
Mendengar perkataan dari mulut Zen secara langsung barusan, membuat Leon dengan Darco merasa bahwa orang dihadapan mereka ini benar-benar kejam!
"Kapan mereka akan meminta pertempuran dimulai terhadap kalian Red Maple?" tanya Zen.
"Satu minggu dari sekarang, tanah lapang bagian selatan kota" jawab Darco.
"Baiklah, aku mengerti" ucap Zen.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Leon.
"Tidak ada apapun, hanya diam saja" jawab Zen santai.
"Kalau begitu, tolong bantuannya kalian berdua untuk mengurus Vindex ini" ucap Leon.
"Aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Zen.
"Apa itu?" jawab Darco.
"Aku menebak kau membuat Red Maple ini sengaja untuk menguasai dunia bawah, karena ini bagian dari pemerintah yang ingin bisa dengan mudah mengelola dunia bawah dan menyingkirkan biang masalah dengan mudah di dunia bawah" ucap Zen.
"Huft.....benar" jawan Leon.
"Cara pemerintah memang cukup baik, namun tidak akam mudah untuk mengontrol dunia bawah sutuhnya" jawab Zen.
"Jadi apakah dirimu bersedia membantu?" tanya Leon.
"Aku sudah berjanji untuk keluar dari dunia seperti ini pada Yuri, namun aku akan bicarakan kembali dengan mereka berdua nanti" jawab Zen.
"Jika kau mau kembali, kami akan menyambut dengan tangan terbuka" ucap Darco.
"Baiklah" jawab Zen.
Obrolan terus berlanjut sampai membahas mengenai wilayah mana saja yang sudah diambil alih oleh Vindex.
Setelah selesai dengan rapat bertiga, akhirnya mereka pulang kerumah masing-masing.
Terkecuali bagi Darco yang memang tinggal disana.
.....
Zen sudah berada dirumah, dan tengah memilih kartu sihir yang diinginkan untuk dibuka. Zen memilih kartu sihir emas, karena kemungkinan lebih cenderung mendapatkan kekuatan dan kemampuan bagi dirinya.
Sedangkan kartu sihir biasa, kemungkinan akan mendapatkan harta kekayaan saja kebanyakannya.
Zen selesai memilih kartu sihir emas, kemudian langsung dibuka kartu sihir emas yang telah dibuka tersebut.
[Mendapatkan peningkatan kemampuan]
Zen mengecek keterangan soal peningkatan kemampuan ini.
[Dapat meningkatkan satu kemampuan tuan, apapun jenis kemampuan tersebut]
Zen tersenyum senang dengan hadiah yang dirinya dapatkan sekarang ini.
"Tingkatkan kemampuan Real World Manipulation"
[Peningkatan berhasil]
Senyuman terbit dibibir zen dengan manis, karena mendapatkan peningkatan pada kekuatan Real World Manipulation milik dirinya.
Zen melihat lebih rinci penjelasan dari kemampuan Real World Manipulation miliknya yang baru ditingkatkan.
[Real World Manipulation]
__ADS_1
[Ketika diaktifkan akan bisa memanipulasi seluruh dunia dalam kehendak sesuai keinginan anda dan tanpa batas apapun]
"Dengan ini berurusan dengan mereka tidak akan ada masalah"
Selesai dengan urusan kekuatan barusan, Zen keluar dari dalam kamar dan menemui dua wanitanya diruangan tamu.
....
Sedangkan Leon diruangannya sedang melihat semua berkas-berkas laporan yang diberikan oleh Darco pada dirinya.
"Mereka telah menguasai hampir seluruh bagian dari wilayah pesisir dekat pelabuhan"
Kembali Leon memeriksa semua berkas-berkas lainnya di dalam amplop coklat yang diberikan oleh Darco, makin dibaca dan dibaca membuat Leon makin pusing memikirkannya.
"Sigh.....mereka semua benar-benar kelompok yang berbahaya" gumam Leon.
"Aku sepertinya harus menghubungi Zen dengan Darco untuk mengobrolkan kembali masalah ini"
Kembali pada zen.
Zen tengah berada diruangan tamu bersama dua istrinya sambil mengobrol.
"Suami, main" pinta Liona.
Cup.
Zen tidak lagi banyak berkata dan langsung memulai permainan bibir Liona, Yuri yang melihat itu juga ingin bergabung.
"Aku mau" ucap Yuri.
Zen melepas permainan dibibir Liona dan pindah bermain di bibir Yuri.
"Sayang di kamar aja" pinta Liona.
Saat hendak asik-asiknya, terdengar sebuah panggilan telpon dari ponsel milik Zen.
Mereka berhenti bermain, lalu menjawab panggilan telpon tersebut. Sementara Zen melakukan percakapan di telpon, Liona dengan Yuri memeluk badan Zen.
"Halo?" ucap Zen.
"Zen, kita harus bertemu sekarang" ucap Liona.
"Bisa ditunda tidak?" tanya Zen.
"Aku mohon maaf, tapi tidak bisa" jawab Leon.
Tiba-tiba ponsel dilengan Zen disambar oleh Liona yang kemudian berbicara pada sang ayah Leon.
"Ayah, aku gak mau tau pokoknya Zen gak boleh pergi sekarang!! Besok saja" ucap Liona sambil mematikan sambungan telponnya.
"Ayo, lanjutin" mohon Liona sambil menyimpan ponsel Zen diatas meja nakas.
Kegiatan syahdu dilakukan dengan bertiga, sampai sore hari tiba.
Sore hari setelah kegiatan syahdu berakhir, akhirnya mereka tertidur karena telah kelelahan setelah kegiatan syahdu sebelumnya.
Keesokan harinya.
Zen langsung menemui Leon di kediamannya.
"Kenapa kemarin ayah meminta bertemu?" tanya Zen.
"Vindex, mereka sudah harus dibereskan segera" ucap Leon.
__ADS_1
"Baiklah aku akan suruh orang untuk bereskan mereka" ucap Zen.
"Berapa pasukan yang diperlukan sebagai bantuan?" tanya Leon.
"Tidak perlu" jawab Zen.
"Sigh.....jaga dirimu baik-baik, dan berapa lama prosea penyelesaiannya?" tanya Leon.
"Satu malam" jawab Zen.
"Kau yakin?" tanya Leon.
"Iya" jawab Zen.
"Baiklah, hati-hati" ucap Leon.
"Ada lagi yang ingin disampaikan?" tanya Zen.
"Kemarin kenapa Liona bilang begitu pakai telponmu?" tanya Leon penasara.
"Kita kemarin hendak melakukan 'itu' namun ayah menelpon sebagai pengganggu" ucap Zen.
"Owh....kukira kalian berantem" ucap Leon.
"Tidak ada lagi pertanyaan?" tanya Zen.
"Tidak, kurasa" ucap Leon.
"Kalau begitu aku pamit pulang, dan akan segera kuberikan kabar jika urusanku sudah selesai" ucap Zen sambil pergi.
Saat diperjalanan menuju rumah, Zen menggunakan kemampuan Real World Manipulation miliknya.
"Aku akan berikan kalian siksaan mental terlebih dahulu, sedikit demi sedikit untuk menyiksa kalian semua"
Zen memberikan sebuah serangan mental dan pikiran pada semua orang dalam kelompok Vindex.
Sehingga semua orang anggota Vindex mengalami sebuah serangan mental dan pikiran yang menyiksa sekali, hingga mereka semua berteriak-teriak tidak jelas sambil berguling-guling di atas tanah.
"Lalu tinggal bunuh kalian" ucap Zen.
Zen menggunakan kemampuan Real World Manipulation, dan membuat orang-orang anggota Vindex yang sudah ditandai tidak bisa menghirup udara.
Sehingga mereka mengalami kekurangan oksigen sampai mukanya membiru, dan banar-benar menderita akibat tidak bisa bernafas.
Saat mereka hampir mati karena kehabisan oksigen, Zen membiarkan mereka semua menghirup oksigen terlebih dahulum
Baru menyiksa mereka lagi dengan cara yang sama seperti sebelumnya, kegiatan penyiksaan tersebut terus demi terus dilakukan hingga akhirnya mereka semua dibuat mati kehabisan oksigen setelah puas dijadikan objek penyiksaaan.
"Semua sudah beres"
Zen melepas teknik Real World Manipulation yang dia pakai, kemudian menelpon Leon untuk mengatakan kelompok Vindex telah selesai di bereskan.
"Kelompol Vindex sudah dibereskan" ucap Zen melaporkan pada Leon melalui panggilan telpon.
"Apa!? Bagaimana bisa begitu?" tanya Leon tidak percaya sama sekali dengan ucapan Zen sebagai menantu dirinya itu yang terkesan main-main dan bercanda pada dirinya.
"Semua sudah selesai, terserah kau mau percaya atau tidak pada perkataan diriku" ucap Zen menekankan.
"Kau bisa periksa keadaan mereka sekarang bersamaan dengan Darco" ucap Zen sambil mematikan sambungan telpon antara dirinya dengan Leon Bagaskara barusan yang membicarakan soal kelompok Vindex.
Bersabung.......
Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang
__ADS_1
Makasih.