
"Kakak senior ini datang kemari dan tiba-tiba membuat masalah, sebenarnya siapa yang sudah membayar kalian semua?" tanya zen dengan ekspresi yang tenang.
"Hey kau, pasti kau zen benar?" tanya salah satu senior tersebut.
"Jika iya, memangnya kakak senior ini mau apa?" tanya zen.
"Tentu saja menghajarmu!" ucap senior sebelumnya yang berbicara pada zen.
Namun gerakan senior tersebut dihentikan oleh temannya, dan bahkan temannya tersebut memperingati senior yang hendak memukul zen ini.
"Kau jangan buat keributan di area begini, bisa-bisa lebih mudah kita dilaporkan pada dekan" ucap teman senior tersebut menasehati.
"Jadi kalian jika memang dinayar seseorang untuk berurusan dengan kami hari ini, maka kita selesaikan sekarang juga di gedung belakang kampus!" tantang brian.
"Kalau begitu tunggu apa lagi?" jawab senior yang paling terlihat emosian tersebut, atas tantangan brian barusan.
Para senior tersebut pergi lebih dulu dati kantin, sedangkan zen dengan teman-temannya masih diam diposisi duduk mereka seperti sebelumnya.
"Dewi, kau tidak perlu khawatir. Juna akan segera kami tolong secepatnya" ucap marcel.
"Kalian hati-hatilah" ucap violet.
"Baiklah ayo berangkat" ucap marcel.
"Aku sebenarnya sudah tak mau berurusan dengan hal begini, karena sudah berjanji juga pada yuri. Tapi mendengar temanku sendiri yang disakiti, walau aku harus berkelahi lagi. Yuri pasti akan mengerti" ucap zen.
Zen dengan marcel serta brian, mereka bertiga pergi ke gedung belakang kampus yang hanya dipakai ketika ada kegiatan esktrakulikuler olahraga saja.
Jadi pada saat tidak ada kegiatan ekstrakulikuler olahraga maka, wilayah sekitar gedung akan kosong tak terpakai. Membuat suasana sekitar sana jadi sepi dan biasanya terbebas dari pengawasan para dosen dan dekan kampus.
.....
Saat ini zen dengan dua temannya yaitu brian dan juga marcel sudah berada didalam bangunan gedung olahraga di belakang kampus, dihadapan zen dengan brian serta marcel terlihat ada lima senior kampus.
"Dimana juna?" tanya brian.
"Disana" jawab salah satu senior menunjuk sebuah ruangan ganti pakaian di dalam gedung olahraga tersebut.
"Sebelum kalian banar-benar dibuat mengenaskan, katakan siapa yang menyuruh kalian melakukan semua ini?" tanya marcel.
"Baiklah-baiklah, kami bisa katakan tapi tidak sekarang!" ucap salah satu senior yang terlihat sebagai pemimpin kelompok tersebut sambil maju kedepan menerjang kearah zen dengan brian serta marcel bersama-sama para pengikutnya.
Melihat hal tersebut, zen dengan dua kawannya tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Dan sesaat kemudian maju menerjang kearah kelima senior tersebut.
Buagk!
Satu pukulan kuat dati zen, berhasil mendarat pada bagian hiung salah satu senior yang berada dihadapannya.
Sedangkan dari pihak marcel dia sudah langsung menumbangkan dua orang dengan mudah begitu saja, sampai tak bangkit lagi. Sebab marcel menyerang alat paling berharga kedua senior yang jadi lawannya tersebut.
Sedangkan dari pihak brian dia malah terlihat seperti main-main dengan dua lawannya tersebut, sebab sedari tadi dia hanya menghindari serangan-serangan kedua lawannya tersebut.
Sampai kedua lawannya kelelahan sendiri barulah brian menyerang bagian ulu hati kedua lawannya hingga pingsan tak sadarkan diri diatas lantai.
"Baiklah kalian tanyakan pada mereka siapa yang sudah membayar mereka untuk melakukan ini semua, sementara aku akan membawa juna" ucap zen sambil melangkah pergi kedalam ruangan ganti yang sebelumnya ditunjuk oleh senior tadi.
Begitu zen masuk keruangan ganti tersebut, terlihat ada sosok juna yang tak sadarkan diri dalam keadaan babak belur pada sekujur tubuhnya.
Zen dengan segera menggendong juna keluar dari dalam ruangan ganti tersebut, dan menemui marcel dengan brian yang terlihat masih mencoba menggali infomari.
"Apakah masih belum dapat informasinya?" tanya zen.
"Belum, mereka keras kepala sekali untuk tutup mulut. Memangnya dibayar berapa sih mereka ini" ucap marcel geram.
"Kalau gitu kau gendong juna dulu" ucap zen sambil menyerahkan juna pada marcel.
Setelah menyerahkan juna pada marcel sekarang giliran zen berbicara pada tiga senior yang masih sadar dan masih bisa diajak berbicara.
"Aku berikan tawaran untuk kalian, katakan siapa yang membayar kalian untuk melakukan ini semua. Maka sebagai gantinya aku akan berikan bayaran 2x lipat dari yang mereka berikan bagaimana?" tanya zen.
"......"
__ADS_1
Ketiga senior yang masih sadar tersebut belum memberikan jawaban, malah saling tatap sebelum akhirnya mengambil keputusan setelah mendengar jawaban dari zen.
"Baik, kalau begitu akan aku beritahu. Tapi ingat ucapanmu barusan zen" ucap senior yang sebelumnya zen pukul dibagian hidungnya.
"Ok" jawab zen.
"Ini semua perintah dari seorang mahasiswa bernama doni, dia berasal dari kelas yang sama dengan juna. Dan menurut rumor yang aku tahu, kemungkinan dia melakukan ini semua adalah karena persaingan" ucap senior tersebut.
"Persaingan apa?" tanya zen lebih lanjut lagi.
"Juna dengan doni ini dikabarkan mereka selalu mengalami persaingan untuk menunjukan siapa yang paling terbaik, namun sebenarnya juna tidak seperti itu orangnya. Juna memang orang yang baik, tapi doni sebaliknya"
"Doni selalu tidak mau kalah dari juna, makanya ketika doni tahu bahwa juna memiliki seorang kekasih yang merupakan wanita cantik. Dan salah satu geng sultan kalian, doni benar-benar dibuat frustasi dan marah besa. Sampai-sampai dia menyuruh kami seperti ini dengan membayar kami sebesar 20jt" ucap senior tersebut menjelaskan.
"Baiklah, aku mengerti sekarang. Dan terimakasih atas informasi lengkap yang kau berikan ini" ucap zen.
"Lalu bisakah kau berikan bayarannya?" tanya senior tersebut.
"Berikan nomor rekeningmu" ucap zen.
Setelah mendapat nomor rekening senior tersebut, zen mengiriminha uang sebesar 40jt sesuai dengan apa yang dia janjikan sebelumnya.
"Kalian semua harus ingat, jangan lakukan hal seperti ini lagi kepada seluruh teman-teman kampus diriku. Jika tidak, akan ada harga yang lebih besar untuk dibayar" ucap zen mengingatkan.
"Baik, kami mengerti" ucap senior tersebut.
Zen segera pergi dari sana dengan diikuti marcel dan brian, juga juna yang digendong oleh marcel. Dalam perjalanan menuju uks, brian bertanya pada zen.
"Zen, bukankah kau tidak perlu sampai membayar mereka begitu?" tanya brian.
"Aku tidak kekurangan uang, selama itu bisa digunakan untuk mencapai sesuatu yang kita butuhkan" jawab zen.
"Jadi kita hanya akan membawa juna ke uks saja, tidak ke rumah sakit?" tanya marcel.
"Iya, dia sepertinya hanya luka lebam-lebam saja" ucap zen.
"Kalau begitu biar aku beritahukan masalah ini pada dewi, agar mereka menemui kita di uks" ucap brian.
Sampai di uks, segera juna ditangani oleh petugas di uks dengan baik. Dan tak berselang lama datanglah dewi dengan violet dan juga lusi kedalam ruangan uks.
Begitu petugas selesai menangani luka pada tubuh juna, dia segera saja pergi meninggalkan zen dengan kawan-kawannya didalam ruangan uksa tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya dewi, sambil menahan sedihnya.
"Semir-senior tersebut dibayar oleh seseorang untuk memukuli juna" ucap marcel.
"Apa?!" ucap violet dengan lusi serta dewi secara bersamaan.
"Siapa yang begitu tega melakukan semua itu?" tanya dewi.
"Namanya doni, dia memang bisa dibilang suka sekali iri terhadap apapun yang dimiliki oleh juna jika lebih unggul dari dirinya" ucap marcel.
"Bisakah kalian jelaskan lebih lanjut lagi?" tanya lusi.
Maka selanjutnya marcel menjelaskan secara menyeluruh atas informasi yang mereka ketahui dari para senior yang memberikannya pada mereka sebelum ini.
Setelah selesai cerita, kemudian mereka para wanita paham apa yang sebenarnya sedang terjadi sebelumnya.
"Baiklah, aku harus pulang duluan" ucap zen.
"Ya, makasih zen" ucap dewi.
"Sama-sama" jawab zen.
"Hati-hati dijalan" ucap marcel.
"Pasti" jawab zen.
Setelah itu zen keluar dari ruangan uks, dan menuju parkiran tempat dia memarkirkan mobilnya tadi pagi bagitu datang ke kampus.
Setelah masuk kedalam mobil, segera saja zen pergi berkendara menuju rumah untuk segera bertemu dengan yuri. Saat sedang berkendara, zen mendapatkan panggilan telpon dari yuri.
__ADS_1
"Ha-" ucapan dari begitu mau menyapa yuri terhenti, sebab sudah dipotonh oleh yuri dari sebrang telpon sana.
"Pulang sekarang!" pinta yuri.
Huuft......
Mendengar nada suaranya saja, zen bisa tahu kalau yuri sedang marah padanya. Namun karena hal apa, sampai-sampai dia marah begini pada dirinya?
"Baik, aku sekarang dalam perjalanan pulang. Kamu mau aku belikan sesuatu?" tanya zen.
"Gak usah, yang penting kamu pulang sekarang" ucap yuri dari sebrang telpon pada zen.
"Baik, sebentar lagi sampai" jawab zen.
Begitu sambungan telpon dimatikan, sekarang ini zen memacu kendaraan sport miliknya di jalan raya dengan kecepatan tinggi. Hingga sampai dirumah dengan waktu lebih cepat lagi.
Selesai parkir, zen keluar dari dalam mobil dan segera masuk kedalam rumah. Yang ternyata yuri sudah menunggu kedatangannya di ruangan depan sambil duduk di sofa empuk, yang menghadap langsung kearah pintu masuk.
"Aku pulang" ucap zen.
"Hm, duduk sini" jawab yuri.
Zen menurut dan duduk pada sofa, tepat disamping yuri.
"Kamu langgar janji" ucap yuri dingin.
"Huft....aku tahu aku salah, tapi itu demi menolong teman" ucap zen mencoba menjelaskan.
"Lalu kenapa gak izin dulu?" tanya yuri.
"Aku takut kamu gak izinin" jawab zen.
"Aku bisa saja kasih izin kamu padahal, jika kamu melakukannya untuk menolong teman" sahut yuri.
".....maaf hanya itu yang bisa aku katakan sekarang ini" ucap zen tulus.
"Huft.....baiklah, aku maafin untuk kali ini saja" jawab yuri.
Zen tersenyum dan menyentuh lengan yuri dengan lembut, sambil berkata "aku janji akan beritahu kamu dulu lain kali"
"Hem" jawab yuri.
Melihat yuri masih menjawab dengan dingin, membuat zen memutar otak untuk mencari ide agar yuri bisa memaafkan dirinya sepenuhnya mengenai masalah ini.
"Oh ya, darimana kamu tahu soal ini?" tanya zen.
"Tadi aku telpon kamu berkali-kali gak dijawab, akhirnya tanya violet dan dari dia aku tahu semuanya" sahut yuri.
"Kamu masih marah?" tanya zen sambil menggenggam lengan yuri lembut.
"Masih kesal" ucap yuri.
"Kalau gitu mau ice cream?" tanya zen.
"Negbujuk?" sindir yuri.
"Hehehe, usaha boleh kali?" ucap zen menjawab.
"Gak mempan" jawab yuri.
Lalu yuri beranjak pergi dari sana meninggalkan zen sendirian yang masih duduk pada sofa empuk diruangan depan.
"Yah, marahan kan" ucap zen.
Bersabung.......
Agak panjang eps kali ini.
Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang
Makasih.
__ADS_1