
Zen sekarang ini tengah membuka kartu sihir emas didalam kamar seorang diri, sedangkan untuk yuri dengan sang ibu berada di ruangan keluarga.
"buka pilihan kartu sihir untuku" pinta zen.
Muncul dihadapan zen sekarang ini dua pilihan.
[Kartu sihir biasa]
[Kartu sihir emas]
Zen memilih opsi untuk membuka kartu sihir emas, setelah memilih opsi kartu sihir emas. Zen melakukan pemilihan kartu emas untuk dia buka hari ini.
Selesai memilih 1 dari 10 kartu sihir emas yang ada, sisa kartu emas yang lain menghilang entah kemana seerti biasanya. Zen kemudian membuka kartu sihir emas pilihan dirinya barusan.
[Mendapatkan kemampuan ilusi kejujuran]
"Coba jelaskan apa itu kemampuan ilusi kejujuran" ucap zen.
[Ilusi Kejujuran]
[Merupakan sebuah kemampuan ilusi yang bisa digunakan untuk menghipnotis seseorang berapapun jumlahnya, orang yang terkena ilusi kejujuran ini akan mengatakan segala hal yang ditanyakan padanya]
"Semacam kemampuan untuk mengintrogasi rupanya" ucap zen.
Tiba-tiba, pada saat sedang memeriksa kemampuan ilusi kejujuran ini. Datang yuri masuk kedalam kamar menemui dirinya.
"Sayang" panggil yuri.
"Ada apa hm?" tanya zen.
"Ibu manggil kamu buat ngobrol sama-sama" ucap yuri.
"Kalau begitu, ayo temui ibu" ajak zen.
"Baik" jawab yuri.
Mereka keluar dari dalam kamar sekarang ini, sampai diruangan keluarga.
"Ibu" panggil yuri.
"Nah, sudah datang rupanya" ucap sang ibu.
Setelah zen dengan yuri duduk diatas sofa, mereka mulai mengobrol bersama-sama.
"Nak zen, sebenarnya ibu mau mengatakan sebuah rahasia" ucap sang ibu.
"Rahasia?" tanya zen.
"Iya, sebuah rahasia" jawab ibu.
"Rahasia mengenai apa?" tanya zen kembali.
"Rahasia ini bersangkutan soal yuri" ucap ibu menjawab.
"Memangnya apa rahasia soal yuri?" tanya zen.
Yuri yang mendengar rahasianya akan segera terungkap pada zen, dia merasa sangat takut dan cemas akan kemarahan dari zen. Bahkan yang lebih dia takutkan adalah zen pergi meninggalkannya.
"Sebelumnya suamiku pernah berselingkuh, dan dia berselingkuh dengan sepupu ibu" ucap ibu menjelaskan secara perlahan.
".....jadi?" tanya zen.
"Suamiku memiliki anak dengan selingkuhannya tersebut, dan anak itu seorang laki-laki" ucap ibu kembali melanjutkan ceritanya.
"Lanjutkan" ucap zen.
"Anak laki-laki itu seumuran dengan yuri, dan mereka tumbuh bersama-sama. Sampai pada usia anak laki-laki hasil dari selingkuhan suamiku berumur 16 tahun, ibunya meninggal" ucap ibu kembali berhenti bercerita untuk mengatur nafas.
Sebelum akhirnya kembali melanjutkan cerita soal masa lalu.
"Jadi karena hal itulah, suamiku mengaku bahwa dia berselingkuh dan mempunyai anak laki-laki tersebut. Awalnya kami bertengkar hebat sampai akhirnya berdamai, hingga anak laki-laki tersebut dibawa untuk tinggal disini bersama kami dalam rumah ini saat itu" ucap ibu kembali berhenti untuk mengatur nafas, seolah ceritanya makin berat.
"Kemudian apa hubungannya dengan yuri?" tanya zen.
"Setelah tinggal beberapa bulan dirumah ini, anak laki-laki tersebut berbuat hal yang tidak menyenangkan terhadap yuri. Dan perbuatan itu adalah perbuatan yang diluat batas wajar untuk anak seusia mereka" ucap ibu kembali menghentikan ceritanya karena merasa makin berat untuk bercerita.
Sementara itu, yuri malah masuk kedalam pelukan zen dan memeluk erat tubuh zen. Seolah takut untuk melepas pelukan tersebut.
"Anak laki-laki itu mengajak teman-teman sepergaulannya untuk menculik yuri, dan bahkan bukan hanya itu. Dimana anak laki-laki tersebut bersama teman-temannya hampir saja memperkosa yuri saat itu secara bersama-sama, namun beruntung saat itu ada warga lewat yang menolong yuri hingga dia selamat dari kecelakaan tersebut" jelas sang ibu dengan sedih.
"......" zen masih terdiam ketika selesai mendengarkan cerita tersebut, seolah benar-benar kaget sekali.
"Sayang hiks hiks.....jangan tinggalin aku hiks hiks.....aku mohon" ucap yuri menangis sambil memohon pada zen untuk tidak ditinggalkan oleh dirinya.
Zen kemudian memeluk balik yuri dengan lembut, sebelum akhirnya berkata "sayang coba mukanya liat sini"
__ADS_1
Yuri segera menuruti perkataan dari zen, zen sendiri kemudian menghapus jejak air mata pada wajah milik yuri.
"Aku gak akan ninggalin kamu kok, lagian bagi aku kamu itu wanita yang terbaik. Dan soal cerita ibu sebelumnya, kamu kan masih selamat dari kecelakaan tersebut"
"Dan lagi aku laki-laki pertama yang mengambil mahkota milikmu saat malam setelah pernikahan, jadi menurutku kamu bukanlah wanita kotor atau apapun itu" ucap zen berkata sambil tersenyum diakhir kalimatnya.
"Beneran?" tanya yuri.
"Iya, lagipula soal masa lalu seperti itu lebih dilupakan saja" ucap zen.
"Aku hanya ingin kamu tahu aja" ucap yuri.
"Sekarang aku sudah tahu, nah aku minta sama kamu buat lupain kejadian itu dan jangan pernah diinget-inget lagi kedepannya" ucap zen.
"Iya, aku ngerti" jawab yuri.
"Nah gitu dong, kamu kan gadis pintarku" ucap zen sambil mengelus kepala yuri lembut dan perlahan-lahan.
Sang ibu disana sangat merasa bersyukur atas hal tersebut, sebab zen menerima keadaan yuri dengan apa adanya.
"Setelah kejadian tersebut, apa yang terjadi pada mereka bu?" tanya zen.
"Mereka semua ditangkap polisi dan diadili sesuai hukum undang-undang yang berlaku dinegara kita" ucap sang ibu.
"Berapa lama mereka dikurung?" tanya zen kembali.
"Mereka dikurung 15 tahun penjara" jawab sang ibu.
"Belum keluar berarti sampai sekarang?" tanya zen.
"Begitulah" ucap sang ibu.
Mereka kemudian lanjut mengobrol untuk waktu yang lama, sebelum akhirnya zen dengan yuri masuk kedalam kamar untuk istirahat.
...... .......
Didalam kamar sekarang ini, zen sedang berbaring diatas kasur sambil dipijat oleh yuri dengan penuh perasaan.
"Sayang" panggil yuri.
"Kenapa?" jawab zen.
"Aku mau makan sesuatu, boleh gak?" tanya yuri.
"Kenapa harus tanya dulu, kalau kamu mau makan tinggal makan kan?" tanya yuri.
"Tapi ini permintaan anak kita" sahut yuri sedih dengan mata pupy eyes nya.
Zen menjadi merasa bersalah, kemudian menarik yuri kedalam pelukannya.
"Sstttt, jangan nangis gitu dong. Maafin aku ya" ucap zen.
"Ehm" jawab yuri.
"Yaudah kamu sama anak kita pengen dibeliin apa sama aku?" tanya zen.
"Kue" jawab yuri.
"Oh iya, sebelumnya kita kelupaan buat beli kue kan?" ucap zen.
"Iya, makanya sekarang anak kita nagih" jawab yuri.
"Kalau gitu aku pergi beli dulu kue nya" ucap zen.
"Gak mau beli" jawab yuri.
"Terus gimana, bikin?" tanya zen.
"Iya, dan kamu yang haru bikinin buat aku sama anak kita" ucap yuri.
"Kalau gitu ada bahan bakunya gak di dapur?" tanya zen.
"Kalau gitu coba kita tanya ibu" jawab yuri.
Mereka berduapun akhirnya lagi-lagi tidak jadi untuk beristirahat, dan pergi keluar kamar kembali menuju ruangan depan menemui sang ibu.
"Ibu" panggil zen.
Sang ibu menengok kearah zen yang memanggil dirinya.
"Kok kesini lagi, gak jadi buat istirahatnya?" tanya ibu.
"Tidak bu, kami mau buat kue" jawab yuri.
"Wah, boleh tuh" jawab ibu.
__ADS_1
"Apakah ada bahan-bahannya didapur?" tanya yuri.
"Iya ada kok, karena ibu suka buat kue juga kadang-kadang. Jadi suka simpen stok bahan buat bikin kue" jawab sang ibu.
"Kalau gitu boleh dipake ya bu?" tanya zen.
"Boleh kok, mau dibantuin ibu gak?" tanya sang ibu.
"Jangan" larang yuri.
"Kok gak boleh nak?" tanya ibu.
"Aku mau suamiku yang buat, dan ini permintaan anak kami" jawab yuri menjelaskan.
"Owh begitu ternyata" jawab sang ibu.
"Kalau gitu, kami kedapur dulu bu" ucap zen.
"Iya" jawab ibu.
Mereka berduapun akhirnya masuk keruangan dapur dan kemudian memulai acara membuat kue dengan cukup kerepotan untuk zen yang tengah membuat kue.
.......
Setelah melalui waktu panjang dalam pembuatan kue, akhirnya semua selesai dan terciptalah empat buah kue yang enak.
"Nah, sudah selesai" ucap zen.
"Yeay, sekarang aku mau cobain" ucap yuri.
Zen memotong kue tersebut, dan memberikan satu potongan kue pada yuri dengan menggunakan satu piring kecil.
Begitu yuri memakan kue tersebut, rasa nikmat langsung memenuhi mulutnya.
"Sayang, kamu berbakat juga dalam membuat kue. Ini enak sekali soalany" ucap yuri memuji kue buatan zen tersebut.
"Benarkah, biar aku coba" ucap zen.
Waktu berlalu.
.......
Sekarang malam sudah tiba, ayah dan adik yuri sebelumnya siang tadi sudah pulang kerumah.
Beruntung anita menyukai zen juga, dan untuk sang ayah melakukan hal yang sama dengan sang ibu tadi siang. Yaitu meminta maaf.
Yuri juga sudah memaafkan sang ayah, kemudian ketika sang ayah diberitahu akan menjadi seorang kakek. Dia sangat senang sekali mendengarnya.
Sampai malam hari sekarang, mereka sedang makan malam bersama-sama dimeja makan dengan hidangan yang mewah. Itu semua dilakukan sebagai bentuk perayaan atas kehadirannya cucu baru.
Acara makan malam tersebut berlangsung dengan begitu meriah, dan seolah menjadi berkah dibalik semua derita yang pernah dialami oleh yuri dimasalalu sebelumnya dalam keluarga tersebut.
Dan itu semua yuri bisa dapatkan setelah bertemu dengan zen, suaminya yang begitu baik hati. Bahkan mau menerima kondisi dirinya dalam keadaan apapun dan bagaimanapun adanya.
Hingga membut yuri benar-benar dibuat bertekad untuk melakukan apapun yang dikatakan oleh zen suaminya, dan menuruti semua permintaan yang dikatakan oleh zen suaminya.
Sekaligus jika zen memilih untuk menambah istri lagi, dirinta tidak akan menolak hal tersebut dan akan mendukung keputusan sang suami dengan sepenuh hati.
.......
Didalam kamar.
"Sayang, makasih" ucap yuri.
"Untuk apa?" tanya zen.
"Untuk segala yang sudah kamu lakukan untuk diriku dan keluarga" ucap yuri.
"Gak usah terlalu dipikirkan, lagian kamu sekarang adalah istri aku yang cantik dan baik juga pintar. Ditambah kamu sudah mau mengandung anaku" ucap zen menjawab perkataan yuri sebelumnya.
"Aku juga senang bisa mengandung buah cinta kita berdua, dan aku janji padamu akan selaly menuruti dan menjalankan semu perkataan dan perintah mu suami" ucap yuri.
Zen terpikirkan ingin menggoda yuri.
"Termasuk punya istri lagi?" goda zen.
"Boleh kok, kalau kamu mau" jawab yuri.
SELESAI.......
Sampai jumpa lagi.
Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang
Makasih semua atas dukungannya.
__ADS_1