Kartu Sihir

Kartu Sihir
Leon Bagaskara


__ADS_3

Sampai rumah setelah melakukan olahraga pagi, zen dengan yuri langsung mandi dan berganti pakaian secara bergantian.


Setelah itu mereka kemudian saling bercerita bersama dengan bahagia, sebelum kedatangan tamu.


Ting.....Tong......


Terdengar bunyi dari bell pintu.


"Aku buka pintu dulu" ucap zen.


"Iya" jawab yuri.


Zen beranjak dari posiai dudukya dan kemudian membukakan pintu.


Terlihat didepan pintu ada sosok darco.


"Kakak pertama" ucap zen.


"Zen, bisa kita bicara" ucapnya.


"Kalau begitu tunggu sebentar disini" ucap zen sambil masuk kedalan dan menemui yuri.


"Aku pergi dulu, ada urusan" ucap zen pamit.


"Jaga diri, pulang dalam keadaan selamat" ucap yuri.


"Makasih udah mengerti" ucap zen sambil memberikan kecupan singkat di bibir manis yuri.


Cup.


Setelah itu zen keluar dengan bersama darco.


Mereka pergi menuju sebuah kafe didekat apartemen tempat tinggal zen dengan yuri.


Setelah pesan minum, zen membuka orbrolan.


"Bagaimana kabara kakak pertama dengan yang lainnya?" tanya zen.


"Kami semua baik-baik saja" jawab darco.


"Lalu kakak pertama pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganku bukan, tentu menemuiku tidak hanya untuk mengobrol santai saja bukan?" tanya zen mencoba menebak.


"Benar" jawab darco.


"Ini soal apa?" tanya zen.


"Aku hanya ingin memberitahumu saja" ucap darco.


"Soal apa?" tanya zen.


"Soal pacar simpanan dirimu, liona" ucap darco.


"Kakak memata-mataiku ternyata selama ini" ucap zen.


"Tidak, aku waktu itu kebetulan melihatmu lari pagi dengannya" jawab darco.


"Lalu kakak car tahu siapa wanita yang bersama denganku?" tanya zen.


"Tidak, karena aku memang tahu siapa liona dan siapa keluarganya" ucap darco.


"Owh, bisakah kakak ceritakan" ucap zen makin penasaran.


"Liona adalah anak dari sahabat baikku, nama ayahnya yang merupakan sahabat baikku adalah Leon Bagaskara dan nama ibunya adalah Ayunda" jelas darco.


"Kemudian?" tanya zen.


"Kau tahu sendiri bahwa kami semua adalah mantan pensiunan pasukan khusus, bukan?" ucap darco.


"Heem" jawab zen santai sambil meminum kopi yang telah dipesan.


"Sewaktu di militer dulu, aku bersahabat dengan leon bagaskara yang merupakan ayah dari liona" jelas darco.


"Dan apa yang jadi permasalahannya?" tanya zen.

__ADS_1


"Dari yang aku tahu bahwa liona dikirim oleh leon ke medan perang sebagai pasukan medis diluar negeri, benar?" tanya darco.


"Iya, kenapa?" tanya zen.


"Dia sepertinya dalam bahaya" ucap darco.


Zen tiba-tiba meletakan gelas cangkir yang dia pegang keatas meja, dan merubah suasana hatinya menjadi serius dengan tatapan yang tidak main-main.


"Bukankah hanya perang biasa dengan para *******?" tanya zen.


"Benar, namun ******* tersebut meminta bantuan dari pasukan dunia bawah bernama Seven Gun's" ucap darco.


"Seven Gun's ini siapa dan seberbahaya apa?" tanya zen.


"Mereka merupakan kelompok mafia dunia bawah terkuat dan terbesar di pesisir Mexico" ucap darco.


"Seberbahaya apa?" tanya zen kembali.


"Sangat berbahaya, mereka bahkan tidak segan-segan untuk menggunakan bom nuklir buatan mereka sendiri. Walau harus mengorbankan pasukannya sendiri" ucap darco sambil memutar-mutar gelas cangkir dihadapannya.


"Mereka kelompok dengan bersenjata lengkap?" tanya zen menebak.


"Benar" jawab darco.


"Berapa banyak anggota mereka?" tanya zen.


"5000 orang" jawan darco.


"Berapa yang dikirim kepeperangan sebagai bala bantuan?" tanya zen.


"2000 orang" jawan darco.


"Darimana dapat informasi ini?" tanya zen.


"Salah satu tentara yang dikirim kesana adalah temanku, dan dia tahu soal Seven Gun's ini" ucap darco.


"Bala bantuan sudah tiba?" tanya zen.


"Seven Gun's sudah tiba dilokasi dari awal, sebelum indonesia mengirim bala bantuan mereka" ucap darco.


"Pesawat bantuan dari indonesia berhasil sampai kurang dari dua jam lalu, semua sampai dengan selamat. Sedangkan kondisi medan perang sendiri sangat kacau, jumlah pasukan musuh yang tersisa sekarang adalah sebanyak 3000 orang" jelas darco.


"Dimana lokasi perang ini?" tanya zen.


"Kau tidak diberitahu liona?" tanya darco.


"Tidak" jawab zen.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang berbicara dari belakang zen.


"Kalau begitu jika kamu ingin tahu bisa tanyakan padaku" ucap seseorang dengan pakaian militer berpangkat Jendral besar.


"Siapa?" tanya zen.


"Dia Leon Bagaskara, ayah dari Liona Bagaskara" jawab darco.


"Kakak pertama yang mengundangnya kemari?" tanya zen.


"Benar, dia sengaja ingin aku mempertemukanmu dengannya" jawab darco.


"Boleh bergabung?" tanya leon.


"Silahkan" jawab zen.


Setelah leon duduk dikursi, kemudian di berbicara "jadi kau kekasih anaku?"


"Bukan" jawab zen.


"Owh....tapi anaku anggap iya" jawab leon.


"Aku masih bimbang" jawab zen.


"Karena sudah beristri?" tanya leon.

__ADS_1


"Benar" jawab zen.


"Jika begitu sharusnya kau tidak beri kesempatan sedari awal pada liona anaku" ucap leon.


"Aku sudah coba, namun liona tetap berusaha mendekat dengan perhatiannya" ucap zen.


"Kau akan ambil keputusan seperti apa?" tanya leon.


"Masih belum ada" jawab zen.


"Aku tanya dengan serius dan sekali"


"Jika kau jawab akan menerima putriku sebagai istri keduamu, maka aku akan beritahukan keberadaan dia ada dimana beserta kondisi disana"


"Namun jika kau tidak siap menjadikannya istri keduamu, maka lupakan dia dan nyatakan dengan pasti bahwa kau menolaknya" ucap leon bagaskara dengan serius.


Zen terdiam sejenak mencoba berpikir apa yang harus dirinya ambil dalam keputusan kali ini.


"Kita selesaikan semua ini disini, aku tidak mau nantinya putriku dianggap sebagai perusak rumh tangga orang lain" ucap leon.


Zen masihlah terdiam tengah menimbang-nimbang keputusan apa gang harus dirinya ambil disaat-saat sekarang ini.


"Terimalah lion jadi istrimu juga, aku tidak mengapa asalkan kamu bisa bersikap adil pada kami" ucap yuri yang secara tiba-tiba duduk di kursi kosong lainnya pada meja mereka.


Zen terkaget-kaget dengan kedatangan yuri sekarang disini.


"Aku yang membawanya kemari agar masalah ini bisa kita selesaikan dan luruskan sekarang juga disini" ucap leon bagaskara.


"Kamu......" zen tidak bisa berkata-kata lagi berhadapan dengan situasi sekarang ini.


"Terima saja, jangan ragu suami"


"Lagipula aku ikhlas dan rela, asalkan kamu bisa bersikap adil pada kami nantinya" ucap yuri dengan senyuman dibibirnya.


"Terimakasih, dan maaf harus menduakan dirimu" ucap zen.


"Aku malah senang bisa punya teman obrol yang bisa saling berbagi cerita dan rasa bersama" jawab yuri.


"Tapi aku takut kamu sakit hati" jawab zen.


Yuri menggelengkan kepalanya sebagai jawaban kemudian berkata "aku bilang aku rela dan ikhlas, asalkan kamu bisa berjanji akan bersikap adil pada kami" ucap yuri dengan diakhiri senyuman indah dan manis di bibirnya.


"Makasih" ucap zen.


"Aku akan berjanji bersikap adil pada kalian berdua nantinya, dan anak-anakku nantinya" jawab zen.


"Iya, aku percaya" jawab yuri.


"Aku bersedia menjadikan liona sebagai istri keduaku" jawab zen atas perkataan leon bagaskara sebelum ini.


"Bagus, aku pegang janji mu sebagai laki-laki yang akan siap bersikap adil dan membahagiakan kedua istri-istrimu serta anak-anakmu dari yuri dan liona nanti dengan kasih sayang yang sama yang kau berikan pada mereka juga" ucap leon bagaskara sambil menepuk pundah zen.


"Saya janji" jawab zen.


"Kita akan bicarakan keberadaan liona, tapi tidak disini" ucap leon.


"Sayang kamu akan pulang kerumah dan kakak pertama tolong siagakan pasukan dirumahku untuk menjaga mereka" ucap zen.


"Baik, akan aku laksanakan sendiri perintah ini bersama dengan yang lain. Hati-hatilah saat disana" ucap darco.


"Hati-hati dan bawalah kembali liona dengan selamat sampai kalian kembali kemari dalam kondisi sehat dan selamat" ucap yuri.


"Pasti" jawab zen.


Cup.


Kecupan lembut zen daratkan pada bibir yuri sejenak sebelum mereka berpisah.


Mereka bubar dari kafe dan menuju tempat yang sudah direncanakan.


Bersabung.......


Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang

__ADS_1


Makasih.


__ADS_2