
Yuri masih saja terus melakukan kegiatan cuci piring, sementara zen menempel dari belakang memeluk tubuhnya.
Selesai denga kegiatan cuci piring yuri berkata "sayang udah ya lepasin".
"Kenapa?" tanya zen.
"Kita harus berangkat" jawab yuri.
"Yaudah iya" ucap zen.
Pelukan dilepas, mereka mulai bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Selesai dengan siap-siap mereka berangkat ke kampus.
Dalam perjalanan, ketika sedang berhenti di lampu merah ada anak songong. Sebuah mobil mclaren p1 berhenti disamping mobil lamborghin zen.
Kebetulan kaca mobil terbuka, jadi bisa melihat keluar tanpa terhalang kaca mobil. Pengemudi mc laren menurunkan kaca mobilnya, dan berkata pada zen yang berada di kursi kemudi mobilnya.
"Hey bagaimana jika balapan?" ucap pemuda sombong tersebut menantang zen.
Yuri menatap zen dan berkata "sayang?".
Zen tersenyum dan berkata "kamu tenang saja aku tak akan kalah".
Lalu zen menatap kearah pemuda sombong tersebut "kalau begitu 1km sampai lampu merah berikutnya" ucap zen.
"Bagus, apa yang kau pertaruhkan?" tanya pria sombong tersebut.
"Mobilku" jawab zen, sementara yuri diam saja dan yakin bahwa zen tidak asal bicara saja.
"Kalau begitu akupun sama" ucap si pria sombong tersebut.
Setelah setuju dengan taruhan dan rute balapannya, mereka berdua tepat dibawah lampu merah bersiap-siap memacu mobil mereka begitu lampu hijau menyala.
Tak lama warna lampu mulai berubah, dari merah ke kuning hingga pada akhinya hijau.
Dan begitu lampu hijau menyala, dua mobil sport tersebut melesat dijalan raya. Mobil dihadapan mereka yang mengganggu mereka lewati secara cepat seolah bukan hambatan berarti.
Dua mobil melaju lurus kedepan dengan kencang dan terkadang melakukan gerakan zig-zag untuk menghindari mobil didepan.
Sampai pada akhirnya begitu jalanan kosong tanpa hambatan dengan jalur lurus, kedua mobil sejajar dan si pria sombong menatap zen dari jendela.
Zen menatapnya juga dan menggunakan mata ilusi, mempengaruhi pikiran si pria sombong hingga dia tiba-tiba kehilangan kesadaran dan mobilnya berbelok arah kesamping kiri menabrak pembatas jalan sampai terpental-pental dan hancur.
Zen dengan mobilnya memenangkan balapan dan terus mepaju pergi, meninggalkan lokasi barusan. Sebelum masalah tiba dan semua jadi lebih rumit.
Yuri didalam mobil jadi cemas dan berkata "sayang ini gak akan masalah buat kita kan?".
"Ini tentu akan jadi masalah, namun semua akan baik-baik saja dengan satu panggilan telpon saja" ucap zen.
"Beneran?" tanya yuri.
"Iya beneran, kamu tenang saja udah" jawab zen.
"Aku khawatir kamu kenapa-napa, apalagi disalahkan atas kejadian barusan" ucap yuri cemas.
"Aku bukan orang berstatus biasa loh, jadi gak perlu terlalu cemas begitu" ucap zen.
"Yaudah deh kalau gitu, aku bisa tenang" ucap yuri.
Zen tersenyum dan mengelus-elus rambut yuri sejenak, sebelum mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
__ADS_1
Begitu nomor sudah dipanggil, akhirnya panggilan telpon zen dijawab.
"Halo, kakak kedua" ucap seseorang di sebrang telpon.
"Kau urus sebuah kecelakaan di jalan melati, sebuah mobil mc laren dan si pengemudi sekalian" perintah zen.
"Baik saya segera urus" jawab orang disebrang telpon.
Kemudian sambungan telpon dimatikan, zen menyimpan kembali ponselnya.
"Udah selesai?" tanya yuri masih khawatir.
"Iya kamu tenang saja" jawab zen.
"ehm syukurlah" ucap yuri mulai lebih tenang perasaan hatinya, perihal kejadian barusan yang terjadi saat balapan.
Setelah berkendara sekitar lima belas menit, mereka sampa di kampus. Segera berpisah di parkiran dan masuk kelas masing-masing.
Di dala kelas, zen duduk pada kursinya. Tak lama datang marcel,violet,lusi,brian dan dewi masuk kedalam kelas lalu duduk pada kursi masing-masing.
"Tumben lebih dulu aku masuk kelas, ketimbang kalian" ucap zen.
"Itu karena kita habis hajar seseorang" ucap marcel masih geram dan kesal, terlihat dari wajahnya.
"Siapa?" tanya zen.
"Itu adalah anak-anak kelas seni" ucap brian menimpali.
"Memang kenapa dan ada apa?" tanya zen.
"Namanya adalah rizal, dia dan geng nya tadi hampir aja lecehin dewi digedung belakang. Untung ada Mahasiswa yang kasih tahu kita, jadi dewi masih selamat dan aman" ucap marcel.
Zen mengalihkan pandangannya pada dewi, yang terlihat masih syok.
Dewi menoleh pada zen dengan pandangan mata berkaca-kaca, dan tiba-tiba memeluk erat zen dan sambil menangis.
Zen memeluk dewi juga dengan lembut, sambil menenangkan dengan cara mengusap-usap punggungnya.
"Pulang aja lebih baik, gimana?" tanya zen.
"Gak, aku hanya butuh sandaran sebentar" ucap dewi.
Semua yang ada dikelas cuma bisa diam memperhatikan saja, sampai akhirnya dewi tenang dan sudah merasa lebih baikan.
"Dah tenang?" tanya zen.
"Ya" jawab dewi.
Dewi melepas pelukannya pada zen, terlihat di wajah dewi ada bekas air mata. Zen menghapus bekas air mata di wajah dewi sampai bersih.
"Kuat untuk belajar?" tany violet sambil mendekat bersama lusi kearah dewi.
"Iya" jawab dewi.
"Yaudah duduk lagi" ucap lusi.
Setelah kejadian tersebut kelas dimulai, sampai waktu belajar hari itu selesai sudah.
"Jadi mau ke kantin?" tanya brian.
__ADS_1
"Aku mau pulang" ucap dewi.
"Kalau gitu aku aterin" ucap lusi.
"Aku temenin" sahut violet.
"Kalau gitu kalian para cewek temenin dewi pulang" ucap zen.
"Ya" jawab mereka.
Sesuai perkatan zen, lusi dengan violet mengantarkan dewi pulang kerumahnya. Menggunakan mobil violet.
"Sekarang kalain ikut aku" ucap zen.
"Kemana?" tanya marcel.
"Cari rizal dengan orang-orangnya" ucap zen.
"Berantem?" tanya brian.
"Iya" ucap zen.
"Yaelah telat kali, orangnya udah pada bonyok kali zen" ucap marcel.
"Mereka beruntug gak ketemu aku" ucap zen geram.
"Jadi sekarang apa?" tanya brian.
"Aku gak tau kalau kalian mau apa sehabis ini, tapi aku ada urusan jadi harus pergi" ucap zen.
"Urusan apa sih?" tanya marcel heran.
"Rahasia" jawab zen.
Zen segera pergi keluar kelas dan ketemu dengan yuri di depan kelas yang hendak masuk kedalam.
"Sayang" ucap yuri.
"Hai, udah yu langsung pulang" ucap zen.
"Kenapa buru-buru?" tanya yuri.
"Ada urusan penting, jadi harus segera pergi" ucap zen.
"Boleh ikut?" tanya yuri.
"Dirumah aja" perintah zen.
"Yaudah iya" jawab yuri.
Akhirnya mereka pulang dari kampus dengan cepat-cepat, karena zen harus bertemu dengan darco dan anggota geng red maple lainnya segera.
Sampai rumah, yuri turun dari dalam mobil. Zen segera pergi kembali dengan mobilnya menuju markas red maple untuk berkumpul disana bersama-sama untuk pergi berperang.
Perjalanan menuju markas red maple dari rumah cukup jauh, sehingga akhirnya butuh waktu lama jika berkendara dengan perlahan. Makanya zen berkendara dengan cepat supaya lebih cepat sampai ke markas red maple juga.
Bersambung........
Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang
__ADS_1
:s
Makasih