Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
Rindu


__ADS_3

Selesai mandi Bian tiduran dikasurnya melepas penat setelah selesai bertugas. Bian membuka dompetnya yang terdapat foto putri kecilnya.


"Maafkan Papa, Nak. Papa tidak bisa terus bersamamu." Bian menatap sendu foto putrinya.


flashback on


"Papa! Dira mau ikut Papa." rengek bocah lima tahun itu pada Papanya.


Bian membelai lembut rambut putrinya.


"Nanti Oma dan Opa gak punya teman kalo Dira pergi. Dira gak kasihan liat Oma Opa kesepian?"


Dira diam menunduk sedih. Bian membawa putrinya duduk dipangkuannya.


"Sayang, dengerin Papa. Papa janji setiap weekend Papa pasti pulang."


"Janji ya, Pa?"


Dira menatap papanya dengan mata berbinar, senang. Bian tersenyum dan mengangguk. Dira pun memeluk papanya, erat.


"Kalo Dira libur sekolah, Dira nanti boleh ya ke tempat Papa di sana sama Oma?"


"Iya!"


"Hore! Dira mau jalan-jalan ikut Papa!" sorak Dira, riang.


Bian tersenyum lagi.


"Mau kemana, Dira? Girang amat!"


"Mau ikut ke tempat dinas Papa, Oma."


"Kapan?" tanya Oma, ikutan girang. Dibayangannya ia akan jalan-jalan ke kota yang belum pernah ia kunjungi itu.


"Ntar, kalo Dira libur."


Oma pun mingkem seketika. Dan Bian terkekeh geli melihatnya.


flashback off


"Ar, ngopi yuk!"


Januar, sahabat Arbyan, dan juga teman SMAnya masuk ke dalam kamar Bian.


"Males ah, Jan! Lagi bete gue."


"Bete kenapa?"


Januar duduk di depan meja komputer.


"Gara-gara emak-emak bunting di lapangan tadi."


"Hah?"Januar melongo, tak mengerti.


"Lu tadi gak deket gue sih, Jan. Kalo lu tadi ada, lu pasti ikutan gila kayak gue."


"Kok bisa?"


Januar makin bingung.


"Tadi ada emak-emak lagi bunting gede, duduk jongkok di sebelah gue sambil ngenc*tin es mambo. Terus datang seorang cowok dan ikutan jongkok di depan si emak."


"Terus?"


Hahahahaaa!!!


Bian ngakak saat mengingat kejadian tadi.


"Lu tau gak Jan, ternyata cowok itu mantan pacarnya si emak. Dan dia belum move on dari si emak. Hahahaaa!!!" Bian ngakak lagi.


Januar ikut tertawa.


"Tiba-tiba, Jan... anak si emak datang."


"Ama bapaknya?" tanya Januar penasaran.


"Gak. Bapaknya cuma nganter dia, habis itu balik."


"Terus?"


Bian bergidik.


"Kenapa, Ar?"


"Gue ngeri waktu denger cowok itu ngaku kalo anaknya si emak tuh anaknya dia."


"Masak sih?"


"Bian mengangguk.


"Terus?" Januar makin penasaran.

__ADS_1


"Gue pergi! Pindah ke tempat lain."


"Yaaaa! Berarti lu gak nguping sampe tuntas dong!" Januar jadi lemas mendadak karena rasa penasarannya tidak terjawab tuntas.


"Nambah dosa gue nguping aib orang, Jan."


Bian mengambil cotton bud dan membersihkan telinganya.


"Lihat nih, hasil gue nguping tadi." Bian menunjukkan cutton bud bekasnya tadi.


"Hiii! Jorok lu, Ar! Udah berapa taun lu gak bersihin kuping lu! Gue yakin tuh kuping segala macam jamur udah nyatu di otak lu." Januar bergidik, jijik.


Bian terkekeh, lalu membuang cutton bud ke tong sampah.


"Jan, gue terbayang-bayang terus ama emak 'sengklek' tadi."


"Emak yang mana?"


"Yang lagi bunting."


Januar tertawa.


"Ar, masih banyak gadis dan janda di muka bumi ini. Jangan sampai deh lu suka sama bini orang." nasehat Januar.


"Bukan gitu, Jan. Liat tuh emak, gue jadi keinget Jojo."


Januar mengernyitkan dahinya.


"Lu tu ya, Ar. Semua makhluk yang berjenis kelamin cewek yang lu liat bikin lu inget Jojo mulu. Jangan bilang liat Vera lu jadi inget Jojo juga. Mamp*s lu dibejek-bejek ama Jojo kalo tau lu sama-sama'in dia ama Vera."


Januar dan Bian sama-sama terbahak mengingat Vera, monyet betina peliharaan Pak Somat, atasan mereka.


"Gak lah! Mana mungkin gue setega itu." sahut Bian, masih tertawa geli.


"Meski lincahnya mirip sih!" sambungnya.


Januar makin terbahak sambil mengangguk-angguk.


"Bener tuh. Bener!" sahutnya, geli.


"Eh Ar, ngomong-ngomong...apa bener tuh emak-emak mirip Jojo?"


"Gue gak yakin juga sih, Jan. Soalnya gak jelas keliatan mukanya, ke tutup rambut. Tapi cuek dan nyablaknya mirip banget. Juga cara dia ngomong dan duduknya yang semaunya."


"Jojo tubuhnya mungil, Ar. Kira-kira ukuran body tuh emak mirip Jojo gak, Ar?" tanya Januar, penasaran.


"Gak. Tuh emak badannya lebih mirip tedmon, bulet. Hee!" Bian geli sendiri.


"Siapa tau Jojo kalo lagi hamil badannya juga melar kayak tedmon, Ar." sahut Januar.


"Bagaimana pun keadaan Jojo, gue akan menerimanya setulus hati, Jan. Karna cinta gue pada Jojo tak pernah memandang fisiknya, tapi hatinya."


"Segitu cintanya elu ama Jojo, Ar. Salut gue ama lu!" Januar mengacungkan jempolnya.


Bian meringis.


"Elu tau, Jan. Bagi gue, Jojo yang terbaik. Kalo aja dulu gue gak dipaksa nikah sama anak temen nyokap gue, gue pasti udah melamar Jojo." Bian pun curhat, mengungkapkan isi hatinya pada Januar.


Bian dan Januar akrab setelah sama-sama masuk di Kepolisian hingga mereka ditugaskan ditempat yang sama. Dan sekarang mereka bersahabat.


"Serius, Ar?"


Bian mengangguk.


"Gue pernah berjanji pada Dede kalo gue akan melamar Jojo."


"Pasti sekarang Jojo sudah berkeluarga, Ar."


"Gue akan tunggu Jojo jadi janda."


"Hah?!"


Januar tergelak.


"Lu nyumpahin lakinya Jojo biar cepet mati, Ar?" tanyanya.


Bian nyengir.


"Gue rasa lu hanya terobsesi sama Jojo, Ar. Lu penasaran karna lu dulu gak bisa ngeyakinin dia tentang kebenaran yang sebenarnya."


"Menurut lu gue hanya terobsesi sama Jojo, Jan?" tanya Bian.


Januar mengangguk.


Bian tersenyum.


"Sepuluh tahun, Jan. Selama itu gue mencoba untuk dekat dengan gadis lain, tapi tetap saja gue gak bisa melupakan Jojo. Bayang-bayang dia terus melekat di memori gue. Bahkan, almarhumah istri gue pun gak mampu menghapus nama Jojo di hati gue. Apa itu yang namanya obsesi, Jan?" Bian terpaku, sedih.


"Semakin gue coba melupakan Jojo, semakin besar rindu gue sama dia. Semua tawanya, ngambeknya, juteknya, dan tingkah ajaib lainnya masih lekat di ingatan gue. Gue kangen banget sama gadis tomboy gue, Jan!"


Januar menepuk pelan bahu Bian.

__ADS_1


"Semoga impian lu tercapai, Ar!"


"Iya. Semoga!"


"Aamiin, Ar!"


"Aamiin!" ucap Bian sambil mengusap wajahnya.


Januar terkekeh, geli.


"Lu kayak ABG aja, Ar. ABG yang lagi nunggu jandanya orang." ledek Januar.


"Gak pa-pa, Jan. Gue juga duda, jadi pantes-pantes aja kalo dapet janda mah. Dari pada elu yang belum dapet apa-apa!" sindir Bian.


Gantian Januar yang nyengir.


"Gue belum nemu yang cocok aja, Ar!"


"Bukan karna lu terlalu pemilih?"


"Gak! Untuk saat ini belum ada yang sreg aja di hati gue."


Bian diam menatap Januar, dalam.


"Lu enak, Jan. Ortu lu gak pernah maksa lu, apalagi ngejodohin lu dengan gadis pilihan mereka. Gak kayak gue!" Bian kembali lesu.


"Sudahlah, Ar. Yang lalu biarlah berlalu. Kita mulai hidup yang baru!" Januar memberi Bian motivasi dan membangkitkan gairah Bian untuk terus mencari cinta pertamanya.


"Semoga kita cepat bertemu, Yank. Dan semoga saja status kita sama. Aku kangen kamu, Jojo sayang!"


Bian mengambil gitar yang tergeletak di samping tempat tidurnya.


Jreeengggg! Gitar pun mulai dipetik.


🎵Telah ku mencoba


segala yang ada


'tuk memilikimu


Telah habis cara


ungkapkan semua


isi dihatiku


Telah sekian lama


kau tak pernah bisa


mengerti diriku


Begitu beratnya


dirimu mencoba


'tuk mencintaiku


Kau akan selalu di hati ini


'kan ku simpan rasa cintaku ini


biarlah selalu seperti ini


biar rindu ini s'lalu untukmu


Telah habis cara ungkapkan


semua isi di hatiku


telah sekian lama


kau tak pernah bisa mengerti diriku


Kau akan selalu di hati ini


'kan ku simpan rasa cintaku ini


biarlah selalu seperti ini


biar rindu ini s'lalu untukmu


Biarlah selalu seperti ini


Biar rindu ini s'lalu untukmu💖🎶


 


💕 Selalu Untukmu - Anima 💕


 

__ADS_1


Januar menikmati lagu yang dinyanyikan Bian. Lagu yang mengalun merdu itu seakan mengungkapkan kerinduan Bian yang teramat dalam pada sosok kekasihnya, cinta pertamanya. Jojo!


"Gue tau lu tulus, Ar. Cinta lu ke Jojo nyata, bukan obsesi belaka. Semoga kalian masih berjodoh!"


__ADS_2