
Bangun dipagi hari, ketika membuka mata dapat terlihat ada keberadaan hani diatas tubuhnya berbaring dengan nyaman.
"Maaf, lagi-lagi membuatmu ketakutan atas kejadian kemarin malam" ucap zen lembut sambil mengusap puncuk kepala yuri.
"Semoga kedepannya aku lebih bisa menjaga keamanan dan keselematanmu" ucap zen pelan.
Melihat jam menunjukan pukul 6.30 pagi, segera zen berniat membuka kartu sihirnya.
Sekarang ini dihadapan zen sudah ada layar biru hologram dengan menampilkan dua opsi, satu opsi untuk membuka kartu sihir biasa dan satu opsi lagi untuk membuka kartu sihir emas.
"Lebih baik buka yang mana?" tanya zen pada diri sendiri dalam hati.
Kemudian pada akhirnya zen membuka kartu sihir biasa, setelah memilih dua kartu sihir biasa sisanya hilang. Satu kartu zen buka, dan menampilkan hadiahnya.
[Mendapat 100 pasukan boneka]
"Hah, boneka?" zen merasa heran kenapa ada hadiah begini. Namun itu dikesampingkan dulu sebab zen ingin membuka kartu yang kedua.
[Mendapat peta pertambangan emas]
"Wuih, keren banget hadiahnya" seru zen bahagia.
Selesai membuka dua kartu sihir, zen mendapati yuri bangun dari tidur nyamannya.
Yuri yang sudah bangun segera membuka mata perlahan-lahan, melihat hal itu zen tersenyum. Begitu yuri sudah mendapatkan kesadarannya, segera zen sapa.
"Selamat pagi" ucap zen menyapa.
Yuri yang mendapat sambutan hangat dipagi hari menjawab, "pagi sayang".
cup.
Sebuah kecupan lembut zen daratkan pada bibir yuri, walau merasa kaget yuri tetap memberikan balasan lembut. Sampai selesai setelah beberapa saat.
Namun yuri menahan kepala zen dan berkata "lebih lama" pinta yuri.
"Eh, kenapa begitu?" tanya zen.
"Pokoknya mau lagi" ucap yuri.
Tanpa menjawab, zen segera mengecup lembut bibir yuri cukup lama. Sampai setelah cukup lama segera diakhiri ciuman tersebut.
"Mandi dulu gih" ucap zen.
"Kamu aja duluan" sahut yuri.
"Kenapa memangnya?" tanya zen.
"Aku masak dulu" ucap yuri.
"Kalau gitu cuci muka dulu" ucap zen.
"Ok" jawab yuri.
Kemudian yuri pergi kedalam kamar mandi untuk cuci muka sejenak, selesai itu segera pergi kedapur untuk memasak. Zen sendiri pergi mandi.
Sekitar sepuluh menit berlalu, zen yang sudah selesai mandi segera berpakaian. Setelah itu pergi keluar kamar menuju ruangan dapur untuk menemui yuri yang sedang memasak sepertinya.
Tepat pada saat zen sampao didapur, terlihat yuri sedang memegangi jari telunjuknya yang terluka dan berdarah. Zen yang melihat itu menghampiri yuri segera.
"Kenapa bisa terluka?" tanya zen.
"Ah, kamu ngagetin tau. Ini tadi gak sengaja kena pisau sayang" jawab yuri.
"Kalau gini sini aku obatin dulu" ucap zen.
__ADS_1
"Ini masaknya tanggung sebentar lagi" jawab yuri.
Zen tak menjawab melainkan pergi mengambil plester dalam kotak p3k, kemudian kembali menghampiri yuri dan memasangkan plester disana.
"Beruntung cuma luka sedikit dan tidak terlalu dalam juga" ucap zen, saat memasangkan plester di jari telunjuk yuri.
"Makasih" ucap yuri.
"Lainkali harus hati-hati, supaya aku tidak cemas" ucap zen memberikan nasehat.
"Aku mengerti" jawab yuri.
"Kalau gitu aku yang lanjutin masaknya, kamu mandi dulu gih" ucap zen.
"Ah, jangan dong. Aku saja yang lanjutin, tanggung" jawab yuri.
Sesuai kemauan, yuri kembali melanjutkan kegiatan memasaknya. Sementara zen pergi duduk dikursi.
Lima menita kemudian, yuri selesai masak dan menghidangkan makanan keatas meja. Lalu melepas apron nya.
"Aku mandi dulu" ucap yuri.
"Ehm" jawab zen.
Yuri pergi kedalam kamar untuk mandi, sedangkan zen sendiri mengambil ponsel dan menghubungi wiliam.
"Halo tuan muda" sapa wiliam.
"Halo juga, wiliam aku ada tugas untukmu" ucap zen.
"Apa itu tuan muda?" tanya wiliam.
"Aku ada sebuah peta lokasi pertambangan, nanti kau beli tanah dilokasi tersebut dan segera lakukan pertambangan" perintah zen.
"Wah anda hebat sekali tuan muda, jika boleh tahu itu pertambangan apa ya?" tanya wiliam.
"Hebat, sungguh anda sangat hebat tuan muda" sahut wiliam.
"Pokoknya setelah aku berikan peta lokasinya, kau segera urus sisanya bisa?" tanya zen.
"Tentu saja bisa tuan muda, anda bisa serahkan semuanya pada saya" ucap wiliam percaya diri.
"Kalau ini sukses, maka 5% saham tambangnya aku berikan untukmu" ucap zen.
"Apa!?" ucap kaget wiliam.
"Jika ini sukses 5% sahamnya, aku berikan padamu" ucap zen kembali mengulang perkataannya sebelum ini.
"Anda serius tuan muda?" tanya wiliam memastikan.
"Lakukan saja segera tugasmu, maka jika berhasil. Kau akan tahu aku serius atau tidak" ucap zen.
"Baik, akan segera saya lakukan sekarang juga" ucap wiliam semangat.
"Kalau begitu aku tutup telponnya" ucap zen.
"Ya, tuan muda silahkan" ucap wiliam.
Sambungan telpon ditutup, handphone kembali zen masukan kedalam kantung celananya. Berbarengan dengan itu datanglah yuri dengan style yang sudah bergaya rapih dan penuh gaya.
"Habis telpon siapa?" tanya yuri.
"Wiliam, emang kenapa?" tanya zen balik.
"Aku kira dewi" ucap yuri.
__ADS_1
"Kenapa dengan dewi?" tanya zen kembali.
"Aku denger, dia suka kamu" sahut yuri.
"Iya, tapi aku gak ada perasaan lebih kok padanya" jawab zen.
"Iya, aku tahu itu. Karena kamu cuma cinta aku kan?" tanya yuri.
"Iya" jawab zen.
"Yaudah ah, ayo makan" ucap zen.
Mereka makan bersama-sama, dan rasa dari masakan buatan yuri enak menurut zen. Sampai selesai waktu makan sarapan pagi, mereka berdua segera berangkat.
Didalam mobil.
"Pegangan sayang, aku mau ngebut" ucap zen.
"Baiklah" jawab yuri.
Sesuai perkataannya, zen berkendara dengan kebut-kebutan di jalanan. Dengan memacu kecepatan tinggi, sambil melewati satu persatu mobil yang menghalangi di jalan raya.
Sampai-sampai perjalanan pun ditempuh dengan waktu singkat saja, setelah parkir mobil di parkiran kampus. Mereka berdua turun dari dalam mobil segera.
"Sampai jumpa di kantin" ucap zen.
"Ya" sahut yuri.
Waktu kembali berlalu, sampai waktu pulang tiba. Dan sesuai perkataan zen sebelumnya, mereka berkumpul di kantin bersama-sama.
Tapi saat sedang makan dengan asik, tiba-tiba ada seorang senior yang datang menggebrak meja tempat mereka makan.
Brak!
Makanan diatas meja berhamburan kemana-mana, membuat marcel meraung marah.
"Hey, apa yang kalian lakukan hah?" sahutnya.
"Jika punya keberanian pergi ke halaman belakang, dan kita bisa selesaikan masalah kemarin" ucap senior tersebut.
"Baiklah, siapa takut!" ucap brian.
"Siapa kalian?" tanya zen.
"Kami dibayar oleh rizal, untuk memberikan pelajaran pada kalian semua!" ucap senior tersebut.
"Owh begitu ya......" ucap zen sambil berdiri.
Tiba-tiba zen memberikan pukulan keras pada senior tersebut yang mengenai wajahnya, bukan hanya zen saja melainkan brian dan marcel ikut memukuli mereka semua.
Buagk!
Bugk!
Dak!
Duak!
......
Pukulan demi pukulan zen dan kedua sahabatnya layangkan pada tubuh para senior bayaran rizal tersebut. Bahkan mereka yang semula arogan, berubah menjadi tak bisa apa-apa dibawah gempuran serangan zen dan kawan-kawannya.
Membuat seisi kantin berhamburan menjauh, sebab tak mau terbawa-bawa. Apalagi sampai mereka juga ikutan jadi korban pertempuran tersebut.
Bersabung.......
__ADS_1
Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang
Makasih