Kartu Sihir

Kartu Sihir
Quality Time II


__ADS_3

Zen melakukan kegiatan memasak dengan lihai dan cekatan, bagaikan koki handal. Itu semua bisa zen lakuka karena memang dirinya bisa masak, walau tidak seperti chef bintang lima.


Yuri sendiri sedari tadi memperhatikan kegiatan zen yang sedang memasak dengan begitu antusias sekali. Sampai-sampai sepertinya sudah tidak sabar ingin mencicipi makanan buatan suaminya itu.


Waktu berlalu, zen selesai masak dan makanan sudah tersaji diatas meja makan dengan tampilan dan wangi yang menggugah selera nafsu makan.


"Suapin" pinta yuri manja.


Zen sampai bingung dengan sifat yuri kali ini, kenapa bisa yuri sampai bersifat begini. Namun itu tidak terlalu dipermasalahkan oleh yuri, sebab itu membuatnya bahagia karena senang dengan melihat kelakuan yuri.


Merekapun makan bersama-sama dengan mesra, saling menyuapi satu sama lainnya. Dan bahkan yuri sampai minta tambah, membuatnya makan dalam porsi banyak.


"Kenapa nafsu makan kamu tiba-tiba meningkat banyak begini?" tanya zen.


"Gak boleh ya hiks....hiks.....hwa" yuri malah memangis, membuat zen merasa bersalah pada yuri.


"Ssshhhh, cup....cup.....jangan nangis sayang" ucap zen menenangkan yuri.


"Habisnya kamu marah" jawab yuri.


"Eh aku gak marah kok sayang" ucap zen.


"Beneran?" tanya yuri.


"Iya, beneran serius deh" jawab zen.


"Beneran gak marah, kalau aku nambah lagi makannya?" tanya yuri.


"Gak papa, sini aaa buka mulutnya aku suapin" ucap zen, sambil menyodorkan sendok berisikan nasi dan lobster yang sudah dimasak matang dan berasa nikmat.


"Ehm" jawab yuri singkat, dan mulai menerima suapan nasi dengan lobster tersebut.


Zen menghapus bekas air mata pada kedua pipi yuri, dan acara makan diteruskan hingga habis. Yuri yang merasa kenyang, sangat puas karena makanannya enak.


"Makasih" ucap yuri.


"Iya, sama-sama" jawab zen.


"Kalau gitu, aku cuci piring dulu" ucap zen.


"Ya" jawab yuri.


Zen membereskan alat-alat makan bekas mereka berdua barusan, setelah itu mulai mencuci bersih alat-alat makan tersebut.


10 menit berlalu, selesailah zen cuci piring barusan. Dan sekarang sedang duduk pada kursi empuk pada balkon kamar, yang langsung menghadap kearah pantai.


Yuri berada dalam pangkuan zen, tengah bersandar nyaman pada dada bidang sang suami. Zen sendiri memeluk yuri dengan penuh perasaan kasih sayang yang tulus.


"Sayang" ucap yuri.

__ADS_1


"Apa?" tanya zen menjawab.


"Jalan-jalan di pantai yuk?" ajak yuri.


"Sekarang?" tanya zen.


"Taun depan!" jawab ketus yuri.


"Masih lama dong sayang kalu gitu?" tanya zen.


"Issh!! ya sekaranglah sayang, ayo cepetan" pinta yuri memaksa.


"Iya, iya ayo" jawab zen.


Sesuai kemauan dari yuri, mereka akhirnya berjalan-jalan di tepi pantai dengan saling bergadengan tangan penuh akan rasa bahagia dan ceria. Terlihat dari wajah keduanya yang berseri penuh akan sukacita dan kebahagiaan.


Sampai akhirnya datang permohonan aneh dari yuri bagi zen, saat sedang berjalan-jalan di atas pasir putih pantai. Yuri berkata "sayang gendong aku".


"Apa?" tanya zen tiba-tiba kaget.


"Ish...kenapa sih kaget gitu, gak mau ya?" tanya yuri dan mulai kembali berkaca-kaca hendak menangis.


Melihat hal tersebut, zen segera menjawab keinginan yuri barusan yang minta digendong oleh dirinya.


"Eh, jangan nangis sayangku. Yaudah sini aku gendong" ucap zen.


Akhirnya zen memenuhi keinginan yuri yang minta digendong olehnya, sampai pada sebuah tempat teduh dibawah pepohonan kelapa. Kembali muncul lagi permohonan aneh yuri.


"Sayang stop" ucap yuri.


Zen yang sedang berjalan sambil menggendong yuri berhenti melangkahkan kakinya, dan bertanya "kenapa?".


"Aku mau kelapa muda" ucap yuri tiba-tiba.


"Yaudah aku beliin dulu" ucap zen.


"Gak mau beli" jawab yuri.


"Lah terus gimana?" tanya zen bingung.


"Itu ada si penjual kelapa, kamu tanya pohon buah kelapa yang ada di pohon boleh di ambil ama kamu gak?" ucap yuri.


"Yaudah, kalau begitu kamu tunggu sini" ucap zen.


Yuri diturunkan dari gendongannya, kemudian zen sendiri pergi menghampiri sang penjual kelapa ijo tersebut dan bertanya.


"Permisi pak" ucap zen menyapa dengan sopan.


"Ya, mas ada yang bisa dibantu?" tanya penjual kelapa tersebut.

__ADS_1


"Ini mas, saya mau tanya sesuatu boleh?" tanya zen pada si penjual kelapa ijo tersebut.


"Iya mas, silahkan mau tanya apa?" jawab si penjual kelapa ijo tersebut.


"Kalau boleh tahu pohon kelapa ini punya siapa?" tanya zen, sambil menunjuk pohon kelapa yang berada dibelakang si penjual kelapa ijo tersebut.


"Ini punya saya, memang ada apa ya mas?" tanya si penjual kelapa tersebut.


"Boleh gak kalau saya beli kelapanya?" tanya zen.


"Langsung dari pohonnya?" tanya si penjual kelapa tersebut.


"Iya" jawab zen.


"Boleh sih, tapi mas yakin mau beli yang di pohon dan dipetik langsung. Gak mau yang udah ada aja?" tanya si penjual kelapa ijo tersebut.


"Iya mas, saya sakin" jawab zen, sambil memberikan uang seratus ribu pada si penjual kelapa ijo tersebut.


Dengan tanpa ada masalah, si penjual kelapa ijo menerima uang tersebut dari tangan zen. Dan meminjamkan golok pada zen untuk nantinya digunakan ketika hendak mengambil kelapa.


Segera saja sesi memetik kelapa dan mengupas kelapa tersebut hingga siap minum selesai zen lakukan dengan cukup penuh perjuangan, Setelah itu kembali menghampiri yuri. Yang sedari tadi duduk manis diatas pasir pantai dan menonton aksinya yang memanjat pohon kelapa sampai akhirnya semua selesai.


"Nih" ucap zen, sambil menyerahkan satu kelapa ijo pada yuri.


"Makasih" jawan yuri, sambil menerima satu kelapa ijo tersebut.


Mereka meminum kelapa ijo tersebut dengan nikmat dibawah rindangnya pohon kelapa yang teduh, plus angin sepoi-sepoi dari arah laut dengan deru ombak yang menderu-deru.


Selesai meminum air kelapa ijo, langsung dari kelapanya. Sekarang ini yuri kembali meminta digendong dan berjalan-jalan kembali. Zen menuruti saja semua keinginan yuri sampai dia benar-benar puas.


.....


Sore tiba, mereka sudah kembali ke villa. Dan telah selesai bersih-bersih mandi.


Diruang tamu, yuri duduk dengan zen berdua sambil menonton acara televisi bersama-sama. Kemudian zen tiba-tiba bertanya pada yuri.


"Istriku, kamu sebenar nya kenapa sih?" tanya zen.


Paham akan apa yang ditanyakan suaminya, yuri menjawab "aku juga tidak tahu kenapa, namun serasa ingin aja. Dan kalau misal kamu marah atau bicara agak keras, malah buat aku bener-bener sedih banget" jawab yuri sambil mempererat pelukannya pada tubuh zen.


Tak ada tanggapan apapun soal cerita sang istri dari zen, yang ada dia hanya memeluk erat badan yuri saja. Dengan lembut dan penuh akan kasih sayang yang benar-benar tulus zen berikan padanya sekarang ini.


Bersabung.......


Note: Ahem.


Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang


Makasih

__ADS_1


__ADS_2