Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
2.


__ADS_3

Pukul 10.00 wib


Bel tanda istirahat berakhir, berbunyi. Para siswa kembali masuk kekelasnya masing-masing.


Dan taklama Bu Endang pun masuk kedalam kelas diikuti seorang siswa.


"Eh, Jan, itu si Yayan jadi pindah kemari?" tanya Jojo pelan pada Januar yang duduk di sebelah Putra.


"Iya kali. Lo liat aja idungnya mekar gitu, berarti dia sukses pindah ke kelas kita." sahut Januar, juga pelan.


Jojo mengangguk.


"Bu, itu yang buluk ngapain ngintilin ibu di situ dari tadi?" tanya Rani, sengaja godain Yayan yang spontan merengut masam ke arah cowok lemah gemulai itu.


Seketika ruang kelas tertawa riuh mendengar celotehan Rani. Bu Endang juga ikutan terkikik geli.


"Tadi ibu nemu dia di sudut sekolah lagi ngitungin semut merah. Karna ibu kasihan jadi ibu ajak kemari." sahut bu Endang lucu, dan kelas pun semakin riuh menertawakan Yayan yang terus merengut, kesal.


"Sudah, jangan manyun aja. Duduk sana." perintah bu Endang.


"Terima kasih, bu." Yayan mengangguk hormat. Ia pun duduk di depan meja Jojo. Sebelum duduk Yayan dan Jojo toast dulu.


"Kenalin, gue Yayan." Yayan mengenalkan diri pada Bian, lalu pada Dede, yang sebangku dengannya.


"Arbyan."


"Dede."


Yayan menoleh pada Dede yang duduk disebelahnya. "Gadis mungil yang lucu. Mirip Jojo, tapi lebih pendiam." batinnya.


"Eh De, lo dari SMP mana?" tanya Yayan pada teman sebangkunya.


"SMPN***."


Yayan melirik Jojo yang duduk di belakang Dede.


"Murid pintar, Jo. Kalah lu." ejeknya pada Jojo.


"Gue dulu sebelum pindah kesekolahan lu juga dari SMP Negeri, Yan. Lupa lu?" Jojo berdecih pelan.


"Oh iya ya. Waktu itu lu pindah gara-gara lu berantem sama guru olahraga di sekolah itu kan?" Yayan mengangguk-angguk, bikin Jojo geram melihatnya.


"Jangan diingetin. Bikin bete aja lu." sungut Jojo tak suka.


Yayan nyengir.


"Sorry!"

__ADS_1


"Kalo lu dari SMP mana, Ar?" tanya Yayan beralih ke Bian yang dari tadi terus memperhatikan interaksi antara Yayan dan Jojo yang terlihat sangat akrab.


"YP**." jawab Bian singkat.


"Berarti lu satu sekolahan sama Robuan." Yayan menunjuk seorang cowok ganteng, tinggi putih dan cukup menarik hati para cewek.


Bian mengangguk.


"Lu sama Juna teman dekat ya?" tanya Bian setengah menyelidik.


Dari awal melihat Jojo, Bian sangat tertarik untuk mengenal gadis itu. Dimatanya, Jojo terlihat beda dari gadis lainnya.


"Kami sekelas semuanya deket sama Jojo. Sampai dia dipanggil Jojo juga kami yang memberi panggilan itu padanya. Ya kan, Jo?" Yayan menoleh pada Jojo yang hanya mengendikkan bahunya, cuek. Yayan mengernyit heran.


"Lu kenapa, Jo? Lagi PMS ya?" tanya Yayan heran melihat Jojo yang terlihat tidak bersemangat. Beda banget dari Jojo waktu SMP, yang selalu ceria dan penuh semangat.


"Jojo emang sikapnya selalu dingin gini ya, Yan?" tanya Bian ingin tau. Ia jadi ikutan Yayan manggil Juna dengan panggilan Jojo.


"Enggak. Makanya gue nanya kenapa dia jadi pendiem gini, biasanya dia yang paling heboh."


Yayan melirik Jojo yang masih asik dengan magernya. Kepalanya masih menempel di meja, entah dia pura-pura tidur atau tidur beneran.


Bian ikutan menoleh gadis yang duduk disebelahnya. Rasa penasarannya makin bertambah pada gadis mungil itu dan membuatnya tertarik untuk mengenal gadis itu lebih dekat.


Hari ketiga MOS,


"Adek-adek semua, hari ini terakhir kita MOS. Tulis siapa nama kakak OSIS favorit dan yang paling galak versi kalian. Kumpulkan. Kita akan memberi hadiah untuk kakak OSIS fav dan tergalak juga untuk siswa terbaik dan terfavorit bagi teman-teman pilihan kalian. Hari minggu nanti kita ke pantai untuk merayakan penerimaan kalian sebagai siswa-siswi baru di SMU MUH***. Mengerti?" Dwi Anggara, sang ketua OSIS, berpidato panjang kali lebar.


"Baiklah. Untuk hari ini MOS saya tutup dan dilanjutkan hari minggu nanti. Kalian bebas hari ini. Tapi jangan pulang dulu kalo bel pulang belum berbunyi. Paham?"


"Paham, kak!"


"Sekarang kalian boleh bubar."


Terdengar suara bersorak lega dari para siswa setelah membubarkan diri.


"Jo, menurut lu siapa Kakak OSIS fav lu n yang tergalak versi lu?" tanya Bian setelah duduk santai di kantin belakang sekolah bersama Jojo, Putra, dan Robuan.


"Gue sih ikut suara terbanyak." sahut Jojo.


"Tapi kan kita nulisnya sendiri-sendiri, Jo." celos Putra.


"Kalo gitu, lu aja yang tulis punya gue, Put." kata Jojo terus saja menikmati pecelnya.


"Gue juga Put, nitip." sambung Buan.


"Gak kreatif lu, Wan. Ngikut aja." Jojo melempar daun pisang bekas bungkus otak- otak ke arah Robuan yang duduk disebelah Bian. Robuan cuma nyengir kuda.

__ADS_1


"Hari minggu nanti gue mau tebar pesona ah." Robuan, si playboy kambuhan mulai akut penyakitnya.


"Lu naksir siapa emangnya, Wan?" tanya Putra tertarik. Adrenalinnya bangkit saat mendengar Buan akan berpetualang lagi.


Hah, lagi? Iya, lagi. Kan Robuan playboy kambuhan.😁


"Gue mau coba dari kelas kita dulu, Put. Maunya dimulai dari... Maileni."


Jojo mendongak. Makannya pun terhenti.


"Mbak gue tuh. Jangan coba-coba lu jadi'in eksperimen ya? Awas lu!" Jojo mengancam Buan dengan mengacungkan bogemnya.


"Mbak lu, Jo?"


Robuan, Putra dan Bian menatap lekat pada Jojo.


"Pacar abang lu?" tanya Putra, yang tau bahwa abang Jojo juga sekolah di SMU yang sama dengan mereka.


"Bukan. Dia temen SMP gue, juga masih saudara jauh bapak gue."


"Ooohhh!" ketiga cowok ganteng itu mengangguk, mengerti.


"Kalo Rosa, temen SMP lu juga kan? Boleh gak gue... "


"Yang lain terserah lu, yang penting jangan lu ganggu mbak gue." sahut Jojo lagi.


"Oke deh, petualangan gue dimulai dari Rosa. Lu bertiga dukung gue ya?" Buan minta dukungan.


"Aku sih yes!" kata Bian cepat.


"Cih, kayak mas Anang aja." Jojo membatin geli.


"Gue juga yes." sambung Putra.


Robuan melihat pada Jojo.


"Kalo lu, Jo?"


"Ntar gue daftarin lu deh ikut program di T7, atau di Ntv? Biar lu jadi bolang." Jojo sengaja menyindir Buan.


"Hah? Apa hubungannya, Jo?" Buan mengernyit, bingung.


"Lah...kan lu mau jadi petualang, Wan. Boleh tuh lu pilih program mana yang lu suka." jawab Jojo santai.


"Sa ae lu, Juminten. Nyindir gue...bilang bor!"


Robuan mengacak gemas kepala Jojo sampai gadis itu mencak-mencak kesal.

__ADS_1


"Rambut gue berantakan, dodol." sungutnya dengan mengerucutkan bibirnya, geram.


"Sudah jangan ngambek. Sini gue rapi'in." tangan Bian bergerak merapikan rambut Jojo yang berantakan. Gadis itu terkesiap, gugup.


__ADS_2