
Bian menatap sendu pasangan yang sedang duduk berduaan di belakang kelas XIIB.
"Apa aku masih bisa menahan perasaan ini lebih lama lagi?"
Hufh!!
Bian mengusap kasar wajahnya, lalu beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Ditempat itu juga, Adit sedang menatap lekat Jojo yang duduk anteng sambil menikmati keripik singkong pedes yang dibelinya tadi di kantin.
"Kamu kemarin kencan sama Arbyan ya, Juna?" tanya Adit tiba-tiba hingga membuat Jojo tersedak dan merasakan pedas dihidungnya.
Jojo menoleh ke arah Adit yang menatapnya tajam. Jojo membuang pandangannya lagi.
"Juna!"
Adit memegang bahu Jojo agar menatapnya.
"Aku mau kamu jadi pacarku!"
"Hah?!"
"Gue jamin saat ini tampang gue beneran mirip ongki lagi bengong." batin Jojo.
"Juna!" Adit menggenggam tangan Jojo dan menatapnya dalam.
"Jangan bilang aku terlambat, Juna."
"Gug...gu..."
"Aku gak bisa memendam perasaanku lebih lama lagi, Juna. Maafkan aku yang pernah bikin kamu kecewa, tapi antara aku dan Ayu tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya teman." Adit mencurahkan segala perasaannya pada Jojo.
Jojo melepaskan tangannya dari genggaman Adit.
"Dit, gue gak berhak melarang lu temenan sama siapa saja. Gue juga gak yakin gimana perasaan gue ama lu."
"Jangan bilang kamu suka sama Arbyan, Jun!" sahut Adit cepat.
"Berapa kali gue harus bilang ke elu kalo gue dan Bian..."
"Aku cemburu, Juna!" sentak Adit, membuat Jojo terdiam.
"Aku cemburu lihat kamu jalan bareng Arbyan. Duduk dan dekat dengannya. Aku gak suka, Juna!" Adit menatap dalam mata Jojo.
"Kita gak ada hubungan..."
"Makanya aku mau kamu jadi pacar aku, Juna. Aku mau kamu jadi milik aku, jadi kekasihku." lagi-lagi Adit memotong perkataan Jojo.
"Jangan mainkan perasaanku, Juna. Aku..."
"Lu yang mainin perasaan gue, Dit. Lu tau gue suka ama lu, makanya lu bisa bersikap semau lu. Lu kira gue apaan?" Jojo mencoba bersikap tenang. Padahal sebenarnya Jojo kesel menghadapi sikap Adit yang seolah merasa dia yang tersakiti.
"Jujur, Dit. Awal liat lu gue udah suka ama lu. Sikap cuek dan dingin lu ke gue, itu gue suka. Tapi gue kecewa setelah tau sikap lu yang sebenarnya."
"Emangnya aku kenapa?" tanya Adit penasaran.
"Ternyata sikap cuek dan dingin lu cuma ke gue, Dit. Dan itu yang bikin gue kecewa."
"Apa ini bukan alasanmu menolakku, Juna?" tanya Adit pelan. Adit berpikir Jojo hanya beralasan saja untuk menolaknya.
Jojo tersenyum kecut.
"Lu harusnya bisa berpikir lurus, Dit. Lu cemburu sama Bian, sedangkan sikap lu dengan teman-teman cewek lu...ah, susah gue ngomongnya. Lu juga kayaknya gak nyadar ama sikap lu."
Jojo beranjak dari duduknya. Adit mendongak menatapnya. Tangannya masih memegang tangan Jojo.
"Maaf, Dit. Gue gak bisa jadi cewek lu, selama lu belum mengerti dengan semua yang gue bilang tadi."
Jojo melepaskan tangannya dari pegangan Adit, dan berlalu pergi meninggalkan Adit yang masih terpaku ditempat duduknya.
"Maaf, Dit. Kayaknya selama ini gue hanya mengagumi lu, gak lebih."
Jojo berjalan tanpa menoleh lagi ke Adit. Dadanya seakan berdetak lebih cepat dan ia merasakan perasaannya campur aduk, antara senang dan kecewa. Senang karena ternyata Adit juga menyukainya, dan kecewa karena Adit tidak seperti yang dia bayangkan.
Jojo masuk ke dalam kelas dan langsung menghempaskan bokongnya di bangku.
Bian yang menyangga kepalanya di meja, menatapnya bingung.
"Kenapa Jojo mukanya kecut banget? Apa dia berantem sama Adit?"
"Acem banget muka lu, Jo? Abis makan rujak ya?" goda Bian.
"Ini malah lebih kecut dari rujak, By." Jojo ikut merebahkan kepalanya di atas meja, berhadapan dengan Bian.
Bian menaikkan sebelah alisnya.
"Adit nembak gue."
"Seneng dong?"
__ADS_1
"Kalo seneng muka gue gak kecut gini, By." Jojo merengut.
"Lho?!"
Bian mengernyit bingung.
"Adit nembak gue karena dia cemburu ama lu."
Bian duduk dengan tegak.
"Serius, Jo?"
Jojo mengangguk, masih dengan posisi malasnya.
Bian tertawa.
"Lucu ya?" kata Jojo.
Bian mengangguk.
"Nembak cewek kok gak kreatif gitu. Masak nembak cuma gara-gara cemburu. Takut hilang kali fans berat dia, Jo?" kata Bian sambil tertawa geli.
"Iya." sahut Jojo.
"Makanya gue tolak langsung. Dia kira gue cewek apaan?"
"Lu gak nyesel udah nolak Adit, Jo? Lu kan suka ama dia."
"Gue suka bukan berarti gue pengen jadi pacar dia, By. Gue sadar, kalo selama ini gue hanya mengagumi sosok Adit. Gak pernah kepikiran kalo gue bakal jadian sama dia."
"Apa lu udah punya pil, Jo?" tanya Bian, hati-hati.
Jojo melotot. Dia bergegas bangun dan duduk tepat menghadap Bian.
"Gue gak sakit, By!" sahutnya cepat, dan itu membuat Bian terkekeh.
"Maksud gue, pil itu pria idaman lain, Jo. Mungkin gak lu punya cowok idaman lain makanya lu nolak Adit?"
Jojo diam, tampak sedang berpikir.
"Gue juga gak tau, By. Gue sendiri bingung sama perasaan gue." keluh Jojo.
Bian mengacak rambut Jojo.
"Udah, Jangan sampai lu stress, gimana kalo ntar sore kita jalan-jalan?" ajak Bian.
"Kemana?"
Rona bahagia Jojo terpancar dari wajah sumringahnya.
"Gue suka itu." Jojo mengancungkan jempolnya.
"Ntar sore gue jemput lu! Siap-siap jam 4 ya?"
"Wuokeehh!!"
Sorenya, Bian bersiap pergi ke rumah Jojo. Baru saja ia menaiki motornya, terdengar suara motor berhenti didekatnya.
"Arby!" suara centil nan manja membuat Bian langsung hilang semangat.
"Kenapa si centil ini bisa nyampe sini?" gerutu Bian dalam hati.
Ria berdiri di sebelah Bian yang masih duduk di atas motor. Senyum manisnya terlihat cerah.
"Tau dari mana rumah gue?" tanya Bian tanpa menoleh ke Ria.
"Puput yang ngasih tau Ia."
"Sudah gue duga!" Bian menepuk jidatnya. "Awas lu, Put. Tunggu aja pembalasan gue." umpat Bian kesal, dalam hati.
"Arby mau kemana? Ia ganggu ya?"
"Gue ada janji sama temen gue. Maaf ya, gue tinggal." Bian memundurkan motornya, bersiap untuk pergi.
"Arby kok gitu sih? Ia baru datang masak mau ditinggal?" Ria merajuk, manja.
"Gue udah janji, gak enak kalo harus dibatalin." Bian menghidupkan mesin motornya.
"Tapi kan..."
Ria hanya bisa melongo melihat Arbyan pergi tanpa menoleh lagi kearahnya.
"Kamu harus jadi milikku, Arbyan!"
Tak sampai sepuluh menit Bian sudah sampai di rumah Jojo. Dan ia melihat Jojo sudah bersiap, menunggunya.
"Buruan naik, Jo." perintah Bian.
"Gak bilang emak dulu, By?"
__ADS_1
Bian buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah Jojo untuk menemui emak. Dan tak lama kemudian, ia pun bergegas naik diikuti Jojo dan menghidupkan motornya lalu melaju kencang keluar dari komplek rumah Jojo.
"By?"
"Hm."
"Lu lagi dikejar setan ya?" tanya Jojo yang heran melihat Bian nampak begitu terburu-buru.
"Gue gak mau Ria ngikutin kita, Jo."
"Hah?" Jojo mengernyit bingung.
"Ntar gue ceritain kalo kita udah nyampe."
Jojo hanya mengangguk meski masih bingung. Ia pun diam saja sampai Bian menghentikan motornya di sebuah kafe.
"Kita ngobrolnya di sini aja."
Bian menggenggam tangan Jojo memasuki kafe itu. Bian mengambil tempat duduk paling pojok.
"Mau pesen apa, Jo?" tanya Bian sambil melihat-lihat menu.
"Serah lu!"
Bian pun memesan makanan dan minuman pada pelayan yang mencatat pesanannya.
"Sekarang lu cerita kenapa lu buru-buru tadi?" tanya Jojo penasaran, setelah Bian duduk santai.
"Ria ke rumah gue."
"Serius?!" Jojo menatap Bian dengan tatapan tajam.
"Biasa aja matanya, jangan melotot gitu. Ngeri gue liatnya." Bian menutup mata Jojo dengan tangannya.
"Ishh!" Jojo menepis tangan Bian, kesal.
Bian pun tertawa.
"Puput yang kasih tau rumah gue sama Ria. Gue gak tau gimana bisa menghindar lagi dari cewek gila itu. Dasar Puput sialan!" Bian mengumpat kesal.
"Hish By, gak boleh gitu. Kalo lu bucin ama Ria, gue duluan loh yang tepuk tangan." goda Jojo.
Bian cemberut.
"Lu sama gilanya ama Puput, Jo." sungut Bian kesal.
"Gue cium lu di depan Ria kalo lu sampai berani lakuin itu, Jo!" ancam Bian yang beraninya cuma dalam hati.
Jojo terkekeh. Dia merasa geli melihat Bian yang cemberut kesal, menatapnya.
"Emang hanya Buan yang ngerti gue. Lu berdua emang mau gue jatuh dalam perangkap Ria kan, Jo?"
Bian benar-benar kesal pada Jojo. Bian merasa Jojo sengaja mendekatkannya dengan Ria.
Jojo meraih tangan Bian dan menggenggamnya erat.
"By, semua tergantung elu. Kalo lu gak suka Ria deketin lu, ngomong terus terang. Kalo dia datang jangan lu tinggal pergi, itu justru membuatnya makin penasaran ama lu."
Bian diam menunggu Jojo selesai bicara.
"Ria itu tipe cewek yang tidak suka dikejar, tapi dianya yang suka mengejar. Paham lu?"
Bian menggeleng.
Jojo tersenyum geli. "Gue gak nyangka lu polos juga, By."
"Lu tau kenapa Ria suka ama lu dari pada Puput, By?"
Bian menggeleng lagi.
"Karna Puput terlalu over mendekati Ria, lu kan enggak."
Jojo melihat Bian masih diam.
"Belum ngerti juga?" tanya Jojo.
"Gue paham maksud lu, Jo. Ria penasaran ama gue yang selalu nolak dia kan?" kata Bian.
"Anak pinter." Jojo mengacak-acak rambut Bian hingga berantakan. Tapi justru menambah poin ketampanan cowok itu.
"Beruntung banget cewek yang bisa dapetin lu, By. Cowok yang susah jatuh cinta kayak lu, pasti cowok yang setia sama pasangannya."
Makanan yang mereka pesan pun datang. Jojo nampak kurang bernapsu untuk makan.
"Jo, hari ini hari lu ama gue. Lupakan soal Adit dan Ria. Mending kita makan dan hepi-hepi." ujar Bian, menenangkan Jojo.
Jojo mengangguk dengan senyum dipaksakan. Bian menyuapi Jojo seperti biasanya. Tak digubrisnya tatapan takjub serta sinis dari pengunjung lain.
"Sampai kapan lika liku ini akan berakhir?"
__ADS_1
Ria 👇