Kartu Sihir

Kartu Sihir
White Tiger


__ADS_3

Setelah selesai melaporkan perihal Vindex sebelumnya, Zen kembali fokus untuk berkendara kembali di jalanan raya dengan kecepatan tinggi.


Zen setelah berkendara selama lima belas menit akhirnya sudah sampai dikediaman rumahnya sendiri.


"Aku pulang" ucap Zen.


Suasana hening tiada jawaban apapun dari orang-orang rumah.


"Mungkin mereka sedang berada di luar"


Zen memilih untuk masuk kedalam kamar dan berganti pakaian, selesai berganti pakaian langsung duduk santai menonton acara telvisi sampai waktu berlalu dengan lama.


Yuri dengan Liona masihlah belum pulang juga.


"Kemana mereka?"


Zen merasakan perasaan khawatir menyeruak dalam hatinya ketika dua istri cantiknya belum pulanh-pulang juga sedari tadi.


Zen mengaktifkan kekuatan Real World Manipulation milik dirinya.


Saat itu juga langsu digunakanlah kekuatan Real World Manipulation tersebut untuk mencari keberadaan Yuri dengn Liona di seluruh dunia.


Terus dan terus Zen mencari keberadaan keduanya sampai ketemulah mereka sedang mengobrol bersama dengan asik dan tidak hanya berdua saja.


"Setidaknya mereka baik-baik saja, namun siapa dua perempuan tersebut?"


Zen tiba-tiba menghilang dari tempatnya berada, kemudian muncul di dekat keberadaan kedua istrinya.


Zen bisa melakukan apapun selagi dirinya mengaktifkan kemampuan dari Real World Manipulation yang dirinya miliki.


Real World Manipulation kemudian dinonaktifkan, lalu Zen masuk kedalam cafe tersebut untuk menemui keduanya.


"Ahem"


Zen berdehem pelan untuk menarik atensi dari empat orang yang duduk bersama dalam satu meja tersebut.


Keeempat wanita tersebut menolehkan kepalanya pada sumber suara.


"Suami!" ucap Yuri dengan Liona bersamaan.


"Waktunya pulang" jawab Zen.


"Kalau begitu kita berdua pamit undur diri, silakan dilanjutkan percakapan kalian" ucap dua wanita tersebut dan beranjak pergi dari meja tersebut.


"Hati-hatilah kalian" jawab Yuri dan Liona berbarengan.


Zen sendiri masihlah berdiri dan menatap keduanya dengan tatapan datar.


"Kami minta maaf, kita bicarakan dirumah saja ya?" ucap Liona.


"Hm" jawab Zen singkat.


Mereka pulang dengan menggunakan mobil yang dibawa oleh Liona dan Yuri, Zen mengemudi dengan tanpa membuka suara apapun sama sekali.


"Sayang kami minta maaf" ucap Yuri.


"Kami mengaku salah karena tidak izin padamu terlebih dahulu saat pergi keluar dan pulang semalam ini" jawab Liona.

__ADS_1


"Hm" jawab Zen.


Keduanya mulai merasakan rasa bersalah, ditambah mulai terisak nangis karena merasa takut dengan Zen sekarang yang tengah marah.


Zen hanya melirik kearah kaca spion tengah, dan dirinya jujur merasa bersalah karena membuat mereka berdua menangis.


Namun itu sengaja dirinya lakukan demi memberi mereka sedikit pelajaran.


Sampia tiba dirumah......


Zen duduk di sofa dengan lengan menyilang di dada, menatap kedua wanitanya yang bersimpuh dibawah dirinya.


"Maafin kami sayang, kami janji lain kali akan izin terlebih dahulu sebelum keluar-keluar rumah" ucap Liona.


"Kami banar-benar minta maaf, dan kami mengaku salah juga siap menerima hukuman darimu" tambah Yuri.


Zen menatap kedua wanitanya dari dekat, kemudian menarik dagu kedua wanitanya sebelum berkata "aku maafin, sekarang hapus air mata kalian"


"Beneran?" tanya Yuri.


"Iya, hapus air mata kalian segera" jawab Zen.


"Beneran gak marah lagi kan?" tambah Liona.


"Iya" jawab Zen.


Kemudian setelah acara hukuman barusan telah berlangsung dan usai, Zen membawa keduanya masuk kedalam kamar.


Sambil tiduran dengan dipeluk kedua wanitanya, Zen bertanya pada keduanya soal apa saja yang mereka lakukan selama beberapa waktu lalu.


"Apa yang dilakukan kalian berdua diluaran tadi?" tanya Zen.


"Heem, kemudian?" tanya Zen.


"Kami habiskan waktu di mall dengan keliling-keliling saja tanpa membeli apapun, lalu menonton dan makan apapun yang kami mau" jawab Liona.


"Apa lagi yang kalian lakukan?" tanya Zen kembali.


"Kami pergi jalan-jalan di taman, sampai bertemu dua orang sebelumnya yang sengaja berkenalan dengan kami dan mengajak untuk nongkrong di cafe sambil bercakap-cakap lebih banyak lagi" jawab Yuri.


"Dua wanita tadi siapa?" tanya Zen kembali.


"Wanita dengan pakaian merah muda bernama Vivian, sedangkan wanita dengan pakaian merah tadi bernama Lisa" jawab Liona.


"Mereka mengatakan bahwa mereka baru saja pindah dari luar negeri belum lama, namun karena sebelumnya sudah pernah tinggal di indonesia cukup lama membuat mereka sudah agak hafal dengan kondisi disini" jelas Yuri.


"Mereka bercerita soal keluarga mereka atau apapun lain lagi?" tanya Zen.


"Kalau soal keluarga mereka hanya berkata bahwa keduanya hanya tinggal memiliki seorang ayah saja, dan ayah mereka dalam satu bidang pekerjaan yang benar-benar sibuk dan membuat mereka terlupakan dirumah" jelas Liona.


"Apa pekerjaan kedua ayah mereka?" tanya Zen.


"Mereka pemimpin geng" jawab Yuri.


"Apa?" ucap Zen tidak percaya.


"Lucu ya kami bisa akrab dengan anak ketua geng seperti mereka berdua sebelumnya?" tanya Liona.

__ADS_1


"Memang kalian tidak ada rasa takut begitu?" tanya Zen.


"Kenapa harus takut, bukannya kamu sudah pasti lebih kuat dari mereka semua dan kami malah cinta padamu" jawab Yuri.


"Apa nama geng yang dipimpin ayah mereka berdua?" tanya Zen.


"White Tiger" jawab Liona.


Zen memikirkan soal nama geng tersebut, dirinya ingat betul soal geng White Tiger ini adalah geng keima terbesar di negara Indonesia.


"Intinya jika kalian ingin keluar dari rumah nanti haruslah izin terlebih dahulu pada suami" jawab Zen.


"Kami mengerti" jawab Yuri dengan Liona.


Mereka lalu mulai memejamkan mata untuk tertidur.


Sampai pukul sepuluh malam, Zen bisa merasakan adanya sebuah pergerakan banyak orang mendekat dari sekitar area rumahnya.


"Habisi mereka" perintah Zen pada salah satu pasukan boneka yang muncul disampingnya.


"Baik"


Pasukan boneka tersebut menghilang dan mengurus orang-orang yang mendekat ke rumah Zen bersama dengan pasukan boneka lainnya.


Zen sendiri langsung kembali tertidur dengan nyaman dipeluk dua istrinya tersebut.


....


Esok harinya.


Zen bangun tidur lebih awal dibandingkan denga kedua perempuannya, lalu segera beranjak dari atas tempat tidur dan bersiap-siap untuk olahraga pagi.


Setelah siap dengan olahraga pagi, Zen pergi jogging diluar dengan rute keliling taman komplek.


Dirinya yang sedang berjogging pagi dihampiri seorang dengan pakaian serba hitam.


"Permisi" ucap pria tersebut.


"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Zen bertanya.


"Iya, saya sedang mencari sebuah alamat" jawabnya.


"Alamat?" tanya Zen bingung.


"Betul, Blok D Nomor 19" jawab pria dengan pakaian serba hitam tersebut.


"Kamu lurus saja dari sini sampai mentok dan bil kiri dipertigaan tersebut dan kembali jalan lurus samapi ketemu perempatan ambil kanan, disitu blol D dan seharusnya rumah No.19 tidak jauh dari situ" jawab Zen menjelaskan.


"Terimakasih atas informasinya" jawab pria dengan pakaian serba hitam tersebut dan langsung segera pergi dari sana.


Selepas kepergian pria dengan pakaian serba hitam-hitam tersebut, Zen merasa bingung dan penasaran dengan siapa identitas dari pria yang memakai pakaian serba hitam dan mencurigakan barusan.


"Aku lebih baik ikuti dia" gumam Zen.


Bersabung.......


Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang

__ADS_1


Makasih.


__ADS_2