
🎵Bulan terdampar di pelataran
Hati yang temaram
Matamu juga tatap mataku
Ada hasrat yang mungkin terlarang
Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Tuhan, tolong aku jelaskanlah
Perasaanku berubah jadi cinta
Tak bisa hatiku menafikan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya
Kudapati diri makin tersesat
Saat kita bersama
Desah napas yang tak bisa dusta
Persahabatan berubah jadi cinta
Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Tuhan, tolong aku jelaskanlah
Perasaanku berubah jadi cinta
Tak bisa hatiku menafikan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya
Apa yang kita kini tengah rasakan
Mengapa tak kita coba persatukan
Mungkin cobaan untuk persahabatan
Atau mungkin sebuah takdir Tuhan
Tak bisa hatiku menafikan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya
Apa yang kita kini tengah rasakan
Mengapa tak kita coba persatukan
Mungkin cobaan untuk persahabatan
Atau mungkin sebuah takdir Tuhan🎶
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung Jojo berdegup keras saat bertatapan dengan Bian yang juga tengah menatapnya. Manik mata Bian seakan menghujam tajam tepat dimanik mata Jojo.
Dan detaknya pun semakin kencang dan membuat Jojo gemetar ketika Bian menggenggam erat tangannya yang sedang memegang buku agenda milik Yayan yang Jojo sembunyikan di laci meja.
flashback on
Jojo cekikikan geli saat membaca buku yang diambilnya secara diam-diam dari tas Yayan.
"Baca apaan sih, Jo? Girang amat." tanya Bian pelan. Matanya fokus menatap Bu Yenny yang sedang menjelaskan tentang anatomi binatang ampibi.
"Curahan hati Yayan." jawab Jojo juga pelan.
"Hah?!"
__ADS_1
Bian menoleh, menatap Jojo yang masih cekikikan.
"Kayak orgil lu, tau gak?!" celutuk Bian sambil geleng-geleng kepala, geli, dengan ulah kepo teman sebangkunya.
"Lu mau baca gak?" tawar Jojo.
"Boleh?"
"Nih!"
Jojo meletakkan buku yang dibacanya dipangkuannya agar Bian bisa ikut membaca.
Keduanya pun cekikikan geli tanpa sadar, sehingga lupa dengan kondisi yang sedang tidak tepat.
"Juna! Arbyan! Apa yang kalian lakukan di belakang? Kalo mau pacaran, di rumah!"
Suara nyaring bu Yenny mengagetkan Jojo dan Bian.
Dengan refleks, tangan keduanya masuk ke dalam laci meja, menyembunyikan buku yang mereka baca.
(masih jam belajar guys, mau lu berdua di kutuk jadi kodok?🐸)
flashback off
Cukup lama Jojo dan Bian saling pandang hingga bel istirahat menyadarkan mereka berdua.
Dengan gugup Jojo menarik pelan tangannya dari genggaman Bian. Tapi Bian malah meremas lembut tangan Jojo, dan menggenggamnya erat.
"Astaghfirullah. Bisa copot nih jantung gue kalo begini lama-lama." batin Jojo berbisik lirih.
"Biarin aja kayak gini. Aku suka seperti ini." gumam Bian pelan.
Jojo menunduk.
Kelas sudah sepi senyap karena anak-anak sudah pergi ke kantin, atau ke perpustakaan. Dan sebagian nongkrong di luar kelas.
"Gug...gug...gu..."
"Aku suka kamu, Jo. Aku gak mau menahan perasaan ini lebih lama lagi. Aku takut kamu nanti dimiliki orang lain. Aku gak mau kehilangan kamu."
Mata Bian sendu menatap dalam bola mata Jojo, penuh harap.
"Gue takut, By."
Dahi Bian mengernyit.
"Gue takut persahabatan kita putus bila kita ada masalah nanti."
Bian makin mempererat genggamannya menggenggam tangan Jojo.
Jojo tersenyum.
"Jadi...apa kita pacaran sekarang?" Bian mengerling nakal.
Jojo menunduk dan mengangguk, malu-malu.
Bian tersenyum lega.
Diraihnya bahu Jojo dan membawa gadis itu kedalam pelukannya. "Aku sayang kamu, Juna Andini!"
Jojo tersenyum, terdiam malu dipelukan Bian, sahabatnya yang mulai detik ini menjadi kekasihnya.
Bian melepaskan pelukannya dan menatap Jojo.
"Bilang kalau kamu juga mencintaiku, Jo." pinta Bian.
Jojo menunduk malu.
Bian menyentuh dagu Jojo dan mengangkatnya pelan.
Lama keduanya saling bertatapan dalam diam, sampai tidak menyadari bahwa ke empat sahabat mereka sudah berdiri di dekat mereka.
"Ekhem!"
"Ekhem!"
"Ekhem!"
"Wah, dianggap laler nih kita!"
"Eh?"
Kedua pasangan yang baru jadian itu terperanjat kaget dan spontan menoleh.
"Astaghfirullah!" ucap Bian dan Jojo berbarengan.
"Kalian berdua ngapain? Tumben gak ke kantin?" tanya Puput.
Bian nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Jojo menunduk, malu.
Bian menoleh ke arah Jojo ketika merasakan dingin di tangan Jojo yang ada di genggamannya.
__ADS_1
Bian tersenyum simpul. "Pacar gue malu rupanya."
"Hello! Yang berdua ini masih idup kan?!" Puput melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jojo dan Bian.
"Masih napas kali, Put. Demen banget nyumpahin gue mati." protes Jojo sambil menepis pelan tangan Puput.
"Tau lu, Put. Bukan ngedo'ain kita umur panjang. Kita kan baru jadian... Eh?!"
Bian refleks menutup mulutnya. Dan Jojo, bisa dibayangkan gimana merah pipinya dan seberapa besar biji matanya yang melotot kaget mendengar ceplosan Bian.
Buan, Puput, Niza dan Dede senyam-senyum, penuh arti.
"Jadian juga nih akhirnya." goda Buan. Dikedipkan matanya, genit, menggoda Jojo dan Bian.
"Meleleh juga hati adek, bang!" gurau Dede disambut tawa yang lain.
"PJ-nya jangan lupa!!!" Puput bertepuk tangan, girang.
Jojo menyembunyikan wajahnya yang memerah dibawah meja karena malu terus diledekin ke empat sohibnya.
Dengan mesra Bian meraih kepala Jojo dan menyembunyikan wajah gadisnya didadanya yang bidang.
"Wowww! Co cuwiiittt!!!" sorak Dede, takjub, melihat kemesraan yang ada didepannya.
"Aaahhh, pengen!!!" Niza menjerit, kecil, menghentakkan kaki dengan manjanya.
"Pengen?" tanya Buan.
Niza mengangguk cepat.
"Sini Aa' peluk!"
Buan merentangkan tangannya, dan tanpa hitungan detik Niza pun menghambur ke dalam pelukan kekasihnya.
"Wahh, jiwa jombloku meronta-ronta. Makkk!!!" Puput ikutan teriak heboh. Melihat keromantisan dua pasangan didepannya membuatnya kesal sendiri.
"Huaaaaaa!!! Babang Ruciiiiii, Dedek juga pengen dipeluk kayak gituuuuuu!!!" jerit Dede tanpa ngerem suaranya.
"Aduh!!"
Dede mengaduh sambil mengelus kepalanya yang sakit.
"Paan sih, Put? Sakit tau'?!" sungutnya kesal karna Puput menjitak kepalanya cukup keras.
"Lu cuma ngehalu aja kerjanya, De. Si Ruci gak bakalan mau ama lu, mending lu ganti haluan deh." ejek Puput.
"Lu kira gue nahkoda lagi nyupirin kapal?" sungut Dede, keki.
"Lu jangan ikut campur deh, Put. Suka-suka gue demennya ama siapa." sahutnya lagi.
"Puput cemburu kali, De. Pengennya dia yang pelukin elu, bukan Ruci." timpal Bian, yang diangguki setuju Jojo, Niza dan Buan.
"Diih! Jangankan nyata, halu aja gue gak sudi ngebayanginnya." dengus Dede, sebal.
"Lu kira gue mau pelukin lu? Ngimpi!" semprot Puput, cepat.
Keduanya pun sama-sama melengos, buang muka.
"Jangan berantem!" sergah Buan, cepat.
"Ntar bucin, tanggung sendiri ya?" godanya lagi.
Tawa pecah dari Bian, Jojo dan Niza. Sedangkan Puput dan Dede saling cibir dan melotot, sinis.
"Kalo gue sih, gak bakalan bucin." sahut Puput, yakin.
"Maksud lu, gue gitu yang bucin ama lu?!" mata Dede melotot, marah.
" Cihh! Ora sudi!" sungutnya, kesal.
"Gue apalagi!"
"Mending gue jomblo seumur hidup."
"Gue juga!"
"Ikutan aja, lu!"
"Suka-suka gue!"
"Gak kreatif!"
"Bodo amat!"
"Putra! Dede! Kalo mau debat, di luar!!!" suara menggelegar mengagetkan Dede dan Puput.
"Hah?!"
Dede dan Puput melihat sekeliling ruang kelas.
Semua murid sudah duduk manis dibangkunya masing-masing, kecuali Dede dan Puput. Keduanya pun nyengir malu, dan buru-buru duduk dibangkunya.
__ADS_1
Kira-kira, akankah Puput dan Dede mengikuti jejak ke empat sahabatnya? Akankah enam sahabat itu akan menjadi tiga pasangan? Masih blur kayaknya sih!
Pantengin terus ya, guys!!!