Arsyad mengangguk, meresapi kata-kata Izzar.
“Baiklah. Aku sebenarnya sudah membuat keputusan. Yang pertama, aku telah mengubah wasiatku untuk Naira. Dia akan menerima warisanku saat nanti dia berusia 21 tahun. Selama menunggu saatnya tiba, aku sudah menunjuk kantor pengacara dan jasa investasi independen untuk mengelola hartanyanya. Jadi, Ridwan dan Anaya tidak akan saling berebut hak asuh lagi.”
Izzar tersenyum lega. Ia tak sabar mengabarkan berita ini kepada Anaya. Anaya pasti akan bahagia bisa terlepas dari tuntutan Ridwan.
“Tapi, dengan satu syarat, Anaya dan Ridwan tidak boleh tahu hal ini!... Biarkan Ridwan berpikir bahwa ia harus tetap berusaha mengambil alih hak asuh Naira. Dengan demikian, ia bakal tetap memberikan perhatian lebih kepada Naira. Walau bagaimanapun, Naira harus merasakan kehadiran ayah kandungnya,” tutur Pak Arsyad.
“Yang kedua, kamu harus terus melanjutkan pernikahanmu dengan Anaya!”
Senyum Izzar seketika lenyap. Nada suara Pak Arsyad berkesan memaksa tak bisa dibantah.
“Kenapa?... Kenapa saya harus…” Izzar menarik nafasnya.
“Karena aku mempercayaimu,” jawab Pak Arsyad tenang.
“Bagaimana jika Anaya tidak mau?” Izzar sedikit ragu.
__ADS_1
“Aku yakin, pada akhirnya dia akan mau. Anaya membutuhkan lelaki sepertimu… Masalahnya, kamu mau atau tidak?... Tapi, kamu harus mau, Izzar…” Pak Arsyad tersenyum mengandung misteri.
Izzar jadi curiga. “Kalau saya tidak mau?”
Pak Arsyad tertawa. Tawa yang kaku.
“Jangan mengujiku, Izzar… Kamu belum juga menyadari sebesar apa kekuatan dan kekuasaanku?... Menurutmu, apakah orang biasa akan bisa mengetahui dan membaca isi kontrak pernikahan yang kalian sembunyikan?... Dengan pengaruhku, aku bisa saja membuat perusahaanmu bermasalah lagi dengan kasus yang lebih parah dari
sebelumnya. Kujamin kamu tidak akan selamat seperti kemarin.”
Izzar tercekat mendengar kalimat dingin Pak Arsyad. Ada nada kejam di sana.
“Aku yakin kamu bisa menaklukkan Anaya. Kamu tidak usah khawatir. Aku belum memberikan hadiah pernikahan untuk kalian kan?... Kamu sudah tahu rencanaku membangun kawasan superblok?” Pak Arsyad memancing Izzar.
“Iya.” Izzar memang pernah mendengar hal tersebut di pergaulan kalangan pengusaha properti. Sungguh mega proyek yang fantastis dan menggiurkan. Banyak teman-temannya yang berusaha mencari cara untuk terlibat di dalamnya.
“Aku akan memberikan proyek itu kepadamu. Sebagai hadiah pernikahan sungguhan kalian nanti.”
Tawaran itu membuat Izzar terpukau. Mendapatkan proyek itu sudah tentu akan menaikkan prestigenya. Ia akan
bisa kembali mengangkat wajahnya tegak, terutama kepada orang-orang yang telah menghancurkan bisnisnya dan meremehkannya sebelumnya.
Akan tetapi, jika ia melanjutkan pernikahannya dengan Anaya demi memperoleh proyek tersebut, ia merasa tidak sreg. Apa bedanya ia dengan Anaya nanti, jika menikah dengan tujuan tertentu, bukan karena memang saling mencintai dan ingin menjalani hidup bersama.
“Iya,” jawab Izzar pendek.
“Perempuan itu, mantan tunanganmu?”
Pertanyaan susulan Pak Arsyad membuat Izzar tak berkutik. Ia tak berani membantah, sebab mungkin saja Pak Arsyad memang sudah tahu semuanya.
“Iya,” tegas Izzar.
“Kamu masih mencintainya?”
Izzar menggeleng. Ia mulai lelah dicecar soal isi hatinya oleh lelaki tua beraura keras di hadapannya.
“Mengapa kalian dulu berpisah?”
“Lebih karena keadaan.” Izzar enggan menjelaskan detail kisah masa lalunya. Ia waspada jangan sampai Pak Arsyad menjebaknya menceritakan hal yang tidak baik tentang Sasika.
“Pastikan kamu tidak kesulitan menghadapinya. Jika mantanmu itu mencoba merintangimu, atau dia mengusik Anaya, aku tak segan membantu membereskannya,” ujar Pak Arsyad datar, dan raut muka tanpa ekspresi.
Meski tak sepenuhnya paham yang dimaksud Pak Arsyad, Izzar bergidik mendengarnya. Ia tak meragukan
__ADS_1
kekuasaan Pak Arsyad, ia hanya tak bisa mengira akan sampai sejauh mana ‘bantuan membereskan’ yang dimaksudnya.
Pertemuan itu berakhir dengan kegamangan di hati Izzar. Pak Arsyad memberikan ultimatum untuk merahasiakan pembicaraan mereka kepada siapapun, terutama Anaya.
Dari Randi, Izzar mendapatkan gambaran sepak terjang Pak Arsyad jika ia tidak memperoleh apa yang dimauinya. Apa yang didengarnya cukup mengerikan. Ia jadi mengkhawatirkan Sasika. Meskipun hubungannya dengan gadis itu sudah lama selesai, ia tetap tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Sampai kemarin, Izzar percaya Anaya memiliki ketertarikan yang sama dengannya. Sehingga tak perlu memaksa Anaya melanjutkan pernikahan pura-puranya, hanya demi mendapatkan proyek prestisius Pak Arsyad. Kemarahan Anaya dianggapnya sebagai percikan api cemburu yang akan bisa dengan mudah diluluhkannya.
Namun, kenekatan Sasika yang tak kapok ingin menjumpainya malah memperpanjang kekesalan Anaya. Perdebatan di mobil jadi memberinya keraguan. Anaya benar, ia memang dibayar untuk hadir di hidup Anaya. Ucapan tersebut secara tegas telah menyiratkan perasaan Anaya yang sebenarnya kepadanya.
Walau tak ingin kalah, Izzar sejenak merasa menjadi lelaki lemah dan tak berharga. Ia membenci dirinya sendiri saat ini, dan juga Sasika.
Kepala dan matanya semakin memberat. Ia sangat letih memikirkan semuanya. Ia tak peduli lagi dengan lengkingan Naira dan suara kesal mamanya bersahutan di luar kamarnya. Anaya pasti tidak berhasil menenangkan Naira.
Beberapa waktu berlalu, Izzar setengah terjaga oleh desakan di dadanya, dan juga tangisan kecil tertahan. Sebelum membuka matanya, ia tahu Nairalah yang berada di sampingnya.
“Kenapa?” Izzar mengusap lembut kepala Naira.
“Mama jahat! Aku kan kesal karena ngga diajak pergi. Eh, mama malah marah-marahin aku.” jawab Naira.
“Iya, mamamu memang jahat!” sahut Izzar. Ia senang mendapatkan kesempatan mencurahkan rasa kesalnya
juga yang tertahan atas sikap Anaya sepanjang hari ini.
“Ayah juga dijahatin sama mama?”
“Iya.”
“Kalau gitu, kita ngga usah temani mama lagi, ya!” ajak Naira.
“Oke.” Izzar senang mendapatkan sekutu.
“Aku mau tidur disini saja.”
“Ya sudah. Tidurlah! Jangan lupa baca doa!”
Naira mengucapkan doa sebelum tidur. Lalu merapatkan tubuh kecilnya di dada Izzar.
Setelah Naira tertidur pulas, Izzar menggendongnya dan membawanya ke kamar Anaya. Sofabed tempat tidurnya terlalu kecil dan tidak nyaman.
Anaya memperhatikan Izzar meletakkan Naira di kasur dan menyelimutinya. Ingin ia mengatakan sesuatu, tapi lidahnya kelu. Ia berharap Izzar memberikan ucapan selamat tidur seperti yang biasa dia ucapkan sebelum menutup pintu kamar. Tapi, Izzar diam saja.
Keduanya sama-sama terasing.
__ADS_1
***