Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
Tentang Dede


__ADS_3

🎵Ku pejamkan mata ini


mencoba 'tuk melupakan


segala kenangan indah


tentang dirimu tentang mimpiku


Semakin aku mencoba


bayangmu semakin nyata


merasuk hingga ke jiwa


Tuhan tolonglah...diriku


Entah dimana dirimu berada


hampa terasa hidupku tanpa dirimu


apakah di sana kau rindukan aku


seperti diriku yang s'lalu merindukanmu


selalu merindukanmu


Tak bisa aku ingkari


engkaulah satu-satunya


yang bisa membuat jiwaku


yang pernah mati menjadi berarti


Namun kini kau menghilang


bagaikan ditelan bumi


tak pernahkah kau sadari


arti cintamu untukku


Entah dimana dirimu berada


hampa terasa hidupku tanpa dirimu


apakah di sana kau rindukan aku


seperti diriku yang s'lalu merindukanmu


selalu merindukanmu 🎶


  ***Hampa - Ari Lasso***


 


Januar menepuk bahu Arbyan, pelan. Dan duda ganteng itu pun menoleh.


"Jojo gak dateng, Ar. Dia gak tau kita reunian."


Bian mengerutkan dahinya.


"Lu tau darimana, Jan?"


"Rio tadi bilang waktu Saras nanyain Jojo."


Bian menunduk lesu.


"Kayaknya kita emang gak jodoh, Yank!"


"Tapi Saras bilang Jojo sekarang sedang ada di rumah emaknya. Dia mudik ke sini bareng Rio."


Bian mendongak, menatap Januar.


"Pengen ketemu ya?" tebak Januar.


Bian nyengir. Januar tersenyum, geli.


"Gaklah, Jan. Jojo sekarang udah punya suami. Gue gak mau suami Jojo cemburu kalo gue ketemuan ama Jojo." elak Bian.


Sesungguhnya Bian ingin sekali bertemu Jojo. Rindunya seakan meronta-ronta ingin segera melihat senyuman gadis tomboynya lagi.

__ADS_1


"Bagus deh kalo lu bisa mikir sehat. Berarti lu masih waras."


"Sialan, lu. Muji apa ngeledek gue, lu?!" Bian menoyor jidat Januar, pelan.


Januar terkekeh, geli.


"Gue pulang duluan ya, Jan? Noh liat, Dira kelihatannya udah capek banget." Bian melihat putrinya sedang bersandar di sebuah kursi.


Dan Bian pun pamit pada Januar dan teman-temannya yang lain.


Januar juga ikutan pamit. Dan ketika ia sedang berjalan menuju motornya, Januar melihat sesuatu yang tidak harus dilihatnya.


Dede Pov


Aku baru saja keluar dari toilet yang tersedia di pantai itu ketika melihat sosok yang sangat kukenal baik.


Sosok itu adalah suamiku, Erza, yang sedang berangkulan mesra dengan seorang wanita yang tidak ku kenal.


"Ternyata kamu masih saja melakukan ini padaku, Mas."


Aku tertunduk, sedih. Sakit hatiku sudah tidak bisa ku tahan lagi.


Entah sudah ke berapa kalinya Erza mengkhianatiku. Dan berkali-kali sudah aku coba untuk memaafkannya.


Tapi kali ini, rasanya aku sudah tak sanggup lagi. Sikapnya kali ini sudah tidak bisa ku tolerir lagi.


"Mas!"


Ku cegat suamiku yang sedang memeluk pinggang wanita selingkuhannya. Ku lihat Erza tersentak kaget.


"Sa...yang?"


Erza nampak gugup. Pelukannya pun terlepas dari pinggang wanita itu.


Ku tatap lekat wanita yang bersama suamiku, yang juga tengah menatapku sinis.


"Ini...istrimu, Mas?" tanya wanita itu pada Erza.


Ku lihat Erza tampak kikuk.


"Masih cantikan aku, Mas, daripada istrimu. Pantes kamu cari kepuasan di luar kalo istrimu jelek, item plus dekil kayak gini." ejek wanita itu sinis padaku.


"Kenapa kamu diam, Mas? Seneng ya aku di ejek sama pelakor ini?" tanyaku pada mas Erza yang hanya menunduk diam.


Plakk!!!


Tamparan keras ku layangkan ke wajah pelakor itu.


"Hati-hati kalau bicara! Biarpun saya jelek, tapi gak busuk hati seperti anda! Punya wajah cantik tapi gak laku, makanya jadi pelakor!" cercaku, akhirnya yang sudah tidak bisa menahan diri lagi.


"Kurang ajar, lu!" mata sang pelakor nyaris keluar saat melotot marah padaku.


"Mas, istri sialanmu ini sudah berani menamparku. Tampar dia, Mas!" wanita itu merengek manja pada Erza sambil memegang pipinya yang membiru bercap lima jari tanganku.


Erza serba salah. Dan melihatnya seperti itu membuatku makin muak.


"Kamu!" ku tunjuk wajah Erza dengan berani.


"Besok ku tunggu tanda tanganmu di surat perceraian kita!" kataku sambil menatap tajam, Erza.


"Sayang, aku..."


Aku melangkah pergi meninggalkan pasangan yang menjijikkan itu. Sudah saatnya bagiku melepaskan Erza yang tidak pernah mencintaiku setulus hati.


Back to author


"Wanita sialan! Kamu pikir bisa pergi begitu saja setelah berani menamparku?!" sang pelakor menarik jilbab Dede hingga terduduk dan jatuh.


"Jangan kira suamimu akan kembali padamu. Dia tidak bisa meninggalkan aku karna saat ini aku sedang mengandung anaknya." pelakor itu dengan membabi buta terus menyerang Dede tanpa memberi ampun.


Dan sialnya bagi Dede, suaminya hanya diam melihatnya disakiti fisik dan batinnya oleh wanita simpanannya.


Tiba-tiba,


"Hentikan! Ini sudah melanggar hukum. Anda mau saya laporkan ke polisi?"


Januar datang dan menghentikan aksi brutal sang pelakor. Dibantunya Dede berdiri dan merapikan jilbab Dede yang berantakan.


"Siapa anda?" Erza menatap Januar tajam. Ada rasa cemburu melihat perlakuan lembut Januar pada Dede.


"Jangan-jangan...ini selingkuhan istrimu, Mas. Dia sok suci didepanmu..."

__ADS_1


"Heh, wanita sund*l! Jangan memutar balikkan fakta. Sudah jelas kalian berselingkuh dan ketahuan. Sekarang kamu menuduh dia tanpa bukti!" bentak Januar, ketus.


Wanita itu meringis sinis.


"Bukti sudah ada masih saja mengelak!" sindirnya.


Erza masih menatap Januar, kesal. Tangannya terkepal, menahan amarah.


"Dasar muka badak! Kami sedang reuni SMA di sini. Dan lu..."


Januar menunjuk Erza.


"Pasti Dede minta izin lu kan mau ikut reunian sekolahnya?" tanya Januar.


Erza diam.


Minggu kemarin memang Dede pernah minta izin untuk ikut reuni SMAnya.


"Jangan percaya, Mas. Itu hanya alasan dia aja untuk menutupi kelakuan bejatnya." si pelakor menghasut Erza.


Dede yang kesal dengan sikap si pelakor, dengan kuat menarik rambut sang wanita penggoda hingga rambutnya rontok digenggaman Dede.


"Aduh! Lepasin, wanita sial!!!" teriak wanita itu kesakitan.


"Lepasin, De! Jangan kotori tangan lu dengan membalasnya. Biar Tuhan yang membalasnya nanti."


Januar menahan tangan Dede dan menyuruhnya melepaskan rambut pelakor itu.


Dede pun menurut dan melepaskan genggamannya. Dan itu membuat Erza makin cemburu melihat Januar memegang tangan Dede.


"Lepasin tangan lu dari bini gue!"


Erza menarik tangan Januar. Lalu menggenggam tangan Dede.


"Sayang, aku minta maaf ya? Kita bicarakan nanti di rumah..."


"Gak ada yang perlu dibicarakan lagi. Tekadku sudah bulat. Kita cerai!"


Dede pun pergi tanpa menoleh lagi. Erza segera mengejarnya.


"Sebaiknya anda pergi sekarang, sebelum saya antar anda ke kantor polisi." ancam Januar pada si pelakor.


"Jangan sembarangan ngomong! Saya..."


"Saya melihat sendiri anda sudah mencaci istri dari suaminya yang anda rebut. Cih, dasar tidak tau malu! Anda yang merebut suaminya, anda pula yang mencacinya. Na'udzubillahi min dzalik! Dunia sudah terbalik!" Januar menepuk jidatnya pelan.


Sang pelakor di buat mati kutu. Januar pun pergi setelah puas menceramahi si pelakor.


Sesampai dirumahnya, Dede bergegas masuk kekamarnya dan mengisi bajunya serta perlengkapannya yang lain dan memasukkannya ke dalam koper.


Setelah itu Dede pun memasukkan baju dan perlengkapan anaknya ke


dalam koper kecil.


"Sayang! Maafin aku!" Erza datang dan langsung menahan Dede agar tidak pergi.


"Aku akan ke rumah ibu. Bella aku bawa. Besok aku tunggu surat cerai dari kamu."


"Aku gak mau, Sayang. Aku gak mau kita pisah!" sahut Erza cepat.


"Kamu kira aku mau kamu selingkuhi terus-terusan? Kamu gak pernah berubah, Mas. Aku udah gak tahan lagi!" sentak Dede, ketus.


"Apa pria tadi mantanmu waktu di SMA dulu?" tanya Erza tiba-tiba.


Dede tersenyum sinis.


"Inilah yang namanya maling teriak maling." sindirnya.


"Aku tidak picik seperti kamu, Mas. Jadi jangan coba memutar balikkan fakta!" sahut Dede, ketus.


Sebelumnya Dede tidak pernah berkata kasar, apalagi bersikap kurang ajar pada suaminya meskipun suaminya sudah berkali-kali mengecewakannya.


Tapi kali ini Dede tidak mau bersikap sabar lagi. Suaminya harus diberi pelajaran biar sadar.


"Sebelumnya kamu tidak pernah keras seperti ini, De. Kamu membuatku kaget dengan sikapmu kali ini." Erza ngeri melihat Dede yang marah.


"Sekarang kamu tau kalau aku juga bisa marah, Mas. Aku pergi!" Dede pergi tanpa menggubris panggilan Erza.


"Gue harus kuat demi Bella. Bismillahirrahmanirrohiim!"


Setelah mengucapkan kata 'bismillah' Dede melangkah pergi meninggalkan rumah yang sudah dua tahun ini memberikan kenangan yang sangat pahit dalam kehidupannya.

__ADS_1


"Selamat datang hidup baru. Semoga aku menemukan kebahagiaan di luar sana." do'a Dede.


__ADS_2