
Saat sedang menonton acara televisi, datang yuri dengan membawa semangkuk camilan makanan ringan. Yuri yang sudah meletakan makanan diatas meja, segera duduk disamping zen.
Zen menarik yuri kedalam pelukan dirinya.
"Ngomong-ngomong aku belum tahu soal keluarga kamu loh?" ucap zen.
"Gak ada yang spesial kok, cuma ayah dan ibu sama satu orang adek" jawab yuri.
"Adek?" tanya zen.
"Iya adek, dia perempuan sama kayak aku" jawab yuri.
"Masih kecil?" tanya zen lagi-lagi.
"Dia berumur 10 tahun deh kayaknya sekarang" ucap yuri.
"Namanya?" tanya zen.
"Anita" jawab yuri.
"Oh ya aku penasaran deh" ucap zen.
"Soal apa lagi?" tanya yuri.
"Alesan ayah kamu yang berlaku kurang baik dulu padamu" ucap zen.
"Itu gak aneh deh kayaknya" jawab yuri.
"Loh kok gak aneh, gimana ceritanya?" tanya zen.
"Karena aku adalah anak perempuan yang paling besar dibandingkan adik aku, jadi hidupku bisa mereka gunain buat apapun yang bisa bikin mereka untung" jawab yuri.
"Segitunya ya dulu mereka?" tanya zen.
"Ehm" jawab yuri sambil mengangguk.
"Yaudah, sekarang semua sudah berubah dan masa lalu biarlah masa lalu" ucap zen.
"Iya" jawab yuri.
Setelah itu mereka menonton acara televisi dengan santai berduaan saja diruangan depan tersebut sambil memakan camilan yang dibawa yuri sebelumnya.
Sedangkan di lain tempat sekarang ini telah terjadi kekacauan.
Terlihat pada sebuah bangunan seperti perguruan yang telah porak-poranda, sebab dihancurkan oleh 31 sosok misterius yang berjubah hitam.
Ada banyak mayat dimana-mana dan juga dihadapan 31 sosok manusia berjubah tersebut ada seorang nenek tua dengan tubuh yang terlihat menyedihkan.
"Kalian siapa sebenarnya?" tanya nenek tersebut terhadap sosok 31 orang berjubah misterius tersebut.
"Kami hanya menerima perintah untuk memusnahkan kalian semua" jawab sang pemimpin kelompok misterius tersebut.
"Sialan, apa salah perguruanku pada kalian hah?!" teriak si nenek itu meraung marah.
"Orang yang mau mati tidak usah banyak bicara" ucap pemimpin kelompok misterius tersebut.
Slash.
Satu kepala terjatuh dari tempatnya keatas tanah, dan setelah 31 sosok misterius tersebut selesai menjalanlan perintah. Segera mereka pergi menghilang dengan cepat dari sana begitu saja bagaikan angin lalu.
Kembali pada zen.
Saat ini malam sudah tiba, zen tengah berbicara dengan pemimpin pasukan bonek yang dia kirim sebelumnya untuk mengurus perguruan penggoda tadi siang.
"Sudah selesai?" tanya zen.
"Sudah tuan" jawab pemimpin dari pasukan bonek tersebut.
"Apakah kalian meninggalkan jejak dan barang bukti?" tanya zen.
"Tidak tuan" jawab pemimpin pasukan boneka tersebut.
"Kalau begitu pergilah, dan kerja bagus" ucap zen.
"Terimakasih tuan" jawab sang pemimpin pasukan boneka tersebut.
Wush.
Pemimpin pasukan boneka tersebut menghilang dari hadapan zen secepat kilat, selesai dengan obrolannya bersama sang pemimpin pasukan boneka tersebut.
Zen pergi masuk kedalam kamar.
"Belum tidur rupanya kamu?" tanya zen pada yuri yang terlihat masih berada diatas tempat tidur.
"Aku belum ngantuk" jawab yuri.
"Kalau begitu, main dulu" ucap zen sambil menyeringai.
"Kamu ini....akh" ucap yuri berteriak senang.
Dan malam panjang berlalu begitu saja dengan panasnya, sampai entah berapa lama mereka berhenti dan tertidur karena kelelahan setelah aktifitas panas dan melelahkan mereka sebelumnya.
.......
Di tempat lain.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi pada perguruan mereka?" tanya marcel pada sosok pria baya.
"Entahlah, mereka ditemukan sudah dalam kondisi yang tidak bernyawa semuanya. Bahkan pemimpin mereka saja terpenggal kepalanya" ucap pria baya tersebut.
"Apakah ada jejak dari pelaku?" tanya marcel.
"Tidak ada sama sekali" sahut pria baya tersebut.
"Apakah mungkin kekuatan tersembunyi memunculkan sosoknya didunia ini ayah?" tanya marcel.
"Entahlah, namun satu hal yang pasti" ucap pria baya tersebut.
"Apa itu?" tanya marcel.
"Kamu harus hati-hati dalam bertindak, juga jangan sampai kau menyinggung orang yang salah" ucap pria baya tersebut.
"Baik, ayah" jawab marcel.
Akhirnya percakapan mereka terus saja berlanjut dengan begitu panjangnya.
Kembali pada zen.
Pagi hari, setelah bangun dari tidurnya. Zen sekarang ini langsung pergi mandi pagi, kemudian selesai mandi langsung berpakaian dengan pakaian yang rapih.
Melihat keatas kasur, disana masih terdapat yuri yang tertidut pulas dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Sayang bangun, kita mau berangkat" ucap zen mencoba membangunkan yuri.
Merasakan terusik dalam tidur nyenyaknya, membuat yuri terbangun dan membuka mata secara perlahan-lahan.
"Sayang, dah rapih aja kamu" ucap yuri.
"Kita hari ini akan pergi kerumahmu, gak inget?" tanya zen.
"Oh ya, aku lupa" jawb yuri.
Akhirnya yuri pergi mandi dan bersiap-siap untuk kegiatan hari ini, dimana mereka berdua akan pergi menuju rumah keluarga yuri.
Sementara yuri pergi mandi, sekarang ini zen sedang duduk diruangan tamu sambil ditemani segelah teh hangat. Dan tumben sekali pagi hari marcel sudah menelpon dirinya.
"Halo, ada apa?" tanya zen saat menjawab panggilan telpon dari marcel.
"Zen, apa kau tahu?" tanya marcel.
"Apa itu?" tanya zen.
"Soal perguruan penggoda" ucap marcel.
"Owh soal itu rupanya, aku sudah tahu kok bahwa perguran mereka dihancurkan dalam semalam dan tidak ada barang bukti dari para penyerang bukan?" tanya zen.
"Entahlah, memangnya kenapa?" tanya zen.
"Aku hanya mencoba mencari tahu saja, tidak ada maksud dan tujuan lain" sahut marcel.
"Sudahlah, yang penting kita masih aman-aman saja. Dan soal kejadian ini bisa kita jadikan cerminan untuk diri kita sendiri, siapa tahu bisa bermanfaat kedepannya" jelas zen.
"Kau benar, kita harus lebih berhati-hati lagi kedepannya" ucap marcel.
"Iya" jawab zen.
"Kau ada acara tidak hari ini?" tanya marcel.
"Memangnya kau mau ajak aku kemana?" tanya zen.
"Kompetisi antar perguruan" sahut marcel.
"Aku gak ikut" ucap zen.
"Sayang sekali" ucap marcel.
"Tapi, apa itu kompetisi antar perguruan?" tanya zen.
"Kau gak tahu, seriusan?" tanya marcel merasa heran.
"Iya, seriusan" jawab zen.
"Kompetisi anta perguruan adalah pertarungan antara para generasi muda di setiap perguruan yang dianggap paling berbakat dan hebat" ucap marcel menjelaskan singkat.
"Owh begitu, baiklah makasih informasinya" ucap zen.
"Sama-sama, yasudah kalau gitu aku tutup dulu telponnya" ucap marcel.
"Iya" jawab zen.
Setelah selesai melakukan percakapan di telpon barusan, sekarang ini zen melihat bahwa yuri sudah siap dengan pakaian rapih yang dikenakan dirinya.
"Sudah siap?" tanya zen.
"Iya, ayo berangkat" jawab yuri.
"Sebelum pergi kesana, kita cari sarapan pagi dulu diluar" ucap zen memberikan saran.
"Boleh, pingin beli kue juga" ucap yuri.
"Boleh, nanti kita beli kue sebanyak yang kamu mau" ucap zen.
__ADS_1
Mereka segera pergi dari rumah dengan menggunakan buggati divo milik zen, dan sesuai perkataan zen sebelumnya. Mereka ergi mencari sarapan pagi terlebih dahulu.
Setelah melakukan pencarian sebentar, akhirnya mereka sampai pada sebuah tempat makan yang memang buka di waktu sarapan pagi hari saja.
"Disini?" tanya zen.
"Boleh" jawab yuri.
Mereka berduapun masuk kedalam tempat makan tersebut, terlihat ramai akan pemgunjung yang datang makan disini. Dan beruntung masih ada meja kosong yang bisa mereka berdua tempati.
Setelah menempati meja kosong tersebut, sekarang ini zen dengan yuri memesan makanan mereka masing-masing.
.......
Selesai dengan kegiatan sarapan pagi sebelumnya, mereka berdua sekarang sudah kembali melakukan perjalanan menuju kerumah keluarga yuri.
Dari tempat makan sebelumnya menuju rumah keluarga yuri tidak terlalu jauh, jadi tidak memakan terlalu banyak waktu untuk sampai disana.
Sampai rumah keluarga yuri, mereka segera masuk kedalam rumah melalui pintu depan. Begitu masuk kedalam rumah, mereka disambut seorang wanita baya.
"Yuri, kamu pulang nak" ucap wanita baya tersebut.
"Ibu" ucap yuri sambil mendekat dan mencium punggung lengan sang ibu, dengan diikuti oleh zen pula.
"Nak ibu minta maaf soal semuanya yang pernah ibu lakuin sama kamu dulu" ucap sang ibu sambil menangis dan bahkan hendak berlutut dikaki yuri.
Tapi segera yuri menghentikan aksi sang ibu, dan berkata "ibu, yuri sudah maafin kalian kok" ucap yuri.
"Beneran nak?" tanya sang ibu.
"Iya, beneran" jawab yuri.
"Makasih sayang, ah yaudah kalau gitu ayo duduk dulu" ucap sang ibu.
Kemudian mereka bertiga duduk bersama disofa, dan mulai mengobrol bersama-sama.
"Jadi ayah dimana ibu?" tanya yuri.
"Ayahmu baru saja berangkat dengan adik mu" ucap sang ibu.
"Kaliam nginep disinikan?" tanya sang ibu.
"Iya, nanti minggu sore baru pulang kerumah" ucap zen.
"Bagus kalau begitu, kita bisa punya waktu agak banyak" ucap sang ibu.
"Kalau gitu kami ke kamar dulu bu" ucap yuri.
"Yaudah, nanti kalian kumpul sini lagi. Ibu masih mau mengobrol banyak dengan kalian berdua" ucap sang ibu.
"Ok bu" jawab zen dengn yuri bersamaan.
Setelah itu akhirnya mereka berdua masuk kedalam kamar milik yuri dirumah tersebut, setelah itu mereka beristirahat diatas kasur dengan berbaring nyaman.
"Sayang" panggil yuri.
"Iya, kenapa?" tanya zen.
"Nanti, apakah kamu ingin nambah istri lagi?" tanya yuri.
"Kok ngomong begitu kamu?" tanya zen menanya balik.
"Karena, kamu itukan gak hanya ganteng tapi kayak juga" ucap yuri.
"Gak mau nambah istri juga aku" ucap zen.
"Yakin?" tanya yuri.
"Iya, udah jangan omongin itu terus" ucap zen.
Setelah berada didalam kamar sejenak akhirnya mereka berdua keluar dari dalam kamar tersebut, dan kembali menemui sang ibu diruangan tamu depan.
"Loh, gak istirahat dulu didalem kamar?" tanya sang ibu.
"Kami ada kabar bahagia buat ibu dan ayah" ucap zen.
"Apa itu nak?" tanya sang ibu.
"Yuri hamil" ucap zen.
Segera suasana hening sesaat, sebelum akhirnya sang ibu menangis haru karena bahagia akan mendapatkan cucu.
"Apakah ini seriud sayang?" tanya sang ibu pada yuri.
"Iya, ini serius" ucap yuri menjawab pertanyaan sang ibu.
"Syukurlah, dengan ini keluarga kita bertambah lagi satu" ucap sang ibu.
"Iya ibu" jawab yuri.
Setelah itu mereka mengobrol dengan bahagia bersama-sama.
Bersabung.......
Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang
__ADS_1
Makasih.