Kartu Sihir

Kartu Sihir
Perang


__ADS_3

Pagi hari sekitar pukul 6 pagi, zen terbangun lebih dulu dari tidurnya dibandingkan dengan yuri.


"Gak bosen liatin wajah ini dipagi hari saat baru bangun" ucap zen, sambil membelai pipi lembut yuri.


Yuri jadi terbangun karena mungkin merasakan sentuhan lembut zen pada pipinya.


"Pagi" ucap zen.


"Pagi juga" jawab yuri.


"Mau ikut olahraga?" tanya zen.


"ehm aku dirumah aja, masakin sarapan" jawab yuri.


"Kalau gitu aku olahraga dulu, dan kamu jika masih ngantuk tidurlah lagi" ucap zen.


"Baik, dan hati-hati" ucap yuri.


"Pasti" jawab zen.


Beranjak dari kasur, zen pergi bersiap dengan pakaian olahraga. Sebelum akhirnya mulai kegiatan jogging pagi hari keliling komplek.


Di taman, saat sedang melakukan jogging pagi hari beberapa putaran. Ada sebuah mobil hitam berhenti didekat taman.


Dari dalam mobil turun darco, zen melihat darco merasa aneh. Kenapa dia datang kemari.


Darco sudah sampai dihadapan zen sekarang ini, dia menatap zen sejenak sebelum mengatakan maksud dan tujuannya datang kemari.


"Zen, bisa kita bicara?" tanya darco.


"Kalau begitu mari duduk" ucap zen, sambil duduk di bangku taman.


Darco juga duduk disamping zen pada bangku taman, sebelum bercerita darco terlihat menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu.


"Jadi kenapa kakak pertama kemari?" tanya zen.


"Geng ada masalah, dan kita harus perang" jawab darco, to the point.


"Kenapa bisa?" tanya zen.


"Kakak kedua apakah kau tahu ada berapa jumlah kekuatan besar dunia bawah di kota ini?" tanya darco.


"Tidak" jawab zen.


"Kekuatan besar dunia bawah dalam kota ini ada 5 awalnya, tapi setelah the lion hilang. Maka tinggal 4 lagi, dan itu termasuk kita" ucap darco.


"Siapa yang paling kuat?" tanya zen.


"Yang pertama adalah bloods, terus fiury kemudian red maple kita dan terakhir adalah skull" jawab darco menjelaskan atas pertanyaan zen.


"Kemudian bagaimana bisa kita berperang?" tanya zen kembali.


"Seminggu lalu, terjadi bentrokan kecil antara kelompok kita dengan kelompok skull. Dari situ pada akhirnya konflik memanas dan berbuah perang" jawab darco.


"Kapan?" tanya zen.


"Besok malam" jawab darco.


"Dimana?" tanya zen.


"Bagian selatan kota, dibagian hutan" ucap darco.


"Apakah kita bisa punya kemungkinan menang?" tanya zen pada darco.

__ADS_1


"30%" jawab darco.


Mendengar hal itu membuat zen mengerutkan keningnya, karena merasa aneh sekali. Darco yang mengetahui zen merasa aneh menjelaskan.


"Mereka memang berada dibawah kita peringkatnya, namun mereka itu cuma kalah jumlah saja dengan kita. Makannya red maple diatas skull" jelas darco.


"Lalu kenapa bisa sekecil itu kemungkinan kita menangnya?" tanya zen makin dibuat penasaran sekali.


"Karena red maple hanya berperang dengan senjata tazam dan tumpul serta beradu tinju, berbeda dengan skull" ucap darco menjawab pertanyaan zen barusan.


"Senjata api?" tebak zen.


Darco mengangguk dan berkata "skull ini mereka tidak hanya bertempur dengan senjata tazam dan tumpul ataupun dengan tinju saja. Melainkan juga menggu akan senjata api".


"Berapa banyak?" tanya zen.


"Ada sepuluh sniper, dan sekitar tiga puluh orang dengan senjata api lainnya" jawab darco.


"Baiklah akan kubantu" jawab zen.


"Aku tahu kau pasti akan bantu, namun apakah kau yakin?" tanya darco.


"Apa maksudmu?" tanya zen.


"Aku tadinya punya rencana lain, dimana jika aku dan anggota yang kupimpin kalah. Maka kau harua terus memimpin anggota baru untuk mempertahankan red maple" jawab darco.


"Huft.....kau memang tidak salah jika berpikir begitu, sebab dalam perang harus punya rencana cadangan. Tapi aku akan ikut berperang sebagai kakak kedua red maple" jawab zen.


"Aku mengerti, kalau begitu besok siang aku tunggu di markas" ucap darco sebelum pergi dari sana.


Melihat darco sudah pergi, zen kembali jogging pagi keliling taman komplek.


07.00 pagi


"Aku pulang" ucap zen begitu membuka pintu.


"Selamat datang kembali, sayang" ucap yuri didepan zen menyambut.


"Dah masak nya?" tanya zen.


"Iya udah, dan sayag....." panggil yuri manja, sambil mendekat pada zen.


"Kenapa?" tanya zen tak paham, akan kelakukan yuri ini.


"Mau makan dulu, mandi dulu atau..... aku dulu?" goda yuri.


!


Zen kaget mendengar perkataan yuri barusan dan menjawab "kamu belajar dari mana kayak gitu?" tanya zen.


"R-a-h-a-s-i-a" ucap yuri.


"......" zen tak berkata apa-apa lagi dan hanya diam saja.


"Jadi mau mana dulu sayang?" goda yuri.


"Mandi" jawab zen.


"Habis itu makan mana dulu?" goda yuri lagi-lagi.


"Jangan bangunin singa tidur sayang" jawab zen.


"Hihihi maaf" ucap yuri dengan sikap gemas dan manja juga suara lucunya.

__ADS_1


Zen segera pergi dari sana, masuk kedalam kamar mandi untuk segera mandi. Setelah selesai mandi langsung saja zen berpakaian.


"Ambil kartu sihir dulu" ucap zen.


Tampilan layar hologram dengan berisikan pilihan muncul dihadapan zen sekarang ini, ada pilihan untuk memilih kartu sihir biasa dan pilihan untuk memilih kartu sihir emas.


"Kali ini ambil yang emas, siapa tahu dapat hal bagus buat besok perang" gumam zen dalam benaknya.


Sesuai perkataannya zen segera memilih, setelah memikirkan dengan matang-matang. Pilihan kartu emas zen tujukan pada kartu emas bagian paling kanan dari jajaran bawah.


Selesai pilih, sisa kartu sihir lainnya hilang. Dengan segera zen buka kartu sihir emas tersebut.


[Mendapat mata ilusi]


"Bagus!" ucap senang zen, diikuti senyuman smirk.


[Pemasang mata ilusi dalam 3.....2......1.....]


[Mulai]


Zen tiba-tiba merasakan matanya menghangat, namun lama-lama menjadi agak panas dan perih juga. Membuat zen ingin sekali berteriak, tapi ditahan.


Karena jika sampai berteriak, yuri akan cemas padanya.


5 menit........


10 menit......


Setelah sepuluh menit berlalu, perasaan perih dan panas pada matanya berakhir. Digantikan dengan perasaan nyaman dan terasa lebih baik lagi saat melihat.


"Ini bagus" ucap zen senang.


Selain itu semua informasi mengenai mata ilusi, sudah masuk kedalam otak zen dan menyatu dengan baik dengan ingatannya.


"Dengan ini bisa membunuh tanpa menyentuh" ucap zen makin senang, ketika mengetahui segala kehebatan mata ilusi yang baru didapatkannya.


"Oh ya, yuri pasti sudah menunggu" ucap zen teringat sudah terlalu lama berada dalam kamar nya.


Sampai ruang makan zen mendapati yuri sudah duduk menunggu di kursi, membuat zen merasa kasihan.


"Maaf lama" ucap zen.


"Yaudah gak papa, sini ayo dah laper nih" ucap yuri.


"Iya" jawab zen.


Mereka makan bersama dengan tenang seperti biasanya, hingga selesai makan yuri cuci piring.


Zen yang tengah duduk memperhatikan yuri tersenyum, dan bergumam dalam pikirannya "beruntungnya aku punya yuri"


Berdiri dari duduknya, zen berjalan kebelakang yuri dan memeluknya dari belakang.


!


Yuri kaget bukan main, lalu berkata "kenapa?".


"Gak papa" jawan zen.


Bersambung........


Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang


:D

__ADS_1


Makasih


__ADS_2