
"Giliran kamu yang cerita, Yank."
"Lain kali aja ya, By. Anak gue udah ngantuk, tuh!"
Jojo menunjuk pada dua anaknya yang kepalanya mulai oleng karna mengantuk.
Bian mengangguk.
"Ya, udah. Kita pulang ya?"
Setelah membayar makanan dan minuman yang mereka makan tadi, Bian mengambil si bocil dari gendongan Jojo.
"Biar dedek aku yang gendong, Yank. Kamu gandeng kakak aja." kata Bian.
Jojo pun mengikuti Bian berjalan menuju mobil sambil menggandeng putrinya.
"Yah, maafin aku ya? Tolong jangan marah! Bian hanya teman lamaku, seperti teman-temanku yang lain."
"Yank, weekend kita pulang ke S, yuk!" ajak Bian setelah mereka sudah berada di dalam mobil.
"Gak ah, By. Bapak sama emak gak ada di rumah." tolak Jojo.
"Emang Om sama Tante kemana?"
"Mereka tinggal bersama adik bungsuku di kota K. Mereka jarang pulang ke S."
"Ntar kita mampir aja ke rumah adik kamu, Yank. Sekalian kita ajak Om dan Tante pulang. Minggu sore kita balik lagi ke sini." usul Bian.
"Gimana ya, By?"
Jojo garuk-garuk kepalanya, bingung.
Bian tersenyum melihat tingkahnya.
"Masih aja gak berubah kelakuannya kalo lagi bingung. Tetep aja kamu ngegemesin, Yank." batin Bian, geli.
"Si kakak ini suka mabok kalo perjalanan jauh naik mobil. Naik motor aja suka muntah juga. Ntar mobil lu kotor kena muntahan dia." ujar Jojo tak enak hati.
"Gak pa-pa. Kan bisa dibersihin nanti."
"Tapi..."
"Udah, gak pa-pa. Kalo kakak mabok nanti biar aku yang urus. Pokoknya, weekend kita pulang ke S!" Bian bersikeras.
"Serah lu, dah! Awas aja kalo lu ngedumel, gue turun dan pulang jalan kaki." ancam Jojo.
"Diih, ngancem! Demi kamu aku gak akan pernah protes, Yank." gombal Bian.
"Preeetttt!" Jojo mencibir.
Bian pun ngakak.
"Kamu tau, Yank. Udah lama aku gak tertawa lepas kayak gini. Semenjak kamu ninggalin aku." bisik hati Bian.
"By, boleh gue tanya lagi, gak?"
"Hm."
Bian menoleh. "Apa, Yank?"
"Lu..."
Jojo merasa tidak nyaman menanyakan pertanyaan ini. Tapi dia penasaran.
"By, kenapa lu gak nikah lagi? Lu udah terlalu lama sendiri, kan?" tanya Jojo, akhirnya.
"Jangan bilang lu gak laku, By. Gak mungkin cewek-cewek nolak pesona 'duren' kayak lu!" kata Jojo lagi sebelum Bian menjawab pertanyaannya tadi.
Bian tersenyum geli.
"Aku lagi nunggu seseorang, Yank." katanya kemudian.
"Siapa?" tanya Jojo kepo.
"Masak udah puluhan tahun nunggunya belum nemu juga? Lu nunggu Luna Maya mau ama lu?" ledek Jojo.
"Ish! Demen banget ngeledek aku, ntar ketulah baru nyahok!" Bian ngedumel.
Jojo terkekeh.
"Sekarang aku udah ketemu seseorang itu, Yank. Saat ini aku sedang berusaha menarik perhatiannya lagi dan mencoba pdkt sama keluarganya." ujar Bian.
"Oh ya?" Jojo berseru, kaget.
"Siapa? Siapa, By? Orang mana? Gue kenal gak?" jiwa kepo Jojo meronta-ronta.
"Tunggu aja. Ntar kamu juga tau!" jawab Bian santai.
Jojo manyun.
"Sok-sok'an misterius, lu!" sungut Jojo, kesal.
Bian tersenyum, melirik Jojo yang duduk disebelahnya.
"Kamu yang masih penuh misteri, Yank. Kapan kamu mau berbagi semuanya sama aku?"
__ADS_1
*
*
*
"Mau kemana, Jun?" tanya Mona, tetangga yang juga keponakan almarhum suami Jojo.
"Pulang ke S."
"Itu siapa?" dengan dagunya, Mona menunjuk Bian yang tengah memasukkan tas baju milik Jojo ke dalam mobilnya dibantu kedua anak Jojo yang besar.
"Temen aku yang juga tinggal di S. Nebeng, Mon, mumpung gratis." kata Jojo sambil nyengir.
Mona manggut-manggut, ngerti.
"Lama?"
"Gak. Minggu sore pulang. Titip rumah ya?"
"Hm. Udah di iket belum? Takut rumahnya kabur." gurau Mona.
"Udah. Pake rantai kapal plus gembok gede." Jojo balas bergurau.
Mona terkekeh.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Bian.
"Yuk!"
Jojo masuk ke dalam mobil, duduk di samping Bian. Sebelumnya, anak-anaknya sudah duluan masuk ke mobil.
Bian membunyikan klakson, pamit pada Mona yang membalas lambaian tangan Jojo.
"Itu tetangga kamu perhatian banget, Yank. Aku liat, tiap kali kita keluar dia mengawasi kamu terus."
"Dia itu keponakan almarhum suami gue. Dari dulu dia emang selalu perhatian pada kami. Suami gue itu paman kesayangannya. Dia juga yang dulu menjodohkan gue sama ayahnya anak-anak." ujar Jojo.
"Kayaknya dia curiga deh sama aku, Yank." sahut Bian.
"Apanya yang dicurigai dari elu, By? Gue miskin, jelek, gak ada apa-apanya. Apanya yang mau lu ambil dari gue?" tanya Jojo, bingung.
Bian tersenyum.
"Aku mau ambil hati kamu!" bisik Bian, pelan, takut terdengar anak Jojo yang remaja.
"Heh, dodol. Yang sering diambil orang itu ginjal. Lu mau ngapain ambil hati gue? Emang laku dijual?" semprot Jojo.
"Aduhh!"
"Dia yang beg*, malah ngatain aku. Kapan kamu ilangin o'on-mu , Yank! Yank! Udah jadi emak tetep aja o'on!"
Bian geleng-geleng kepala menghadapi Jojo yang masih saja 'ajaib'.
Jojo nyengir.
"Mona tau gue punya banyak teman, By. Mereka juga sering ke rumah gue, bahkan ada yang nginep."
"Temen kamu yang nginep cewek apa cowok, Yank?" tanya Bian lagi.
"Cowok. Malahan waktu itu suamiku yang jemput dia."
"Waaaahhhhh!! Suami kamu gak marah, Yank?"
"Gak!"
Bian geleng-geleng kepala, antara bingung dan takjub.
"Siapa, Yank? Temen SMA atau..."
"Gue gak pernah lagi berhubungan dengan teman-teman di SMA dulu. Kecuali Yayan dan Rani, karna kami pernah reuni teman-teman SMP." jelas Jojo.
"Cowok yang nginep di rumah kamu itu siapa, Yank?" tanya Bian lagi.
"Kok bisa suami kamu gak cemburu sama dia?"
"Suami gue bukan tipe pencemburu, By. Lagian cowok itu Novri, Bang Rio juga kenal."
"Novri temen SMP kamu yang kita ketemu di tempat fotokopi dulu itu?" terka Bian.
"Kamu masih inget dia, By?"
Bian mengangguk.
"Lu datang gak waktu Dina ulang tahun yang katanya sambil reunian kelas kita dulu, By?" tanya Jojo.
Dia ingat waktu Dina menelponnya dan mengajaknya reunian. Jojo tidak bisa pergi karna dia baru saja melahirkan saat itu.
"Aku datang, Yank. Pengennya sih ketemu kamu di sana, tapi kamunya gak datang." keluh Bian sedih.
"Maunya sih pergi, By. Cuma waktu itu gue baru dua minggu lahiran dan juga baru pulang dari rumah emak. Masak mau balik lagi."
"Dede nanyain kamu terus, Yank!"
Jojo diam. Raut wajahnya nampak sedih.
__ADS_1
"Kenapa diam, Yank? Ngantuk ya?" tanya Bian.
"Tidur aja dulu kalo ngantuk, ntar aku bangunin kalo udah nyampe. Anak-anak juga udah pada tidur." kata Bian.
Jojo memutar badan, menghadap Bian yang tetap fokus menyetir.
"By, gue kangen ama Dede, juga Puput, Niza dan Buan."
Bian tersenyum lembut. Tangan kirinya menyentuh pipi Jojo, mengusapnya pelan.
"Astaghfirullah! Nih jantung kok jadi dangdutan, ya?!" batin Jojo saat merasakan jantungnya berdetak lebih kencang saat Bian menyentuh pipinya.
Jojo melepas tangan Bian di pipinya. Jojo tidak mau Bian merasakan panas di pipinya yang merona.
"Nanti kita ketemu Dede. Kalo Buan, Puput dan Niza aku gak bisa janji, karna aku juga belum pernah ketemu mereka lagi."
"Emang lu sering ketemu Dede?" tanya Jojo.
"Sering. Tiap weekend malah."
"Gimana kabar Dede sekarang, By?" tanya Jojo antusias. Sudah lama dia tidak bertemu Dede setelah pernikahan Dede dulu.
"Nanti kamu tanyakan sendiri kalo kita ketemuan." kata Bian.
"Kapan?"
"Ntar malem!"
Jojo manggut-manggut.
"Eh Yank, rumah adikmu di sebelah mana? Ini sudah masuk kota K." tanya Bian setelah mereka memasuki kota tempat tinggal adik bungsunya bersama keluarganya, juga emak dan bapak Jojo.
"Di jl xx sebelum kantor kejaksaan."
Dan sepuluh menit kemudian, mereka pun sampai di rumah Desti, adik Jojo.
"Assalamualaikum!" Jojo mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam. Juna... kalian mau kemana?" tanya emak kaget melihat kedatangan Jojo dan Bian.
Jojo dan anak-anaknya menyalami emak dan Bapak.
"Bian?"
Bian masuk dengan wajah tersenyum ramah. Ia juga salim pada kedua orang tua Jojo.
"Bian ngajak pulang bareng ke S, Mak. Mau ngajak emak sama bapak juga."
"Masuk, By. Makan dulu ya?" tawar emak.
"Gak usah, Tante. Tadi udah makan kok, di rumah." tolak Bian, halus.
"Udah, gak usah malu-malu. Yuk, makan." ajak emak.
Jojo yang udah duduk anteng di meja makan setelah mengambilkan nasi untuk anaknya yang kecil, bersiap mau makan.
"Kebiasaan!" sungut emak geram sambil menjitak kepala Jojo, geram.
Jojo cemberut sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit.
Emak melotot.
"Temannya diajak makan, Juna. Jangan mikir perut sendiri!" omel emak.
Jojo nyengir ke arah Bian yang berusaha menahan tawanya.
"Lupa, Mak!"
"Kebiasaan kamu, mah!" sungut emak.
Emak pun menyiapkan piring untuk Bian. Akhirnya Bian pun makan sambil sesekali membersihkan mulut si bocil Rey yang belepotan nasi.
"Bener-bener musti di scan tuh otaknya Juna, Pak. Liat aja, dia malah makan dengan tenangnya. Anaknya malah Bian yang ngurus. Perasaan dulu emak ngidamnya gak males waktu hamil Juna, kenapa Juna jadi males gitu." keluh emak pada bapak.
Bapak tersenyum.
"Sifat malas Juna nurun dari emak. Emak dulu kan males juga ngurus anak, bapak terus yang mengurus mereka sampai besar." ledek bapak.
"Kalo ama Mirza dulu sih emak maklum, Pak. Mirza kan suami Juna. Lah, si Bian kan temennya, masak dia yang ngurusin anaknya Juna? Emang gak beres tuh anak!" emak ngedumel, kesal.
"Bian aja yang mau kali, Mak! Gak mungkin Jojo yang suruh dia." bela bapak.
"Tapi gak gitu juga kali, Pak. Masak Jojo ngebiarin Bian mengurus anaknya. Malulah, Pak! Bian itu bukan siapa-siapanya Juna!" kata emak.
Bapak diam.
"Ya sudah. Nanti bicarakan baik-baik sama Juna." kata bapak.
Emak mengangguk setuju.
author : "Tatar aja, Mak. Anak emak itu emang gak ada akhlak. Tengil banget!"😏
Emak : "Emang! Malu-maluin aja!"😡
Jojo. : "Asepin aja terus, thor! Kalo gak angus, lu gue bikin gosong!😤😤😠
__ADS_1
author : 😳🏃♀️💨🏃♀️💨🏃♀️💨