Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
Fans Berat


__ADS_3

Jojo memberanikan diri memasuki Polres tempat Bian bertugas. Meski dengan kaki gemetar Jojo berusaha tetap tegak berjalan, untuk menutupi rasa groginya.


"Rese banget nih Bian. Bukannya keluar sebentar, malah maksa nyuruh aku masuk ke kantornya. Dia gak tau apa aku takut sama polisi?!" Jojo ngedumel dalam hati.


"Permisi, Pak. Ruangannya pak Arbyan dimana, ya?" tanya Jojo kikuk.


Sumpah mati, dengkul Jojo lemes banget saat menyadari mata-mata di ruangan itu menatapnya lekat.


"Mau ngapain?" tanya seorang Polisi yang bernama Andra, tertera di seragamnya.


"Mau mengantarkan ini!" Jojo mengacungkan rantang ditangannya.


"Apa itu?" tanyanya lagi.


"Makanan, Pak!"


"Buka!" perintahnya.


Jojo pun membuka satu persatu rantang yang dibawanya.


"Ngapain di situ, Yank?"


Bian berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Matanya menatap tajam Andra, anak buahnya, yang menahan Jojo bertemu dengannya.


"Masuk sini!" kata Bian.


Jojo pun kembali membereskan rantang yang dibawanya dan masuk keruangan Bian.


"Mamp*s lu, An! Siap-siap lu jadi penutup makan siangnya Pak Arby!"


Beni dan Desta cekikikan menertawakan Andra yang terdiam kaku ditempatnya.


"Wanita itu...pacarnya Pak Arby?" tanya Andra, pelan.


Dan Andra pun terduduk lemas melihat dua rekannya itu mengangguk, mantap. Ia pun bergidik ngeri mengingat tatapan Bian padanya tadi.


"Habislah gue!" gumamnya, lemas. Kembali rekan-rekannya yang di ruangan itu menertawakannya.


Tiba-tiba seorang wanita cantik masuk tanpa permisi dan berdiri angkuh di depan pintu ruangan Bian.


Sesaat wanita itu memperbaiki dandanannya dan pakaiannya yang seksi. Kemudian wanita itu masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Semua yang ada di ruangan saling pandang. Mereka mengenal wanita seksi yang barusan masuk ke dalam ruangan Bian.


"Bentar lagi bakalan perang, guys!" celutuk Desta, yang diangguki lainnya.


Dan di dalam ruangan Bian,


"Hai, bang Arby!"


Dengan suara manja seorang wanita cantik nan seksi menyapa Arbyan yang sedang makan. Didepannya, Jojo duduk tenang menunggu Bian makan.


Bian cuek dan terus memakan makanannya tanpa menggubris kedatangan wanita tersebut.


"Kamu siapa?" tanya Sinta, si wanita seksi, sambil menatap tajam ke arah Jojo.


"Saya penjual makanan online, Bu!" jawab Jojo, ramah.


"Kenapa masih di sini? Apa belum dibayar pesanannya?" tanya Sinta lagi.


"Berapa yang harus dibayar? Nih!" Sinta memberikan selembar uang seratus ribu. "Sisanya ambil buat kamu!" katanya lagi.

__ADS_1


"Udah kok, Bu. Saya lagi nungguin rantang saya." Jojo menunjuk tempat Arbyan makan.


Sinta mengerutkan dahinya, heran.


"Setau saya, yang jualan online biasanya gak pernah pake rantangan. Kamu modus ya?" tuduhnya sambil menunjuk hidung Jojo.


"Maaf, Bu. Itu permintaannya pak Arbyan. Malahan tadi dia minta saya suapin, cuma saya hari ini lagi males nyuapin dia. Ya kan, Pak?" Jojo mengedipkan matanya ke arah Bian, genit.


Bian tersenyum tampan.


"Aku udah selesai, Yank. Yuk, kita jemput dedek sama kakak!"


Bian merapikan alat makannya, lalu menggandeng Jojo, mesra, keluar dari dalam ruangannya, meninggalkan Sinta yang terdiam, beku, ditempatnya.


"Wanita itu beneran penjual online atau..."


Sinta merengut masam keluar dari ruangan Bian. Tak diperdulikannya rekan tim Bian cekikikan, menertawakannya.


"Si ondel-ondel dapat saingan, sodara-sodara!" celutuk Beni yang disambut derai tawa teman-temannya.


Tiba-tiba Sinta berhenti dan membalikkan badannya menghadap Beni cs.


"Siapa yang ngomong tadi?!" mata Sinta menatap tajam satu persatu makhluk yang ada di ruangan itu.


"Gue! Kenapa? Gak terima?" Beni tersenyum sinis ke arah Sinta.


"Mata lu buta apa katarak?" Sinta melotot marah.


"Gue yang jelas-jelas cantik dan seksi gini lu bilang kayak ondel-ondel? Dan lu bilang cewek kumel tadi saingan gue? Cihh, gak level!" cibir Sinta, kesal.


Beni cs tertawa berjamaah. Bahkan menyoraki wanita yang berkepedean tinggi itu.


"Udah deh! Mending lu nyerah ngedeketin Pak Arby, dia udah punya calon istri!" nasehat Desta.


"Jangan bilang cewek tadi calon istri..."


"Heh, cewek muka badak! Gak malu lu nunjukkin muka lu di sini? Udah ditolak berkali-kali juga masih gak tau malu. Apa urat malu lu udah putus?!" caci Andra.


Andra bosan melihat Sinta selalu mondar- mandir di kantor mereka dan mengejar Arbyan, sejak mereka berkenalan.


flashback on


Sinta menatap lekat sosok tampan yang duduk bersama bapak Kapolres, sepupu Sinta.


"Tampan!" bisik hati Sinta.


"Bang Dahlan!" Sinta berdiri di depan Pak Dahlan dan Bian.


"Eh, Sin. Ini kenalkan temanku AKP. Arbyan, Kanit Lantas yang baru. Ar, ini Sinta, sepupuku."


"Sinta!"


Sinta memperkenalkan diri lebih dulu dengan mengulurkan tangannya, mengajak Bian salaman sambil tersenyum manisssss.


"Arbyan!" Bian menyambut dingin tangan Sinta dengan wajah datar.


Dilepasnya cepat tangan Sinta yang dengan sengaja menggenggam tangannya erat, ketika wanita itu mengedipkan mata genitnya pada Bian.


"Maaf, Pak. Saya harus menelpon putri saya dulu." Bian buru-buru pamit dan pergi kembali keruangannya.


Sengaja Bian menyebut putrinya biar Sinta tau bahwa dia sudah berkeluarga dan punya anak.

__ADS_1


"Apa Pak Arbyan sudah berkeluarga, bang?" tanya Sinta sambil duduk di kursi yang Bian duduki tadi.


"Dia duda anak satu. Istrinya meninggal setelah melahirkan putri mereka."


"Apa dia sudah lama menduda, Kak?" tanya Sinta lagi.


Wajahnya terlihat senang mendengar status Arbyan yang seorang duda. Dia memang sudah tertarik pada Bian sejak pertama melihatnya.


Dahlan menatap Sinta, tajam.


"Jangan bilang kamu menyukainya, Sinta?" Dahlan menatap sepupunya, curiga.


Sinta tersenyum genit.


"Kenapa emangnya? Gak salahkan kalo aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada Pak Arbyan? Dia tampan, jabatannya juga oke, dan seorang duren. Cocokkan sama aku yang juga janda cantik?" tanya Sinta dengan penuh percaya diri.


Dahlan menggeleng, tak yakin.


"Arbyan bukan lelaki yang mudah kau taklukkan, Sin. Dia tak mudah tertarik dengan gadis cantik dan tubuh molek." ujar Dahlan.


"Hah?" Sinta melongo, bingung.


"Kalo dia mau, sudah lama dia tinggalkan status dudanya. Kau pikir hanya kau saja wanita cantik, seksi dan pintar yang mencoba mendekatinya?" sahut Dahlan kesal dan malu dengan Sinta yang sombong dan takabur.


"Jangan pernah kau coba mendekati Arbyan kalo kamu gak mau sakit hati. Percayalah, bukan wanita sepertimu yang diharapkan oleh seorang Arbyan." nasehat Dahlan.


"Memangnya wanita seperti apa yang diinginkan seorang Arbyan? Apa seperti Almarhumah istrinya?" tanya Sinta penuh penekanan. Ia makin penasaran dengan sosok Bian.


"Setidaknya bukan yang seperti kamu. Dan bahkan, bukan seperti istrinya!" kata Dahlan yang memang bersahabat dengan Bian dan Januar sejak sama-sama masuk Akpol.


Sinta makin tak mengerti.


"Bukan seperti istrinya? Lalu seperti siapa?" tanya batin Sinta, bingung.


Tapi dasar Sinta keras kepala, tetap saja dia mendekati Bian. Hampir setiap hari dia mendatangi Bian ke kantor, membawa makanan, snack, minuman, dan berbagai alasan yang digunakan agar bisa bertemu Arbyan.


Sinta tetap ngotot meskipun tak pernah diperdulikan oleh Arbyan. Dan bahkan pernah diusir dan ditolak duren itu mentah-mentah, namun Sinta maju terus pantang mundur.๐Ÿ˜‚


flashback off


"Masak sih bang Arby suka wanita kumel begitu? Buler apa matanya?"


"Heh, kun*uk! Lu tuh cuman bawahan ya di sini. Pangkat lu cuma Bripda, berani lu ama gue?!" tantang Sinta pada Andra.


"Baru sepupu Kapolres aja sok banget, gimana kalo sepupuan ama Presiden, makin sok lu!" cibir Andra.


"Iyalah, jelas!! Gue bangga ama sepupu gue!" sombong Sinta.


"Kasian Pak Dahlan. Punya sepupu kayak lu, bikin malu. Menyedihkan!" caci Andra makin kesal.


"Apa lu bilaaannggg!!!" teriak Sinta, keras.


"Gak usah diladenin. Mending kita makan siang!" Beni menarik lengan Andra, pergi.


Semua yang ada di ruangan pun langsung ikutan bubar, meninggalkan si ondel-ondel sendirian.


"Mau kemana lu semua?!! Jangan kabur!!!" teriak Sinta makin kencang.


author : "Ngomong dah lu ama tembok!" Dasar muka badak!!" ๐Ÿ˜ค


Sinta : " Lu ngatain gue, thor?"๐Ÿคจ

__ADS_1


author : ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ


Sinta. : ๐Ÿ˜ก๐Ÿ˜ก๐Ÿ˜ก


__ADS_2