
Jojo memandang dirinya di cermin. Pikirannya bergelut riuh. Kata-kata Bian terus mengusik hati dan pikirannya.
flashback on
"Yank! Bisakah kita bersama lagi seperti dulu? Aku ingin bahagia bersama kamu!"
Jojo terkejut mendengar pengakuan Bian.
"Jangan anggap aku gombalin kamu, Yank. Usia kita sudah bukan waktunya untuk menggombal lagi."
Bian menatap Jojo, sendu. Mata elangnya yang biasa terpancar tajam kini terlihat sayu.
"Lu capek, By?" tanya Jojo.
"Istirahatlah!" sarannya.
"Yank! Aku gak mau menundanya lagi. Aku serius dengan hubungan ini. Aku ingin kita bahagia."
Bian menggenggam erat tangan Jojo.
"Hubungan kita hanya persahabatan, By..."
"Gak, Yank! Aku masih sangat mencintaimu. Aku ingin kamu..."
"Gue gak pantas buat lu, By!!" seru Jojo, nyaris teriak. Untung ia masih sadar kalau mereka masih di rumah sakit.
"By, gue makasih banyak atas perhatian lu. Gue hargai ketulusan lu buat gue. Tapi maaf... gue gak bisa!" ujar Jojo, pelan, nyaris berbisik.
Bian menunduk diam. Dia tak tau lagi harus bagaimana lagi menaklukkan kekerasan hati Jojo.
"Sekeras itu hatimu, Yank!" keluh Bian dalam hati.
Jojo jadi tak enak hati. Rasa bersalah menumpuk di dalam hatinya.
flashback off
tittt tiiiittttt....
Suara klakson mobil Bian terdengar. Jojo bergegas meraih tasnya dan keluar menemui Bian.
"Gak masuk dulu, By?" tawar Jojo.
Bian turun dan masuk ke dalam rumah menemui anak-anak Jojo.
"Om pinjem dulu emaknya ya, Dek? Pulang nanti om beli'in Dedek es krim sama donat. Mau?" Bian berjongkok di depan Rey yang berdiri menatapnya.
"Mau, Om!"
"Dedek maunya apalagi?" tanya Bian sambil tersenyum menenangkan hati bocah kecil itu.
"Dedek mau eh cino, buah, main..."
"Dedek?!!" tegur Jojo, menahan mulut si bocil nyerocos lebih panjang lagi.
Rey pun mingkem seketika.
Bian tersenyum sambil mengacak lembut rambut bocil.
"Nanti om beli semua buat dedek, abang dan kakak juga ya?!" kata Bian.
Rey mengangguk, girang.
"Eh, Yank. Kita ajak aja dedek sama kakak, gimana?" usul Bian.
"Jangan, By. Ntar dedek nakal lagi di sana. Kacau nanti pestanya." tolak Jojo, gak enak.
"Dedek nakal gak?"
Bian menoleh pada Rey.
"Gak!" seraya menggeleng cepat, Rey pun menjawab tegas.
"Bagus! Sekarang ganti baju. Dedek ikut om sama emak, kakak juga!" pinta Bian.
Dan akhirnya berangkatlah mereka ke gedung tempat acara pelepasan kapolres lama dan penyambutan kapolres baru di kota itu.
"By, tolong jangan terlalu berlebihan memberi perhatian lu ke anak-anak gue. Ntar mereka terus bergantung ama lu, dan gue..."
__ADS_1
"Tolong jangan berpikiran buruk sama aku, Yank! Aku tulus sayang sama mereka, dan sudah menganggap mereka seperti anakku sendiri. Dan Dira juga menginginkan mereka menjadi saudaranya." pinta Bian. Matanya fokus ke depan, menatap jalan.
Jojo menghela napas panjang. Ia bingung harus berkata apalagi agar Bian mengerti posisinya saat ini.
Jojo benar-benar tidak ingin mempermalukan Arbyan dengan hadirnya Jojo dan anak-anaknya di kehidupan Bian.
Dan sayangnya Jojo juga tidak mengerti bagaimana dengan perasaan Bian. Seharusnya Jojo bisa membuka hati untuk menerima Bian yang benar-benar tulus mencintainya tanpa syarat.
Sesampai di gedung yang sudah ramai dengan undangan yang hadir, Bian melangkah masuk ke dalam ruangan dengan menggandeng tangan putri Jojo sambil menggendong bocil. Jojo berjalan gugup disampingnya.
Jojo pun semakin gugup saat melihat teman-teman Bian yang ternyata para pejabat dan perwira di Kepolisian.
Bian tau Jojo sangat gugup.
"Jangan grogi. Tenang aja, mereka gak gigit kok! Selow, Yank!" bisik Bian di telinga Jojo hingga ia pun bergidik, geli.
"Yuk aku kenalin sama Kapolres baru!" ajak Bian.
"Eh? Eee...gak ah, By. Malu!" Jojo mundur, perlahan.
Bian menarik tangan Jojo.
"Gak usah malu! Kalo kamu udah kenal siapa bapak Kapolres yang baru, kamu pasti gak malu lagi." bujuk Bian.
Jojo menatapnya ragu.
Bian menggandeng tangan Jojo dan menghampiri sepasang suami istri yang sedang asik menikmati makanan mereka.
"Assalamualaikum. Selamat siang, Pak!" sapa Bian.
Dan,
"Selamat siang!" Pasangan bapak Kapolres baru dan istri pun menoleh.
"Januar? Dede?"
Jojo melongo tak percaya menatap pasangan didepannya.
"Apa kabar, Jo?" sapa Jan.
Dede langsung memeluk Jojo yang masih terpukau.
"Surprise buat kamu, Yank! Inilah bapak Kapolres kita yang baru. Kompol Januar!" kata Bian sambil menunjuk Jan yang terkekeh.
Jojo tersenyum misterius.
"Waduh, Ar. Kalo Jojo udah mesem-mesem gini, gue curiga dia pasti ada maunya." ujar Jan, pura-pura ngeri.
"Bapak Kapolres, boleh dong saya bikin sim gratis tanpa tes." Jojo mengerjab-ngerjabkan matanya, seolah memelas.
Jan melengos.
"Tuh kan, Ar. Apa gue bilang? Bini lu ada maunya." kata Jan.
Dede cekikikan disebelahnya.
"Yank, jangan bikin malu ya? Kemarin kan udah aku buatin kamu sim?!" Bian menyenggol pelan tubuh mungil Jojo.
"Emang lu buatin Jojo sim apaan, Ar? Jangan-jangan sim yang itu lagi." ledek Jan.
Dede ikutan mengangguk sambil senyum-senyum geli.
Bian melotot.
"Bukan saatnya kalian bercanda ya? Ini bukan tempatnya!" sergah Bian.
Jan, Dede dan Jojo pun lemas.
"Gak asik lu, By!" sungut Jojo.
"He-eh! Garing!" sahut Dede.
"Arby bener! Habis acara ini baru kita puas-puasin kangennya ya?" usul Jan.
"Setuju!!!" sambut Jojo, Bian dan Dede, kompak.
Tak lama acara pun dimulai. Serah terima jabatan dari Kapolres lama ke Kapolres baru pun berlangsung hikmat.
__ADS_1
Jojo dan Bian tersenyum bahagia melihat sahabat mereka sudah berada dipuncak karir. Mereka mendoakan semoga kota mereka semakin aman dan damai dibawah pimpinan Kapolres yang baru.
Bian dan Jojo, Jan dan Dede, juga Dahlan beserta istri asik berbincang ketika seorang wanita cantik dan elegan menghampiri mereka. Wanita itu berbisik pada Dahlan sambil melirik Bian.
"Jangan macam-macam, Sin. Sebaiknya kamu pulang saja." Dahlan menatap tajam sepupunya.
"Pak Arby! Boleh saya bicara berdua sebentar?" pinta Sinta tanpa menggubris ucapan Dahlan.
Bian menggenggam erat tangan Jojo yang duduk disebelahnya.
"Sinta! Jangan bikin malu! Arbyan sudah punya istri!" cegah Dahlan yang mukanya memerah, menahan malu.
Dia tak enak hati pada Kapolres baru dan istrinya, juga pada Jojo yang disebutnya sebagai istri Bian.
"Tidak apa-apa, Pak!" ujar Jojo, tenang.
"By!"
Jojo memberi kode agar Bian mau berbicara pada Sinta.
Bian berdiri dari duduknya. Semua di meja itu melihat kearahnya. Sinta tersenyum gembira karena bisa bicara berdua dengan Arbyan.
"Maaf! Saya rasa antara saya dan anda tidak ada yang perlu dibicarakan. Karna kita tidak pernah ada hubungan apa-apa. Baik itu pertemanan atau pun yang lainnya." kata Bian tegas.
"Dan saya minta pada anda, nona. Tolong jangan pernah mengganggu istri saya. Kalau sampai terjadi lagi kejadian seperti yang kemarin, saya jamin anda tidak akan hidup dengan tenang!" ucap Bian sungguh-sungguh.
"Nah, Sinta. Sekarang kamu sudah dengarkan. Arbyan tidak pernah menganggap ada sesuatu antara kalian. Sekarang abang minta kamu pulang!" Dahlan menatap Sinta, tajam.
Semua pun menatap ke arah Sinta dengan beragam pemikiran.
"Tapi bang..."
"Apa kamu mau abang seret pulang?" ancam Dahlan.
Sinta diam, dan segera pergi dari tempat itu sambil menahan malu.
Awalnya dia mengira Arbyan mau berbicara berdua dengannya. Karena itu Sinta berniat membujuk dengan merayu, bahkan memaksa kalau Bian akan menolaknya lagi.
Tapi ternyata Bian telah mempermalukannya lebih dulu.
Bian mengenggam lembut tangan Jojo dan memberinya tatapan tenang pada wanita pujaannya.
"Maafkan saudara saya, Bu. Tidak seharusnya dia berbuat memalukan seperti itu." ucap Dahlan penuh sesal.
"Tidak apa-apa, Pak! Saya mengerti." jawab Jojo, kalem.
"Mengerti kalau sepupu bapak itu bucin sama Bian. Wkwkwkw!" Jojo tertawa dalam hati.
Dahlan tersenyum kecut, tak enak hati. Apalagi pada Bian yang sudah dianggapnya saudara.
"Siapa wanita itu, Jo?" bisik Dede.
"Fans beratnya Bian!"
"O." Dede manggut-manggut.
"Susah juga ya jadi istrinya Arby? Bisa tegangan tinggi tiap hari nahan cemburu kalo fans-fansnya Arby secantik dan seseksi itu!" bisik Dede lagi, mencoba menggoda Jojo.
Jojo mengangguk sambil terkekeh.
"Untungnya gue bukan bininya Bian ya, De." katanya.
Dede mengerutkan dahinya.
"Apa ini alasan lu menolak Arby, Jo?" tanya Dede, masih dengan berbisik.
Jojo mengangguk.
"Gue gak siap tensi gue nancep ke atas." gurau Jojo.
Dede mengangguk, paham.
"Masih aja lu minderan, Jo!" batin Dede.
Jojo pov
*Kita ibarat bumi dan langit, yang membuat aku sadar akan siapa aku. Kau tak sepatutnya memilihku, karna aku tak pantas untukmu.
__ADS_1
Kau seumpama raja, dan aku dayangnya. Laksana pungguk yang merindukan bulan, sayangnya aku tak berani menggapainya.
Biarlah hanya di hati saja, ku pendam cinta untukmu. Selamanya*.