Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
1.


__ADS_3

Jojo masuk ke kelas barunya dengan muka datar. Sama sekali tak ada ekspresi. Lempeng.


Jojo mengambil tempat duduk dipojok paling belakang. Satu per satu murid baru kelas XA masuk ke dalam kelas.


"Permisi. Apa masih kosong?" seorang siswa ganteng, tinggi, kulit sawo mateng, bertanya pada Jojo sambil menunjuk bangku kosong disebelahnya.


Jojo hanya mengendikkan bahunya, masih tanpa ekspresi.


Taklama,


"Eh? Juna ya? Yang dulu tinggal di K, bukan?" seorang siswa ganteng, imut, nan ngegemesin tersenyum sumringah, menegur Jojo.


Senyum tipis menghiasi bibir Jojo. "Puput kan?!" sapanya ramah.


"Masih ingat ya? Kirain udah lupa." Putra tersenyum manis. Tangannya terulur menyalami Jojo, dan disambut baik oleh gadis itu.


Putra hendak duduk di sebelah Jojo yang masih kosong, tapi langsung diserobot siswa yang tadi.


"Eh, kenalkan namaku Putra." Putra menyalami siswa itu dengan senyum ramah tersungging di bibir tipisnya.


"Arbyan!" cowok itu memperkenalkan diri.


Jojo menoleh pada cowok yang duduk disebelahnya, masih dengan wajah lempengnya.


Dan cowok itu pun menatap Jojo. Jadilah mereka saling tatap-tatapan.


"Gue duduk di sini ya?" Bian meminta izin pada Jojo.


"Duduk aja. Ini bukan meja mbah gue, gak perlu minta izin." ujar Jojo lagi-lagi datar.


"Buseeett. Jutek amat. Kok sama Putra tadi dia ramah banget ya?" bisik batin Bian. Cowok itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Jo, nanti kita ngobrol-ngobrol lagi ya." kata Putra setelah mendengar bel masuk berbunyi. Senyum manis terukir di bibir mungil cowok imut itu. Dan entah kenapa Bian tak suka melihatnya. Putra bergegas duduk diseberang meja Jojo dan Bian.


Hari ini hari pertama Jojo masuk SMU. Tak ada raut bahagia terpancar di wajah Jojo. Mukanya yang datar tanpa ekspresi dari sejak ia berangkat ke sekolah. Jojo merasa terpaksa bersekolah di SMU itu.


Sebenarnya ada hal yang menyebabkan mengapa Jojo bisa bersikap dingin dan cuek seperti itu. Setelah lulus SMP kemarin Jojo awalnya berniat melanjutkan ke STM, tapi ditolak habis-habisan sama emaknya. Alasan sang emak, STM adalah sekolah khusus cowok. Sang emak mau Jojo melanjutkan ke SMK, tapi Jojo gak mau. Jadilah Jojo sekolah di SMU Muh***, sekolah yang berlokasi tak jauh dari rumahnya, juga bukan sekolah favorit. Ini sekolah pilihan bapak. (Biar adil, jadi bapak yang pilihkan dan dilarang protes.)😁


Seorang guru wanita masuk ke dalam kelas XA dengan ditemani beberapa orang siswa.


"Selamat pagi, anak-anak. Selamat datang di sekolah baru kalian." sapa ibu guru.


"Selamat pagi, bu!" jawab para murid kompak.


"Perkenalkan nama saya Endang Triyana. Panggil saja bu Endang. Saya wali kelas di kelas ini." ibu guru memperkenalkan diri.


"Hari ini kalian akan mengikuti MOS. Kalian wajib mengikutinya. Para pengurus OSIS akan membimbing kalian dalam acara tersebut."


Setelah berdiskusi sebentar dengan para pengurus OSIS, bu Endang pun pamit kembali kekantor.


"Anak-anak, saya tinggal dulu. Saya harap kalian tenang dan mengikuti MOS dengan tertib." kata bu Endang.


"Saya serahkan kelas ini pada kalian." kata bu Endang lagi, kali ini pada para pengurus OSIS. Bu Endang pun pergi.


"Halo selamat pagi adek-adek semua. Perkenalkan, nama saya Dwi Anggara, panggil saja kak Dwi. Saya ketua OSIS, yang itu namanya kak Erinda, disebelahnya, kak Lela Septia, dan disebelahnya lagi kak Devandro." Sang ketua OSIS maju dan memperkenalkan dirinya juga teman-temannya.


"Selamat pagi, kak!" jawab semuanya, kompak.

__ADS_1


Bian melirik gadis disebelahnya yang duduk diam, tetap dengan wajah datar.


"Saya minta nama-nama pengurus OSIS semuanya kalian ingat baik-baik karena pada akhir MOS nanti kalian diharuskan meminta tanda tangan mereka. Kita juga nanti akan memilih siapa kakak OSIS terfavorit, juga kakak OSIS yang tergalak. Mengerti?"


"Mengerti, kak!"


"Sekarang saya pergi dulu, mau meninjau kelas lain." kak Dwi pun pamit.


"Gue serahin ini ke lu bertiga." kata Dwi pada tiga temannya.


"Nah, adek-adek. Saya akan mulai dengan mengabsen nama kalian, jadi kita bisa saling mengenal satu dengan yang lain. Saya yakin di sini ada yang belum saling kenalkan?"


"Iya, kak."


"Baiklah. Yang saya panggil namanya tunjuk tangan, oke?"


"Siap!"


"Andre."


"Hadir."


"Arbyan."


"Ada."


"Dede Salamah.


"Hadir, kak."


"Dina Marita."


"Juna Andini."


"Hm!" Jojo mengangkat tangannya.


"Lagi sakit gigi, ya? Kok cuma hm doang?" tanya kak Lela jutek.


"Hm." Jojo berdehem seraya mengangguk malas.


Kak Erin dan kak Deva tersenyum melihatnya. Sedangkan kak Lela merengut.


Bian melirik gadis disebelahnya dengan penuh tanya dalam hati.


"Nih cewek dari tadi aneh banget. Kenapa ya?" sisi kekepoan Bian muncul melihat sikap dingin dan cuek dari teman sebangkunya.


Setelah mengabsen para siswa penghuni kelas XA yang hanya berisikan dua puluh tiga murid saja, kakak-kakak OSIS pun mulai memberikan tugas yang harus dilakukan para murid baru.


Pukul 09.45 wib


Bel istirahat pertama berdering. Jojo tetap asik duduk santai dikursinya tanpa berniat untuk jajan di kantin atau pun keluar dari dalam kelas.


"Gak ke kantin, Jun?" tanya Bian sedikit canggung. Soalnya dari awal masuk sampai detik ini Jojo sama sekali tidak mengindahkan kehadirannya.


"Gak!"


"Mau nitip apa, gue mau ke kantin, nih?" tawar Bian.

__ADS_1


"Gak ada!"


Jawaban yang super singkat, padat, dan jelas membuat Bian menghela napas panjang.


"Hai, Ar! Ke kantin yuk?" tiga orang siswi cantik dari kelas sebelah menghampiri Bian.


"Gak!" tolak Bian, malas.


Jojo yang menyandarkan kepalanya di meja dengan malas, melirik Bian yang bersandar santai disandaran kursi.


"Ayolah, Ar. Gue traktir deh!" rayu salah satu dari siswi cantik itu.


"Gue gak laper! Kalo lu bertiga mau jajan gih sono jangan ajak-ajak gue. Gue lagi mau pdkt sama temen sebangku gue." usir Bian pada tiga gadis itu sambil melirik Jojo.


Akhirnya para cewek cantik itu pun pergi dengan wajah cemberut.


Taklama,


"Juna, ke kantin yuk!" ajak Puput.


"Mager gue. Lu pergi aja bareng nih." Jojo menunjuk Bian tanpa menoleh ke arah Putra dan Bian.


"Jo!"


Jojo mendongak mendengar suara orang yang memanggilnya. Matanya berbinar.


"Yan? Lu sekolah di sini juga?" Jojo terlihat antusias, membuat Putra dan Bian saling pandang.


Jojo duduk dengan tegak. Yayan menghampiri Jojo dan duduk di kursi depan gadis itu.


"Lu kemana aja, mbakbro? Kita ini satu sekolah, tau gak? Lah dari tadi lu tidur ya? Kebiasaan!" Yayan, teman SMP Jojo menoel gemas jidat Jojo, gadis mungil sahabat semua siswa kelas mereka waktu di SMP.


"Siapa aja yang masuk ke sini?" tanya Jojo lagi. Sikap datar dan dingin yang ada didirinya tadi entah menguap kemana, berganti dengan raut wajah ceria seolah menemukan seonggok berlian yang indah.


"Gue, Januar, Rani, Rosa, Saras, Yessi dan Dewi."


"Yang lainnya?"


"Abang lu dan Syai masuk SMK. Adi, Gunar, Hamdani, Efendi, Dan Siti di MAN. Yang lainnya lagi... gak tau."


"Kalo Sigit sama Sapri?"


Yayan menggeleng.


"Kalian satu SMP ya?" tanya Bian, kepo. Yayan mengangguk.


"Kita dulu satu kelas. Sayang sekarang pisah." ujar Yayan lesu.


Januar dan Rani ikut bergabung. Jojo lalu toast dengan keduanya, dan itu membuat Putra dan Bian lagi-lagi saling pandang.


"Emang lu masuk kelas mana?" tanya Jojo.


"Kelas XB. Lu mah enak Jo bisa sekelas lagi bareng temen-temen kita, lah gue cuma bareng Dewi. Males gue." gerutu Yayan.


"Kalo gitu, lu minta pindah kelas aja sama wali kelas lu." kata Januar.


"Emang boleh?"

__ADS_1


"Ya bolehlah. Asal lu jangan minta pindah sekolah gue jamin deh, pasti bisa." timpal Rani.


Wajah Yayan berbinar sumringah. Sedetik kemudian Yayan pun berlari keluar kelas, menuju kantor kepala sekolah.


__ADS_2