Kartu Sihir

Kartu Sihir
Evils


__ADS_3

Zen sekarang ini mendadak kedatangan tamu tidak terduga dirumahnya, tamu tersebut adalah Leon dengan Istrinya.


Mereka sedang duduk mengobrol bersama diruangan tamu, dan sepertinya yang akan dibahas adalah masalah mengenai Liona dengan Zen.


"Zen kami kemari ingin membahas keseriusan dirimu atas hubungan kau dengan Liona" ucap Leon mengawali percakapan.


"Silahkan, aku dengarkan" jawab Zen.


"Kami hanya ingin pastikan bahwa dirimu bisa dipercaya untuk kami titipkan Liona pada dirimu" jawab Ayunda.


"Aku akan berusaha membahagiakan Liona, serta akan berusaha sekuat apapun untuk menjaga dirinya" jawab Zen dengan yakin dan tegas.


"Kalau begitu, aku pegang kata-kata dirimu" ucap Leon.


"Baik, anda bisa percaya padaku" jawab Zen.


"Lalu kapan akan diresmikan secara hukum?" tanya Leon.


"Setelah Liona datang kemari aku akan langsung lakukan" jawab Zen.


"Kalau begitu masuklah Liona" panggil Ayunda.


Zen terkejut mendengar perkataan dari Ayunda barusan sampai dirinya melihat kedatangan dari Liona yang masuk kedalam rumah.


Liona duduk disamping Yuri dengan muka seperti merasa bersalah, Yuri tahu apa yang sedang dirasakan oleh Liona sekarang.


Yuri memegang lengan Liona dan berkata "jangan merasa bersalah begitu"


Liona menatap kearah Yuri dan berkata "aku sudah menjadi wanita yang jahat karena telah mencoba masuk kedalan kehidupan harmonis kalian sebagai orang ketiga"


"Aku dari awal sudah tahu bahwa pria sehebat dirinya tidak akan bisa memiliki satu istri saja, jadi saat momen ini tiba aku tidak begitu terkejut" ucap Yuri.


"Tapi aku merasa bersalah sekali" jawab Liona.


Yuru tersenyum dan berkata "aku sudah berikan izin padamu untuk menjadi istrinya, maka jangan sia-siakan sebelum aku rubah keputusan diriku"


"Tapi, apakah kamu benar-benar tidak mengapa?" tanya Liona.


"Aku hanya minta kita bisa akur dan tidak menutupi apapun soal yang akan terjadi satu sama lainnya diantara kita bertiga" ucap Yuri.


"Hilangkan rasa bersalahmu itu, Yuri sudah mengizinkan" ucap Zen sambil menggenggam lengan Liona dan Yuri bersamaan dengan kedua lengannya.


Obrolan berakhir dengan baik, sampai keputusan pernikahan diputuskan satu minggu lagi akan diadakan.


Mulai saat itu juga Liona tinggal bersama mereka dalam satu rumah yang sama, dan bahkan dalam satu kamar yang sama.


... ....


Setelah obrolan sebelumnya selesai, Zen tengah pergi menemui Darco sekarang di markas Red Maple.


Semua anggota Red Maple yang berjaga tahu siapa yang datang segera dipersilahkan masuk dengan mudah.


Zen selesau parkir mobil segera keluar dan dihampiri oleh salah satu anggota Red Maple.


"Kakak pertama sudah menunggu didalam" ucapnya.


"Tunjukan jalan" jawab Zen.


"Baik, lewat sini kakak" jawabnya orang tersebut sambil berjalan didepan Zen sebagai penunjuk jalan.

__ADS_1


Zen masuk kedalam dan dibawa keruangan Darco yang ada dilantai atas.


Setelah sampai diruangan Darco, orang yang mengantarkan dirinya barusan kembali ke pos jaga meninggalkan Zen dengan Darco didalam ruangan berdua.


....


Zen duduk berhadapan dengan Darco didalam ruangannya.


"Apakah semua ulahmu?" tanya Darco.


"Benar" jawab Zen.


"Bagaimana bisa?" tanya Darco.


"Rahasia" jawab Zen.


"Sebenarnya kau memiliki kemampuan yang aneh dan hebat sekali, aku akui kemampuan dirimu itu" ucap Darco.


"Terimakasih atas pujiannya" ucap Zen.


"Berkat ulamu itu, Evils menjadi heboh" ucap Darco.


"Apalagi itu?" tanya Zen bingung dengan mengerutkan dahinya.


"Evils, merupakan sebuah organisasi dunia gelap di Europa" ucap Darco.


"Aku tertarik dengan cerita seperti ini, coba katakan lebih banyak lagi" ucap Zen.


"Evils ini terdiri dari 7 kelompok dunia bawah dalam jumlah yang besar, dan salah satunya adalah Seven Gun's yang baru dirimu hancurkan tersebut" ucap Darco.


"Urutan kekuatan dan peringkatnya?" tanya Zen.


"Seven Gun's yang terlemah" ucap Zen.


"Begitulah, dan saat ini mereka benar-benar dibuat terkejut dan kaget sekali akan kematian para anggota kelompok Seven Gun's ini" ucap Darco menjelaskan situasinya.


"Apakah mereka mencoba mencari pelaku dibalik semua ini?" tanya Zen.


"Benar, namun sampai saat ini mereka belum menemukan titik terang dama sekali soal siapa yang menjadi dalang dari pembunuhan kelompok Seven Gun's ini" ucap Darco.


"Selagi mereka tidak mengganggu diriku, aku tidaklah masalah" jawab Zen.


"Apa yang akan kau lakukan jika mereka mengganggu dirimu?" tanya Darco.


"Hal yang kulakukan adalah hal yang sama yang telah menimpa Seven Gun's sekarang ini" ucap Zen.


"Kau kejam sekali" ucap Darco.


"Aku tidak akan kejam selagi mereka tidak mengganggu diriku ataupun keluargaku" ucap Zen.


"Kemudian, apakah kau tidak berniat bergabung dengan kami kembali seperti dulu lagi?" tanya Darco.


"Aku rasa tidak, namun bisa saja aku kembali suatu saat nanti jika memang perlu" jawab Zen.


"Jika butuh bantuan nantinya, jangan sungkan untuk datang padaku kapanpun itu selagi aku bisa pasti aku akan bantu" ucap Darco.


"Begitupun dengan dirimu kak, jika butuh bantuan jangan ragu datang padaku untuk meminta bantuanku" jawab Zen.


"Baiklah, satu hal lagi yang ingin aku tanyakan padamu" ucap Darco.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Zen bingung.


"Bagaimana caramu bisa dapat dua wanita cantik begitu?" tanya Darco.


"Apa?!" ucap Zen kaget dengan perkataan dari Darco yang menurutnya aneh barusan.


"Kau ini, aku serius!" ucap Darco.


"Lagian kenapa kakak berkata begitu?" tanya Zen heran.


"Aku juga kesepian dan ingin pasangan hidup" ucap Darco.


"Apakah kakak tidak ada pasangan seperti pacar atau istri diumur yang setua ini?" tanya Zen bingung.


"Huft.....tidak ada" jawab Darco.


"Baiklah, tipe seperti apa yang kakak sukai?" tanya Darco.


"Baik hati dan tidak sombong dengan sikap dan tutur kata yang baik dan sopan" jawab Darco.


"Cantik?" tanya Zen.


"Itu tidaj perlu ditanyakan lagi bukan?" jawab Darco.


"Kemudian ingin seumuran atau lebih muda dari dirimu?" tanya Zen kembali.


"Jika ada yang lebih muda kenapa tidak? Namun seumuran pun tidak mengapa" jawab Darco.


"Bagi wanita tidak suka dipermainkan dan diduakan, ketika dia selalu ingin menang maka biarkan dan perhatikan keinginannya" ucap Zen berhenti sejenak.


"Kemudian?" tanya Darco.


"Sisanya adalah kepercayaan, dan empati dari rasa hati juga saling menjaga dan menghormati" ucap Zen.


"Sulit ternyata" ucap Darco.


"Itu sudah pasti sulit bagimu yang dulunya orang yang memiliki karakter tegas dan kuat sebagai tentara dulu, namun percayalah jika kau bersikap lembut pada wanita yang kau sukai atau siapapun wanita tersebut, maka jangan sia-siakan dia juga berbaik hatilah untuknya" ucap Zen.


"Maksudmu pengorbanan?" tanya Darco.


"Tepat sekali" jawab Zen sambil tersenyum.


"Baiklah, terimakasih sarannya" jawab Darco.


"Sama-sama" ucap Zen menjawab sambil memberikan senyuman yang begitu tulus sekali.


"Namun bagaimana dengan satu hal lainnya lagi?" tanya Darco.


"Body dan Good Looking bukan?" tebak Zen.


"Benar" jawab Darco penasaran sekali.


"Jika wanita itu tidak memandang fisikmu, melainkan hatimu. Maka cinta akan menyatukan kalian" ucap Zen.


"Begitu" jawab Darco paham.


Bersabung.......


Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang

__ADS_1


Makasih.


__ADS_2