Kartu Sihir

Kartu Sihir
Peperangan


__ADS_3

Zen dengan dua wanitanya pergi kesana dan kemari sewaktu didalam mall, pergi dari satu toko ke toko lainnya untuk mencari apapun yang mereka ingin beli.


Sampai kegiatan belanja baru berakhir setelah satu jam waktu berlalu.


...


"Udah puas belanjanya?" tanya Zen.


"Udah" jawab Liona dengan Yuri.


"Kalau begitu sekarang kita pulang" ucap Zen.


"Jangan pulang dulu, aku mau makan es krim dulu" ucap Yuri.


"Aku juga" jawab Liona.


"Baiklah, ayo kita beli es krim" jawab Zen.


Zen membelikan mereka berdua es krim sesuai keinginan mereka, sedangkan dirinya tidak membeli es krim.


"Ada yang kalian inginkan lagi?" tanya Zen.


"Bagaimana kalua bermain di taman hiburan?" usul Liona.


"Boleh" jawab Zen.


"Aku juga setuju" jawab Yuri.


"Sebelum kesana, kalian habiskanlah es krim itu dulu" ucap Zen.


"Ya" jawab keduanya.


Mereka bertiga duduk pada sebuah kursi yang tersedia didalam mall, namun tiba-tiba terjadi sebuah keributan dilantai satu mall.


Zen dengan dua wanitanya merasa penasaran dengan apa yang tengah terjadi disana.


Ketika dilihat, ada sekelempok orang bersenjata yang seertinya berniat melakukan kejahatan di dalam mall.


"Urus mereka" ucap Zen.


"Baik" jawab para pasukan boneka yang dikeluarkan Zen.


Keributan yang terjadi dilantai satu mall berakhir, dan semua orang-orang bersenjata tersebut telah ditangkap oleh pihak kepolisian dengan mudah.


Zen dengan dua wanitanya yang berada di lantai dua mall hanya diam memperhatikan saja dari tempatnya.


"Pulang saja ok?" usul Zen.


"Iya" jawab keduanya.


Setelah itu mereka bertiga pulang kerumah.


...


Didalam kamar, Zen yang mencoba untuk tidur menjadi terganggu akibat sebuah panggilan telpon.


Terlihat yang menelpon dirinya adalah Leon.


"Halo?" ucap Zen.


"Nak, kau dimana?" tanya Leon.


"Aku baru saja sampai dirumah setelah jalan-jalan dengan Liona dan Yuri, memangnya ada apa?" tanya Zen.


"Bisa kita bertemu?" tanya Leon.


"Tentu, dimana dan kapan?" tanya Zen.


"Markas Darco, sekarang juga" jawab Leon.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan kesana sekarang juga" jawab Zen.


"Kalau begitu aku tunggu, jangan lama-lama" ucap Leon di sebrang telpon.


"Iya" jawab Zen.


Sambungan telpon dimatikan, kemudian Zen pamit kepada dua wanitanya untuk pergi bertemu dengan Leon dan Darco.


Mereka berdua tidak masalah akan hal tersebut, dan mengizinkan Zen untuk pergi.


Zen pergi dari rumah menuju markas Red Maple menggunakan supercar miliknya.


Perjalanan yang ditempuh Zen memakan waktu singkat saja sampai dirinya sampai di markas Red Maple.


"Apakah mereka sudah menunggu?" tanya Zen pada salah satu anggota Red Maple.


"Iya, mereka ada didalam" jawab orang tersebut.


"Baiklah, antarkan aku menuju ruangan tempat mereka berada" ucap Zen.


"Baik, silahkan ikuti saya" jawab orang tersebut.


Zen sudah berada didalam ruangan bersama dengan Darco dan Leon, terlihat raut wajah mereka menunjukan keseriusan.


"Jadi, ada apa ini?" tanya Zen tanpa basa-basi.


"Peperangan akan pecah" jawab Leon.


"Peperangan?"


"Dengan siapa kita akan berperang?" tanya Zen bingung dan sekaligus heran.


"Belum lama ini ilmuan kita menemukan sebuah sumber daya mineral yang kaya akan zat-zat kehidupan yang kuat"


"Berita ini tidak disangka bocor ke luar dan menyebabkan gejolak tinggi dikalangan dunia"


"Huft.....apa langkah yang diambil pemerintah?" tanya Zen.


"Pemerintah berniat menyatukan kekuatan militer dan dunia bawah diseluruh penjuru negeri, agar kita mendapatkan kekuatan yang lebih besar lagi untuk melawan para penjajah yang akan datang ke negeri kita" jelas Leon.


"Apa mereka sudah bergerak?" tanya Zen.


"Benar, walau dalam jumlah pasukan kecil" ucap Leon.


"Kalau begit-" ucapan Darco terhenti kala bunyi telpon yang berdering terdengar.


Ketika dilihat itu adalah ponsel milik Leon yang berbunyi dan mendapatkan panggilan telpon.


"Aku angkat telpon terlebih dahulu" ucap Leon sambil berdiri dari duduknya dan agak menjauh dari Darco dengan Zen.


"Bagaiman respon para dunia bawah mengenai rencana pemerintah?" tanya Zen pada Darco.


"Ada yang menolak dan ada yang setuju, namun bagi yang setuju tetaplah meminta syarat" jawab Darco.


"Syarat seperti apa itu?" tanya Zen kembali pada Darco.


"Uang" jawab Darco.


"Berapa?" tanya Zen.


"Beberapa Milyar" jawab Darco.


"Kalau hanya segitu masihlah sedikit, dan ngomong-ngomong ada berapa yang sudah setuju untuk bergabung dalam rencana pemerintah?" tanya Zen kembali.


"Dari sepuluh genk dunia bawah yang terbesar, hanya ada 6 yang setuju dengan syarat, dan sisanya belum ada respon" jawab Darco.


"Sudah melakukan pertemuan dengan mereka sebelumnya?" tanya Zen.


"Belum, kami hanya melakukan negoisasi dengan mereka melalui surat saja" jawab Darco.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Leon kembali datang dan duduk ditempat dia sebelumnya.


"Apakah ada masalah serius?" tanya Zen.


"Mereka sudah terlihat bergerak di area lautan menuju kemari" ucap Leon.


!


"Berapa banyak?" tanya Darco.


"Banyak sekali, sepertinya mereka menggunakan kekuatan yang tidak sedikit" jawab Leon.


"Jadi, apa perintah dari atasanmu?" tanya Darco.


"Kami harus bergerak memimpin pasukan untuk menghentikan mereka sebelum mencapai daratan" ucap Leon.


"Jadi kau akan pergi sekarang?" tanya Darco.


"Iya, aku harus pergi" jawab Leon sambil beranjak berdiri.


Sementara Zen dengan Darco yang berada didalam ruangan tersebut saling pandang, sampai kemudian Zen berkata.


"Siapkan semua sekutu yang sudah setuju untuk bergabung dalam peperangan kali ini, sementara aku akan mengurus sesuatu terlebih dahulu" ucap Zen sambil berlalu pergi dari sana.


"Biklah" jawab Darco yang ikut pergi meninggalkan ruangan tersebut.


...


Zen tengah berada dirumahnya sekarang, dan tengah bersama dengan dua wanitanya sekarang ini.


"Kalian berdua harus bersembunyi" ucap Zen pada keduanya.


"Tapi kenapa?" tanya Liona.


"Ada sesuatu masalah, dan karena ini adalah masalah serius maka kalian harus sembunyi" ucap Zen.


"Dimana kami harus sembunyi?" tanya Yuri.


"Diruangan bawah tanah yang tepat berada dibawah rumah ini" jawab Zen.


"Kemana jalan masuknya?" tanya Yuri.


Zen kemudian membawa kedua wanitanya menuju jalan masuk untuk keruangan bawah tanah.


Sampai ruangan bawah tanah, mereka berdua nampak terkagum-kagum degan interior da semua fasilitas yang ada disana.


"Ini hebat" seru kedua wanita tersebut dengan begitu antusiasnya.


"Cobalah berkeliling terlebih dahulu" ucap Zen sambil dirinya duduk di sofa.


Sementara kedua wanitanya pergi berkeliling didalam area ruangan bawah tanah tersebut sampai puas baru kembali menemui Zen yang duduk disofa.


"Apakah kalian puas?" tanya Zen pada dua wanitanya.


"Iya, ini benar-benar hebat sekali" jawab Liona.


"Aku minta kalian jangan menghunungi orang luar siapapun itu, kecuali hanya untuk meonton saja itu masihlah boleh" ucap Zen.


"Sebenarnya ada apa sih, sampai kami berdua harus bersembunyi didalam ruangan bawah tanah begini?" tanya Liona.


Zen menarik kedua wanitanya untuk duduk disofa bersama dengannya, kemudian berkata "kalian tidak perlu pikirkan masalah ini, yang kalian harus tahu adalah diam disini baik-baik"


"Baik" jawab keduanya kompak sambil merebahkan kepalanya pada dada bidang Zen.


Bersabung.......


Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang


Makasih.

__ADS_1


__ADS_2