
Pagi hari.
Setelah bangun tidur, zen langsung bergegas mandi. Kemudian berganti pakaian, melihat kearah tempat tidur disana yuri masih belum bangun.
Zen yang sudah selesai berpakaian sehabis selesai mandi, mendekati yuri dengan niat membangunkan dirinya.
"Yuri, bangun" ucap zen lembut, sambil mengusap pipi sebelah kanan yuri yang begitu lembut.
"ehm"
Merasa terusik dari tidur nyenyaknya, yuri membuka mata dan mendapati zen yang sedang tersenyum kearahnya.
"Suami, sudah bangun duluan ternyata" ucap yuri dengan suara khas orang bangun tidur.
"Iya, kamu cepet mandi sana" ucap zen.
"Yaudah" jawab yuri.
Sebelum yuri masuk kedalam kamar mandi, dia berbalik badan dan berkata pada zen "suami, kalau boleh tunggu aku selesai mandi baru aku masakim sarapan gimana?"
Zen tersenyum dan menjawab "iya, boleh kok"
Yuri tersenyum senang, dan kemudian segera masuk kedalam kamar mandi. Zen sendiri sekarang ini duduk diatas kasur sambil memilih dua kartu sihir biasa.
Selesai pilih dua kartu sihir biasa, sisa kartu lainnya seperti biasa menghilang. Dengan segera zen membuka kartu sihir pertama.
[Mendapat 100% saham perusahaan wings jewelry]
"Owh....perusahaan perhiasan nomor satu negeri ini, sekarang menjadi miliku? bukan hadiah yang buruk" ucap zen sambil tersenyum simpul.
Kartu kedua zen buka.
[Mendapat 100% saham lonteng film]
"Kali ini bahkan sebuah perusahaan perfilman" ucap zen senang dengan hadiah yang didapatnya.
Beres dengan membuka dua kartu sihir, zen beranjak dari atas kasur yang dia duduki menuju keruangan depan dilantai bawah.
Sampai sana zen duduk dan menyalakan televisi, sambil menunggu kedatangan yuri. Yang ingin memasakan sarapan pagi untuk hari ini.
Dalam berita acara pagi hari, zen mendapati sebuah berita yang bagus dan menarik menurutnya. Pada berita tersebut dilaporkan bahwa sebuah perusahaan bernama yz berhasil menemukan sebuah tambang emas yang berlimpah.
"Ini semua berkat kartu sihir" ucap zen tersenyum.
"Sayang" panggil yuri dari arah tangga.
Zen berbalik badan dan mendapati yuri turun dari tangga menuju kearahnya, setelah yuri berada dihadapan zen dia segera duduk bersandar pada bahu zen.
"Kenapa malah cemberut kayak gini?" tanya zen heran, padahal sepertinya yuri tadi baik-baik saja dan bersemangat tak ada masalah.
"Aku, tiba-tiba ingin kamu yang masak" ucap yuri.
Zen tersenyum dan menjawab perkataan yuri barusan "boleh, memangnya mau dimasakin apa buat sarapannya hm?" tanya zen.
"Aku ingin lobster yang seperti waktu itu" jawab yuri meminta.
"Kalau gitu, kamu duduk sini dan aku akan memasakannya untukmu" jawab zen.
"Hm" jawan yuri singkat.
Zen beranjak dari posisi duduknya pada sofa diruangan tengah, dan pergi menuju dapur untuk memasak makanan yang diminta oleh yuri sebagai menu sarapan pagi hari ini.
__ADS_1
Sementara zen memasak di dapur, yuri duduk dengan tenang di sofa ruangan tengah sambil menonton acara televisi pagi hari.
Waktu memasak yang dibutuhkan oleh zen tak terlalu lama, hanya butuh sekitar 15 menit sudah selesai dan cukup untuk memasak makanan pesanan yuri sebelumnya.
Selesai masak, zen menata makanan hasil masakannya keatas piring dan diletakan pada meja makan. Kemudian zen pergi menuju ruangan tengaj untuk memanggil yuri makan.
"Yuri, ayo makan" panggil zen.
Mata yuri langsung berubah bersinar terang, mendengar ucapan dari zen bahwa makanan sudah siap untuk dimakan. Dengan segera dan langkah penuh akan semangat, yuri berjalan memghampiri zen.
"Baik, suami" jawab yuri.
Mereka berduapun akhirnya makan bersama-sama di meja makan dengan perasaan puas dan mengenyangkan ada akhirnya, karena makanan yang dimakan oleh mereka benar-benar nikmat sekali.
"Baiklah, makan sudah selesai. Sekarang tinggal berangkat ke kampus" ucap zen.
"Suami" panggil yuri.
"Kenapa?" tanya zen.
"Boleh gak kalau aku gak ngampus hari ini?" tanya yuri.
"Loh kenapa?" tanya zen.
"Aku mager" jawan yuri.
"Bawaan ibu hamil kah?" gumam zen dalam benaknya.
"Yaudah, kalau gitu kamu dirumah aja. Soal kampus kamu bisa dari rumahkan?" ucap zen.
"Iya" jawab yuri.
Sesuai kemauan, yuri tak pergi ke kampus hari ini dan belajar dari rumah. Sedangkan zen berangkat sendiri ke kampus hari ini dengan perasaan agak khawatir sebenarnya.
"Semoga saja tidak ada masalah seperti sebelumnya" gumam zen sambil mengingat kejadian penculikan yuri di masa lalu.
Saat sedang berkendara, zen mendapat panggilan telpon dari wiliam.
"Halo?" ucap zen mengawali pembicaraan.
"Halo tuan muda, saya sudah berada di jakarga kembali. Dan soal perjanjian saham itu saya sudah siapkan tinggal menunggu kesediaan anda untuk menandatangani saja tuan muda" jelas wiliam.
"Kalau begitu jam dua siang nanti aku akan ke kantor menemuimu" jawab zen.
"Baik tuan muda, dan soal pasukan penjaga yang anda bilang?" tanya wiliam.
"Soal itu sekalian akan kuperkenalkan padamu nanti di kantor juga, supaya bisa langsung kau bawa mereka ke lokasi pertambangan untuk menyuruh mereka mulai bekerja sebagai penjaga disana" jelas zen.
"Baik, saya mengerti" jawan wiliam.
"Kalau begitu, aku tutup telpon nya" ucap zen.
"Baik, silahkan tuan muda" jawan wiliam.
Selesi dengan urusan telpon bersama dengan wiliam, zen kembali fokus penuh pada berkendara. Hingga setelah 10 menit kemudian waktu berlalu, zen sudah tiba di kampus.
Namun melihat tempat parkir yang biasa dia pakai sudah diisi oleh mobil lain, membuat zen harus mencari tempat parkir yang lainnya lagi di sekitaran lingkungan kampus nya.
Sampai-sampai setelah akhirnya berkeliling mencari tempat parkir sejenak, barulah zen bisa menemukan tempat parkir untuk mobil nya ditempat yang agak jauh dari gedung kampus tempat kelasnya berada.
Namun itu tak jadi masalah bagi zen, yang penting tidak telat masuk kampus. Selesai parkir kendaraan mobilnya, zen segera masuk kelasnya.
__ADS_1
Begitu zen duduk di kursinya, langsung saja brian yang memang paling heboh dan tak bisa diam bertanya pada zen.
"Hey, aku lihat mobilmu tidak ada di tempat biasa kemana?" tanya brian.
"Ada, ditempat lain" ucap zen menjawab pertanyaan dati brian barusan.
"Hey, zen" ucap dewi.
Zen berbalik dan mendapati dewi disana sedang tersenyum kearahnya, membuat zen heran dan bertanya-tanya ada apa?
"Kenapa?" tanya zen.
"Aku hanya ingin bilang makasih untuk saran yang kemarin" ucap dewi.
"Owh, itu bukan masalah yang penting kok. Santai aja kali, lagian kita kan teman jadi harus saling tolong menolong antar sesama teman disaat ada yang membutuhkan" jawab zen.
"Zen, habis ini kelas usai makan dikantin atau pulang?" tanya lusi.
"Memangnya kenapa?" tanya zen.
"Dewi, katanya mau traktir kita sebagai ucapan makasihnya" ucap marcel menimpali.
"Kalau gitu, kenapa enggak" jawan zen.
Kelas dimulai setelah bel masuk berbunyi, dan berkahir setelah terdengar bell berbunyi kembali sebagai tanda kelas berakhir.
Zen dengan para teman-temannya semua menuju kanti sesuai kesepakatan, sebab dewi akan traktir makan sebagai rasa ungkapan terimakasihnya.
Sampai kantin, setelah mendapat tempat duduk. Mereka langsung memesan makanan sesuai keinginan masing-masing.
"Juna, gimana?" tanya zen.
"Dia anak yang baik, aku suka dan jujur dia tipe cowok keduaku" ucap dewi.
"Oh, ya mana dia?" tanya brian.
"Katanya bentar lagi kesini, tapi kok lama ya" ucap dewi.
Tak berselang lama ada beberapa senior kampus menghampiri meja zen dan kawan-kawan, dengan tiba-tiba menggebrak meja yang ditempati oleh zen dan kawan-kawan.
Brak!
Membuat semua orang di kantin, melihat kearah sumber suara itu berasal dari mana.
"Kalian semua jika ingin juna selamat, maka ikut kami" ucap salah satu senior tersebut.
"Kau, apakah juna!" teriak dewi.
"Hehe, dia sudah babak belur" ucap senior yang lain.
"Apa?!" teriak dewi.
"Hey, kakak senior apa maksud kalian ini sebenarnya?" tanya brian yang sudah mencoba menahan amarahnya.
"Maksud kami adalah membuat kalian sadar bahwa harta tak selalu berguna dihadapan kekuatan fisik yang kuat!" ucap senior lain.
"Heh, kakak senior yang sombong" ucap marcel.
Bersabung.......
Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang
__ADS_1
Makasih semua.