
Malam itu berhasil dilalui Anaya dan Izzar dengan baik-baik saja. Meskipun lokasi kencan mereka tidak sesuai dengan yang direncanakan. Pembicaraan random mereka tetap menyenangkan.
Anaya tak lagi mengulik tentang Sasika. Ia belajar menerima dan mempercayai Izzar, serta tidak mempedulikan perempuan itu.
Meski begitu, Anaya tetap dihadapkan pada situasi yang membuatnya tak nyaman. Keesokan harinya, Bu Erlina menelefonnya dan mempertanyakan mengapa bukan dirinya yang bertanggung jawab menangani acara kantornya.
"Kenapa kamu serahkan pada Sandra, Nay? Kan, acaraku biasanya kamu yang handle langsung?" tanya Bu Erlina.
"Saya sibuk, Bu," jawab Anaya.
"Sibuk apa?" Bu Erlina terdengar tidak percaya.
Anaya berpikir cepat.
"Atau, karena Sasika yang jadi PIC dari kantor kami?" tebak Bu Erlina.
"Saya mau cuti." Jawaban itu spontan meluncur dari mulutnya.
"Cuti apa?
"Mau pindahan rumah," jawab Anaya.
Bu Erlina terdiam. Dalam hati Anaya meyakini dirinya, bahwa ia tidak berbohong. Memang benar ia akan pindah ke rumahnya dalam waktu dekat.
"Oke, Anaya! Kalaua begitu, ngga masalah kalau Sandra yang tanggung jawab. Aku takut kamu ngga mau urus karena Sasika dulu pernah tunangan dengan suamimu."
Anaya menggigit bibir. Tak suka Bu Erlina mengungkit hal itu.
"Salam ya untuk Izzar. Oh ya, dia beruntung sekali loh dapat mega proyek dari Pak Arsyad."
Terkejut Anaya mendengar nama mantan mertuanya disebut. Namun, ia tak mau menunjukkan keheranannya pada Bu Erlina.
Selesai menutup aplikasi panggilannya, Anaya meletakkan ponsel di atas meja dan memandanginya. Hatinya dilingkupi banyak tanda tanya tentang megaproyek dari Pak Arsyad yang disampaikan Bu Erlina. Mengapa Izzar tidak menceritakannya?
Ingin Anaya bertanya saat ini juga pada Izzar, tapi nalurinya menahannya. Ada curiga yang berpendar di hatinya. Mendadak ia merasakan ada sesuatu yang tak beres. Setelah berpikir dan menimbang-nimbang sejenak, ia memutuskan menemui saja Pak Arsyad untuk mendapatkan informasi pertama. Ia bisa menggunakan alasan menjenguk, karena sejak diberi tahu tentang sakitnya, Anaya belum juga menemuinya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Anaya bergegas pergi ke rumah sakit tempat Pak Arsyad dirawat. Ia mendapatkan alamatnya dari asisten mantan mertuanya itu.
Pak Arsyad terbaring di bed kamar VIP rumah sakit. Anaya tidak tahu bagaimana kondisi awalnya, tapi dilihatnya lelaki tua itu tampak sehat biarpun sedikit pucat.
Mata senjanya berbinar melihat kedatangan Anaya. Tak ada keluarga yang menemaninya saat itu, hanya asisten dan dua orang stafnya yang sedang bekerja di meja makan dan sofa. Mereka semua langsung mengundurkan diri keluar kamar, memberikan kesempatan dan ruang privasi pada Anaya dan Pak Arsyad.
"Apa kabar, Anaya?" Malah Pak Arsyad yang menyapanya terlebih dahulu.
"Baik." Anaya meletakkan keranjang buah bawaannya di meja. Lalu, menarik kursi di samping bed Pak Arsyad.
"Kenapa baru sekarang kamu menjengukku?" Pak Arsyad tersenyum.
__ADS_1
"Maaf, saya baru sempat." Anaya memperhatikan oksimeter di telunjuk Pak Arsyad.
"Kondisiku sudah membaik. Ternyata aku masih cukup kuat bertahan," jelas Pak Arsyad terkekeh.
Anaya membalas dengan senyum.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Pak Arsyad.
Kepala Anaya terangguk.
"Tapi, kamu kelihatan gelisah." Pak Arsyad seolah dapat membaca isi hati Anaya. "Ada apa?"
"Ngga apa-apa." Anaha malah mengelak.
"Kamu tidak bisa membohongiku, Anaya."
Tatapan mata tua Pak Arsyad menelisik wajah Anaya. Membuatnya tidak berkutik menyembunyikan perasaannya. Lagipula, memang bukanlah melenyapkan keresahannya maka ia datang kesini?
"Hmm... Soal Izzar," jawab Anaya lirih.
"Kenapa dia? Kalian ada masalah?"
"Apa benar dia diberikan proyek besar?" tanya Anaya.
Pak Arsyad terdiam sejenak. Anaya menjalin jemarinya erat.
"Ngga. Saya malah dengar dari orang lain. Saya heran, kenapa dia ngga cerita. Dan, kenapa juga kok tiba-tiba dia dikasih proyek? Bukannya dulu Bapak ngga percaya dengan Izzar?" Anaya mengungkapkan kegelisahannya.
"Itu dulu, Anaya... Aku telah salah menilainya di awal. Kamu benar. Dia lelaki yang bertanggung jawab."
Kenapa dia dikasih proyek? Anaya mengulang lagi pertanyaannya. Sebab Pak Arsyad belum menuntaskan keingintahuannya.
"Aku membuat sayembara untuk rencana pembangunan properti. Dia ikut kontes seperti yang lainnya. Aku memilihnya karena proposalnya memang yang terbaik."
"Bukan karena kebetulan dia suami saya?" Anaya masih belum percaya.
"Memangnya kenapa juga kalau dia suamimu? Apa yang salah dari hal itu?"
"Bias, Pak. Aneh rasanya, mengingat latar belakang hubungan Bapak dengan saya. Saya ngga mau Izzar diberi pekerjaan karena dia suami saya dan ayah tiri Naira. Ngga obyektif berarti."
"Kamu ngga usah berpikir begitu, Nay... Aku ngga mungkin sembarang memberikan sesuatu atau kepercayaan kepada orang lain."
Anaya mengenal baik Pak Arsyad. Lelaki tua ini memang tak mudah mempercayai siapapun.
"Kenapa tidak kamu dukung saja dia? Lelaki kalau mendapatkan dukungan penuh isterinya, pasti semangat bekerja. Kalau dia sukses, kamu kan bisa fokus mengurus Naira dan bakal adiknya kelak."
Perkataan Pak Arsyad membuat Anaya tersipu.
__ADS_1
"Saya hanya heran kenapa Izzar ngga memberi tahu saya soal proyeknya ini."
"Apakah dia selalu menceritakan semua pekerjaannya?" Pak Arsyad memandanginya.
Anaya mengangguk. Sejak mereka berhubungan baik, meski tidak tahu sampai detail, Izzar kerap menceritakan apa yang sedang dikerjakannya.
"Aku baru memberitahunya kemarin, dan kami belum tanda tangan perikatan kontrak kerja. Mungkin Izzar belum merasa pasti makanya menunda kasih tahu kamu."
Anaya merenung. Masuk akal juga jika alasannya memang begitu.
"Siapa yang bercerita pekerjaan ini kepadamu?" Pak Arsyad ganti penasaran.
"Bu Erlina." Anaya menjawab pelan.
Pak Arsyad terdiam seperti memikirkan sesuatu.
Kemudian, setelah terjeda beberapa saat. Pak Arsyad mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan Naira. Topik percakapan pun berpindah pada hal lain.
Sebelum berpamitan, Pak Arsyad sekali lagi meyakinkan Anaya bahwa tak masalah Izzar belum memberi tahunya.
"Mungkin dia mau kasih kejutan untuk kamu."
Anaya tersenyum. Ia lalu beranjak keluar kamar.
Sepeninggal Anaya, Pak Arsyad merenung. Ia menyadari, Anaya terlalu peka dan mandiri. Harus hati-hati meyakinkannya bahwa yang ia lakukan adalah karena rasa sayang kepadanya dan Naira.
Kala kembali ke rumah, Anaya menunggu Izzar mengatakan tentang proyeknya. Tetapi, lelaki itu tidak menyinggung sedikit pun. Ia malah bersemangat bercerita tentang hal lain.
Selanjutnya, sehabis malan malam, Izzar malah sibuk menemani Naira belajar dan bermain. Seolah tak ada arti baginya kabar berita mengenai proyek prestisius dari mantan mertua Anaya itu.
Anaya akhirnya menyerah. Ia memutuskan untuk menunggu saja Izzar menuturkannya nanti. Mungkin saat ia telah merasa pasti sebagaimana yang diyakini Pak Arsyad.
Setelah mengenyampingkan rahasia Izzar dari benaknya, Anaya baru menyadari besok sudah weekend, namun Ridwan belum juga menghubunginya soal Naira.
Ia heran sendiri sebab sebelumnya Ridwan bersemangat berbagi waktu dengan Naira.
Rasa penasaran lalu mendorong Anaya mengiriminya pesan.
"Weekend ini, kapan mau jemput Naira kapan?"
Butuh setengah jam bagi Anaya menunggu jawaban Ridwan.
"Aku sibuk. Ngga bisa jemput Naira."
Jawaban Ridwan sungguh membuat Anaya bingung. Tumben Ridwan tampak tidak peduli dan beralasan sibuk. Mengapa sejak keributannya dengan isterinya yang menyebabkan Naira pulang sendiri, Ridwan seperti mengabaikan Naira?
...***...
__ADS_1