Kartu Sihir

Kartu Sihir
Maria


__ADS_3


Zen dengan yuri sekarang ini masih dalam posisi bersembunyi, bukannya zen tidak bisa untuk langsung membereskan mereka semua, namun lebih memilih untuk menjaga yuri dengan dirinya langsung sendiri.


Sedangkan untuk para pasukan bersenjata ini biarlah pasukan boneka miliknya yang urus, jadi sekarang ini zen terus berada dalam posisi berlindung disebuah kios makanan yang tidak terpakai.


Sampai ketika penglihatan dirinya melihat sebuah peluru yang melesat kerah yuri sekarng ini dari sebuh gedung tinggi disekitaran sana.


Syut.


Zen segera bergerak cepat dan menangkap peluru tersebut yang mengarah langsung pada yuri, dengan menggunakan tangan kosong dan seni beladiri kuno, zen berhasil menangkap peluru tersebut dengan tangan kosong saja.


"Kau pergi urus orang diatas gedung" perintah zen pada salah satu pasukan boneka miliknya.


"Baik"


Satu pasukan boneka bergerak dengan cepat dari sana menuju keatas gedung tinggi yang jaraknya berada dekat dengan lokasi mereka berada sekarang ini.


"Kita harus pergi dari sini" ucap zen pada yuri.


"Bagaimana caranya kita bisa pergi dari sini, sedangkan banyak sekal peluru yang dilepaskan mereka" tanya yuri.


Zen segera menggendong yuri ala tuan putri dan kemudian berdiri untuk bersiap pergi dari sana dengan cepat.


"Kalian bersiap dalam posisi bertahan, kita akan bergerak dari sini menuju lokasi lain" ucap zen pada pasukan bonekanya.


"Baik"


Swush.


Zen yang menggendong yuri ala tuan putri pergi dari sana dengan cepat menggunakan kekuatan seni beladiri kuno miliknya, sehingga dapat bergerak cepat walau membawa beban sekalipun.


Sedangkan para pasukan boneka yang mengikuti zen pergi dari lokasi sebelumnya dalam posisi bersiaga sambil bergerak, bahkan mereka juga melakukan hal yang sama seperti zen sebelumnya, dimana ketika ada sebuah peluru yang menuju kearah mereka segera dihentikan dengan tangan kosong saja.


Mereka terus bergerak dengan cepat sampai pada sebuah bangunan yang jaraknya sudah jauh dari lokasi sebelumnya mereka berlindung.


"Kalian bawa yuri pergi dari sini, dan lindungi dia dengan nyawa kalian" ucap zen sambil menurunkan yuri dari gendongan dirinya.


"Sayang kamu gak boleh pergi" ucap yuri cemas dan khawatir.


"Maaf, tapi aku harus segera pergi" ucap zen sambil mengecup singkat bibir yuri.


"Gak, aku gak izinin kamu pergi" tolak yuri.


"Dengerin aku, kalau aku tidak pergi sekarang. Maka akan ada banyak korban tidak bersalah akibat penyerangan tiba-tiba ini" ucap zen.


Yuri menangis dan kemudian berkata "kamu harus janji kembali dengan selamat kerumah"


"Aku janji, sekarang kamu pulang diantar mereka" ucap zen.


"Pokoknya kamu harus bisa pulang dengan selamat" ucap yuri.


"Aku mengerti" jawab zen.


Segera mereka pasukan boneka yang ada disana pergi membawa yuri dari sana dengan perlindungan penuh sebisa mereka semua menuju rumah.


Zen sendiri yang sudah melihat yuri pergi dari tempat tersebut, segera saja berbalik dan menangkap sebuah peluru yang mengarah pada dirinya dengan menggunakan tangan kosong dengan mudah tanpa bersusah payah.


Peluru yang ditangkap oleh dirinya, kemudian dilemparkan menuju sumbernya berasal. Sehingga peluru tersebut mengenai sang pelaku yang melepaskan tembakan barusan.


Syut.


Jleb.


"Baiklah, akan kuladeni kalian bermain"


Zen segera menghilang dari tempatnya berdiri sekarang dan menuju keatas atap sebuah gedung tinggi untuk membereskan satu orang penembak jitu lagi.


Bragk!


Satu pukulan kuat zen lepaskan pada tubuh sang penembak jitu tersebut hingga dia langsung mengalami luka patah tulang yang parah dan tak sadarkan diri.


Beres dengan yang satu itu zen melihat kebawah dari atas atap gedung tinggi tersebut, dapat zen lihat bahwa semua pasukan boneka miliknya tengah bertarung satu lawan satu dengan orang-orang yang berpakain seperti murid suatu perguruan.


"Jadi sekarang mari kita lihat perguruan mana yang main-main dengan diriku"


Dengan menggunakan scan, zen dapat melihat sebuah informasi yang didapat dari salah satu orang berpakaian murid perguruan tersebut.


Nampak mereka semua berasal dari sebuah perguruan yang sama, dan itu adalah perguruan "perguruan matahari darah"


Zen memasang senyuman psiko miliknya dan menghilang dari atas atap gedung tersebut dan menuju sekelompok orang bersenjata api terlebih dahulu.


Bruak!

__ADS_1


Bugk!


Bragk!


Buagk!


Pukulan demi pukulan zen lepaskan pada tubuh orang-orang bersenjata tersebut, hingga membuat mereka tumbang satu demi satu keatas tanah dengan kondisi patah tulang bagian rusuk,lengan bahkan sampai kaki juga.


Beres dengan satu kelompok bersenjata, zen pindah lagi pada target kelompok bersenjata lainnya yang berada tidak jauh dati lokasinya sekarang berada.


Sedangkan kelompok bersenjata tersebut yang melihat ada satu musuh yang mendekati mereka segera memberikan sebuah tembakan sebagai bentuk serangan dan pertahanan mereka semua.


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


Tembakan demi tembakan dilepaskan oleh orang-orang bersenjata yang ada dalam kelompok yang menjadi target zen berikutnya, namun sayang kecepatan dari zen lebih cepat daripada serangan peluru yang dilepaskan dari senjata api yang mereka tembakan.


Zen menghindari setiap peluru yang ada dihadapan dirinya, dengan menghindar secara zig-zag kekakan dan kekiri begitu lihai nya. Hingga dirinya sampai kehadapan mereka langsung melakukan pukulan beruntun.


Duak!


Duk!


Bugk!


Buagk!


Pukulan demi pukulan kembali zen berikan pada merek semu orang-orang yang mengunakan senjata api pada kelompok tersebut sekarang ini.


Hingga membuat mereka bernasib sama dengan orang-orang bersenjata pada kelompok sebelumnya yang mengalami patah tulang bagian rusuk,lengan dan bahkan kaki mereka juga dipatahkan oleh zen.


Beres dengan pasukan orang-orang bersenjata tersebut, zen hendak bergerak pergi lagi dari sana dengan menuju lokasi lainnya. Tapi malah mendapatkan sebuah serangan dari arah atas.


Merasakan serangan tersebut zen segera menghindar kebelakang.


Swush.


Begitu zen pergi dari lokasi sebelumnya, sekarag pada tempat zen berdiri sebelumnya terjadi sebuah ledakan kuat dari serangan pukulan tinju yang dilakukan seseorang.


Boom!


"Akhirnya, sang pemimpin menampakan dirinya" ucap zen.


Begitu asap yang mengepul menghalangi pandangan menghilang, zen dapat melihat satu orang sosok lelaki dengan badan berotot dan bertelanjang dada.


"Kau punya kemampuan rupanya" ucap pria berotot tersebut.


"Kau siapa?" tanya zen.


"Aku adalah orang yang berjuluk tinju besi, dan aku datang kemari karena ingin membantu maria balas dendam" ucap pria otot tersebut.


"Maria?" ucap zen.


"Iya, wanita yang pernah kau tinggalkan" ucap pria otot tersebut.


"Kau siapanya maria?" tanya zen.


"Aku adalah pamannya" ucap pria baya berotot tersebut.


"Kenapa kau bilang datang kemari untuk balas dendam?" tanya zen.


"Itu karena kau sudah menghancurkan perasaan yang dia miliki padamu" jawab pria otot tersebut.


"Wanita kotor seperti dia pantas untuk tidak diberi kasih sayang dariku, bahkan aku menyesal pernah memiliki perasaan padany" ucap zen.


Mendengar perkataan dari zen, membuat pria berotot tersebut merasakan gejola amarah pada dirinya sekarang.


Swush.


Pria otot tersebut bergerak dengan cepat dari tempatnya berdiri dan menyerang kearah zen, sedangkan zen sendiri melayani permainan pria berotot tersebut.


Buagk!


Duak!


Bugk!


Bagk!

__ADS_1


Duak!


Pukulan demi pukulan mereka lakukan sampai beratus-ratus pukulan telah dilakukan secara bersama-sama oleh mereka sebagai bentuk serangan.


Kemudian mereka mengambil jarak satu sama lainnya.


"Kau anak kurang ajar yang punya kemampuan rupanya" ucap pria otot tersebut.


"Kau orang yang sudah tua lebih baik duduk dirumah menikmati hari tuamu saja, daripada diam diri disini mencari masalah dengan orang yang salah" ucap zen.


"Jangan sombong dulu kau anak kurang ajar, sekarang aku baru mau serius" ucap pria otot tersebut.


Zen hanya tersenyum saja, kemudian memilih untuk menyerang terlebih dahulu tidak seperti sebelumnya.


Swush.


Mereka kembali saling pukul dan tendang sekarang ini dengan jumlah kekuatan yang lebih besar dikeluarkan oleh mereka berdua, bahkan sampai-sampai satu pukulan dari mereka yang beradu membuat efek ledakan gelombang yang kuat sekali.


Buagk!


Boom.


Area sekitaran tempat mereka beradu pukulan barusan menjadi porak poranda akiba efek gelombang ledakan yang kuat tersebut, zen sendiri malah makin bersemangat ketika merasakan jumlah kekutan yang dikeluarkan oleh lawannya sekarang ini.


"Orang tua keluarkan semua kekuatanmu, jika tidak permainan kita akan segera aku akhiri" ucap zen mengejek.


"Anak kurang ajar, rasakan kekutan pukulan ku" ucap pria otot tersebut.


Swush.


Kembali mereka melakukan adu pukulan sambil berpindah-pindah tempat sekarang ini.


Buagk!


Boom.


Duak!


Boom.


Setiap pukulan yang mereka lakukan sambil berpindah-pindah tempat, menyebabkan efek gelombang ledakan yang kuat sekali dan juga mengancurkan area sekitar dengan kerusakan cukup parah.


Pukulan demi pukulan yang mereka lakukan sambil berpindah-pindah tempat tersebut berlangsung lama hingga lebih dari seratus pukulan sebelum akhirnya mereka kembali mengambil jarak satu sama lainnya.


Zen yang melihat kondisi pria otot tersebut sekarang ini terseyum sambil mengejek dengan kata-kata "kau sudah babak belur begitu, masih mau lanjut?"


"Cough...cough....anak kurang ajar-" ucapan pria otot tersebut terhenti karena merasakan rasa menusuk yang dingin pada bagian jantungnya dari bagian belakang.


Jleb.


Satu tusukan zen lakukan pada bagian jantung pria otot tersebut dari bagian depan sekarang ini, setelh itu tusukan nya dilepas dari tubuh pria otot tersebut yang terjatuh keatas tanah dengan batuk-batuk darah.


"Cough....Cough....aku kalah" ucap pria tersebut sebelum tumbang dan kehilangan nyawa dirinya.


Selesai dengan menguru mereka semua, zen melihat kondisi sekitaran sana yang sudah porak poranda hancur akibat dari pertarungan mereka sebelumnya yang zen lakukan untuk bersenang-senang saja.


"Harusnya aku mengakhiri semua ini dengan cepat dalam sekali serangan saja, namun sayang aku terlalu menikmati permainan ini"


Zen juga menyadari semua pasukan boneka miliknya sudah selesai mengurusi semua antek-antek yang dibawa pria otot ini kemari.


Dan benar saja, sekarang keseluruhan pasukan boneka miliknya yang diperintahkan untuk mengurus antek-antek yang dibawa pria otot ini sudah kembali dari menjalankan tugasnya.


"Sudah selesai?" tanya zen pada pasukan boneka miliknya yang baru kembali setelah menjalankan tugas sebelumnya.


"Sudah" jawab pemimpin kelompok pasukan boneka tersebut.


"Tanpa jejak bukti?" tanya zen.


"Iya, bahkan tidak ada saksi mata" jawab pemimpin kelompok pasukan boneka tersebut.


"Kalau begitu bawa jasad pria otot ini, dan kemudian bereskan sisanya" ucap zen.


Salah satu pasukan boneka kemudian membawa jasad pria otot tersebut, kemudian mereka mulai pergi dari sana menuju entah kemana sebab menghilang tanpa jejak secara bersama-sama dengan begitu cepatnya.


.......


Zen sekarang sudah kembali kerumah dengan selamat dan juga dengan cepat tanpa luka sama sekali, begitu masuk kedalam rumah dapat terlihat oleh zen diruangan tamu ada sosok yuri yang sepertinya ketiduran saat menunggi kepulangan dirinya.


"Kalian kembalilah" ucap zen pada pasukan boneka yang sebelumnya diperintahkan untuk mengantarkan yuri pulang dari tempat sebelumnya dan juga menjaga yuri dirumah.


"Baik" jawab mereka semua sebelum akhirnya pergi dari sana sekarang ini.


Bersabung.......

__ADS_1


Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang


Makasih.


__ADS_2